I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
17. Dendam seorang Ratu


__ADS_3

Disaat Panglima membisikkan sesuatu kepada Raja ia sedang mengurus selir Sayinat yang sudah bangun dan menatapnya lirih.


"Katakan kepadanya saya akan datang," Panglima mengangguk lalu pergi dengan hormat.


Sementara Selir Sayinat terus memegangi tangan Raja. "Apakah Raja akan meninggalkanku demi Ratu antagonis seperti itu? Bukankah Raja tahu semua luka ini karena Ratu?"


Raja menghela nafas berat. Ia pusing sekali mempunyai Tiga istri dalam hidupnya.


"Tapi saya harus mengurusi semuanya."


Selir Sayinat kesal kepadanya. "Raja lebih memilih Ratu?"


Raja menatapnya. "Bukan itu. Saya hanya ingin meluruskan semuanya saja."


Selir Sayinat malah menangis dan Raja memeluknya. Mereka berada di ranjang yang sama dengan Raja yang memeluk dirinya di tepi ranjang ini.


"Bagaimana dengan perlombaan itu?" Selir Sayinat menatapnya lirih.


"Tidak jadi Raja. Aku keluar saja karena lukaku sangat parah."


Raja mengerutkan alisnya. "Bukannya kamu sudah membayar semua pendaftarannya dengan satu peti koin emas?" Selir Sayinat mengangguk.


"Bukankah peraturannya meskipun tidak menang juga akan di kembalikan setengah koin emas itu? Ikutlah kalau tidak hanguslah koin kita. Apalagi kerajaan ini sangat membutuhkannya."


Selir Sayinat langsung memukul dada bidang Raja. "Jadi raja lebih mementingkan koin emas itu dari pada aku?"


Raja menggelengkan kepalanya. "Bukan itu."


"Lalu?"


Raja menghela nafas. "Cobalah mengerti tentang keuangan kerajaan ini apalagi pengeluaran mu sangat boros sekali melebihi pengeluaran kerajaan ini."


Selir Sayinat cemberut. "Jadi Raja menyalahkanku?" Tanyanya tidak mau kalah.


"Bukan itu. Tapi kau harus sadar atas pengeluaranmu itu dan untungnya ada Ratu yang bisa menutupi keuangan kerajaan disaat kerajaan ini membutuhkannya."


Selir Sayinat mendelik tidak suka. "Biarkan saja Ratu yang ikut perlombaan itu. Lagi pula dia hanya diam saja di kerajaan ini," ketusnya.


Raja terdiam, lalu ia tersenyum tipis. "Kau benar sekali Selir kesayangan ku," ucap Raja sumringah.


Cup ....


Raja mencium kening Selir Sayinat, setelah itu Raja pergi dari ruangan ini dengan terburu-buru dan hal itu membuat selir Sayinat geram.


Sementara Prajurit Kimura yang merupakan suami pertamanya sedari tadi menahan emosi kemesraan mereka berdua.


"Lalu apa yang kau harapkan dari Raja itu?" Tanya Prajurit Kimura sinis.


Selir Sayinat menatapnya sendu. Ia tahu suami pertamanya itu cemburu kepadanya. "Maaf sayang kemarilah ...."


Prajurit Kimura tersenyum, lalu memeluk istrinya dari belakang dan tertidur bersamanya. Namun, sebelum itu ia menyuruh beberapa prajurit yang menyamar itu adalah anak buahnya untuk berdiri di luar kamar Selir Sayinat.

__ADS_1


"Aku mencintaimu ratuku," bisik Prajurit Kimura itu dengan senyumnya.


Selir Sayinat tersenyum disaat prajurit Kimura memeluk dan mencium pipinya meskipun tubuhnya di belakangnya.


"Suatu saat nanti kita pasti akan mengambil kerajaan ini dan kau menjadi Ratuku bukan menjadi selir kerajaan ini," bisiknya lagi.


"Tentu."


Lalu siapakah sebenarnya prajurit Kimura itu sehingga bisa menjadi prajurit di istana ini? Dan dimana asalnya Selir Sayinat sehingga Raja menyayanginya begitu dalam sehingga Raja buta akan perselingkuhan yang di lakukannya.


...***...


Disaat pintu kamar ini terbuka Queen terkejut melihat Raja yang berlari kearahnya.


"Ada apa?" Tanya Queen bingung.


"Bisakah kamu membantuku?"


Queen tercenggang mendengarnya. "Membantu apa?"


Ketika Raja ingin berbicara, Queen langsung menutup mulutnya, sehingga mereka saling menatap satu sama lain dan terdengar denyut jantung diantara mereka berdua.


"Bebaskan aku dari sini."


Raja tersenyum. "Pasti Ratuku."


Seakan hati Queen melayang entah kemana disaat Raja mengatakan hal semanis itu yang pernah ia dengar selama ini. Namun, disaat mengingat wajahnya mirip dengan mantan kekasihnya dulu sorot matanya kembali menjadi penuh kebencian dan itu membuat Raja bingung.


