I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
12. Ada apa dengan Raja?


__ADS_3

Ketika sibuknya mereka membahas tentang tahta Ratu yang akan di gantikan oleh Selir Sayinat. Entah kenapa Raja merasa tidak tega sekarang. Raja selalu tersenyum mengingat malam yang indah waktu itu bersama dengan sang Ratu.


"Ada apa dengan Raja?" Para menteri dan Panglima saja bingung melihat sikap Raja yang selalu tersenyum sekarang setelah adanya sang Ratu.


"Ratuku," gumamnya. Mereka mengangguk paham dengan apa yang di pikirkan Raja sampai tersenyum-senyum sendiri seperti itu.


Di tempat lain Queen melihat gerbang istana. Rasa ingin tahu pun akhirnya muncul. Queen berlari cepat kearah gerbang, Prajurit serta Pelayan heboh melihat Queen berlari seperti ingin kabur.


Mereka berteriak langsung berlari mengikuti arah sang Ratu. Bahkan, ada beberapa Prajurit memberitahukan hal itu kepada Raja sampai Raja menunda diskusinya bersama para menteri mereka yang kebingungan karena sikap Raja perlahan-lahan berubah dan perhatiannya sekarang hanya kepada sang Ratu.


"Tolong bukakan gerbangnya. Aku ingin keluar ...," Queen memohon menyatukan kedua tangannya menatap banyaknya Prajurit yang sedang menghalangi gerbang yang terbuat dari emas dan berlian itu.


Queen menghentakkan kakinya kesal, lalu bersedekap dada. "Apa salahnya bukakan pintu gerbang, setelah itu aku keluar dari sini. Selesai ... Bukankah kalian menginginkan hal itu kan?" Mereka menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Queen kesal melihatnya hanya bisa menghajar angin saja. Mereka tersenyum melihat kegemasan sang Ratu sekarang.


"Kenapa? Padahal aku hanya ingin melihat luar istana ini saja kok. Aku ingin melihat Rakyatku saja. Ayolah ... Kenapa kalian bersikap seperti ini?"


Mereka tetap diam. Queen jadi teringat sesuatu. "AKU SEORANG RATU DISINI DAN MEMPUNYAI KEKUASAAN SEPERTI SEORANG RAJA. TOLONG BUKAKAN PINTU ISTANA INI!" teriak Queen setegas mungkin.


Mereka tetap diam. Queen semakin kesal. "Apa yang Ratuku inginkan sampai berlari seperti ini ketika melihat pagar istana?" Tanya sang Raja tiba-tiba datang bersama Prajurit, Panglima dan juga para menterinya.


Mereka menundukkan badannya, salam hormat kepada Raja yang hanya diam biasa saja karena Raja masih melihat kearah Queen.


"Bukakan saja gerbang ini!"


Raja mengelus rambut Queen. Mereka tersenyum malu melihat keromantisan Raja dan Ratu ini.


"Tidak bisa Ratuku."


"Tapi aku mau keluar!"


"Tidak bisa."


"Kau seorang Raja kan?" Mereka syok mendengar kata sedikit kasar itu.


"Tentu Ratuku."


"Ku mohon bukakanlah ...."


"Jaminannya?" Queen muak seakan ingin mencambuk wajahnya habis-habisan.


"Tidak ada jaminannya?" Queen mendelik kemudian pergi dari sana. Harapannya ingin menemui Rakyatnya gagal total padahal Queen ingin sekali bertemu Rakyatnya supaya Rakyatnya tetap mendukung dirinya dan posisi menjadi Ratu tidak akan di geser oleh siapapun.


'Kalau seperti ini aku tidak bisa pergi dari sini!'


Meskipun Queen sudah jauh sekalipun Raja masih tetap mendengar Queen membatin. Raja sedikit sedih dengan perkataan itu, entah kenapa Raja selalu mendengar Queen membatin tentang keinginannya pergi dari sini.


'Apakah benar Ratuku mempunyai selingkuhan?'


***


Selir Sayinat terus saja mendesak Raja serta para menteri untuk tidak mengundurkan pemilihannya serta peresmiannya menjadi Ratu sekarang karena dirinya yakin Rakyat akan setuju kepadanya.


