I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
9. Raja Ototami


__ADS_3

Panglima merasa tidak mengerti dengan sikap Raja dan Ratu. Mereka berdua sangat sulit ditebak bahkan Raja secara terang-terangan  bermesraan bersama Ratu di tempat umum sekalipun beda dengan istri lainnya.


Tabib Farka yang ternyata ayah panglima tersenyum disaat melihat anaknya sedang galau seperti itu. Bahkan, panglima bulak-balik sedari tadi.


"Kau cemburu nak?" Panglima menghela nafas berat.


"Ayah tahu segalanya."


"Justru yang lebih tahu dan penulis takdir cerita ini adalah sang Ratu. Lantas, mengapa kamu harus khawatir? Jika Ratu bisa mengubah alur novelnya sendiri maka kerajaan ini akan aman jika tidak yasudah Ratu akan tinggal selamanya di dimensi ini."


Panglima menghela nafas berat. "Tapi jujur Ratu sangat cantik dan terlihat sangat muda."


Tabib terkekeh geli mendengarnya. "Ratu masih berumur 20 tahun. Lagi pula Ratu tertidur lama kasihan masih kecil sudah di beri racun oleh Raja dan Selir Sayinat itu."


Panglima menjadi sedih mendengarnya. "Mereka jahat sekali ayah. Apakah harus aku melakukan hal yang sama kepada mereka?"


Tabib Farka menggelengkan kepalanya. "Tidak usah nak, biarkan semuanya berjalan begitu saja."


Panglima mengusap wajahnya frustasi. "Tapi aku tidak rela jika Raja dan Ratu bersama?"


"Kita lihat nanti apakah Ratu bisa mengubah takdirnya ataukah tidak. Jika tidak dia akan dihukum mati dan di lengserkan dari istana ini, jikalau tidak di hukum mati pun maka Ratu akan bersamamu dan tinggal disini selamanya meskipun Ratu harus bercerai dengan Raja."


Panglima tersenyum manis. "Jika ayah mengatakan hal itu maka itu pasti akan terjadi."


Tabib Farka hanya diam saja, ia juga bingung dengan semua yang terjadi di istana ini.


***


Suasana yang sejuk dan sangat indah, istana ini memang tidak semewah istananya karena istana ini lebih kecil dari istananya. Namun, rakyat dan anggota istana sangat bahagia diacara ini.


Queen datang ke acara penobatan Raja Ototami karena di undangnya, ia memakai gaun berwarna hijau dengan pernak-pernik perhiasan yang indah di gaun itu. Bahkan, rambut Queen di Gelung dengan hiasan bunga di kepalanya.


Sementara Selir Sayinat yang menempel terus di samping Raja memakai gaun yang sangat berlebihan sehingga membuatnya sulit berjalan dan hanya bergantung kepada Raja untuk bisa membantunya berjalan apalagi perhiasan di kepalanya luar biasa sangat berlebihan apapun ia pakai disana dan makeup nya cukup berlebihan sangat memperlihatkan bahwa ia sudah berumur 33 tahun.


Istri Raja yang Raja nikahi memang sangat tua dari Queen yang merupakan istri pertamanya apalagi Queen baru berumur 5 tahun waktu itu. Lantas, Queen setuju saja jika Raja menikah lagi, apalagi ia tidak mengerti apapun.


"Apakah Raja mempunyai anak lagi? Bukankah Selir Sayinat belum bisa mempunyai anak meskipun mereka sudah menikah bertahun-tahun? Dan juga Selir Raia hanya memiliki tiga anak dan yang jadi pertanyaannya siapakah gadis muda dan cantik yang berada di belakang Raja?"


Banyak mereka yang bertanya-tanya tentang hal itu. "Apakah dia anak Raja yah?"


"Apakah itu anak Raja yang paling cantik?"


"Tapi yang di belakang gadis itu ada yang cantik pula. Maka siapa dia?"


