
Setelah banyaknya waktu yang Queen lewati sendirian terkurung di kamarnya sendiri. Akhirnya tabib itu datang dengan seorang pria yang sangat gagah, badannya tinggi, badannya bagus dan sedikit berisi, kulitnya berwarna coklat serta sangat tampan.
"Hormat kami sang Ratu," Queen merasa tersentuh disaat melihat dua orang itu yang sangat menghormatinya. Sekarang Queen merasa tidak sendiri lagi.
Queen menundukkan badannya, tangannya di satukan. Kemudian tersenyum sangat anggun meskipun Queen tidak memakai riasan serta pakaian bagus seperti para istri Raja lainnya.
"Hormat saya tabib dan panglima," mereka syok mendengarnya. Sungguh perubahan sang Ratu sangat luar biasa sampai mereka melongo tidak bisa berbicara apapun lagi.
Queen melihat sebulir air mata turun membasahi wajah tabib itu. Hatinya merasa tersakiti karena telah menyakiti orang yang lebih tua sampai membuatnya menangis seperti ini.
"Apakah aku melakukan kesalahan tabib?" Tanya Queen penasaran.
Tabib menggelengkan kepalanya. Tersenyum kepadanya. "Mau duduk?" Tawar Queen.
Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Kemudian tersenyum sangat manis. Queen bisa melihat raut wajah bahagia sekaligus terkejut dengan sikapnya.
"Mari," akhirnya mereka berdua mengikuti Queen duduk di balkon kamar Queen yang masih tertutupi pagar berkali-kali lipat oleh perintah sang Raja supaya dirinya tidak bisa keluar dari kamar ini.
"Ini hanya ada sebuah minuman yang di berikan pelayan tadi," jelas Queen seraya menuangkan air di teko itu ke gelas yang sudah disiapkan di meja ini.
Alis tabib itu menyerngit. Merasa ada hal aneh. Dirinya menyentuh gelas yang sudah di sentuh panglima. "Ada apa, ayah?" Tanyanya.
Queen melotot tidak percaya. Apakah tabib ini ayah dari anak panglima yang sangat tampan ini?
"Itu beracun nak. Jangan meminumnya!" Perintahnya, menatap putranya yang langsung menaruh gelas itu di meja ini kembali.
Mereka berdua melihat kearah Queen. Queen menggelengkan kepalanya ia tidak merasa memasukan semua racun itu. Bahkan, Queen tidak tahu itu beracun.
"Apakah Ratu selalu meminumnya?" Tanya tabib itu dengan raut wajah serius. Queen menelan salivanya susah payah, dirinya merasa dalam bahaya sekarang.
"I-iyah. Karena itu yang di berikan para pelayan. Lagi pula, aku tidak bisa keluar kamar karena itu perintah Raja dan Selir kesayangannya."
Tabib itu menghela nafas. Panglima menatap Queen kasihan. "Ratu mempunyai hak atas kerajaan ini, selagi Ratu masih mempunyai kekuasaan. Bahkan, kekuasaan itu lebih besar dari seorang Selir," jelas tabib itu.
Queen menundukkan wajahnya. Air matanya lolos begitu saja. Jujur Queen ingin pulang saja dari pada dirinya harus mati terbunuh oleh racun yang di berikan mereka dan Queen pun tahu bahwa inilah takdir yang sudah ia tulis di novelnya sendiri. Namun, tetap saja Queen tidak bisa mengubahnya sampai sekarang ia masih digerakkan oleh alur novelnya sendiri.
"Aku ingin pulang ...," Queen menangis sesegukan. Mereka berdua menghela nafas panjang.
Panglima itu berusaha menenangkan Queen dengan senyuman manisnya yang membuat Queen sedikit terlena.
__ADS_1
'Padahal aku menjadi kekasihnya saja jangan menjadi istri Raja itu apalagi aku menjadi Ratu antagonis,' tutur batin Queen.
"Ratu anda jangan bersikap seperti ini. Ratu harus kuat," ucap Panglima dengan suaranya yang sangat lembut.
