
Terlihat banyaknya buku di ruangan kerja ini. Dengan kaki yang bergemetar dan Isak tangis yang terdengar Queen berusaha untuk menyimpan pena yang di belinya tadi di kotak yang berisi pena disana.
Disaat mata ini terus memandang ke sekeliling mata ini tertarik melihat banyaknya buku yang Queen pajang.
"Aku memang seorang penulis yang menyajikan kisah cinta. Namun, disaat kisah fiksimu adalah suatu keindahan mengapa kisah nyataku merupakan suatu kehancuran?" Lirihnya.
Perlahan-lahan tangan ini mengambil satu novel yang berjudul 'Ratu pengganti untuk Raja' sebuah novel yang di buat olehnya sendiri merupakan suatu kebanggaannya. Namun sekarang semua itu menjadi abu karena kisah cinta yang sebenarnya sama dengan kisah cinta di novel itu.
"Aku kesal sekali mengapa kisah cintaku sama persis dengan kisah cinta di novel ini? Aku benar-benar dendam dengan karyaku sendiri!" Geramnya.
Dengan kesal Queen melempar novel miliknya sendiri tepat diatas meja kerjanya. Lantas Queen berjalan kearahnya, duduk disana dengan emosi serta air mata yang masih membara. Hati Queen benar-benar patah sekarang baik itu kekasihnya maupun sahabatnya sendiri mereka semua telah mengkhianati dirinya.
Queen mengacak-acak rambutnya frustasi, air matanya mengalir terus menerus di wajahnya. Bahkan, jeritan rasa sakit terdengar begitu jelas di dalam ruangan ini.
"AHH!!!! KENAPA KISAH CINTAKU SEPERTI INI? AKU SANGAT MEMBENCINYA! APA SEMUA INI KARENA NOVEL YANG AKU BUAT? MENGAPA AKU HARUS MENYAJIKAN KISAH CINTA YANG SAD DI DALAM NOVELKU SENDIRI YANG BERAKHIR SAMA DENGAN KEHIDUPAN NYATAKU!" teriaknya sekeras-kerasnya.
Queen melihat pena yang dia beli tiba-tiba berkilau, ia bingung entah mengapa hatinya menyuruh dirinya untuk memegang pena itu. Lantas, Queen mengambilnya dan melihat pena itu terus menerus.
"Pena ini mengapa berkilau?" Tanya Queen penasaran sambil menghapus air matanya.
Ia jadi teringat perkataan nenek tua tadi, rasanya sangat penasaran sekali tentang pena dan juga nenek tua itu.
"Jangan banyak berpikir, nenek yakin pena ini akan mengubah takdirmu," Queen terkekeh mendengarnya.
"Coret saja apa yang kamu mau nak. Percayalah hidupmu tidak akan menjadi seperti ini lagi ...."
Queen menghela nafas berat, tidak ada salahnya ia mencoret novelnya sendiri sekaligus untuk membuktikan bahwa perkataan nenek tua itu salah!
"Oke aku akan mencoret novelku sendiri!" Desisnya kesal.
Queen membuka novelnya secara kasar ia mencoret kata di dalam novelnya sendiri ... bahwa 'Selir memang hanya di takdirkan untuk Raja.'
"Enak saja. Raja hanya ditakdirkan untuk Ratu!" Desis Queen sambil menulis kembali perkataan yang ia katakan tadi di dalam novelnya sendiri.
Queen mencoret semua halaman di dalam novelnya sendiri. Bahkan, di halaman ending pun Queen mencoretnya dengan kasar sehingga hampir membuat novel ini sobek. Setelah itu, Queen menulis menggunakan pena di lembar terakhir yang kosong, ia tersenyum disana.
"Andai aku menjadi seorang Ratu, maka aku akan membuat kisah cintaku sendiri!"
Setelah mengatakan hal itu Queen tertawa puas ia melempar novelnya kesembarang tempat dengan pena itu.
