
Terdengar suara bantingan keras di dalam kamar Raja semua pelayan prajurit bahkan para menteri Raja berkumpul di depan pintu bersama istri-istri Raja dan juga anak-anak Raja kecuali Queen pastinya.
"Ada apa dengan Raja? Apakah Raja sudah tahu tentang perselingkuhan Ratunya?"
"Memang pemilihan Ratu itu harus segera di langsungkan. Ratu tidak cocok dengan Raja karena Ratu selalu berkhianat."
"Apalagi Pameran itu akan di langsungkan besok jika Raja terus saja seperti ini maka Rakyat akan murka apalagi tidak ada pernyataan lebih atas itu."
Mereka bingung sendiri tentang hal ini, Selir Sayinat tersenyum dan ini waktunya bahwa ia akan mengambil hati semua orang.
"Aku pasti akan bisa merayu Raja sekarang," gumamnya.
Selir Sayinat menghela nafas begitu panjang. "Raja bukalah ... Ini aku Selir kesayangan mu!!!" teriaknya dengan nada merayu manja.
Hening ....
Mereka saling melihat satu sama lain entah mengapa suara benda jatuh itu sudah tidak ada lagi, mereka bersyukur sekali.
Senyum licik tercetak di bibir Selir Sayinat ketika melihat Selir Raia bersama ketiga Putrinya yang kesal kepadanya.
"Dia bagaikan ibu tiri," gumam putri Biana merasa kesal disaat melihatnya bertingkah seperti itu.
"Apakah Raja tidak merindukanku? Bukalah pintunya Raja aku selir Sayinat bukankah aku selir kesayangan Raja? Aku akan menenangkan Raja jika hati Raja sedang bermasalah."
Lagi-lagi Selir Sayinat mengatakan hal seperti itu. Selir Sayinat tersenyum penuh kemenangan disaat ia mendengar langkah kaki Raja.
"Benar bukan bahwa Raja hanya akan mendengarkan aku dari pada istrinya yang lain?" Tanya Selir Sayinat dengan senyuman remeh kepada mereka.
Bugh ....
Mereka tersentak kaget disaat sebuah benda seperti guci terlempar tepat di dalam pintu kamar Raja seakan Raja melemparkan guci itu di dalam kamarnya sehingga membentur pintu dengan sengaja.
"DIAMLAH KAU!" bentak Raja dengan sangat keras di dalam kamarnya sendiri.
Selir Sayinat menutup mulutnya bahkan yang lainnya pun begitu. Sungguh, mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Putri Biana tersenyum manis. "Bukankah Selir Sayinat tidak lagi menjadi kesayangan Raja?" goda Putri Biana dengan senyum mengejeknya yang membuatnya kesal.
Para menteri panik. "Lantas, apa yang akan kita lakukan?"
Selir Raia menghela nafas. "Panggil Ratu."
"APA?!" mereka berteriak terkejut dengan apa yang dikatakan Selir Raia yang terkenal sabar dalam segala hal.
"PANGGIL RATU APAKAH KALIAN TIDAK MENDENGARNYA? BUKANKAH AKU ISTRI RAJA PULA?! KENAPA KALIAN TIDAK TUNDUK ATAS PERINTAHKU, HAH?!" teriaknya sekaras-kerasnya.
Mereka terdiam, matanya berkedip beberapa kali merasa tidak menyangka bahwa Selir Raia akan semarah ini bahkan ini pertama kalinya mereka melihat Selir Raia marah.
"APAKAH KALIAN TIDAK MEMPUNYAI TELINGA, HUH?!"
Beberapa para pelayan membungkuk hormat dan pergi dari sini untuk datang kepada Ratu.
"Tidak perlu aku disini," ucap Queen dengan lantang berada di tengah kerumunan itu.
Semua mata langsung tertuju kepadanya, seulas senyum tercetak di wajah Selir Raia yang langsung menghampirinya dan memeluknya.
"Aku yakin Raja membutuhkan Ratu. Bicaralah ...."
