
Gosip yang sudah terdengar luas tentang sang Ratu bisa meramal masa depan membuat banyak orang penasaran termasuk Raja Ototami di negeri sebrang bersama adiknya yang cantik.
Queen tersenyum manis, sejujurnya ia malu karena gosip itu yang lebih mengenal dirinya sebagai dukun padahal bukan. Apalagi sorot mata Raja Ototami terus mengarah kepadanya seakan ada kerinduan disana.
"Jaga pandangan atau mata kau akan hilang dalam sekejap!" Tegas sang Raja disaat mengetahui Raja Ototami yang selalu melihat kearah Ratu.
Raja Ototami menundukkan badannya, lalu meminta maaf kepadanya. Sementara sang Ratu masih melihat Raja Ototami karena saking tampannya dan adiknya itu hanya tersenyum geli saja melihatnya.
"Ratu apakah saya boleh bertanya kepada anda?" Ratu langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat seakan ia sudah siap menunggu pertanyaan ini dengan senyuman yang tidak luntur di wajahnya dan hal itu membuat Raja kesal.
Queen hanya duduk di samping Selir Raia karena Selir Sayinat selalu ingin berada di samping Raja dimana itu adalah posisi untuk Ratu.
"Apakah Ratu benar peramal?" Queen terkekeh mendengarnya.
'Ya tuhan ... Aku hanya seorang penulis yang masuk kedalam novelku sendiri dan aku bukan peramal,' batinnya.
"Banyak gosip tentang itu, maka saya hanya ingin tahu apakah itu benar maka tolong lah bantu saya untuk meramal kerajaan saya dan juga adik saya yang akan menikah nantinya."
Queen mengangguk. Ia berjalan kearah Raja Ototami yang tersenyum melihatnya. Queen lantas duduk di samping kursinya yang membuat badan Raja Ototami menegang ia seakan duduk bersama permaisurinya.
Raja langsung berdiri dari tempat duduknya membuat semua orang berdiri dan menatap mereka berdua.
"RATU JANGAN BERTINDAK TIDAK WAJAR!" teriak Raja sekeras-kerasnya. Bahkan Raja langsung berjalan kearah sang Ratu mencekal tangannya sementara Ratu hanya diam saja menatapnya kesal.
"Aku hanya ingin melakukan tugasku saja."
"Tapi tidak duduk bersamanya!" Teriaknya.
Queen menggidikkan bahunya berusaha tidak peduli kepada Raja.
"Sini mana tanganmu," Raja Ototami langsung mengulurkan tangannya sementara sang Raja terus mengawasi hal itu di hadapan sang Ratu.
"Bagaimana Ratu?" Tanya Raja Ototami penasaran dengan menatap dalam kedua mata sang Ratu.
Ratu tersenyum menggoda kepadanya. Lantas, hal itu membuat amarah Raja semakin memuncak, Raja melotot terus menerus dengan tangan yang terkepal kuat. Mereka yang melihatnya merasa aneh dengan sikap sang Raja.
"Sudah cukup!" Teriak Raja kesal.
Queen melihat kearahnya ia mendengus kesal. "Hei demi koin emas," ucap Queen sehingga membuat Raja kesal karenanya.
"Tapi meramalnya harus bener yah," peringat Raja Ototami.
"Kalau enggak bener."
"Saya nikahin kamu," Queen tersipu malu mendengarnya sementara Raja merasa panas di ulu hati sehingga terlihat asap yang memuncak di kepalanya.
"Apakah Raja cemburu?" Tanya salah satu menteri berbisik kepada panglima yang kesal karenanya.
"Diamlah!"
"Boleh nikahin ajah kalau berani," balas Queen.
Sudah habis kesabaran Raja ia langsung memegang tangan Queen, lalu menariknya sehingga tepat di pelukannya. Mereka kaget melihat hal itu, apalagi sorot mata Raja menatap tajam Raja Ototami.
__ADS_1
"Dia istriku!" Raja Ototami menghela nafas.
"Biarkan istri Raja menjalankan tugasnya untuk meramal saya," ucapnya memberi saran.