"Istri Raja mungkin."


"Mana mungkin! Dia masih muda."


Samar-samar Queen mendengar apa yang dikatakan mereka, bahkan anak-anaknya pun tersenyum menggoda kepadanya.


"Ibunda Ratu dianggap anaknya Raja seperti kami," kekeh Putri Cantika yang ada di belakangnya.


Queen tersenyum malu kepadanya. Seketika mereka berteriak disaat melihat Queen tersenyum dengan sangat indahnya.


Setelah masuk kedalam ruangan dan di beri tempat duduk Queen tidak duduk bersama Raja melainkan Raja duduk bersama Selir kesayangannya.


Raja sesekali melihat kearahnya yang ada di sampingnya meskipun tidak satu tempat duduk sekalipun karena Queen memilih duduk berdua dengan Putri Cantika.


Semua mata menyorot kepada Queen dan juga Putri Cantika mereka berdua memang sangatlah cantik tidak jauh bedanya.


"Mohon maaf Raja siapakah gadis yang duduk bersama Putri Cantika itu? Apakah dia anak Raja pula? Dia terlihat sangat muda dan cantik, apakah Raja boleh memperkenalkannya?" Tanya salah satu tamu kerajaan ini.


Raja muak berusaha mati-matian menahan amarahnya karena bisa-bisanya mereka menganggap istrinya sebagai anaknya.


"Apakah saya terlihat sangat tua?" Mereka melotot mendengarnya.


"Bukan begitu Raja. Kami hanya bertanya tentang gadis itu saja dan bukan bertanya tentang umur Raja," tungkasnya.


"Sama saja," ketusnya.


Mereka tersenyum simpul, mau menghajar takut perang, ingin berkata kasar takut perang pula, ingin mendekati gadis cantik itu takut perang besar pula. Lalu, bagaimana pikirannya bisa tenang sekarang?


Panglima tersenyum, ia jadi membayangkan jika suatu saat nanti Ratu menjadi istrinya dan lengser dari tahtanya, ia pasti akan ditanya banyak laki-laki seperti itu karena sang Ratu memanglah sangat cantik.


"Raja beruntung mendapatkannya. Namun, Ratu tidak beruntung mendapatkan Raja," gumam Panglima itu merasa sedih karena posisi duduk Ratu malah di gantikan oleh selir Sayinat yang hanya Selir biasa.


Terdengar bunyi terompet yang sangat keras dan juga teriakan seorang prajurit berada di depan pintu.


"PANGERAN OTOTAMI MEMASUKI RUANGAN!!!!"

__ADS_1


Queen tersenyum melihatnya, banyak bunga yang bertaburan di karpet merah ini, mereka berdiri disaat Pangeran itu berjalan menuju alas yang sudah disediakan untuk penobatan nanti.


Pangeran itu berhenti kearah Queen mengedipkan matanya dan tersenyum manis kepadanya, Queen terkekeh geli melihatnya begitu pun yang lain merasa kecewa karena Queen lebih memilih pangeran itu.


"Padahal saya akan melamarnya menjadikannya sebagai seorang Ratu. Eh malah keduluan."


Raja mendengarnya ia kesal sekali apalagi melihat istrinya malah tersenyum bahagia disaat melihat pangeran itu menduduki alas yang di penuhi dengan bunga mawar merah dengan wadah besar berisi air susu di hadapannya.


"Sekarang kami mohon doanya atas penobatan ini semoga berjalan dengan lancar dan kerajaan ini akan berkembang terus menerus."


Mereka mengangguk, lalu menutup matanya berdoa bersama-sama setelah itu beberapa pendeta itu mengelilingi pangeran itu dengan sesekali menepak kepala pangeran itu menggunakan sebuah daun suci.


"Pangeran boleh duduk di wadah besar untuk pemandian. Akan tetapi pangeran harus telanjang dada."


