
Dilain tempat tabib melihat cermin masa depan yang ada di kamarnya itu memutar sendiri memperlihatkan dimana lubang aneh itu menyempit.
Ia tahu bahwa lubang itu adalah lubang penghubung ke dunia sang Ratu yang sengaja Ibunda Ratu_ ibu dari Raja Arkatama membawa sang Ratu ke istana ini untuk merubah alur ceritanya sendiri. Sungguh aneh tapi nyata. Meskipun tidak bisa masuk di akal sekalipun.
"Bagaimana caranya memberitahukan Ratu jika lubang penghubung ke dunianya itu menyempit maka Ratu akan menetap di dimensi ini?" Tanyanya bingung kedirinya sendiri.
Tabib itu mondar-mandir ia baru sadar bahwa Ratu pun bisa bertelepati meskipun badannya bukanlah milik sang Ratu. Namun, pasti kemampuan itu masih melekat pada dirinya.
Tabib melihat kursi mewah di kamarnya ia duduk bersila disana, sorot matanya melihat kedepan menatap cermin itu. Lalu, kedua matanya terpejam, Seberusaha mungkin sang tabib pokus mengingat wajah sang Ratu, ia mencoba untuk berkomunikasi dengannya.
'SELESAIKAN TUGASMU RATU JIKA TIDAK KAU AKAN MENETAP DALAM DI MENSI INI DAN MENJADI SEORANG RATU ANTAGONIS SELAMANYA!'
Suara tabib itu tidak bisa di dengar oleh siapapun hanya bisa oleh sang Ratu dan semoga saja Ratu menjawab telepatinya ini.
Tabib terus saja menunggu dengan posisi ini, alisnya menyerngit tanpa membuka matanya sekalipun, hatinya sedikit gusar karena tidak ada jawaban sama sekali dari sang Ratu.
Di lain tempat Queen terus saja menangis, sementara Raja sudah pusing melihat sikapnya yang seperti itu.
"Dia menikah ...," Selalu saja kata lirihan itu terdengar oleh Raja hatinya sedikit terbakar. Namun, bagaimana lagi ini juga salahnya sudah membiarkan Ratu mencintai orang lain dari pada dirinya.
"Aku tahu maka diamlah," ketus Raja mulai memajukan bibirnya karena kesal dengan sang Ratu yang terus menangis di sampingnya.
Ratu mendelik tidak suka, ia mencekik leher Raja sehingga membuatnya terkejut seketika, matanya melotot melihat kearah depan.
"R-ratu ka-kau me-melakukan apa?!" Ucap Raja dengan terbata-bata karena cekikan itu semakin menguat di lehernya.
"Aku ingin kau mati saja supaya aku bisa menikah dengan orang lain bukan Raja sialan seperti mu!" Teriak Queen seperti kerasukan setan dalam tubuhnya, bahkan matanya merah melotot sempurna dengan tangan yang terus mencekik leher Raja.
Tiba-tiba saja tangan sang Ratu melonggar di lehernya, Raja dengan serakahnya menarik nafasnya, ia sedikit bingung dengan sikap sang Ratu yang tiba-tiba melepaskan cekikan itu. Kemudian ia melihat kesamping Ratu sedang menutupi kedua telinganya sambil menutupi matanya.
'SELESAIKAN TUGASMU RATU JIKA TIDAK KAU AKAN MENETAP DALAM DI MENSI INI DAN MENJADI SEORANG RATU ANTAGONIS SELAMANYA!'
Lagi-lagi suara itu yang di dengar oleh Queen, ia merasa muak dengan orang yang telah mengingatkan hal itu kepadanya seakan takut bahwa dirinya tidak bisa menyelesaikan hal ini dengan mudah.
"Ada apa Ratu? Kenapa dengan dirimu? Apakah kau merasakan sakit yang sama ketika kau mencekikku? Aku sudah bilang kita ini dua badan dengan satu jiwa," cerocosnya yang membuat Queen semakin geram kepadanya.
Queen mendelik kearahnya, memukul dengan sangat keras kepalanya sehingga Raja hanya bisa membulatkan matanya dengan mulut yang menganga tidak bisa berkata apapun lagi.
Sementara Panglima yang baru datang di kamar Raja dan Ratu ini ia berusaha mati-matian menahan tawanya karena baru kali ini ada yang berani berbuat seperti itu kepada Raja.
__ADS_1
"Ratu sangat unik sekali," kekeh panglima berusaha mengecilkan tawanya, akan tetapi itu sulit sekali sehingga Raja dan Ratu melihat kearahnya yang terduduk sambil memegangi perutnya dengan tawa yang menggema di ruangan ini.
Raja menggeram dengan tangan yang terkepal kuat. "KENAPA KAU TERTAWA HAH?!"
Bugh ....
Lagi-lagi Raja harus di kejutkan dengan sikap Queen yang menendang pantatnya sehingga ia terduduk di lantai dengan sorot mata lurus kedepan begitu kosong tatapannya. Panglima lagi-lagi tertawa puas melihatnya, ia senang sekali bisa melihat adegan ini apalagi yang melakukan itu adalah seorang Ratu.
