
Matahari tenggelam begitu indahnya, suasana dikerajaan ini seperti biasa hanya menemukan suatu keheningan.
Gerak-gerik seseorang terlihat aneh dengan membawa beberapa peti berisi emas yang ternyata itu peti pemberian Raja Ototami waktu berkunjung ke kerajaan ini.
Alis Queen menyerngit, ia tidak menyangka di istana ini ada penggelapan harta kerajaan dan Queen pastinya sudah tahu siapa pelakunya.
"Di dalam novel itu pelakunya adalah aku, namun aku tidak melakukan hal itu lantas siapa yang berani melakukannya. Nyatanya perlahan-lahan aku bisa mengubah alur cerita ini," gumamnya.
Secara perlahan-lahan Queen mengikuti beberapa prajurit itu ia terkejut disaat melihat mereka masuk keruangan rahasia bahkan disana ada Selir Sayinat yang menyuruh mereka untuk segera cepat masuk.
Pintu itu masih terbuka mirip seperti dinding kerajaan ini yang terletak dekat gudang. Banyak gaun-gaun terbuat dari emas, koin-koin emas dan juga berlian di dalamnya, Queen syok melihat hal ini.
"Pantas saja kondisi keuangan kerajaan semakin memburuk dan Raja dengan bodohnya percaya saja jika uang itu hilang sehingga ia menghukum orang yang salah dengan cara memenggal kepalanya."
Kejadian itu bukan hanya sekali melainkan berkali-kali, jika diingat-ingat banyaknya korban tidak bersalah bahkan Queen merasa kasihan kepada Raja telah membunuh orang lain.
Rasanya Queen ingin sekali berteriak dan memberitahukan semua ini, hanya saja ini bukanlah waktu yang tepat. Apalagi tidak ada yang percaya kepada Queen, bahkan mereka masih meragukan dirinya hanya karena masa lalunya yang jahat.
"Selir kesayangan Raja aku mendengar ada perlombaan di negri sebrang, mereka mengadakan perlombaan merancang sebuah gaun sehingga menghadiahkan 30 peti berisi emas di dalamnya dan gaun yang terbaik akan di pajang di taman negri ini sehingga banyak orang yang ingin menawari gaun tersebut," jelas pelayan Nurbaya kepada selir Sayinat yang tersenyum kepadanya.
Queen tahu apa yang mereka bicarakan itu di balik dinding ini. "Perlombaan?" Tanya Queen kedirinya sendiri.
Selir Sayinat tersenyum lebar. "Aku harus menang jika itu terjadi maka Rakyat akan memujiku dan mereka akan menganggapku pantas untuk menjadi seorang Ratu sehingga Ratu antagonis itu segera lengser dari kerajaan ini," desisnya dengan sorot mata kebencian menatap lurus kedepan.
Queen geram mendengarnya. Apa yang dikatakan Selir Sayinat membuatnya kesal, bahkan ia bukanlah Ratu antagonis, selalu saja wanita itu mengatakan hal yang sama beberapa Minggu ini.
"Aku akan merancang gaun yang sangat bagus sehingga menjadi kontes nantinya dan pastinya banyak koin emas yang akan kita dapati setelah itu Raja serta Rakyat akan tunduk kepadaku," ucapnya dengan senyuman penuh kebanggaan tercetak di wajahnya.
Pelayan Nurbaya mengangguk saja sementara prajurit lain hanya diam.
"Kakak Kimura bagaimana?" Selir Sayinat terkekeh geli mendengarnya.
Alis Queen menyerngit bingung, apakah ia tidak salah pelayan Nurbaya itu menyebut Prajurit Kimura yang ternyata Prajurit pribadi Selir Sayinat itu sebagai kakaknya?
"Tenang saja kakakmu itu pasti akan menjadi Raja sebentar lagi ...."
Queen menggeram sehingga membuat mereka yang di dalam langsung panik.
"Siapa itu?" Teriak Selir Sayinat.
Mereka saling melihat satu sama lain takut jika hal itu terdengar oleh orang lain yang melewati ruangan ini, meskipun jauh sekali dari keramaian.