"AKU SELIR KESAYANGAN RAJA! TOLONG JANGAN MUNDURKAN LAGI PEMILIHAN ITU!"


Raja melihat Selir Sayinat yang tampak berbeda dari sebelumnya. Sekarang Raja hanya bisa melihat keangkuhan di dalam dirinya begitu pun dengan yang lainnya.


"AKU INGIN MENJADI RATU! SUPAYA RAJA BISA SELALU BERSAMAKU DAN RATU ANTAGONIS ITU BISA PERGI DARI ISTANA INI!" teriaknya berusaha meyakinkan mereka.


Putri Biana mendengar semuanya. Kalau memang benar Selir Sayinat akan menjadi Ratu mengapa ibunya tidak bisa? Ini tidaklah adil. Bahkan, Selir Sayinat terlihat hanya menginginkan hartanya Raja saja.


'Aku akan menghabisinya suatu saat nanti!' batinnya.


Sementara itu perut Queen berbunyi begitu kencang, dirinya lapar sekarang. "Bagaimana mungkin aku memakan dan meminum sesuatu yang mereka kasih kepadaku, sementara mereka menginginkan aku mati."


Mau tidak mau meskipun Queen adalah seorang Ratu yang selalu di layani oleh Pelayannya. Sekarang Queen harus mandiri, dirinya harus bisa menjadi dirinya sendiri sekarang meskipun dengan tubuh yang berbeda.


"Hormat kami Ratu. Mengapa Ratu ada di dapur?" Mereka terkejut melihat Ratu masuk ke dalam dapur istana.

__ADS_1


Queen bersedekap dada, menatap mereka yang tengah menatapnya tidak percaya. "Ratu lapar? Sebentar lagi makanannya akan siap Ratu."


"Aku saja yang memasak," mereka langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak Ratu!"


Queen menghela nafas panjang. Mereka menundukkan wajahnya, badannya panas dingin, takut jikalau sang Ratu akan mengamuk seperti dulu sampai membunuh beberapa Pelayan.


"Kalian pergi dari sini!" Refleks mereka mendongakkan kepalanya, melihat sang Ratu yang tersenyum kepada mereka.


"Tidak Ratu. Kami akan melayani Ratu, kami akan memasak bahkan kami sudah menyiapkan makanan khusus untuk Ratu."


Queen menyeringai. Badan mereka langsung menegang, Queen menatap mereka satu persatu yang tidak berani melihat kearahnya.


'Mereka berusaha untuk membunuhku lewat apa yang aku makan. Memangnya aku sebodoh itu apa?! Aku Queen dan bukan Ratu Antagonis!' teriak batin Queen.


"Makan saja makanan itu, aku akan memasak makananku sendiri."


Mereka saling melihat satu sama lain. "Tapi kami di suruh kepala Pelayan Nurbaya untuk memberikan makanan ini khusus Ratu."


Queen melihat makanan itu memang terlihat enak. Namun, setelah Queen mengetahuinya itu mengandung racun, Queen tidak berselera lagi.


"Mulai sekarang dan seterusnya aku yang akan memasak khusus diriku sendiri. Jika kalian ingin memasak, masaklah khusus anggota kerajaan."


"Ratu kenapa ingin menjadi mandiri? Biasanya kami yang akan melayani Ratu."


Queen tersenyum tipis. "Silahkan ambil makanan khusus untukku itu makanlah."


Mereka menggelengkan kepalanya. Queen tahu mereka tidak mau memakan makanan itu karena memang mengandung racun. "Yasudah."


Queen mulai melihat-lihat apa yang ada di dapur ini. Ide berilian muncul, sekarang Queen ingin memakan nasi goreng, rasanya pasti sangat enak. Apalagi bahan-bahannya pun serba ada disini.


Queen mengiris bawang, cabe, sayuran dengan sangat lihai. Setelah itu Queen menyiapkan semua bumbu, mereka terheran-heran dengan cara masak Queen yang berbeda bagaikan seorang koki yang handal.


