I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
8. Permintaan


__ADS_3

Terlihat ketiga seorang putri yang cantik-cantik sedang berlari di keliling taman kerajaan ini, mereka tertawa lepas dengan seorang Selir Raia yang dimana Selir Raia adalah ibu kandung dari mereka.


Putri Aruna Nagaswara merupakan putri pertama dari Raja dan juga Selir Raia berumur 15 tahun. Putri Aruna terus saja berlari di kejar oleh adik keduanya yang kesal kepadanya karena sepatunya di ambil olehnya begitu pun dengan adik ketiganya mengejar kakaknya yang kedua karena sepatunya pun diambil olehnya.


Selir Raia tertawa lepas melihat hal itu. Kedua putri mereka sudah tumbuh dengan sangat cepat meskipun tidak ada perhatian dari Raja semenjak mereka masih bayi sehingga sudah besar sekalipun hanya karena mereka perempuan dan bukan laki-laki.


"KAKAK KEMBALIKAN SEPATUKU!" teriak Putri Cantika rahaya Nagaswara yang berusia 13 tahun, ia putri yang sangat cantik dan lucu. Bahkan ketika memegang sepatu adik bungsunya pun ia seakan tidak merasa bersalah karena adiknya itu terus saja menangis sambil berlari.


"SINIKAN SEPATUKU!!!!" Teriak Putri Biana Nagaswara sekeras-kerasnya.


Putri biana kesal dan melemparkan sebuah batu kearah Putri Cantika yang langsung di tangkap oleh sang Ratu. Apalagi ia masih berumur 11 tahun.


Mereka semua langsung berhenti. Bahkan, Selir Raia yang duduk di kursi taman ini ia berdiri membungkukkan badannya dengan seulas senyum diwajahnya. Namun, tidak dengan ketiga anaknya yang membencinya.


Queen berjalan kearah mereka dengan sorot mata tajam. "Ini apa?" Tanya Queen sembari mengangkat tangannya yang terdapat sebuah batu disana.


"Ratu kok bego kan itu batu, anak kecil  ajah tahu itu," celetuk Putri Biana merasa kesal dengan sikap sang Ratu baik dulu maupun sekarang.


Selir Raia menutup mulutnya tidak percaya disaat mendengar perkataan itu keluar dari mulut anaknya.


Queen menghela nafas berat. Ternyata banyak sekali yang membencinya termasuk anak Selir Raia sekalipun. Sungguh, Queen merasa kasihan dengan sang Ratu yang sangat di benci oleh semua orang.


Queen melemparkan batu itu ketanah. Ia berjalan kearah ketiga putri itu yang saling berpelukan kepada kakak pertamanya seakan berusaha melindungi mereka bertiga. Beberapa pelayan dan prajurit melihat hal itu, bahkan seorang mentri pun melihatnya begitu pun dengan Raja melihat hal itu dari lantai atas kerajaan.


"Kemarilah," mereka memundurkan badannya.


Queen tersenyum hangat. "Aku tidak akan membunuh kalian dan jika dulu aku ingin membunuh kalian maka maafkanlah aku."


Mereka menatap satu sama lain. "Aku bukanlah seorang Ratu Antagonis. Percayalah aku Ratu yang baik, kemarilah kalian pun sama seperti anak-anak ku."


Mereka berlari langsung kearah Selir Raia memeluknya karena takut di dekati oleh sang Ratu. Ratu hanya bisa tersenyum tipis saja, sejujurnya ia sangat sedih mengapa bisa-bisanya mereka takut kepadanya.


'Bagaimana ini? Aku akan merubah semuanya. Apakah aku semenyeramkan itu yah?' tanya batin Queen.


"Maaf Ratu anak-anak ku takut kepada Ratu ...."


Ratu mengangguk paham. Ia berjalan kearahnya, lalu berjongkok yang membuat mereka terkejut.


Queen tersenyum, lalu menjulurkan tangannya kepada mereka. "Aku ibunda kalian ibunda Ratu."


Mereka menengok kearah Selir Raia yang menganggukkan kepalanya. "Maaf yah cantik jika aku memang jahat. Sejujurnya aku menyesal dan akan memperbaiki semuanya meskipun aku tidak ingat apa yang aku lakukan dulu kepada kalian."


"Aku tidak akan membunuh kalian aku akan menjaga kalian karena kalian anak ibunda Ratu pula."