"Prajurit lihatlah dan bawa orang itu kemari!" Teriak Selir Sayinat yang langsung di angguki oleh mereka.
Selir Sayinat meremas tangannya khawatir begitu pun dengan pelayan Nurbaya. "Bahaya kalau orang itu mendengarnya," lirihnya.
Sementara itu Queen mati-matian kabur dari mereka yang terus mencarinya dan untungnya setelah area gudang ini ada pintu bekalang kerajaan yang langsung memperlihatkan taman kerajaan yang sangat indah dengan sungai yang mengalir begitu tentram serta banyaknya bunga, kupu-kupu dan juga angin sepoi-sepoi yang menenangkan.
Queen berlari tanpa sengaja menubruk dada bidang seseorang yang ternyata Raja. Queen malah cengengesan disaat Raja menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Ada yang mengejarmu?" Queen menggelengkan kepalanya.
"Hanya berolahraga saja."
"Bohong. Tadi aku melihat wajahmu ketakutan. Katakan saja."
"Tidak ada."
"Jujur saja."
"Aku sudah jujur."
"Kau bohong," Queen kesal sekali mendengar perkataan Raja yang selalu menjawab apa yang ia katakan dengan ketus.
"Aku jujur."
"Apakah aku harus menciummu supaya kau bisa jujur kepadaku?" Tanyanya seakan menggodanya.
Queen tersenyum miring, ia melirik kebelakang dimana para prajurit itu berlari setelah membukakan pintu belakang gudang kerajaan.
Queen langsung menarik kerah baju Raja sehingga membuat Raja membungkukkan badannya, ia bahkan terkejut disaat Queen mencium bibirnya dengan sangat lembut sehingga membuatnya semakin menuntut dan menarik pinggang Queen untuk berada dekat di pelukannya.
Queen menjambak rambut belakang Raja tanpa melepaskan tautan ini begitu pun dengan Raja. Sementara para prajurit itu terdiam kaku melihat betapa indahnya adegan itu ditaman ini, bahkan tidak sengaja salah satu dari mereka menjatuhkan sebuah tongkat besi itu ketanah yang membuat Raja dan Ratu menyelesaikan adegannya.
Para prajurit itu langsung menundukkan badannya, mereka tidak berani melihat Raja atau pun Ratu.
Getaran gigi Raja terdengar begitu jelas dengan sorot mata penuh amarah, tangannya terkepal begitu kuat. Queen melihat hal itu ia bingung mengapa Raja bisa semarah itu, lagi pula dirinya mencium Raja bukan karena kemauannya melainkan karena kondisi.
"KENAPA KALIAN DISINI HAH? MENGGANGGU SAJA!" amarah Raja terlihat begitu menggebu-gebu.
Para prajurit itu langsung bersujud memohon ampun kepada-nya sehingga mau tidak mau Queen harus bisa meredakan amarah Raja.
Queen berjalan pelan kearahnya, mengelus tangannya dengan sangat lembut serta tersenyum manis kepadanya.
"Lagi pula mereka tidak salah. Kita yang salah tidak melihat tempat, ke kamar saja yuk," ajak Queen dengan suara yang sangat lembut sehingga membuat Raja terhanyut dalam pesonanya.
Raja langsung memangku Queen ala 'Bridal Style'. Bahkan, Raja beberapa kali mencium seluruh wajahnya meskipun sedang berjalan sekalipun.
Queen hanya pasrah saja, lagi pula ia lolos dari hal itu kalau tidak ada Raja disana mungkin mereka akan menangkapnya dan menuduh Queen melakukan penggelapan harta kerajaan.
Raja terus saja melihat kearah Queen dengan senyuman manisnya. "Aku merindukanmu," tuturnya dengan suara yang begitu berat.
Queen tersenyum tipis. "Jangan lama-lama yah?"
Raja tersenyum menggoda kepadanya. "Terserah aku karena akulah yang memimpin setiap permainan kita sayang ...."