Queen menanti hal itu ia tetap pokus disaat pangeran itu tersenyum kepadanya, semua orang tahu hal itu dan selir Raja pun hanya bisa terkekeh melihat hal itu.


Sorot mata Raja semakin memanas saja, ia memegang dadanya terasa sakit sekali dan pengap. Selir Sayinat memegang kedua tangannya menatap Raja khawatir.


"Kenapa Raja?" Raja tersenyum kecut.


"Tidak masalah."


Selir Sayinat mengangguk saja.


Disaat Pangeran itu membuka bajunya Queen menganga melihat bagusnya badannya itu. Refleks Queen menengok kearah Putri Cantika yang ada di samping kanannya dan di samping Putri Cantika disana ada tempat duduk Raja yang berarti secara tidak langsung Queen berhadapan dengan Raja dengan jarak yang sedikit.


"Badannya bagus, kan? Aku sangat menyukai hal itu dan aku baru kali ini melihat badan yang sebagus itu," ucap Queen dengan suara sedikit pelan bahkan dari raut wajahnya ia sangat senang.


Raja mendengarnya langsung cemberut. "Kalau begitu aku akan memperlihatkannya supaya dia diam," ketusnya.


Disaat guci yang terbuat dari emas itu berisi air susu yang sangat putih dari wadah besar itu dan membasahi badan pangeran itu Queen semakin terpana melihatnya apalagi pangeran itu memejamkan matanya sungguh sangat indah.


"Jika aku menikah dengannya pasti aku sangat bahagia," gumamnya yang langsung di tegur oleh Putri Cantika.


"Ibunda Ratu jangan berkata seperti itu ...," Bisiknya.


Queen malah cengengesan. Raja menatapnya nyalang dan Queen melihat kearahnya seakan tidak mengenalnya dan itu membuatnya kesal apalagi banyaknya tamu kerajaan ini adalah pangeran dan Raja selalu melihat kearah Queen karena mereka tertarik kepadanya.


"INILAH RAJA KAMI RAJA OTOTAMI DI KERAJAAN MANGGALI."


Mereka berdiri langsung bertepuk tangan disaat pangeran itu sudah mengganti bajunya di bantu oleh pelayan laki-laki dengan menutupinya menggunakan kain hitam dan setelah itu mahkota itu di pakaian tepat di kepalanya.


"Sekarang dia menjadi Raja kalau begitu apakah boleh aku menjadi ratunya?" Putri cantika merasa kesal karena sedari tadi ibundanya selalu saja berbicara yang tidak-tidak.


"Aku tidak peduli."


Putri Cantika cemberut mendengarnya. Queen terus saja menatap kagum Raja Ototami itu yang dulu hanya seorang pangeran sekarang malah menjadi Raja, Queen tersenyum bangga melihatnya.


"SAYA RAJA OTOTAMI SIAP BERTANGGUNG JAWAB DALAM SEGALA HAL MENYANGKUT KERAJAAN INI!"


Banyaknya naskah yang Raja Ototami katakan membuat Queen ingin tertidur saja namun setelah selesai disertai beberapa sorakan setelah itu acaranya selesai tinggal makan-makan saja dan juga bercakap-cakap seperti biasa.


Queen merasa senang sekali, Raja langsung memegang tangannya disaat Queen ingin bertemu dengan Raja Ototami itu.


"Ada apa?" Tanya Queen bingung.


"Mau kemana?" Tanyanya ketus.


Selir Raia tersenyum disaat melihat Raja cemburu kepada sang Ratu sementara Selir Sayinat malah cemberut bahkan tidak ada yang tertarik untuk melihat Selir Sayinat sekalipun karena pakaiannya sangat berlebihan apalagi jika nanti sudah menjadi Ratu.


"Raja bersama Selir Raia saja dan juga anak-anak Raja."


Raja tersenyum tipis melihat anak-anaknya yang sudah tumbuh dewasa dan juga istrinya yang sudah cukup tua itu.