Raja mendelik tidak suka. Queen terus saja memberontak meminta di lepaskan karena nafasnya hampir saja tidak ada hanya karena pelukan erat sangat erat dari Raja.
"Raja kalau cemburu katakan saja," ketua Queen yang langsung di sambut tawa oleh mereka.
"Saya tidak cemburu!" Tegasnya. Namun, matanya menyorot kecemburuan terlihat sangat jelas.
"Sudahlah bicara dengan Raja percuma buang-buang waktu."
"Apa kamu bilang?!" Raja langsung melepaskan pelukannya, menatap Queen nyalang.
"Kenapa enggak suka?"
Alis Raja menyerngit. "Kamu lebih suka bicara dengannya Iyah?!" Queen mengangguk saja lagi pula itu benar.
Raja semakin terbawa emosi. Selir Raia tahu apa yang akan di lakukan Raja selanjutnya ia berusaha mengelus bahu Raja untuk menenangkannya meskipun masih tidak bisa.
"Maaf Raja tolong dengarkan aku. Biarlah Ratu meramalnya jikalau itu benar maka penghasilan kerajaan akan semakin bertambah bukan? Raja jangan cemburu ku mohon ...."
Salah satu menteri berjalan kearah Raja. "Apalagi Raja tahu 30 peti emas kita untuk cadangan di masa depan sudah habis karena ulah Selir Sayinat yang boros dalam keuangan kerajaan."
Selir Sayinat naik pitam setelah mendengar hal itu, ia menarik tangan menteri itu dengan penuh amarah.
"Enak saja! Itu hak saya lagi pula saya selir kesayangan Raja. Bukan seperti Ratu yang hanya menjadi beban Raja!"
Queen mendelik tidak suka kepadanya. "Kalau begitu bisakah Selir menggantikan harta kerajaan? Apalagi Selir tahu koin emas itu untuk Rakyat karena sebentar lagi akan ada pameran di kerajaan ini."
Selir Sayinat menatap Raja yang langsung memalingkan wajahnya dan itu membuatnya kesal.
"Apa salahnya?! Bukan kah dulu Ratu pun begitu? Mengapa kalian harus marah kepada saya? Saya tidak salah! Itu hak saya!"
Queen memutar bola matanya malas. "Sudahlah. Bicara dengannya sama saja bicara dengan anjing!"
Mereka melotot mendengarnya begitu pun dengan Raja. "Kau!" Teriak Selir Sayinat kesal seakan ingin memukul Queen.
"Mau apa?"
Selir Sayinat kesal kemudian pergi dari sini dengan ucapan serapah yang keluar kasar dari mulutnya.
Queen tersenyum kepada Raja yang menatapnya tidak percaya. "Baiklah. Aku akan melanjutkan tugasku yang tadi."
Raja Ototami masih diam ia terlihat syok karena ucapan Queen yang sangat kasar. Sementara adiknya berusaha menyadarkan sang kakak sehingga ia sedikit malu dibuatnya.
"Coba katakan ...."
"Nasib mu sangat baik. Bahkan, kerajaanmu akan berkembang dengan pesat jika kamu selalu menjaga hubungan silaturahmi antar kerajaan sehingga tidak melibatkan peperangan nantinya. Keuangan kerajaan pun berjalan dengan baik bahkan sekarang Raja telah mempersiapkan rencana untuk menjual beberapa berlian yang sudah tertanam di kerajaan Raja, benar bukan?"
Raja Ototami dan adiknya terkejut mendengarnya. "Kamu tahu?" Queen mengangguk.
"Bahkan, pernikahan adikmu akan terbilang meriah karena pangeran itu sangat mencintainya. Hanya saja tetap berhati-hatilah dengan orang terdekat jangan sampai mengkhianati sehingga berlian itu habis dan tidak menghasilkan satu koin emas pun."
__ADS_1
Raja Ototami tersenyum mendengarnya. "Lalu, bagaimana denganku apakah aku akan menikah denganmu?"
"HEI!!!" teriakan Raja hampir membuat jantung Queen meledak itu sangatlah mengejutkan.
