I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
11. Hal gila


__ADS_3

Setelah mandi bersama Raja tadi pagi Queen benar-benar kesal. Raja selalu saja menggodanya, Queen sekarang hanya bisa menatap cermin yang sangat besar dan mewah ini. Menatap dirinya miris, lihatlah banyaknya tanda merah di leher Queen sampai dadanya pun habis ditandai oleh Raja.


Queen jadi teringat tadi ketika mereka berdua selesai mandi dan Queen masih saja dalam posisi ini Raja selalu saja tertawa seakan ia bahagia telah melakukan hal itu kepadanya.


"Kau milikku," bisik Raja tepat di telinga Ratu.


Setelah mengatakan hal itu, Raja berjalan jauh dari Ratu ia memilih pakaiannya sendiri, lalu menengok kearah Ratu yang masih menatap cermin besar itu.


"Bisakah Ratuku membantuku memakai pakaian?" Tanya Raja dengan senyuman manisnya.


Queen berdecak kesal. "Pakai saja sendiri," ketusnya. Raja terkekeh geli mendengarnya sementara Queen kesal kepadanya.


Bahkan, sekarang Raja memakai pakaiannya sendiri karena Queen malas untuk membantunya, apalagi masih kesal dengan sikapnya.


Lihat saja wajah Raja selalu tersenyum manis kepadanya. Wajahnya terpancar begitu banyak kebahagiaan dan jujur saja Queen baru pertama kali melihatnya, padahal ia selalu bersama selir Sayinat akan tetapi ia belum pernah melihat Raja sebahagia itu dan pastinya kebahagiaannya merugikan Queen sehingga Queen semakin membencinya. 


Cup ....


Ingin sekali Queen merobek bibir sang Raja selalu saja sesuka hati menciumnya. Queen benar-benar menginginkan tubuhnya kembali, Queen harus menyelesaikan misi ini secepatnya!


"Jangan terus melihat betapa indahnya tanda kepemilikan ku di tubuhmu itu sayang ...," Bisiknya sambil memeluknya dari belakang setelah memakai pakaiannya sementara Queen masih memakai pakaian pendek ketika selesai mandi.


Raja meraba bagian leher Queen. Ingin sekali Queen menepisnya, namun entah kenapa begitu susahnya dirinya memberontak, badannya menjadi kaku seperti ini.


Raja terus saja mencium pipi Queen. Dirinya sangat muak melihat tingkah manis sang Raja. Queen ingin meloncat dari tubuh ini.


Tangan Raja mengelus perlahan perut datar Queen. Menatap Queen penuh harap serta cinta di dalam matanya. Queen hanya diam menatapnya malas.


"Aku akan selalu menanti buah hati kita," setelah mengatakan itu. Lagi dan lagi Raja menciumnya.


"Kau canduku," muak sekali Queen mendengar hal itu keluar dari mulut sang Raja.


Setelah Raja keluar kamar ini akhirnya tubuh Queen bisa di gerakan. Badannya begitu lemas, nafasnya tidak teratur sekarang. Queen menjadi penasaran apakah Raja mempunyai sihir untuk membuat tubuh orang lain kaku? Kalau iya sungguh keterlaluan!


"Sial! Sekarang aku bukan perawan lagi!" Teriak Queen kesal setelah mengingat kejadian semalam yang begitu lama.


Queen menjambak rambutnya frustasi. "Aku ingin keluar dari tubuh ini! Siapa saja tolong aku!" Queen berteriak sekeras mungkin. Dirinya benar-benar kesal dengan semua ini.


***


Setelah bersiap Queen memutuskan untuk ikut berkumpul bersama Selir Raia, Panglima dan ketiga anaknya itu. Mereka sedang asik makan sambil menikmati taman kerajaan yang sangat indah ini. Meskipun hanya duduk dengan sealas karpet yang sangat indah dan  ini saatnya Queen harus bisa memanfaatkan keadaan.


"Hormat kami sang Ratu," ucap Panglima serta Selir Raia.


"Hormat kami ibu Ratu," Queen tersenyum. Lalu, mencium kening tiga putri ini.

__ADS_1


Banyak yang kagum melihat perubahan Ratu sekarang lebih ramah dan baik hati. Bahkan, aroma di tubuhnya sangat memabukkan. Queen sangatlah cantik kecantikannya semakin hari malah semakin bertambah. Apalagi dengan gaun yang menutupi lehernya itu.