__ADS_1
"Tidur saja, lagi pula nenek tua itu hanya berbohong saja supaya jualannya laku."
Layaknya orang gila Queen tertawa begitu puas setelah melampiaskan amarahnya kepada novelnya sendiri. Setelah Queen berbaring dan tertidur pulas nyatanya Queen tidak tahu ada satu hal yang dia belum sadari.
Novel yang Queen lempar sembarangan itu tepatnya berada di bawah ranjangnya sendiri bertepatan dengan posisinya tidur dan pena yang disampingnya berkilau sangat terang layaknya sebuah matahari.
Disaat Queen tertidur pulas novel ini terbuka begitu lebar dengan memperlihatkan sebuah lingkaran hitam disana. Tidak terasa badan Queen bisa menembus ranjang ini, bahkan Queen hanya tertidur disaat dirinya masuk kedalam lingkaran yang novel itu perlihatkan.
Akhirnya lingkaran hitam itu mengecil setelah membawa Queen masuk kedalam novel ini dengan menutupnya lembaran novel tersebut.
***
Suara ricuh terdengar begitu jelas di ruangan ini, Queen merasakan wajahnya tersiram air ia membuka matanya secara perlahan-lahan. Badannya begitu berat dan tidak berdaya, ia melihat kesekeliling alangkah terkejutnya ia melihat suatu pemandangan yang aneh yang tidak pernah ia duga sama sekali di dalam hidupnya.
Mata Queen melotot sempurna, ia melihat beberapa pelayan menatapnya nyalang, bahkan Queen melihat dirinya tertidur di ranjang yang begitu besar dan mewah. Ruangan ini begitu mewah penuh dengan warna emas, entah itu asli atau tidak Queen tidak tahu yang terpenting dirinya terpana sekali.
Namun, yang jadi pertanyaannya mengapa ia bisa disini dan dimana ini? Mengapa ia memakai gaun seperti di negeri dongeng dengan mereka yang menatapnya penuh kebencian.
"Aku dimana?" Setelah Queen bertanya tentang hal itu mereka tertawa puas mendengarnya.
Queen bingung, ia melihat pakaian yang di pakai mereka adalah pakaian khusus pelayan dan gaun yang Queen pakai seperti seorang Ratu. Namun, mengapa seakan dirinya tidak mempunyai harga diri dan rasa hormat Dimata mereka. Lalu, siapakah Queen sekarang?
Pertanyaan yang wanita itu lontarkan membuat Queen kesal dan mereka mengatakan 'Ratu' kepada Queen. Sungguh sangat aneh.
"Siapakah aku dan dimana aku?" Tanya Queen dengan tegas.
Mereka tertawa puas mendengarnya. Lagi-lagi wanita itu berjalan kearahnya dengan senyuman licik tercetak di wajahnya. Wanita itu memakai pakaian pelayan yang sedikit mencolok dari mereka dan Queen mengerti bahwa wanita itu adalah kepala pelayan disini.
"Apakah Ratu lupa ingatan setelah merencanakan pembunuhan Selir Raja dan ingin membunuh semua putri Raja?"
Queen geram mendengarnya. "Raja? Ratu dan juga Selir? Lalu, dimanakah aku sekarang! Aku siapa? Kalian mengerti tidak?!"
Kepala pelayan itu menjambak rambut Queen. Ia sangat terkejut sekali dengan perlakuan seorang pelayan kepadanya. Bukankah Queen seorang Ratu disini. Namun, mengapa bisa-bisanya mereka memperlakukan seorang Ratu seperti ini?
"Kau mungkin seorang Ratu dan itu hanyalah gelarmu. Setelah kau tertidur selama beberapa tahun yang lalu ... Akhirnya kau tersadar sekarang. Kau ingin membunuh Raja, Selir dan juga putrinya bukan? Kau memang Ratu jahat. Bukankah hukuman mati pantas untukmu?"
Ia melihat senyuman licik di wajah kepala pelayan itu. Queen berusaha sesabar mungkin, wanita itu memang harus di beri pelajaran olehnya.