Queen tersenyum tipis. "Setelah adik Raja menikah ada kerajaan lain yang menawarkan pernikahan kepada Raja putrinya sangat cantik di negeri sebrang di kenal sebagai ibu peri semua orang karena hatinya yang sangat baik selalu menolong orang lain. Saran dariku terimalah apalagi kerajaan itu akan membantu ekonomi kerajaan di masa depan apalagi putrinya sangat mencintai Raja."
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Bantahnya.
Queen tersenyum. "Itu akan terjadi dan jika Raja menolaknya hal itu akan berpengaruh dengan kerajaan apalagi kerajaan masih tahap perkembangan. Bukan begitu?"
Raja Ototami menatapnya dalam. Lalu, menghela nafas begitu panjang. "Lalu dengan mu?"
Queen terkekeh mendengarnya. "Aku juga masih tidak tahu dengan diriku, aku hanya bisa melihat takdir kalian saja tidak dengan ku karena aku hanya wanita biasa yang sebentar lagi akan lengser menjadi Ratu dan setelah itu mungkin aku akan menjadi gelandangan," lirih Queen.
Raja Ototami langsung memegang tangan Queen yang di tepis kasar oleh Raja.
Raja Ototami menghela nafas. "Kalau pun aku menikah, posisimu di hatiku masih sama dan jika hal itu terjadi datanglah ke kerajaan ku, maka aku akan menyambutmu sehingga aku akan menetapkan posisimu disana."
Queen tersenyum mendengarnya. "Hanya orang gila yang melepaskanmu dengan begitu mudahnya."
"HEI!!!!" lagi dan lagi Raja terbawa emosi. Bahkan, pedangnya sudah mengarah kearah leher Raja Ototami yang santai ketika di perlakukan seperti itu.
Queen mengusap wajahnya gusar. Entah kenapa sikap Raja semakin hari semakin membuatnya kesal.
Para menteri berusaha menangkan Raja sehingga pedang itu menjauh darinya.
Raja Ototami tersenyum kepada Queen. "Aku akan menghadiahkan 30 peti berisi koin emas untukmu dan jika hal itu terjadi maka aku akan menambahkan 20 peti emas lagi."
Mereka terhenyak mendengarnya. Sungguh fantastis sekali dan jika itu terus terjadi maka kerajaan ini akan semakin berkembang dengan baik.
"Berhati-hatilah dengan orang terdekatmu yang telah mengincar berlian itu dan jangan mempercayakan daganganmu ke orang lain sehingga nanti ada kasus korupsi."
Raja Ototami tersenyum dan mengangguk. "Aku paham. Terimakasih."
Queen mengangguk dan tersenyum. "Datanglah ke pernikahan adikku satu Minggu lagi."
Raja menatapnya kesal. "Oke dan terimakasih atas kerja samanya."
Setelah mereka pergi Queen tersenyum senang disaat melihat koin emas begitu banyaknya.
"Mau di kemanakan koin emasnya Ratu? Karena ini penghasilan Ratu," ucap Panglima penasaran.
"Bukankah kerajaan ini sedang membutuhkannya bukan?" Mereka bingung mendengarnya.
"Saya tahu kalian berencana untuk tidak mengadakan pameran, benar?" Mereka lagi-lagi terkejut.
"Saya sebagai seorang Ratu yang meskipun tidak dianggap sekali pun memberikan 30 peti koin emas ini untuk kerajaan sehingga Rakyat bisa merasakan perayaan pameran dengan meriah."
Raja tersenyum harus mendengarnya begitu pun yang lain. "Saya tidak bisa berjanji namun jika nanti ada penghasilan saya akan berbagi dengan kerajaan ini. Percayalah saya akan membayar semua kejadian di masa lalu."
Mereka lagi-lagi di buat terharu mendengarnya. Apalagi koin sebanyak ini yang bisa membantu kerajaan ini.
Raja langsung mencium pipi kanan sang Ratu yang membuat semua orang terkejut melihatnya. "Aku menyayangimu."
__ADS_1
Selama ada desiran yang sangat hebat mengalir di darah Queen ia hanya bisa tersenyum saja menutupi rasa gugupnya bahkan ia mendengar denyut jantung Raja yang bergetar dengan cepat disaat memeluknya seperti ini.