Queen tersenyum tipis. Ia melihat mereka yang berkumpul disini menatapnya dari bawah sampai atas, lalu tersenyum mengejek kepadanya, mata mereka seakan menatapnya remeh.
"Hanya Ratu antagonis yang terbuang mana bisa meredakan amarah Raja."
"Lagi pula Raja tidak menganggapnya ada. Sudahlah biarkan Ratu antagonis itu pergi dari sini."
Para menteri saja berani mengatakan itu sehingga Rakyat pun ikut berbicara seperti itu kepadanya. Hati Queen sakit, kepalan tangannya mengeras ia akan membuktikan bahwa dirinya bisa.
Disaat Queen akan berjalan semua orang menutup jalannya. Queen memejamkan matanya, ia harus bersabar atas kelakuan mereka semua kepadanya.
Selir Raia melotot matanya memerah mereka takut melihatnya, bahkan badannya bergemetar langsung saja mereka memberikan jalan kepada Ratu.
"Jangan main-main dengan saya!" Tegas Selir Raia berusaha mungkin menahan emosi sehingga membuat mereka menunduk hormat.
Sekarang Queen berada di depan kamar Raja ia menatapnya cukup lama, lalu terdengar suara helaan nafas yang begitu panjang. Mereka yang mendengarnya tersenyum sinis.
Tok ... Tok ... Tok ....
Terdengar bunyi ketukan pintu yang dibuat oleh Ratu. Mereka bersedekap dada menunggu bahwa Raja akan membuka pintunya.
"Lihatlah Ratu saja tidak bisa," ketus salah satu menteri Raja menatap sinis sang Ratu yang mendelik tidak suka kepadanya.
Selir Raia melotot, menteri itu langsung membungkuk hormat kepadanya. "Maafkan saya Selir Raia ...."
Queen mengelus tangannya yang dingin, ia bingung harus memulai bagaimana apalagi Raja belum pernah melakukan hal seperti ini sehingga mengurung dirinya.
"Apakah Raja sudah makan?" Para pelayan menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin makanan untuk Raja sekarang."
Para pelayan itu pun pergi dengan hormat, lalu memberikan makanan itu kepada Ratu ada keraguan di dalam mata pelayan dan juga yang lainnya, Queen tersenyum tipis atas itu.
"Saya akan berusaha."
Mereka menggelengkan kepalanya, sorot matanya tetap saja sinis kepadanya. Queen geram sekali melihatnya.
Lalu, Queen mengetuk pintunya lagi dan lagi sehingga membuat Raja marah di dalam kamarnya.
"BISAKAH KAU MENYINGKIR, HAH?!" teriak Raja di balik kamarnya itu.
Mereka tersentak mendengarnya dan ada kebahagiaan di wajah mereka melihat Ratu di bentak seperti itu.
"Sudah aku bilang kan?" Lagi-lagi menteri itu mengatakan hal seperti itu dan Queen tidak mau mendengarnya.
__ADS_1
"Apakah Raja tidak merindukan Ratumu?" Seketika hening tidak ada suara di dalam kamar Raja.
Mereka terlihat bahagia melihat Ratu pun tidak bisa melakukan hal itu.
"Sudahlah ... Lagi pula Ratu hanya buangan Raja aku saja selir kesayangannya tidak bisa."
Queen tersenyum tipis kearah Selir Sayinat yang seakan bahagia atas itu.
"Raja benar tidak merindukanku, jika begitu aku akan pergi saja dan jangan temui aku lagi," ucap Queen langsung membalikkan badannya dengan makanan yang masih ada di tangannya.
Bugh ....
Terdengar suara pintu yang terbuka dengan hantaman yang sangat keras, mereka menjerit tidak menyangka Raja menendang pintunya dan langsung memeluk Queen dari belakang.
Queen tersenyum manis. Queen melihat wajah mereka sangat terkejut atas hal itu, lalu Queen tersenyum mengejek kearah Selir Sayinat sementara Selir Raia dan ketiga Putrinya mengacungkan jempol kearahnya.
