
Disaat Ratu dan Raja telah tiba di kerajaan Raja Ototami, penyambutan begitu meriah. Semua mata tertuju pada mereka berdua termasuk Queen mereka semakin bingung melihat betapa cantiknya istri Raja yang belum pernah mereka temui selama ini. Namun, kalau Selir Sayinat itu mana mungkin karena mereka telah melihatnya dulu.
"Maaf Raja siapa dia?" Tanya salah satu Raja dari negri sebrang yang datang ke perlombaan ini karena istrinya pun mengikutinya.
Queen yang merasa di tunjuk ia mendelik kesal karena sedari tadi Raja terus saja memeluknya dari samping, seperti sedang menebar kemesraan saja.
"Ratuku," balas Raja dengan senyumnya.
Queen geram mendengarnya. "Biarkan aku pergi!" Bisik Queen.
Raja tersenyum manis. "Kamu ingin mati?" Bisiknya lagi.
Seberusaha mungkin Queen tersenyum disaat mereka melihatnya. Queen harus berhati-hati apalagi banyak tamu undangan disini.
Raja di negeri seberang itu selalu saja melihatnya. "Dia istriku dia ratuku jadi jaga pandanganmu!" Tegasnya.
Raja di negeri sebrang itu mengangguk malu. "Cantik yah. Baru tahu saya. Lagi pula mengapa Raja selalu membawa Selir Sayinat dari pada Ratu? Apakah berita itu benar bahwa sang Ratu adalah seorang Antagonis? Namun, setelah di lihat-lihat tidak ada tanda-tanda nya. Melainkan semua tanda itu ada pada Selir Sayinat."
Raja menghela nafas. "Bukan urusanmu," ketusnya langsung melenggang pergi begitu saja.
Raja di negri sebrang itu hanya terkekeh melihat sikap Raja yang tidak mau kehilangan itu terlihat jelas dari wajahnya.
"Pantas saja Ratu itu di sembunyikan nyatanya sangat cantik," gumamnya merasa tertarik dengan istrinya Raja itu.
Queen melihat kanan kirinya ia tidak menemukan Raja Ototami sementara suaminya selalu saja memeluknya dari belakang dengan sangat erat, bahkan Raja memberitahukan kepada mereka bahwa ia adalah Ratunya sehingga orang lain enggan untuk mendekatinya.
"Maaf Ratu bukankah yang mengikuti perlombaan ini adalah Selir Sayinat?" Tanya seorang panitia yang bertugas untuk mendaftarkan para peserta di perlombaan ini karena terlihat ada kain ditangannya berwarna hijau yang berarti dia adalah panitianya.
Raja semakin mengeratkan pelukannya, ia sengaja menempelkan kepalanya di celuk leher istrinya dengan sebuah senyuman manis apalagi Raja melihat Raja Ototami yang tadinya akan berjalan kearahnya harus membalikkan badannya karena cemburu melihat itu.
'Baguslah kalau dia pergi,' desis batin Raja.
Sementara Queen bingung sendiri harus mengatakan apa kepada panitia itu. "Jadi Ratu yang menggantikannya? Bisakah Ratu memberikan alasan?"
Queen tersenyum. "Selir Sayinat sakit jadi akulah yang menggantikannya," jelas Queen dengan seulas senyuman.
"Aku kira Ratu hanya beban kerajaan saja. Ternyata Ratu ingin mengikuti lomba. Apakah Ratu bisa? Bukankah seorang Antagonis seperti Ratu ini akan membuat curang di perlombaan ini?" Tanyanya dengan sorot mata tajam seakan memperingatkan Queen.
Raja melotot kearahnya ia menjauhkan kepalanya dari celuk leher istrinya.
"Bicara apa kau ini?!" Teriakan Raja langsung mengalihkan pandangan mereka kepadanya termasuk Raja Ototami yang berjalan cepat kearahnya bersama dengan para prajuritnya.
"Apa salahnya kami hanya berhati-hati saja karena Ratu Raja dia seorang Antagonis. Bukankah dia akan berlaku curang di perlombaan ini hanya demi sebuah hadiah yang sangat bagus?"