Ada keraguan yang Queen lihat dari mata mereka. "Kalau ibunda Ratu mau kalian mati ibunda Ratu sudah menghukum mati kalian karena kalian sudah memperlakukan ibunda Ratu dengan sangat buruk."


Mereka cemberut mendengarnya. Queen terkekeh melihatnya. "Ibunda Ratu paham kalian pasti trauma. Namun, ibunda Ratu tidak akan lagi menjadi seperti dulu. Ibunda Ratu akan menjaga kalian. Kalian anak Ibunda Ratu kan?"


Lagi-lagi mereka hanya melihatnya saja. "Jika Ibunda Ratu tidak mempunyai hati dan tidak menyayangi kalian. Ibunda Ratu sudah membiarkan batu itu melayang mengenai kakakmu itu, lagi pula jika hal itu terjadi maka kakakmu akan kehilangan matanya. Lantas, apakah kalian ragu kepada Ibunda Ratu?"


Queen menundukkan wajahnya, ia pasrah sekali apalagi mereka masih ragu kepadanya.


"Baiklah ... Maafkan Ratu sudah mengganggu waktu kalian."


Disaat Queen berdiri dan membalikkan badannya, ia terkejut disaat mereka itu langsung memeluknya dari belakang, air mata Queen lolos begitu saja ia tidak menyangka mereka akan memeluknya dan Selir Raia tersenyum atas itu.


"Ibunda Ratu ...."


Queen membalikkan badannya ia langsung memeluk ketiga anak Selir Raia yang sekarang menjadi anaknya pula. Queen menangis haru kepadanya dan disaat inilah mereka melihat Queen dengan penuh tanda tanya. Mereka bertanya-tanya karena sang Ratu sudah berbeda yang dulu selalu ingin membunuh mereka malah sekarang menjadi ingin menjaganya.


"Kami memafkan Ibunda Ratu ...," Queen semakin bahagia mendengarnya.


"Makasih yah," mereka semakin memeluk Queen dan menangis bersama di pelukan itu.

__ADS_1


Sementara Raja yang melihatnya dilantai atas seulas senyuman tipis sangat tipis dilibatkannya. Ia merasa tertarik dengan perubahan istrinya itu.


"Dulu aku menikahimu disaat kamu berumur 5 tahun sekarang kamu sudah besar dan bertumbuh dewasa meskipun kamu sangat jahat sekalipun," gumamnya.


***


Setelah mendengar curhatan Selir Raia Queen menjadi merasa bersalah bahwa ia sangat jahat sekali karena dulu sengaja mendorong anak-anak nya masuk kedalam sumur dan untungnya ada Panglima yang menyelamatkannya.


Sekarang Queen akan membantu Selir Raia dan juga anak-anaknya untuk mendapatkan perhatian sang Raja karena Queen tahu mereka tumbuh tanpa perhatian seorang ayah. Sungguh itu sangat tidak adil apalagi Raja selalu bersama selir Sayinat.


Queen jadi teringat perkataan Selir Raia tadi.


"Mengapa kamu tidak meminta hak mu atas seorang istri kepada Raja?" Tanya Queen penasaran.


Selir Raia menghapus air matanya secara perlahan. "Bagaimana hal itu akan terjadi, kehidupan yang diberikannya seperti ini pun aku sudah bersyukur. Aku bukanlah Ratu yang berdarah biru aku hanya rakyat jelata yang di pungut raja karena telah menyelamatkan Raja dari musuhnya dan aku membantu Raja untuk bersembunyi sehingga aku menikah dengan Raja dimana waktu itu Raja telah menikahi Ratu, sehingga esok harinya kami menikah dan waktu itu  Ratu masih berumur 5 tahun. "


Queen terlonjak kaget mendengarnya. "L-lima tahun?" Selir Raia mengangguk.


"Lalu sekarang kau berumur berapa?" Tanya Queen penasaran.


"Aku berumur 38 tahun Ratu, aku menikah diumur 18 tahun dan Raja berumur 20 tahun," jelasnya.


"Disaat Ratu ingin membunuh anak-anak ku umur Ratu masih belasan tahun jadi wajarlah jika Ratu cemburu karena dari dulu pun Ratu selalu dimanjakan dan karena aku menikah dengan Raja, Raja selalu bersamaku karena aku mengandung anaknya dan juga selalu melayaninya karena Raja tidak berani untuk menyentuh Ratu."