"Aku merindukanmu ...," Queen terkekeh mendengar suara Raja yang sangat manja kepadanya.
Selir Raia mengambil alih makanan itu karena Queen akan membalikkan badannya, Queen terkejut disaat melihat penampilan Raja yang berantakan dan ia sedikit mengintip kearah kamarnya yang pintunya terbuka lebar, Queen tidak menyangka Raja akan sehancur itu bahkan kamarnya bagaikan kapal pecah.
Raja terus saja menangis tanpa melepaskan pelukannya. "Jangan pergi ...."
Queen mencium bibir Raja sekilas yang membuat mereka terkejut seketika. "Astaga!!!"
Queen tidak peduli dengan jeritan mereka semua. Dirinya menatap Raja yang menatapnya dengan sendu.
"Sudah makan?" Raja menggelengkan kepalanya pelan dengan bibir yang dimajukan beberapa senti kedepan.
"Masuk kamar yuk, aku akan menyuapimu."
Raja mengangguk. "Aku merindukanmu," rengeknya.
"Lantas, mengapa mengunci diri?"
"Aku cemburu dan jika sudah seperti itu aku akan melakukan apapun. Namun, mengapa Ratuku baru datang sekarang padahal aku hampir mati di dalam karena lapar."
Rengekan manja itu yang Queen suka ia mengelus wajah Raja dengan senyum manisnya. Lalu, Queen melirik kearah Selir Raia mengkode nya untuk menaruh makanan itu di kamar Raja dan Selir Raia pun mengangguk dengan senang.
Kemudian Queen dan Raja pun masuk. Sementara Selir Raia menunduk hormat kepada mereka berdua.
"Terimakasih ...."
"Sama-sama."
Setelah itu selir Raia keluar dengan senyum manisnya.
"Bagaimana? Bukankah sudah jelas bahwa Raja mencintai Ratu?"
Mereka tanpa sadar mengangguk akan hal itu apalagi mereka belum pernah melihat Raja sehancur dan semanja itu kepada istrinya.
"Ini sebuah keajaiban ...," Mereka hanya mengatakan hal itu dengan sorot mata kosong karena saking terkejutnya melihat adegan itu. Termasuk dengan Selir Sayinat.
...***...
"Jika Ratu bisa menenangkan Raja maka Raja memang lebih membutuhkan Ratu."
"Namun, bagaimana dengan Ratu antagonis itu?"
"Bukankah kita harus memberinya kesempatan? Apalagi Ratu banyak frestasinya sekarang tidak seperti dulu. Apakah kalian tidak sadar Ratu sudah berubah?"
Mereka hanya diam saja, Para rakyat terus saja bergosip tentang hal itu sehingga membuat kuping panglima panas.
"Semakin di dengar semakin sakit sehingga masuk kedalam ulu hati," gumam Panglima sambil memukuli dadanya.
"Patah hati lagi ...."
Jika ada yang melihat hal itu mungkin mereka akan menertawakan Panglima yang mulai merintihkan air matanya karena sakit hati oleh seorang wanita.
"Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja dan aku yakin Ratu pasti akan menjadi milikku. Kalau tidak aku akan menagih janji Raja waktu itu yang akan memberikan Ratu kepadaku," gumamnya disertai senyuman penuh kemenangan.
Tabib yang melihat itu dari kejauhan sambil bersedekap dada, menggelengkan kepalanya.
"Dia bukan anakku karena sikapnya berbeda denganku," gumamnya.
Sementara itu di lain tempat Raja terus saja memeluk Queen dengan senyumnya di ranjang ini. Queen menatapnya dalam lalu mencium seluruh wajahnya.
"Kapan mau makannya?" Tanya Queen sambil mencolek hidung Raja yang malu-malu kepadanya.