Raja langsung melepaskan pelukannya, Queen bernafas lega akhirnya Raja bisa menjauh darinya. Namun, ia melihat Raja mencekik dengan keras panitia itu sehingga membuat mereka heboh.
__ADS_1
"Ada apa ini?!" Tanya Raja Ototami penuh ketegasan. Bahkan, ia melirik kearah Queen.
"Apakah kau tidak mengerti bagaimana menyambut kami dengan baik, huh?!" Desis Raja semakin mengeraskan cekikannya di leher panitia itu sehingga air matanya menetes begitu saja di wajahnya.
"R-raja t-tolong ...."
Raja Ototami melepaskan cekikan Raja Arkatama Waluya Nagaswara dengan kasar sehingga membuatnya semakin marah kepada Raja Ototami.
"Apakah kau ingin berperang?" Tanya Raja Arkatama dengan sorot mata penuh amarah.
Raja Ototami berusaha untuk tenang. "Tidak Raja. Dia panitia disini. Tolong berikan keluhan Raja saat ini."
Raja Arkatama geram ia menunjuk dengan matanya yang melotot merah sehingga membuat semua orang menunduk takut.
"Pantia itu telah merendahkan istriku! Dia telah memperlakukan istriku dengan tidak hormat di depanku sendiri!" Teriaknya sekeras-kerasnya.
Queen menelan salivanya susah payah disaat melihat urat tangan dan leher suaminya itu sangat tegang dan keras. Queen jadi takut.
Raja Ototami menghela nafas. "Maafkan kami Raja atas pelayanan yang kurang di negri kami."
Panitia itu menatap Raja Ototami kesal. "Bukankah yang aku katakan benar Raja bahwa Ratu itu adalah Ratu antagonis? Dia bahkan bisa melakukan kecurangan di perlombaan ini? Apa salahnya kita perketat bukan? Raja sungguh tidak adil! Bahkan Raja membiarkan Ratu antagonis itu menginjak negeri kita!" Desisnya.
Kepalan tangan Raja Ototami dan Raja Arkatama mengeras, sorot matanya memerah tajam mengarah kearah panitia yang sudah ketakutan itu sehingga keringat dinginnya sudah menetes dengan deras.
"Kau saja tidak menghormatimu sebagai Raja mu. Maka aku akan menghukum matimu di hadapan semua orang disini! Karena kau tidak menghormatiku sama sekali!" Teriak Raja Ototami dengan amarah yang menggebu-gebu.
"PRAJURIT BERIKAN PEDANG ITU KEPADAKU!" titahnya.
Queen menggelengkan kepalanya. Ia langsung menghalangi panitia itu menggunakan badannya, mereka semakin terhenyak melihatnya.
"Kenapa kau melindunginya? Biarkan Raja Ototami menghukumnya!" Desis Raja Arkatama dengan sorot mata kebencian kepada panitia yang berlindung di belakang badan Queen sambil menangis tersedu-sedu.
Queen menggelengkan kepalanya. Ia menatap Raja Ototami. "Jangan biarkan setumpah darah menetes di tanah ini. Ku mohon percayalah itu hal yang tidak baik. Biarkan dia hidup Raja. Apalagi ini perlombaan untuk gaun pernikahan adikmu kan? Lalu mengapa kau harus mengotori tanganmu dengan membunuhnya?"
Raja Ototami melepaskan pedang itu ke tanah. "Baiklah."
Mereka membulatkan matanya, merasa tidak percaya semudah itu Ratu dari negri seberang bisa menenangkan amarah Raja Ototami?
"Namun, jika panitia itu mulai berulah maka aku akan menghabisinya!" Desisnya.
Panitia itu menggeleng kepalanya. "Maafkan aku Raja."
Raja Ototami mengelus tangan Queen kemudian pergi begitu saja. Sementara Raja Arkatama mengepalkan tangannya, ia kesal melihat perilaku Raja Ototami kepada istrinya itu.
