
Pukul 22.30
Rachel dan teman-temannya sudah bersiap untuk pulang. Rachel memutuskan untuk pulang bersama Panji, namun sebelum pulang Dimas mencegat dia dengan alasan ingin berbicara berdua dengan Rachel, Panji pun mengiyakan, dia menunggui Rachel dan Dimas yang sedang berbicara.
"Rachel, gua minta sama lu buat bersikap tegas kali ini" pinta Dimas membuat Rachel bingung
"Maksud lu?"
"Gua sayang sama lu"
"Nggak usah ngelawak, gua males ketawa"
"Gua serius"
"Bercandaan lu garing! nggak lucu!"
"Gua serius hel!" tegas Dimas
"Hm"
"Lu pilih gua atau Panji?"
"Lu udah ada Clara!"
"Gua bisa putusin dia"
"Nggak butuh"
"Jadi lu nggak sayang sama gua?" tanya Dimas memastikan
"Bukannya gua nolak lu, tapi gua nggak bisa nerima orang yang udah jadi milik orang lain, gua tau kok Clara lagi hamil dan yang hamilin lu" Dimas pun terkejut mendengar perkataan Rachel
"Hah? hamil? lu serius hel?" tanya Dimas terkejut
"Emang gua kelihatan bercanda?"
__ADS_1
"Nggak sih, kok lu tau Clara hamil? dari mana?"
"Gua bukan bocah yang bisa dikibulin sama Clara, gua ngeliat dia pucet, lemes, demam, dan sering mual, itu sih tanda-tanda orang hamil"
"Hahaha bisa jadi dia masuk angin"
"Gua ngeliat dia pake testpack waktu di kamar mandi sekolah, dan testpack itu ketinggalan di wastafel, untung gua yang nemuin, dan hasilnya positif"
"Hah?! nggak mungkin!"
"Clara takut lu nggak bisa nerima bayinya, makannya dia diem aja, udah lu nggak bisa ngelak! gua minta lu segera tangung jawab dim"
"Hemm okay, gua bakalan tanggung jawab"
"Lu juga harus mulai belajar mencintai Clara"
"Gua usahain"
"Jangan ngarepin gua lagi, gua nggak mau ada orang yang terluka saat gua bahagia"
"Good luck!" Rachel pun menepuk bahu Dimas lalu pergi menghampiri Panji
"Lama banget, bahas apa?" tanya Panji kepo
"Biasa lah cewe"
"Siapa?"
"Clara"
"Dimas hamilin Clara?"
"Iya"
"Aneh-aneh tuh anak, kalo main nggak bisa ngendaliin diri"
__ADS_1
"Namanya juga nafsu"
"Seenggaknya gua nggak sebodoh dia"
"Jangan ngehina"
"Gua cuma ngomong sesuai realita"
"Jangan jujur-jujurlah, kejujuran kamu itu bisa bikin orang lain sakit hati"
"Gua nggak peduli"
"Kamu punya hati nurani nggak sih?"
"Nggak! hati aku cuma buat kamu"
"Ih mulai deh gombalnya"
"Emang bener kok"
"Hemm"
"Rachel?"
"Hmm"
"Gua sayang sama lu"
"Aku juga sayang sama kamu"
Rachel melihat perubahan ekspresi Panji dari spion. Dia bisa tau kalau sekarang pasti Panji sedang membantin, andai Rachel cenayang pasti dia bisa mendengarkan semua b.atinan Panji dengan leluasa
"Aku tau ji! aku tau! aku tau kamu nggak beneran sayang sama aku, kamu cuma kasihan aja sama aku, aku tau kok di hati kamu cuma ada Vania, selama ini kamu cuma pura-pura sama aku, aku muak ji! aku muak sama kebohongan kamu!" Rachel menatap nanar punggung Panji, tanpa sadar Rachel menitihkan air matanya
"Kenapa rasanya sakit ji? padahal dari awal aku udah berusaha buat nggak jatuh hati sama kamu, tapi takdir malah berkata lain, aku malah jatuh hati sama kamu yaa walaupun nggak sebegitu dalam"
__ADS_1
"Maafin aku hel, aku emang brengs*k, aku emang bajing*n, kalau suatu saat nanti kamu tau semuanya pasti kamu benci sama aku"