Raja menenggelamkan wajahnya di dada Queen menggesekkan beberapa kali disana dengan senyuman manisnya, kadang Raja mencuri-curi pandang Queen yang mulai memejamkan matanya dengan bibir yang di gigit di bawah.
Raja terkekeh melihatnya. "Apakah Ratu tergoda?" Queen akhirnya sadar ia mencubit hidung Raja dengan gemasnya.
"Makan dulu," raja mengangguk.
Queen menatapnya lama membuat Raja bingung. "Ada apa?"
"Tidak mau cuci mulut dulu?" Alis Raja menyerngit.
"Me-
Belum saja Raja mengatakan sesuatu Queen langsung ******* bibir Raja dengan sangat lembut sehingga membuat badannya menegang saking terkejutnya. Bahkan, Raja mulai memejamkan matanya karena baru pertama kalinya Queen memulai duluan.
Disaat Raja menikmati Queen malah melepaskan tautannya, sehingga Raja cemberut kepadanya. Queen menggelengkan kepalanya karena gemas melihat wajahnya.
"Itu namanya cuci mulut," ucap Queen dengan senyuman manisnya sambil mencolek dagu Raja yang tersipu malu karenanya.
"Ih aku kira cuci mulut yang lain. Tapi tidak apa aku suka," ucap Raja dengan nada manja sambil memajukan bibirnya beberapa senti kepada Queen yang terkekeh melihatnya.
"Apa yang Raja lakukan?" Tanya Queen pura-pura tidak mengerti.
"Lagi cuci mulutnya," pintanya sambil menunjuk bibirnya.
__ADS_1
Queen tersenyum. "Makan yah ...."
Raja semakin cemberut. Queen mendekatkan wajahnya, Raja menyangka Queen akan menciumnya lagi ternyata hanya berbisik kepadanya.
"Setelah makan saja supaya lebih bertenaga," bisik Queen lalu meniupkan udara hangat tepat di telinga Raja yang mulai memejamkan matanya akan serangan lembut Queen itu.
Raja menatapnya dalam dengan penuh keinginan di dalam matanya.
"Janji setelah makan?" Queen mengangguk.
Raja tersenyum manis. Lalu, menghabiskan makanannya dengan sangat cepat sehingga membuat Queen terkejut atas itu.
"Pelan-pelan ...."
"Kan supaya lebih bertenaga, aku akan makan banyak."
Queen mengangguk saja. Ternyata Raja menginginkan lagi makanannya, Queen memanggil pelayan saja setelah itu Raja memeluknya lagi menenggelamkan wajahnya di dada nya lagi.
'Sepertinya Raja menyukai hal itu,' ucap batin Queen merasa gemas dengan sikap Raja yang sangat manja kepadanya.
Sudah sepuluh kali Raja menambah makannya sehingga membuatnya kenyang.
"Mandi dulu yuk ...."
Raja mengangguk, lalu menarik tangan Queen setelah turun dari ranjangnya. Raja bingung karena Queen tidak mau turun dari ranjang.
"Mengapa?"
"Aku baru saja mandi masa mandi lagi. Raja saja yah aku menunggu disini, mandinya yang wangi."
"Mandiin," rengeknya.
Queen tersenyum. "Sudah besar bukan bayi lagi."
Raja memajukan bibirnya beberapa senti sambil menghentakkan kakinya kesal. "Aku kan bayi besarnya Ratu ...."
Queen terkekeh. Ia masih bingung dengan sikap suaminya itu sangat manja kepadanya ketika berduaan dan jika di luar sikapnya sangatlah berbeda.
"Yasudah. Aku akan pergi."
"Jangan!" Mata Raja mulai berkaca-kaca. Queen jadi mati kutu sekarang.
Queen menghela nafas. "Aku akan menyiapkan semuanya oke."
Raja mengangguk. Queen turun dari ranjang memberikan kain panjang berwarna putih kepada Raja hanya untuk menutupi bagian bawahnya saja.
"Mandilah ...."
"Tapi jangan pergi."
Queen mengangguk. Lalu, Raja mencium kening Queen cukup lama.
