
Setelah sholat subuh, Rachel langsung mandi, setelah mandi Rachel langsung didandani oleh perias yang sudah disewa daddynya. Selesai didandani oleh perias Rachel langsung diarahkan untuk menggunakan gaun pengantinnya, sungguh dia terlihat sangat cantik dan anggun.
"Aduhhh senyum dong cyinnn, biar kelihatan cantik ih" ucap Jani, penata rias banci yang sangat ahli dalam merias wajah
"Ayo dong cyin senyum" pinta Jani
Rachel pun memaksakan tersenyum karena melihat Abraham datang.
"Kamu udah selesai kan?" tanya Abraham
"Ya"
"Yaudah yuk kita ke sana"
Rachel dan Abraham pun langsung masuk ke dalam mobil ketika sampai di halaman rumah. Mereka langsung menuju KUA untuk akad nikah. Setelah akad nikah berlangsung, mereka langsung pergi ke tempat yang sudah di siapkan untuk menyambut para tamu undangan.
Tempat yang berwarna putih senada dengan gaun pengantin yang dikenakan Rachel, Rachel pun tersenyum kecut menatap suasana gendung yang sudah di dekorasi.
"Kenapa?" tanya Rafael
"Ah nggak, gua cuma ngggak nyangka aja, dihari pernikahan gua, mommy malah pergi" jawab Rachel getir
Rafael pun tersenyum lalu mengusap punggung Rachel.
"Kamu jangan terus-terusan terpuruk, jangan menyerah sama keadaan, kamu juga berhak bahagia Rachel, kalau kamu sedih pasti nanti mommy juga bakalan ikut sedih" kata Rafael lembut, Rachel pun tersenyum kecut mendengar perkataan Rafael
"Berhak bahagia katanya? berarti gua juga bisa dong tolak perjodohan ini? tapi apa? nyatanya gua nggak bisa ngehindar, ini permintaan terakhir mommy, gua sampingin lagi ego dan perasaan gua, hufttt memuakkan"
"Kamu nggak ngundang temenmu buat dateng?" tanya Rafael
"Gua nggak punya temen" jawab Rachel
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rafael penasaran
"Menurut lu?" Rafael pun bingung mendengar pertanyaan Rachel
"Aku kan nanya kamu, kamu malah balik nanya ke aku" kata Rafael, Rachel pun menghela nafas
"Gua nggak suka temenan sama mereka, mereka cuma manfaatin gua karena materi, gua nggak suka, jujur gua muak sama kepalsuan mereka"
"Kamu sama sekali nggak punya temen?" tanya Rafael memastikan
"Nggak juga, gua masih punya tiga eh empat temen"
"Siapa?"
"Farel Cristian, Dimas Anggara, Ivan Fadillah, Laila Arena"
"Owhh daddy mereka selalu ngejar-ngejar aku biar nerima kerja sama dengan mereka" Rachel pun mengangkat sebelah alisnya
"Eh, emm" Rafael pun menggaruk kepalanya salah tingkah
"Kamu kan temennya, biasanya kalo cewe-cewe denger gituan, mesti minta-minta buat nerima kerja samanya"
"Kenapa harus gitu?" tanya Rachel bingung
"Kan kalian temenan"
"Whatever! itu urusan mereka nggak ada hubungannya sama gua!"
"Kamu di sekolah deket sama siapa?"
"Deket? maksud lu deket gimana?"
"Ya deke gitu, kaya adek kakak"
__ADS_1
"Semuanya juga deket, kan temen gua cuma mereka berempat, lagian maksud lu nanya begituan apa?"
"Nggak sih, aku cuma pengen tau aja tentang kamu"
"Kamu punya mantan berapa?" tanya Rafael
"Gua nggak punya mantan"
"Serius?"
"Ya ada sih, tapi itu gua nglakuin karena main truth or dare"
"Emang kamu disuruh pacaran sama siapa?"
"Sama cowo yang suka bikin onar di sekolah, dia musuhnya Farel"
"Namanya siapa?"
"Fero Aldrick"
"Anak Fari Aldrick itu?" tanya Rafael sambil tersenyum remeh
"Kenapa lu? kok kaya ngeremehin gitu?"
"Dia ngejar-ngejar aku buat kerja sama, bahkan nawarin gadis juga"
"Lu mau?"
"Nggak lah!"
"Eh hubungan kamu sama Farel apa?" tanya Rafael
"Nanya-nanya mulu dari tadi kaya wartawan aja!"
__ADS_1