Alis Queen menyerngit. "Mengapa?"


"Karena Ratu masih kecil dan Raja khawatir jika Ratu hamil apalagi sikap Ratu masih seperti anak kecil, masih butuh bimbingan. Maka dari itu, Raja tidak mau menyentuh Ratu ataupun menginginkan anak dari Ratu karena Ratu masih kecil."


Queen mengangguk paham. "Lantas mengapa Raja tidak memberikan perhatiannya kepadamu dan juga anak-anak sekarang?"


Selir Raia tersenyum kecut. "Karena Raja menginginkan anak laki-laki. Bahkan, peraturan di istana ini satu istri Raja hanya bisa melahirkan tiga anak saja kalau lebih anak itu akan di asingkan."


"Mengapa?"


"Itu sudah peraturannya. Disini dianggap kutukan Ratu."


"Aku akan berusaha membujuk Raja, lagi pula dia harus bertanggung jawab dan juga memberikan haknya. Terlebih, kepada anak-anak."


Selir Raia menatap haru sang Ratu. "Aku sangat percaya kepada Ratu sekarang ...."


Setelah mengingat hal itu Queen merasa pusing sendiri mengapa ia bisa menikah sangat muda sekali berumur 5 tahun pantas saja ia bersikap jahat seperti itu masih kecil tidak mempunyai pikiran seperti orang dewasa ternyata.


"Bodoh banget deh ...."


Queen melihat Selir Sayinat berjalan diiringi dengan banyaknya pelayan dan prajurit. Bahkan, mereka melewatinya begitu saja dengan selir Sayinat yang menatapnya sombong.


Lantas, Queen membalikkan badannya melihat betapa kosongnya di belakangnya begitu pun di samping kanan dan kirinya, tidak ada prajurit atau pun pelayan. Lalu, siapakah Queen apakah benar dirinya seorang Ratu? Mengapa tidak diperlakukan seperti seorang Ratu?


"Bodo amatlah. Aku sekarang harus ke kamar Raja."


Setelah berlari dengan sangat cepat sehingga membuat beberapa prajurit ikut mengejarnya Queen langsung masuk begitu saja ke kamar Raja ia berusaha menstabilkan nafasnya.


"Kenapa mereka mengejarku? Aku tidak melakukan hal yang salah aku hanya ingin ke kamar Raja saja."


Setelah menggerutu tidak jelas Queen membalikkan badannya, ia terhenyak disaat Raja ada di belakangnya sambil bersedekap dada melihat kearahnya.


"Ada apa kau kesini?" Tanyanya ketus.


Queen memutar bola matanya, lalu menarik Raja untuk duduk di ranjangnya dengan sangat kasar. Raja menatapnya dengan senyuman menggoda.


"Mau memaksaku untuk melayanimu, huh?" Queen bergidik ngeri mendengarnya.


"Ingat kau sudah berumur 40 tahun dan aku sangat muda jangan berharap lebih!" Raja menghela nafas begitu berat entah mengapa dadanya begitu sesak sekali.

__ADS_1


"Lagi pula Panglima lebih perkasa dari pada kau, dia masih muda atau aku menikah saja dengan Raja Ototami?"


Raja geram mendengarnya. "Dia masih pangeran."


"Besok dia akan menjadi Raja."


"Terserah."


Queen kesal mendengarnya. Lalu, ia memegang kedua tangan Raja menatapnya cukup dalam meskipun ia tahu Raja bingung kepadanya.


"Kau mempunyai istri berapa Raja?" Alis Raja menyerngit mengapa bisa-bisanya Ratu mengatakan hal itu kepadanya.


"Memangnya kenapa?"


"Katakan saja."


"Apakah kau menyetujui aku menikah lagi?" Queen menatapnya sebal. Raja tersenyum melihatnya.


"Cemburu yah?" Queen mendelik tidak suka dengan kepedeannya itu.


"Katakan saja."


"Tiga memangnya kenapa?" Tanyanya dengan songong.


"Kalau begitu mengapa yang kau anggap hanya satu?" Raja terhenyak mendengarnya.


Raja menggelengkan kepalanya. "Aku adil ko."


Queen tersenyum kecut. "Aku mengerti jika Raja membenciku dan tidak adil kepadaku bahkan Raja tidak pernah menyentuhku atau pun menginginkan anak dariku. Aku paham itu."