Queen terkejut disaat panitia itu bersujud kepadanya. "Maafkan aku Ratu. Kali ini aku yakin bahwa gosip yang beredar itu salah. Ratu bukanlah Ratu antagonis. Maafkan aku," lirihnya dan Queen langsung membantunya berdiri bahkan memeluknya membuat mereka menjerit tidak percaya.
__ADS_1
"Seorang Ratu memeluk seorang pelayan kerajaan?" Mereka terbingung- bingung melihat kejadian ini. Sementara Raja hanya tersenyum saja.
'Ternyata Ratuku aslinya dua orang. Bisa berubah-ubah,' Tutur batinnya.
...***...
Matahari mulai muncul, semua orang telah bersiap-siap mengikuti perlombaan ini. Bahkan untuk yang mendampingi peserta perlombaan mereka sudah di berikan tempat duduk khusus. Bukan seperti penonton Rakyat biasa yang duduk di tanah lapangan ini dan tidak di jamu.
Queen bersyukur lapangan ini tidak terlalu panas, bahkan angin sepoi-sepoi terasa begitu nikmat ketika menyentuh sela-sela rambutnya.
"Aku ragu Ratuku bisa melakukan hal itu," gumam Raja Arkatama disaat melihat Ratunya tengah mendesain gaun di tengah lapangan ini.
Bahkan, di lapangan terbuka ini sudah banyak bahan-bahan yang mereka akan pakai beserta patung yang pas seperti badan adiknya Raja Ototami.
"Berapa lama kakak memberikan waktu kepada mereka?" Tanya adik kesayangan Raja Ototami kepada kakaknya yang terus melihat pergerakan Queen.
"Sampai sore."
Adiknya menganggukkan kepalanya saja. Namun, disaat semuanya tengah sibuk, Queen lupa membawa jarum jahit ia bingung sendiri harus berbuat apa. Bahkan, Raja sudah mengira Ratu payah dalam hal ini.
"Dia memang payah," gumamnya.
Para tamu undangan ini menatap kearah Raja Arkatama. "Bukankah Ratu itu istrimu Raja?" Raja mengangguk saja.
"Mengapa dia diam saja? Dia tidak bisa menjahit yah? Yang lain saja sudah hampir selesai."
Raja terdiam. Ia menutup wajahnya menggunakan tangan yang satunya karena tangan satunya lagi memegang sebuah pedang yang di tancapkan ketanah.
'Malu sekali. Dia benar-benar payah seharusnya aku membawa Selir Raia saja. Sungguh dia sangat tidak bisa diandalkan. Sangat payah menjadi seorang Ratu,' tutur batin Raja.
Queen mencari sesuatu di gaunnya, ia jadi teringat disaat dirinya sengaja menancapkan jarum jahit di bagian gaun ini. Setelah menemukannya Queen tersenyum, ia mengelap seluruh keringatnya, akhirnya ia bisa melanjutkan pekerjaannya.
Sorak meriah para penonton yaitu Rakyat sangat heboh disaat melihat seorang Ratu antagonis melakukan hal ini dengan sangat cepat. Bahkan, gaun Ratu itu tidak sama seperti mereka.
Adik dari Raja Ototami tersenyum senang melihat hal itu. "Rancangannya beda sekali dari yang lain kakak."
Raja Ototami mengangguk. "Dia memang sangat berbakat. Apakah kau mau mempunyai kakak ipar seperti itu?" Adiknya langsung mengangguk. Akan tetapi setelah itu ia melihat kearah kakaknya lagi dengan alis yang menyerngit.
"Jangan-jangan kakak naksir yah?" Tanyanya penuh curiga.
Raja Ototami terkekeh geli mendengarnya. "Tentu."
Adiknya melotot tidak percaya akan hal itu. Bahkan beberapa dari mereka mendengarnya sehingga Raja Arkatama mati-matian untuk menahan emosi.
'Sialan dia mengatakan hal itu di tempat umum. Akan aku habisi dia!' desis batin Raja Arkatama karena sudah muak dengan Raja Ototami.
__ADS_1