Aroma begitu harum membuat mereka ingin menyicipi rasanya. Queen tersenyum senang setelah melihat nasi gorengnya sudah selesai, kemudian menaruhnya di piring emas ini menghiasnya dengan berbagai sayuran yang ada. Sungguh ini terlihat sangat enak dan menawan.


"Karena aku membuatnya banyak, silahkan kalian bagikan kedalam istana. Sebentar lagi makan siang, lagi pula jika kalian ingin mencicipinya boleh-boleh saja."


"Enak sekali," Para pelayanan itu satu persatu mencicipi, mereka sangat terkejut dengan rasa serta sensasi yang begitu lezat.


"Semua orang harus tahu berita ini! Mereka harus memakannya juga termasuk Raja!"


Queen melihat pemandangan yang sangat indah sambil memakan nasi gorengnya. Mereka melihatnya tergiur ingin mencicipi apa yang Queen makan, apalagi dengan aromanya yang sangat harum itu.


"Aroma apa ini? Mengapa sangat harum?" Teriak Putri Aruna berusaha mencari aroma ini.


Queen melihatnya sambil memakan nasi goreng miliknya. Kedua mata Putri Aruna berbinar, ia berjalan begitu cepat dengan seulas senyum yang sangat indah.


"Mau!!!!" Queen terkekeh kecil. Lalu, menyuapi Putri Aruna ini dengan penuh kasih sayang.


"Emm ... Ini sangat enak! Benar-benar enak! Siapa yang memasaknya Ibu Ratu?" Queen mencium pipi kanan Putri Aruna yang mulutnya masih di penuhi dengan nasi.


"Kunyah dulu baru bicara."


Putri Aruna tersenyum manis. "Habisnya ini sangatlah lezat!" Putri Aruna mengacungkan jempolnya, matanya menyipit seperti bulan sabit. Queen tersenyum haru mendengarnya. Tidak sia-sia dirinya belajar memasak sewaktu masih di dunianya.


"Ibu Ratu yang masak."


Putri Aruna melotot tidak percaya, dirinya tersedak, Queen langsung memberikan minuman kepadanya. Putri Aruna bernafas secara teratur, menatap Ibu Ratu tidak percaya.


"Mana mungkin! Belum ada istri Raja yang berani masuk ke dapur!" Teriaknya.


Queen menutup mulut Putri Aruna. "Memangnya kenapa kalau Ibu Ratu masuk ke dapur, hmm?"


Putri Aruna menjauhkan tangan Ibu Ratu dari mulutnya, menatapnya tidak percaya. "Karena mereka takut kalau kecantikannya berkurang. Ibu Ratu bisa kan pelayan yang melayani ibu Ratu? Kalau aku menjadi Ratu aku akan memerintah mereka dan tunduk kepadaku. Sementara aku hanya bersantai saja tanpa melakukan apapun."


Queen menggelengkan kepalanya. "Kita pun harus bisa menjadi wanita mandiri sayang ... Jangan sampai karena kekuasaan yang kita miliki, kita menjadi wanita pemalas. Kita harus bisa menjadi wanita mandiri karena kita tidak tahu masa depan itu seperti apa."


Putri Aruna termenung mendengarnya. "Mau makan lagi? Ibu Ratu akan senang hati menyuapi," Putri Aruna tersenyum sangat lebar sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. 

__ADS_1


Beberapa Prajurit dan pengawal yang berlalu lalang serta Pelayan Pribadi Ratu dan juga Putri Aruna tersenyum hangat melihat kejadian ini. Mereka sungguh tidak menyangka Ratu sudah berubah.


Di meja makan kerajaan sangatlah heboh, karena mereka tidak menyangka nasi berwarna coklat kehitaman ini akan menjadi sangat lezat dan nikmat ketika di makan.


"Aku kira ini nasi gosong. Ternyata nasi goreng."


Raja bahkan sudah memakan beberapa kali nasi goreng itu tanpa hentinya. "Raja itu bagianku!" Para menteri tidak mau nasi gorengnya di makan oleh Raja begitu saja.


"Aku Raja disini!" Sungguh mereka baru pertama kali melihat Raja seselera itu makan. Bahkan, makanan mereka saja Raja embat dan itu hanya berlaku pada nasi goreng saja.