"Kenapa ibunda Ratu memakai pakaian musim dingin? Apakah tidak panas?" Tanya Putri Cantika.


Queen gugup. Ia memegangi lehernya yang tertutup balutan gaun ini. "Lebih enak seperti ini."


Selir Raia tersenyum menggoda kepadanya begitu pun dengan Panglima. "Aku mendengar Ratu semalam tidur bersama Raja, benar bukan? Dan tadi pagi Raja bahkan memutuskan untuk sekamar dengan Ratu," jelas Panglima.


Mata Queen membulat. "S-sekamar?" Tanya Queen tidak percaya.


Selir Raia terus saja menatapnya menggoda. "Iyah Ratu. Tadi saja Raja sudah memutuskan bersama menterinya bahwa Raja dan Ratu akan berada di satu kamar yang sama dan jika Raja ingin tidur di kamar Selir lainnya Ratu lah yang berhak memutuskan dan mengijinkannya," ucap Panglima itu.


Queen mengusap wajahnya gusar. "Cobalah katakan kepadanya. Sekamar lah dengan Selir Raia atau Selir Sayinat. Bukan dengan aku. Aku tidak mau, kumohon kau adalah tangan kanannya kan, Panglima?"


Mereka terkekeh mendengarnya. "Bukan begitu Ratu. Raja memang dari dulu mencintai Ratu. Entah kenapa sekarang Raja seperti hidup kembali ketika Ratu dan Raja telah menghabiskan malam bersama," Queen melotot dengan apa yang dikatakan Panglima itu.


"Ratu tahu tadi pagi saja Raja memberikan lima peti berisi emas di berikan kepada Rakyatnya."


Selir Raia dan ketiga anaknya pun sama terkejut. Namun, tidak dengan Queen yang asik memakan buah anggur berwarna hijau itu.


"Katanya untuk kebahagiaannya saja."


"Kebahagiaan?" Tanya mereka berempat kecuali Queen.


"Iyah kebahagiaan telah bisa kembali bersama Ratu," ucap Panglima melihat kearah Ratu yang tidak peduli sama sekali.


Putri Biana menatap lama Ibu Ratu. "Berarti rumor dulu itu benar. Bahwa Ayahanda memang lebih mencintai ibu Ratu di banding Selir Sayinat yang hanya pelampiasan kesepiannya saja. Buktinya Ibunda tidak jadi di hukum mati karena Raja memutuskan untuk mengurung Ratu di kamarnya sehingga Ratu tertidur lama di kamar itu."


Queen berhenti mengunyah, menengok kearah kanannya dimana Putri Biana duduk.


'Berarti semua ini memang benar rencana mereka berdua,' geram batin Queen.


"Ayahanda memang mencintai ibu Ratu sejak kecil. Ibu Ratu masih ingat tidak?" Tanya Putri Biana.


Alis Queen menyerngit. "Maaf. Aku juga tidak mengingat itu."


Queen tidak peduli dengan hal itu. Sekarang matanya tertuju kepada Selir Sayinat yang sedang memeluk Raja dari samping. Raja hanya diam saja terlihat dari wajahnya seperti risih dengan hal itu. Mereka semua langsung melihat apa yang Queen lihat.


"Selir Sayinat memang kegatelan yah Ibu," celetuk Putri Cantika. Selir Raia langsung memukul pelan bibir itu.


"Kau ini."


Queen menggidikkan bahunya 'tidak peduli'. Panglima tahu sikap Queen biasa saja bahkan ia tidak menemukan cinta di mata Queen melainkan sebuah keinginan supaya bisa keluar dari di mensi ini.


'Aku harus keluar dari sini. Namun, bagaimana caranya?'

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa keluar dari sini!" Badan Queen menegang disaat melihat Raja yang sudah ada di belakang Selir Raia sedang berdiri menatap tajam kearahnya.


Entah mengapa Raja selalu bisa mengetahui isi hatinya Queen sangat tidak mengerti.


Mereka semua langsung berdiri, menundukkan badannya. "Hormat Kami Raja."


"Hormat kami Ayahanda."


Queen memutar bola matanya jengah. Dirinya melanjutkan memakan buah segar ini tanpa peduli keadaan sekitar yang tengah melihatnya dengan sorot mata aneh.