Tidak mau kalah Queen menjauhkan tangan kepala pelayan itu dari rambutnya, lalu mencekiknya dengan sangat kasar sehingga membuat semua orang yang berada di ruangan ini sangat terkejut.
__ADS_1
"T-tolong ...."
"LIHATLAH RATU ANTAGONIS ITU AKAN MEMBUNUH KEPALA PELAYAN JUGA! MEMANG DIA RATU YANG JAHAT DIA TIDAK PANTAS MENJADI RATU!"
"BERITAHU RAJA SEKARANG RATU SUDAH BANGUN DARI TIDURNYA YANG CUKUP LAMA DAN AKAN MEMBUNUH KEPALA PELAYAN KESAYANGAN SELIRNYA!!!!"
Queen tidak peduli dengan teriakan pelayan itu yang ia pedulikan sekarang adalah harga dirinya. Queen terus mencekiknya, Queen begitu puas melihat kepala pelayan yang sombong ini jatuh dalam kungkungannya.
Kepala pelayan itu berusaha melepaskan cekikan Queen. Namun, Queen terus mencekiknya dengan sangat keras.
"Kau mengira aku wanita lemah, huh?! Bukankah aku seorang Ratu yang harus di perlakukan dengan adil. Mengapa kalian memperlakukan ku seakan aku bukanlah seorang Ratu disini! Kau hanya seorang pelayan maka diamlah!" Teriak Queen dengan emosi yang menggebu-gebu.
"LEPASKAN DIA!" teriakan itu membuat badan Queen merinding ia menjauhkan tangannya dari leher kepala pelayan itu yang langsung ambruk begitu saja sehingga membuat mereka semua panik melihatnya.
"Apakah dia mati?"
"Bawa dia ketabib!"
Queen tidak peduli disaat melihat pelayan itu, ia jadi penasaran dengan pria yang berteriak kepadanya tadi.
"Kau seharusnya mati!"
Queen langsung menengok kearahnya. Alangkah terkejutnya ia melihat laki-laki berpakaian rapi, tampan dan juga gagah dengan pakaian khas kerajaan serta mahkota di kepalanya itu membuatnya terpesona sekaligus terkejut.
"R-raja ...," Lirih Queen. Bahkan, ia tidak percaya bisa melihat kekasihnya disini dengan pakaian seorang Raja.
"Syukurlah kau mengingatku. Ternyata pelayan itu berbohong aku mengira kau lupa ingatan. Ternyata tidak! Sudah puas tertidur dan kau ingin membunuh kepala pelayan itu. Sungguh murahan sekali dirimu."
Kepalan tangan Queen mengeras ia tidak percaya laki-laki yang ia cintai bisa mengatakan hal seperti itu kepadanya. Queen yakin ini bukanlah dunianya melainkan dimensi lain karena Queen tahu bahwa Raja yang di dunianya bukanlah seorang Raja sungguhan melainkan hanya CEO perusahaan saja.
"Dari sini aku paham kau tidak harus menjadi seorang Ratu dan siap-siap lah posisimu akan aku ganti dengan selir kesayanganku. Maka dari itu, kau akan di penjara di kamarmu sendiri dan jangan pernah ikut ambil dari kerajaan ini!"
Queen tidak mengerti maksudnya. Mengapa dirinya harus digantikan oleh selir raja? Apa salahnya?
"Sekarang kau diamlah disini jangan pernah keluar kamar ini dan ini perintah seorang raja yang kini suamimu!"
Queen tidak percaya dirinya berada di ruangan ini tanpa bisa melihat keluar. Bahkan, Queen tidak tahu mengapa dirinya harus tetap disini dan mengapa ini bisa terjadi?
Queen melihat sorot mata mereka penuh kebencian kepadanya. Alis Queen menyerngit bingung, ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dulu sehingga ia di benci semua orang bahkan posisinya menjadi seorang ratu harus di geser oleh selir kesayangan raja. Apa salahnya?
__ADS_1