Mereka ingin mencicipinya. Selir Raia dan Selir Sayinat tidak percaya akan kelezatan makanan ini.


"Ini sangat lezat sekali," Selir Sayinat kagum dengan makanan ini.


"Siapa yang memasaknya sampai rasanya sangat lezat?" Tanya Selir Raia keberapa Pelayan yang sudah menyajikan makanan ini.


"Ratu."


Deg ....


Ruangan yang awalnya heboh karena makanan nasi goreng, sekarang hening. Bahkan, Raja saja berhenti mengunyah padahal nasi gorengnya masih banyak di piring emasnya.


"Mana mungkin! Dulu saja Ratu paling anti dapur. Kenapa sekarang jadi berani masuk dapur?" Tanya Selir Raia penasaran.


"Ratu ingin menjadi wanita mandiri. Bahkan, Ratu akan memasak makanan setiap hari untuknya."


Raja menggeser piring berisi nasi goreng itu, lalu meminum air putih itu. "Nasi gorengnya tidak enak."


Mereka tersenyum mengejek kepada Raja. Tadi saja tidak henti-hentinya berkata bahwa makanannya sangat enak sampai makanan para menteri saja di makan olehnya.


"Benarkah Raja? Kalau begitu untuk aku saja," Panglima berusaha mengambil piring Raja dengan cepat Raja menepisnya.


"Aku akan membuangnya nanti."


Panglima tersenyum mengejek. Raja muak melihatnya. "Kan tidak enak, sayang kalau di buang aku yang makan saja."


Raja mendelik tidak suka. "Ini istanaku! Dan aku Raja disini!"


Panglima menyerah. Sekarang dirinya lebih memilih makanan lain saja yang sudah dihidangkan di meja makan seluas ini. 


"Nanti saja aku akan meminta Ratu memasak untukku."


Raja melotot tidak percaya dengan apa yang Panglima katakan. "TIDAK BISA! DIA ISTRIKU DIA RATUKU!"


Mereka terkejut Raja berdiri sambil menatap nyalang Panglima. Selir Sayinat geram melihat sikap Raja lagi dan lagi telah membuktikan bahwa Raja memang mempunyai benih-benih cinta kepada sang Ratu.


"Raja saja hanya menjadikannya pajangan saja. Raja pula sudah mengatakan kepadaku, bahwa Jika posisi Ratu sudah di geser maka Raja akan menceraikan Ratu dan akan ikhlas memberikan Ratu kepadaku."


Tangan Raja mengepal kuat, sorot matanya penuh api kecemburuan. "AKAN KUHUKUM MATI JIKA KAU BERANI BERKATA LAGI SEPERTI ITU!"


Panglima menghela nafas berat. "Terserah. Tapi suatu saat nanti aku akan tetap menagih janji Raja."


Raja membalikkan badannya, hatinya terasa sakit sekarang. "Bawa makanan itu aku akan membuangnya."


Setelah perintah dari Raja beberapa Pelayan membawakan makanan yang tadi Raja makan, lalu mengejar Raja mengikutinya dari belakang.


Panglima tersenyum penuh kemenangan meskipun banyak yang menatapnya tidak percaya.


"Apakah Raja mengatakan hal itu kepadamu Panglima?" Tanya Selir Raia masih tidak bisa mempercayai ini.


"Benar. Aku pasti akan meminta janjinya."


Selir Raia menggetarkan giginya, Raja memang sangat keterlaluan. Dirinya tidak ikhlas jika memang Selir Sayinat yang akan menjadi Ratu sehingga Ratu pergi dari istana ini dan menjadi istri Panglima.


'Ini tidak bisa dibiarkan!' jerit batin Selir Raia merasa kesal dengan sikap sang Raja.


Sementara Selir Sayinat terus tersenyum sambil melanjutkan makanannya kembali.


'Jikalau benar Raja akan memberikan Ratu kepada Panglima berarti aku harus tenang sekarang karena Raja tidak akan mengingkari janjinya dan aku pastinya akan menjadi Ratu.'

__ADS_1


Selir Sayinat tersenyum sangat lebar tidak membayangkan jika benar suatu saat nanti dirinya akan menjadi Ratu di istana ini.


__ADS_2