"Apakah Ratuku tidak mau menyambut Rajanya Ratu?" Tanya Raja itu sambil menekan kata 'Ratuku.' Itu pun di hadapan Selir Sayinat dan juga Selir Raia.


Weuk ....


Seketika Queen mual mendengar kata alay keluar dari mulut Raja. Queen berlari mencari wadah untuk bisa memuntahkan isi perutnya. Para pelayan memberikan wadah kepada Queen supaya bisa memuntahkan makanan itu. Tiba-tiba saja Raja sudah ada di belakang Queen memijit pelan lehernya.


Mereka bingung melihatnya. "Apakah ibu Ratu hamil?" Selir Raia memejamkan matanya mendengar Putri Cantika selalu saja mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah di saring dulu sampai Selir Sayinat menatapnya sinis.


Raja tersenyum lebar mendengar kata itu dari mulut putrinya. Setelah Queen memuntahkan semua isi perutnya. Raja memeluk Queen dari belakang, menaruh kepalanya di celuk leher Queen, mencium beberapa kali pipi kanannya.


"Secepat itu kah?" Tanyanya dengan sangat lembut.


Mereka menundukkan kepalanya disaat melihat Raja memeluk Ratu seperti itu. Queen benar-benar sudah diambang kesabaran dirinya mencubit keras tangan Raja sampai Raja menjerit kesakitan, setelah itu Queen menjiwir telinganya. Mereka yang melihatnya melotot tidak percaya Queen melakukan hal itu di saat banyak orang yang melihatnya.


"JAUHI AKU! AKU SELALU MUAL KETIKA BERSAMAMU APALAGI MELIHAT WAJAHMU! AKU MUAL!" setelah mengeluarkan kekesalannya Queen menjauhkan tangannya dari telinga Raja kemudian pergi begitu saja dengan wajahnya yang kesal.


Raja menatap punggung Queen yang kini menjauh darinya dengan kesal. Raja mengelus kupingnya, bibirnya maju beberapa senti. Mereka berusaha menahan tawanya melihat kegemasan Raja.


"Apakah aku sejelek itu Panglima? Sampai Ratuku mual melihat wajah ku ini?" Lihatlah betapa menyedihkannya Raja sekarang.


Panglima berusaha menahan tawanya. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Raja sangat tampan bahkan kerajaan lain mengakui itu."


"Namun, kenapa dengan Ratuku berbeda? Dulu saja Ratuku selalu memuji ketampanan dan wajah ini. Mengapa sekarang dia mual melihat wajah ini. Buktinya tadi Ratuku mual," Selir Raia tersenyum gemas melihat sikap Raja seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada Panglima.


"Raja sangat tampan Sampai membuatku jatuh cinta. Hanya saja mungkin Ratu tidak mencintai Raja atau Ratu memiliki selingkuhan. Misalnya tabib itu," celetuk Selir Sayinat berusaha memanasi keadaan.


Panglima mengepalkan tangannya keras. Raja menatap Panglima dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Apakah benar? Kalau pun benar pantas saja Ratuku selalu diam-diam datang ketempat Ayahmu itu, Panglima."


Panglima mendelik tidak suka kearah Selir Sayinat begitu pun dengan Selir Raia dan ketiga anaknya. Bahkan, para pelayan serta prajurit sekali pun menatap tidak suka kepadanya karena sekarang sikap Selir Sayinat mulai menjadi saja.


"Lagi pula Raja itu sangatlah tampan dan maaf tabib itu orang terpandang. Tabib bahkan sudah cukup umur, tidak seperti Raja yang masih sangat muda," ucap Selir Raia dengan sangat lembut sampai masuk ke lubu hati Raja.


Raja pun tersenyum. "Baiklah."


Akhirnya Selir Raia bisa bernafas lega. Selir Sayinat menatap sinis kepada Selir Raia, begitu pun dengan ketiga anak Selir Raia menatap sinis Selir Sayinat.

__ADS_1


Setelah Raja pergi dari sini begitu pun dengan Selir Sayinat. Panglima menggetarkan giginya, dirinya tidak terima jika ayahnya di rendahkan oleh Selir Sayinat seperti itu.


'Lihat saja aku akan membuatmu menderita dan perantaranya adalah Ratu!' Teriak batin Panglima geram dengan sikap Selir Sayinat.


__ADS_2