Raja memeluk mereka satu persatu sehingga air mata lolos begitu saja di wajah mereka. "Ayahanda ...."


"Apa sayang?" Mereka menatap tidak percaya ayahanda mengatakan hal itu kepadanya.


Mereka memeluk Raja dengan sangat erat dan Raja sangat menyayangi mereka begitu pun dengan Selir Raia Raja mencium keningnya.


"Percayalah Ayahanda menyayangi kalian dan maafkan ayahanda atas kesalahan ayahanda selama ini."


Mereka mengangguk dan tersenyum. Disaat beberapa pelayan menawarkan makanan Raja memberikan makanan itu kepada Selir Raia lalu Raja menyuapinya begitu pun dengan anak-anaknya dan mencium kening mereka kembali. Para tamu kerajaan tersenyum haru melihatnya.


"Raja sangat baik yah."


"Benar sekali, kita tidak salah bersahabat dengannya."


Queen tersenyum mendengar perkataan yang di lontarkan oleh para tamu disini. Namun, sayangnya Selir Sayinat berada di samping Raja kembali mereka kesal melihatnya.

__ADS_1


"Apakah Raja melupakanku?" Raja langsung menyuapinya.


Queen mendelik tidak suka melihatnya apalagi caranya berjalan tadi seperti orang pincang karena gaun yang berlebihan yang di pakainya itu.


Raja menatap Queen yang kini tengah tersenyum malu melihat Raja Ototami yang melihatnya juga dengan senyum manisnya.


Raja menghela nafas. "Bukankah kamu istriku juga? Mau aku suapi makanan ini?" Tanya Raja setelah menghampiri Queen yang tidak mendengarkan dirinya.


Queen malah memilih pergi bersama Raja Ototami, mengobrol dengannya dengan sangat akrab yang membuat dadanya sangat sesak lantas Raja memakan kue itu sendiri yang tadinya akan di berikan kepada Ratunya.


"Dia sama sekali tidak menganggap Raja ada," celetuk Selir Sayinat.


"Bukankah selama ini kalian yang menganggap Ratu tidak ada?" Celetuk Putri Biana dengan ketusnya membuat Raja serta selir Sayinat dan ibunya terkejut mendengarnya.


"Diamlah kau!" Desis Selir Sayinat.


Sementara Raja termenung, ia melihat ratunya disuapi oleh Raja Ototami itu menggunakan tangannya, mereka layaknya pasangan selalu tertawa dan saling menyuapi.


"Berhati-hatilah jika Ratu sudah nyaman dengan yang lain maka Raja sudah tidak di pedulikan lagi," bisik Selir Raia kepada Raja yang menatapnya sedih.


Selir Raia mengusap bahu Raja secara perlahan-lahan dan tersenyum kepadanya.


Beberapa pangeran baik itu putra mahkota atau pun seorang Raja mendekati Raja dan juga keluarganya.


"Maaf siapakah gadis yang selalu bersama Raja Ototami itu Raja?"


Raja kesal mendengarnya. "Dia gadis yang sangat cantik, terlihat manis dan juga imut. Apalagi dia sangat muda."


"Aku mempunyai banyak kerajaan, aku mempunyai banyak harta dan emas jika Raja berkenan aku akan melamar dan menjadikannya sebagai seorang Ratu."


Urat leher Raja terlihat dengan sangat jelas ia sedang berusaha mati-matian menahan amarahnya. Apalagi melihat ratunya bergandengan tangan dengan Raja Ototami itu.


"Aku memang seorang Raja dan sudah mempunyai banyak istri apakah Raja memperbolehkan aku untuk bisa melamar putri Raja yang sangat cantik itu?"


Sorot mata Raja semakin memerah, Selir Raia bingung dengan keadaan ini.