Raja menatapnya dalam. "Namun, aku hanya ingin meminta hak Selir Raia saja yang seharusnya Raja berikan bukan hanya kepada Selir Sayinat karena Selir Raia pun istri Raja."


"Mengapa kamu mengatakan hal itu apakah Selir Raia mengadu kepadamu?" Tanyanya penasaran.


Queen tersenyum manis. Raja menyandarkan kepalanya di tepi ranjang dan Queen memeluknya dari samping dengan kepala yang ia sandarkan di dada bidang suaminya itu.


"Aku tidak peduli jika Raja ingin merencanakan pembunuhan atas diriku, aku tidak peduli juga jika Raja ingin membunuhku lewat racun-racun itu dan aku tidak peduli juga tidak pernah merasakan kasih sayang serta cinta dari Raja karena aku tidak membutuhkan hal itu. Lagi pula aku Ratu yang tidak diharapkan Raja. Aku akan lengser sebentar lagi."


Raja memejamkan matanya, merasa sesak di ulu hatinya. "Aku paham aku melakukan tindak kejahatan karena aku masih kecil pada saat itu. Aku memanglah Ratu meskipun bukan menjadi kesayangan Raja, tetap saja aku seorang Ratu yang Raja nikahi berumur 5 tahun dan itu pun Raja sudah menikah dengan Selir Raia."


"Aku cemburu karena tidak dapat perhatian Raja, apalagi kedua orangtuaku pun meninggal, aku sendirian meskipun sudah menikah dengan Raja sekalipun karena aku tidak mengerti apa arti pernikahan. Lantas, aku hanya menganggap Raja sebagai kakakku saja dan aku tidak suka anak kecil itu yang selalu mencuri perhatian Raja dariku."


Raja mengelus beberapa helai rambut Queen yang menutupi wajahnya, sesekali Raja mencium keningnya dan Queen hanya memejamkan matanya saja.


"Aku hanyalah anak kecil dulu dan tindak kejahatanku yang sangat besar adalah disaat aku berumur belasan tahun dimana aku akan menyeburkan anak-anak raja di sumur belakang kerajaan ini," lirihnya.


Raja menghela nafas begitu panjang. Queen melepaskan pelukannya membuat Raja bingung kepadanya, lalu Queen mencium pipi Raja dengan senyum manisnya yang membuat Raja melotot tidak percaya di perlakukan hal seperti itu.


"Jika aku tidak mendapatkan kasih sayang dan cinta raja maka biarkanlah aku menganggap Raja sebagai kakakku begitu pun sebaliknya," lirihnya sehingga membuat air matanya lolos begitu saja di wajahnya.


Sesak sangat sesak, bahkan denyut jantung ini seakan terhenti, air mata ini lolos begitu saja dan Queen melihatnya bahkan menghapusnya dengan sangat lembut sehingga Raja malu karenanya.


"Aku meminta kepadamu untuk adil kepada istri dan anakmu Raja. Aku paham betapa sibuknya Raja tapi apakah Raja tahu sandaran jika Raja lelah adalah keluarga? Maka tolonglah Raja mengerti tentang hal itu."


Raja menatap Queen dengan tatapan yang penuh arti. "Apakah Raja akan mengabulkan permintaan ku itu?" Raja hanya diam saja.


Queen menghela nafas beratnya. Ia tahu Raja pasti tidak akan mengabulkan permintaan bodohnya ini.


"Lagi pula kalau tidak mau ya sudah. Aku tidak memaksa Raja. Aku hanya mengingatkan Raja saja, karena Raja mempunyai seorang anak sekaligus istri. Anggap saja aku tidak ada, karena Raja memang tidak menganggapku. Namun, ingatlah Selir Raia, dia butuh perhatian dari Raja begitu pun dengan anak-anak Raja. Mengertilah."


Raja tetap saja tidak bergeming ia hanya melihat Queen saja tanpa berkata apapun dan itu membuat Queen kesal. Lantas setelah itu Queen turun dari ranjang ini, membungkukkan badannya, setelah itu keluar dari kamar ini dengan prajurit yang menatapnya nyalang beserta pedang yang diarahkannya.


"Aku tidak membunuh siapapun! Jadi jauhkanlah pedang itu dariku atau aku yang akan membunuh kalian!" Sarkasnya.

__ADS_1


Prajurit itu menjauh dari Queen yang sedang di Landa amarah seperti ini.


"Semoga saja Raja mengerti," gumamnya.


__ADS_2