Queen menatapnya. "Kami akan menjelaskan!" Tegas sang tabib merasa kasihan dengan kondisi sang Ratu sekarang.
"Boleh saya melihat pergelangan tangan Ratu? Bolehkah saya memegangnya?" Tanya tabib itu. Queen mengangguk.
Perlahan-lahan tabib meraba-raba telapak tangan Queen. Lalu, memejamkan mata, alisnya menyerngit. Tabib itu terus berusaha melihat apa yang terjadi sebenarnya.
Setelah itu tabib melihat masa lalu Queen. Meskipun reka adegannya terlihat buram sekalipun dan tidak sejelas itu. Sehingga ia tahu bahwa Queen hanya manusia biasa yang lelah atas kehidupannya. Ia juga melihat bahwa Queen di khianati oleh kekasihnya sendiri dan Queen masuk kedalam novelnya setelah melemparkan novelnya kesembarang arah dan ia pun melihat nenek tua yang memegang sebuah pena emas kerajaan ini dengan senyumnya.
"Hah ...," Nafas tabib itu tersengal-sengal. Queen menatapnya bingung.
Tabib Farka sekarang mengerti, bahwa nenek tua itu mirip dengan ibu sang Raja yang dulu pernah membesarkan Queen dan menitipkan Raja hanya untuk Queen namun saat ini Raja malah lebih mencintai Selir Sayinat yang mengaku bahwa Selir kesayangan Raja dan Queen diasingkan.
Pena yang dibawanya pun adalah pena khusus kerajaan yang bisa mengabulkan apapun dan pena itu adalah pena ibunda Ratu yang telah di kuburkan bersama ibunda Ratu serta kejadiannya sudah berpuluh-puluh tahun lamanya dan mengapa ibunda Ratu bisa memberikan pena itu kepada manusia biasa seperti Queen?
"Bagaimana ayah?" Tanya panglima penasaran karena ayahnya hanya diam saja.
Tabib itu tersenyum, menatap Queen yang menatapnya bingung. "Ini adalah sebuah misi. Jika misi ini selesai maka sang Ratu akan kembali ke dunianya dan jika misi ini gagal maka sang Ratu harus menetap disini."
Badan Queen menegang. Bagaimana mungkin dirinya akan menetap disini, sementara Queen sendiri tidak tahan dengan aura kerajaan ini.
Queen terkejut mendengarnya."J-jadi nenek tua itu?" Tabib mengangguk karena ia paham dengan apa yang akan di katakan Queen. Sementara Panglima ia merasa bingung sendiri.
Tabib itu menatap Queen serius. "Ratu harus memperbaiki semuanya."
Queen melotot tidak percaya. "S-semuanya? Tidak mungkin! Itu bukanlah misi! Bagaimana aku bisa melakukannya? Sementara aku disini bagaikan seorang Ratu pajangan!"
"Ayah. Misi apakah itu?" Tanya panglima sangat penasaran karena kasus ini sangat menarik.
"Karena raga mu berada di raga sang Ratu yang sangat di benci disini. Ratu ini terkenal sebagai Ratu Antagonis. Maka dari itu, kamu harus bisa memperbaiki semuanya."
Queen menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa? Aku bahkan seperti di penjara disini?!"
"Kau harus menjadi wanita mandiri, kalau kau bisa maka semua pintu akan terbuka. Perlahan-lahan lah. Namun, jika posisi Ratu itu sudah di gantikan maka kau tidak akan bisa kembali."
Queen melotot. "Jadi aku harus mempertahankan posisi ini? Aku harus menjadi wanita mandiri dari sebelumnya? Aku harus bisa membuat orang percaya atas perubahan ku? Aku harus mengubah semua pandangan tentang diriku dan aku harus membuat Raja mencintaiku? Apakah itu?"
__ADS_1
Tabib itu mengangguk. Queen frustasi dengan semua ini. "Kenapa banyak sekali misi ini. Apakah kalian bisa membantuku?"