"Hahah ...," Raja akhirnya sadar disaat Panglima menertawakannya dengan sangat bahagia.
"Panglima sialan!" Teriak Raja kesal ia langsung menarik baju panglima sehingga membuatnya terkejut.
"Kau menertawakanku hah?!" Teriaknya kesal, Raja langsung memukul kepalanya menggunakan tangannya, Panglima merintih kesakitan. Lalu, Raja menendang bokongnya sehingga kepalanya sedikit membentur Ranjang ini.
Raja akhirnya tertawa puas melihat itu sementara Ratu kesal melihat sikapnya yang seperti itu.
"Aku puas sekali melihatnya. Kau juga bisa merasakan kesakitanku Panglima ...."
Dengan rasa kasihan Queen membantu Panglima ia mengelus kedua pipi Panglima dengan penuh kasih sayang, kedua matanya menatap Panglima dalam begitu pun panglima yang menatapnya penuh cinta dengan jantung yang berdebar sangat cepat.
Seketika tawa Raja menghilang, tangannya terkepal begitu kuat sehingga memperlihatkan urat-urat tangannya dan lehernya terlihat sangat tegas.
Raja langsung menarik tangan Queen untuk berada di pelukannya. Sorot matanya menatap Queen dalam.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Raja dengan suara bergemetar dengan mata yang berkaca-kaca. Bahkan, bibirnya pun bergetar berusaha menahan tangisan.
"D-disaat aku di perlakukan olehmu seperti itu kamu tidak mengelus wajahku? Mengapa Panglima di perlakukan seperti itu olehmu? Kau mencintainya?" Tanya Raja dengan mata yang berkaca-kaca.
Queen menghela nafas. Ia menatap Raja lalu mengusap wajahnya sehingga Raja menutup kedua matanya. Setelah itu Queen mencium kedua mata Raja yang sudah tertutup dan juga kedua pipi Raja.
Seulas senyum tercetak di wajahnya, Queen tahu Raja selalu ingin bermanja kepadanya itulah sikapnya.
"Bukalah matamu," Raja membuka matanya ia tersenyum manis kepadanya sehingga terlihat matanya berbinar dengan terang.
Pelukan raja begitu erat di pinggang kecil milik Queen, matanya sangat bahagia melihatnya. Queen menggelengkan kepalanya ia tidak menyangka sikap Raja akan menjadi seperti anak kecil kepadanya.
"Lagi," rengeknya dengan nada manja sambil memajukan bibirnya kedepan.
Queen terkekeh kecil. "Mau di bibir?" Tanya Queen dengan lembut sambil mengelus kedua pipi Raja dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Layaknya seorang kucing yang bermanja kepada majikannya begitu pun dengan Raja hanya bisa tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya tanpa melepaskan pelukannya di pinggang istrinya itu.
"Ada panglima Lhoh ...," Goda Queen dengan senyumnya.
Raja cemberut. Ia menatap Panglima dengan sorot matanya yang tajam sehingga membuat kesal panglima.
"Iya-iya saya mengerti. Saya pamit undur diri, hormat saya Raja dan Ratu."
Panglima pergi dengan raut wajah kesalnya, Queen tersenyum tipis melihatnya, sementara Raja terus saja melihat wajah Queen dengan kesal.
"Kau menyukainya?"
"Dia tampan."
"Dan aku jelek begitu?" Tanyanya dengan ketus serta mata yang penuh bara api kecemburuannya.
Queen menatapnya, lalu tersenyum ia mencium pipi kanan Raja dengan gemas, Raja tersenyum manis sangat manis. Sungguh, Queen baru melihat Raja semanis ini sehingga ia sulit untuk mengalihkan pandangannya.
"Aku sudah bilang aku sangat tampan," bisiknya.
Queen tersenyum. "Lagi," pinta Raja terus saja memajukan bibirnya itu.
Queen mengangguk. "Mau lebih yah?" Raja langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa menghilangkan senyuman manisnya.
Queen mencium pipi kiri Raja lagi lalu menganggukkan kepalanya. "Silahkan ...."
Karena sudah mendapatkan lampu hijau akhirnya Raja memangku Queen ala 'bridal style' dengan semangat yang membara menidurkan Queen di ranjang luas ini dan berbisik kepadanya.
"Akan lama sayang ...."
Queen terkekeh. "Tidak apa, lagi pula aku sudah tidak seperti dulu lagi," kekehnya.
Raja tersenyum sangat manis dan mencium seluruh wajah Queen. "Akhirnya kamu sudah menjadi milikku setelah penantian ku 20 tahun lalu," teriaknya dengan senyuman yang sangat-sangat bahagia.
Badan Queen menegang, ia tidak menyangka bahwa kelahirannya sangat di tunggu Raja dan apakah benar Raja menunggunya 20 tahun lamanya? Sesabar itu kah Raja untuk bisa memilikinya? Dan apakah benar Raja mencintainya?
Jangan lupa follow :
Ig/tiktok : mianputry1414
__ADS_1