Queen menelan salivanya, ia tidak menyangka mempunyai suami gila seperti itu, sekarang dirinya hanya pasrah saja mau dibawa kemana olehnya.
Sementara itu, para Prajurit tadi saling melirik satu sama lain mereka tersipu malu melihat kejadian tadi yang mengingatkan mereka kepada satu hal.
__ADS_1
"Jadi inget istri," lirihnya.
...***...
Di lain sisi para menteri dibuat bingung karena Raja belum juga muncul padahal mereka akan berdiskusi tentang pemilihan Ratu baru.
"Dimana Raja?" Tanya salah satu menteri kepada Panglima yang baru saja datang kembali setelah menunggu lama seperti mereka karena tadi Panglima menyusul Raja di kamarnya.
Panglima menghela nafas berat. "Sebentar lagi datang ...."
Mereka bingung mendengarnya. "Mengapa Raja tidak tepat waktu sama sekali?"
Panglima tersenyum kecut. "Raja sedang memberi keadilan kepada istrinya yang sudah lama tertidur itu."
Mereka bingung mendengarnya, namun beberapa saat setelah itu mereka tersipu malu. "Kami paham."
Ada rasa perih dihati panglima ketika mengatakan hal itu, apalagi ketika ia akan masuk kedalam kamar Raja, ia melihat banyak tanda merah di leher Raja dan Ratu bahkan ranjang mereka berantakan dan rambut Ratu serta Raja terlihat masih basah.
Panglima menghela nafas berat. Mereka melihat kearah panglima bingung karena panglima tidak seperti biasa memasang wajah kusut seperti itu.
"Kau baik-baik saja Panglima?"
Panglima tersenyum tipis. "Baik meski sedikit sakit."
Ketika para menteri itu akan mengatakan sesuatu lagi seketika mereka mendengar teriakan seorang prajurit memberi tanda bahwa Raja akan memasuki ruangan ini.
"RAJA AKAN MEMASUKI RUANGAN!!!!"
Mereka menundukkan badannya. "Salam hormat kami Raja," Raja hanya tersenyum singkat, lalu berjalan duduk di singgasananya.
Mereka melihat kebahagiaan terpancar begitu jelas di sorot mata Raja tidak seperti biasanya. Bahkan, mereka melihat tanda merah itu di leher Raja meskipun hanya ada satu akan tetapi mereka mengerti dan hanya tersenyum malu saja.
"Ada apa kalian tersenyum seperti itu?" Tanya Raja dengan ketus.
Mereka diam. Sementara Panglima sudah kesal melihat wajah tidak berdosa Raja seakan ingin memamerkan bahwa dirinya sudah melakukan hal itu kepada Ratunya.
"Kau tahu ada apa panglima?"
Panglima langsung memberikan sebuah cermin kepada Raja, lalu menunjuk leher Raja yang ada tanda merah kebiruan disana. Raja malah tertawa puas melihatnya, bahkan mereka kaget disaat melihat Raja sebahagia ini.
"Ini tanda bahwa aku miliknya," kekeh Raja merasa geli sendiri dengan apa yang dikatakannya.
Mereka pun ikut tertawa dan membuat senyuman Raja luntur. "Ada yang lucu?" Tanyanya ketus.
Mereka langsung menundukkan wajahnya dan memohon maaf kepada Raja yang kesal karenanya.
"Kita lanjutkan diskusinya baik atau tidaknya tentang pemilihan itu saya akan mendengar kan keputusan kalian dan saya yang akan memutuskan bahwa posisi itu masih tetap menjadi milik Ratu atau harus di gantikan oleh selir!" Tegas Raja dengan sorot mata tajam.
Denyut jantung Raja berdebar dengan sangat kencang, ini sangat sesak sekali apalagi Raja merasa hatinya memanas karena apa yang ia katakan barusan pasti akan membuat hati Ratu sakit. Namun, bagaimanapun juga pemilihan ini harus di putuskan sebelum Rakyat mengamuk nantinya dan jika itu terjadi maka ia pun akan ikut lengser dan digantikan oleh yang lain meskipun tidak ada putra mahkota.
__ADS_1