"Kami kesini hanya ingin bertanya siapakah gadis cantik dan muda itu? Apakah itu putri Raja jika benar mengapa Raja tidak mengadakan sayembara dimana siapa yang menang akan mendapatkan putri Raja yang sangat cantik dan muda itu terlebih kami sangat kaya raya mempunyai banyak kerajaan dan juga harta."


Penjelasan mereka membuat telinganya panas, hatinya terbakar dan juga emosinya merasa di bangkitkan.


"Akan ku nikahi dia karena dia sangat cantik, manis, masih muda apalagi kulitnya sangat putih bersih dan mulus rasanya enak sekali jika aku menyentuhnya."


"TUTUP MULUT KAU ITU!"


Bug ....


Mereka langsung terkejut disaat Raja berteriak dan meninju perut pangeran dari negri lain sehingga memuntahkan darah dari mulutnya yang menodai lantai kerajaan ini.


"JAGA SIKAPMU ITU HAH!"


Raja membanting tubuh pangeran itu dengan emosinya yang sangat meluap. Queen langsung berlari kearahnya mencekal tangan Raja disaat akan mengeluarkan pedang andalannya.


"Hentikan ku mohon," sorot mata Queen berbinar, hati Raja sedikit luluh kepadanya. Namun, disaat mengingat perkataan pangeran itu amarahnya semakin menggebu-gebu.


"DIA SUDAH MENGATAKAN HAL GILA KEPADAMU! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANNYA HIDUP!"


Queen langsung memeluknya dari depan dengan sangat erat bahkan Queen mendengar denyut jantung yang begitu bergetar dengan sangat cepat serta nafas yang menggebu.


mereka kebingungan disaat melihat gadis itu bisa meredakan amarah Raja hanya karena pelukannya bahkan para istri raja saja tidak berani mendekati Raja ketika marah apalagi Raja itu terkenal sangat berbahaya.


Queen melepaskan pelukannya. Namun, Raja menariknya kembali dan memeluknya, ia menangis di pelukannya membuat mereka terhenyak merasa tidak menyangka Raja akan menangis seperti anak kecil.


"Aku marah karena mereka selalu saja ingin melamarmu aku kesal apalagi laki-laki itu telah berkata kotor tentang dirimu aku marah dan aku sangat marah jika mereka akan menjadikanmu sebagai istrinya."


Queen mengangguk paham, ia mengelus rambut raja dengan penuh kasih sayang. Sementara Raja Ototami tersenyum kecut melihatnya dan pangeran itu sudah dibawa pergi oleh prajurit nya yang meminta ampunan kepada-nya.


Queen menghapus air mata Raja dengan senyumnya. Meskipun Raja terus memeluknya dengan sangat erat. Lalu Raja melihat mereka dengan sangat nyalang berbeda ketika menatap istrinya dengan sangat lembut.


"Jangan pernah mengatakan ingin melamarnya atau pun memberikan saran untuk mengadakan sayembara karena gadis yang saya peluk sekarang adalah RATUKU!" teriaknya penuh ketegasan sehingga membuat mereka terlonjak kaget mendengarnya.


Setelah mengatakan hal itu Raja langsung memegang tangan Queen untuk pergi dari sini di susul oleh keluarganya. Bahkan, mereka masih bertanya-tanya tentang Ratu itu.


"Bukankah sang Ratu terkenal antagonis yah?"


"Apakah benar itu Ratu?"


"Pantas saja Raja tidak pernah bersamanya jika keluar istana ternyata Ratu sangat cantik dan muda, enak sekali menjadi Raja yah."


"Dan pangeran itu sangat gila telah berkata kotor kepadanya yang ternyata adalah suami dari gadis itu."

__ADS_1


"Lebih gilanya lagi kita sedari tadi berbicara tentang gadis itu dihadapan Raja pantas saja Raja dibakar api kecemburuan."


Mereka tertawa disaat mengingat perlakuan mereka tadi, ternyata mereka mudah tertarik bahkan kepada istri orang pun.


__ADS_2