"Ada apa?" Queen menggelengkan kepalanya.


Rasanya Raja ingin menanyakan sesuatu hal kepada Ratunya. Akan tetapi, disaat waktunya begitu cepat karena perlombaan ini akan di langsungkan besok maka ia tidak ada waktu untuk menanyakan hal itu.


"Pergilah ke negeri sebrang dimana perlombaan itu akan di langsungkan tepat di lapangan kerajaan Raja Ototami."


Queen melotot tidak percaya. Ia tidak menyangka Raja menyuruhnya untuk mengikuti perlombaan itu.


"Benarkah?" Raja melihat ekspresi Ratu yang berubah drastis sehingga membuatnya sedikit kesal.


"Begitu senangnya dirimu disaat tahu perlombaan itu masih di kerajaan Ototami?" Tanya Raja sinis.


Queen mengangguk cepat. "Hari ini aku berangkat Raja?"


Raja menatapnya kesal. "Yah."


"Baiklah. Aku akan berangkat dengan senang hati."


Raja mencekal tangannya disaat Queen akan pergi darinya.


"Ada apa lagi?"


"Aku ikut."

__ADS_1


"APA?!" Queen benar-benar terkejut disaat Raja akan ikut bersamanya.


"Bukankah disaat selir Sayinat akan mengikuti lomba itu Raja tidak ikut?"


"Karena kau yang menggantikannya maka aku harus ikut. Apalagi kau lupa ingatan."


Queen menatapnya tidak percaya. "Bukankah aku sudah pernah berkunjung ke kerajaan itu? Mengapa Raja repot sekali. Urusi saja tugas kerajaan aku sudah besar."


Raja mencekal tangannya semakin kuat sehingga membuat Queen menjerit kesakitan.


"Kau ingin berdua bersamanya Iyah kan?!" Tanyanya kesal.


Queen menggelengkan kepalanya. "Apakah Raja cemburu?" Tanya Queen disertai kekehannya.


"Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja apakah kau akan bersikap curang disana dengan merayu Raja Ototami sehingga membuatmu menang dalam perlombaan itu."


Queen berdecih pelan. "Baiklah kalau Raja tidak mau mengakui bahwa Raja cemburu silahkan, itu tidak masalah buatku."


Raja kesal mendengarnya. "Lalu apakah kau akan pergi?"


"Tentu."


"Baiklah."


Setelah itu Raja menyuruh beberapa pelayan untuk mempersiapkan semuanya, bahkan dari bahan-bahannya sekalipun.


"Panglima pun akan ikut," Queen mengangguk saja.


Tiba-tiba saja selir Raia dan ketiga Putrinya datang setelah mendengar gosip kerajaan tentang Queen yang akan menggantikan Selir Sayinat. Beberapa dari kerajaan ini Ragu bahkan meledek Queen tidak akan menang, pelayan di ruangan ini pun melirik remeh Queen ingin rasanya mereka memakinya. Namun, ada Raja di sampingnya dan hal itu yang membuatnya takut.


"Apakah boleh Raja kami ikut?" Tanya Selir Raia dengan memelas.


Raja menggelengkan kepalanya. "Bukan waktunya karena kita bukan berlibur hanya untuk perlombaan saja."


"Namun, Raja membawa para pelayan, prajurit dan panglima. Mengapa kami tidak?"


Raja menghela nafas berat. "Sudahlah. Jaga saja kerajaan ini bersama Selir Sayinat. Apakah kau mengerti?"


Selir Raia mengangguk paham. Karena tidak mau ada kecemburuan Raja mencium pipi Selir Raia yang tersenyum malu kepadanya. Begitu pun Raja mencium ketiga Putrinya. Queen bahagia melihat hal itu.


"Raja hanya ingin menitipkan kerajaan saja yah."


Mereka mengangguk paham. "Kami mengerti."


Sementara Queen tersenyum kepada mereka yang tersenyum pula kepadanya. Ia tidak membayangkan bagaimana nanti bertemu dengan Raja Ototami Raja yang ia kagumi selama ini. Pasti akan sangat indah bukan selalu melihatnya apalagi ia disana selama 3 hari.


Raja melihat Queen yang tersenyum seperti itu. "Membayangkan Raja Ototami?" Tanya Raja ketus.


Queen mendelik tidak suka. "Aku hanya membayangkan apa yang akan aku rancang nanti."


Raja mengangguk paham. "Jangan berharap menang karena aku tidak akan percaya tentang kemampuan mu itu begitupun dengan yang lain karena kau sangat payah."

__ADS_1


Queen mengepalkan tangannya apalagi disaat melihat pelayan dan prajurit disini tersenyum remeh kepadanya.


'Sialan mereka semua!' desis batin Queen.


__ADS_2