"Aku mencintaimu wahai Ratuku karena aku sudah menunggumu sejak 20 tahun. Kamu milikku sekarang."
Setelah mengatakan hal itu Raja pergi kemudian masuk kedalam pemandiannya. Queen mengedipkan matanya beberapa kali, alisnya menyerngit_bingung.
"Ah. Aku lupa memang hal itu lah yang terjadi di novelku. Namun, bukankah Raja menunggu selir yah? Mengapa Raja jadi menungguku?"
Mata Queen membulat sempurna, ia menutup mulutnya rapat-rapat.
"Apakah aku sudah mulai bisa mengubah alur ceritaku?" Tanya Queen merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.
Queen tersenyum bahagia. "Akhirnya ....."
Setelah menunggu Raja mandi sangat lama Queen menyuruh beberapa pelayan untuk membersihkan kamar Raja, Queen senang mereka tidak lagi menatap sinis kepadanya.
"Mereka sudah mulai bisa menerimaku," gumam Queen disaat para pelayan itu pergi dan menutup pintu kamar ini.
"Eh," Queen terkejut disaat tangan kekar memeluknya dari belakang, bahkan Queen mendengar denyut jantung yang hebat, ia juga mencium aroma yang sangat wangi.
Lantas, Queen membalikkan badannya, ia terpesona melihat ketampanan Raja. Namun, sayangnya Queen jadi mengingat kekasihnya di dunia sama persis wajahnya dengan Raja ini.
"Lupakan saja," gumamnya.
Alis Raja menyerngit. "Maksud Ratu?"
Queen menggelengkan kepalanya. "Mau ganti baju?"
"Keringkan rambutku dulu. Bukankah kita akan bersenang-senang setelah ini, lantas mengapa aku harus memakai baju?"
Queen mencolek batang hidung Raja. "Iyah."
Raja langsung menggendong Queen ala 'Bridal style' dengan senyum manisnya dan mendudukkan nya di ranjang ini dengan Raja yang mulai merangkak mendekat kearahnya.
"Rambutku basah, tolong keringkan," Queen tersenyum untungnya ada handuk kecil di meja dekat ranjang ini.
Raja semakin mendekatkan diri kepada Queen. Dengan mudahnya Queen mengeringkan rambut Raja menggunakan handuk di tangannya secara perlahan-lahan sehingga membuat Raja terpana kepadanya.
Mata Raja mulai mengantuk disaat Queen mengeringkan wajahnya. Bahkan disaat rambutnya sudah kering, Raja malah ambruk dalam pelukannya dengan mata yang terpejam.
Queen terkejut, ia menepuk-nepuk kedua pipi Raja dan mencoba untuk memeriksa nafas serta denyut nadinya. Akhirnya Queen bernafas lega ternyata Raja hanya tidur saja.
"Mungkin karena Raja terlalu makan banyak dan mandi jadi mengantuk, aku pun begitu dulu," kekehnya.
Dengan gemasnya Queen mencium batang hidung Raja sekilas. Lalu, menidurkan Raja di ranjang ini, sayangnya disaat Queen akan menjauh Raja langsung menarik dalam dekapannya sehingga membuat denyut jantung Queen berdebar bisa melihat Raja sedekat ini apalagi wangi di badannya sangatlah indah.
Queen melihat perut dan dada bidang Raja sangat indah, akhirnya ia mengelusnya dan tersenyum kepada Raja yang diam-diam tersenyum dalam tidurnya.
"Aku tahu Raja lelah. Maka jangan sungkan untuk mendekat kepadaku karena aku Ratumu," setelah mengatakan itu Queen mencium seluruh wajah Raja.
Queen terkejut disaat Raja membuka matanya.
__ADS_1
"Kita bermain?" Mata Queen melotot ia tidak menyangka Raja akan bangun dan langsung menutupi badan mereka berdua menggunakan selimut tebal ini sehingga Queen hanya pasrah saja.