"Itu misimu siapapun tidak akan bisa membantumu. Kamu harus lebih mandiri lagi! Jadilah wanita mandiri seperti berada di dunia mu."
Queen tersenyum tipis. "Jika kamu masih memakan makanan dan minuman yang di sajikan oleh pelayan disini. Maka kamu akan mati secara perlahan-lahan dan tidak akan bisa kembali kedalam tubuhmu. Selamanya ...."
Nafas Queen memburu, ia tidak akan pernah membiarkan ini terjadi. "Cobalah dan ingat jauhi Selir Sayinat dia tidak sebaik apa yang Ratu kira dan berhati-hatilah kepada Raja karena Raja diam-diam ingin membuat Ratu mati."
Queen tersenyum kecut, ia tidak menyangka banyak sekali yang ingin membuatnya mati dan Queen tidak pernah membayangkan akan mati di dalam kisah novelnya sendiri.
"Aku yakin kau mampu sang Ratu," tutur Tabib.
Mereka berdua menunduk hormat, kemudian pamit dari sana. Queen memukul keningnya beberapa kali saking kesalnya. Lalu, menatap teko dan secangkir gelas yang berada di meja ini.
"Ternyata apa yang aku minum dan makan beracun. Pantas saja badanku selalu melemas dan bodohnya disaat aku tahu semua itu aku hanya diam saja. Ternyata sulit sekali mengendalikan di mensi ini padahal akulah penulis takdir mereka."
Queen benar-benar tidak menyangka semuanya berbuat buruk kepadanya. Queen mengepalkan tangannya kuat dirinya akan menjadi wanita yang lebih mandiri sekarang. Meskipun dirinya adalah seorang Ratu sekarang.
***
"Permisi Ratu," Queen melihat banyaknya pelayan menghantarkan makanan dan minuman ke kamarnya ini.
"Ini makanan dan minuman yang telah kerajaan sajikan. Silahkan Ratu," para pelayan itu tersenyum hangat kepadanya.
Queen melihat sorot mata mereka seakan menginginkan dirinya mati. Memang perkataan tabib itu benar.
"Jika kamu masih memakan makanan dan minuman yang di sajikan oleh pelayan disini. Maka kamu akan mati secara perlahan-lahan dan tidak akan bisa kembali kedalam tubuhmu. Selamanya ...."
Perkataan tabib itu seakan terngiang-ngiang kepadanya. Queen menyuruh para pelayan itu pergi. Setelah itu Queen bingung harus berbuat apa dengan makanan sebanyak ini. Padahal tadi pagi Queen memakan makanan yang sama seperti ini sangat banyak sampai menghabiskannya. Namun, setelah mengingat perkataan tabib itu dirinya merasa tidak ingin makan.
Tiba-tiba saja ada semut yang memakan makanan itu. Queen terkejut melihatnya, beberapa detik kemudian semut itu langsung ambruk dan mati.
"Tidak mungkin!" Queen hanya bisa menutupi mulutnya saja disaat melihat hal itu.
"Mereka benar-benar ingin membunuhku dan ingin melawanku ternyata."
Queen tersenyum miring. Sorot matanya sangat tajam melihat kearah depan. "Memangnya aku wanita lemah? Apakah aku terlihat seperti wanita yang akan diam saja disaat di perlakukan seperti ini?" Tanyanya kedirinya sendiri.
Queen memegang pisau yang ada di meja ini menancapkan nya tepat diatas daging sapi yang terlihat sangat lezat itu.
__ADS_1
"Aku akan berubah menjadi diriku sendiri! Aku akan membuktikan bahwa aku bukanlah Ratu yang manja dan lemah. Aku seorang Queen Alstroemeria wanita mandiri yang kuat dan selalu berjuang sendiri di kehidupannya dulu atau pun sekarang!" Sarkasnya.
"Jika mereka ingin bermain-main maka mereka telah bermain-main dengan manusia yang salah. Kita lihat saja tanggal mainnya, sayang ...," Senyuman miring tercetak jelas di wajahnya. Sekarang Queen akan menjadi dirinya sendiri meskipun di tubuh orang lain.