Iblis Tanpa Ampun

Iblis Tanpa Ampun
Ch 18 : Pembagian kelompok


__ADS_3

Pembagian Kelompok kemudian di lakukan. Terdapat 112 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri 22 orang.


Setelah pembagian kelompok di tentukan. Pembimbing Senior Lu kemudian berteriak dan memberi perintah.


"Semuanya berbaris sesuai kelompok!"


"CHUNG!!"


Di lapangan, para murid segera berbaris sesuai kelompoknya masing-masing.


"Aku akan menjelaskan ujian tahap kedua. Pada ujian tahap ini kalian akan menjalani ujian bersama dalam kelompok."


"Untuk menjadi seorang pendekar tingkat menengah, kalian harus paham dan bisa dasar-dasar strategi perang."


"Waktu yang kalian miliki dalam ujian kali ini adalah... 20 hari!" kata Penjaga Kanan mengejutkan seluruh murid.


"Apa.... Hanya 20 hari!?"


"Waktunya pendek sekali!"


"Bagaimana kami bisa strategi perang hanya dalam waktu 20 hari?"


"Waktunya benar-benar singkat!"


Mendengar itu para murid seketika frustasi. Mereka dikejutkan oleh langkah cepat yang tidak terduga.


"Diam!" perintah Pembimbing Senior Lu.


Seketika seluruh lapangan langsung diam dan kembali tenang. Kemudian Penjaga Kanan lanjut bicara.


"Sepertinya yang aku katakan. Kalian akan melakukan ujian secara kelompok. Setengah kelompok akan bertempur dengan setengah kelompok lainnya dengan strategi yang telah diajarkan."


"Bagi kelompok yang menang, maka akan lulus ujian dan masuk ke tahap berikutnya."


"Sedangkan bagi setengah kelompok yang kalah, akan tereliminasi!" kata Penjaga Kanan dengan sedikit menekankan.


"Setengah dari kita akan tereliminasi?"


"Sial. Di kelompokku tidak ada murid dari sekte terkenal!"


"Mereka yang satu kelompok dengan delapan pangeran benar-benar beruntung!"


Kemudian di atas panggung, Penjaga Kiri melanjutkan kembali.


"Ujian tahap dua adalah ujian kerja sama sekelompok, jadi jika kalian gagal, kalian bisa bertengkar dan keluar akademi bersama-sama! Hahaha..." kata Penjaga Kanan dengan di lanjutkan sebuah tawa keras.


"Dasar kepala ayam! Kebiasaannya untuk meruntuhkan semangat orang lain tak pernah berubah!" kata Penjaga Kiri di benaknya.


Para murid melihat ke barisan kelompok mereka. Mereka yang tidak satu kelompok dengan anggota sekte tingkat atas atau sekte utama tampak lemas dan tidak bersemangat.


Sedangkan mereka yang beruntung dapat satu kelompok dengan salah satu pangeran, tampak tersenyum senang dan percaya diri.

__ADS_1


"Sekarang mari kita akhiri kegiatan hari ini. Pergilah ke kamar asrama kelompok kalian dan beristirahat lah sepuasnya."


"Karena mulai besok dan dua puluh hari berikutnya, para pembimbing (staf) baik hati yang ada di depan kalian, akan mulai mengajarkan teknik dan strategi perang Dengan Ramah!"


"Dengan Ramah!?" batin para murid sama sekali tidak percaya dengan perkataan Penjaga Kanan.


Mereka melihat para pembimbing yang tampak galak di depan mereka. Mereka juga mengingat, bagaimana para pembimbing itu menghajar dan melempar keluar para peserta yang sebelumnya gagal. Para murid itu takut dan menggigil.


"Uughh...."


Namun ada satu kelompok yang sama sekali tidak takut atau menggigil ketika melihat pembimbingnya. Bahkan mereka melihat pembimbing itu dengan tatapan jatuh cinta.


Mereka adalah kelompok tujuh yang dipimpin oleh pangeran ke tujuh, Chun Zagang dari Sekte Tombak.


Sedangkan pembimbing di hadapan mereka adalah Lu Yunxiang, satu-satunya pembimbing wanita. Dia adalah wanita kuat yang memiliki wajah cantik.


Kelompok-kelompok lain yang melihat mereka, nampak menunjukkan ekspresi kesal sekaligus iri.


"Sial! Mereka beruntung dua kali!"


Setelah itu seluruh murid bubar dari lapangan dan pergi ke asrama mereka.


Sebelum waktu makan malam. Di ruang kesehatan, tampak Tabib Song Qiang yang sedang menyusun jarum akupuntur dan mempersiapkan herbal pada sebuah nampan di meja kerjanya.


Sementara itu Song Qiu yang berdiri di samping dan melihat pekerjaan kakaknya kemudian berkata.


"Kakak apa kamu tahu?"


"Anak yang hari ini masuk ke ruang kesehatan ternyata adalah Pangeran kesembilan!"


"Huh? Darimana kamu tahu itu?" tanya Song Qiang sembari menoleh ke adiknya.


"Aku juga tidak sengaja mengetahuinya dari pembicaraan para staf saat sore tadi!" jawab Song Qiu.


"Begitu ya, jadi dia adalah pangeran ke sembilan yang banyak di rumorkan itu." pikir Song Qiang di benaknya dengan sedikit melamun.


"Baiklah. Berhenti membicarakan orang lain. Mau anak itu pangeran atau siapapun, sekarang anak itu adalah pasien kita. Aku sudah mempersiapkan obat dan jarum akupuntur nya. Sekarang kamu pergilah ke sana dan rawat anak itu!" kata Song Qiang sembari memberikan sebuah nampan dengan satu set jarum dan herbal kepada Adiknya.


Kemudian Song Qiu menerima nampan tersebut dan segera berjalan menuju ranjang tempat Chun Yang berada.


Sesampainya di sana, tampak Chun Yang yang masih terbaring di ranjangnya.


Melihat Tabib Song Qiu yang datang untuk melakukan akupuntur padanya dan bukannya Tabib Song Qiang, membuat Chun Yang merasa heran.


"Apakah anda yang akan melakukan akupuntur kepada saya? Kemana Tabib laki-laki yang sebelumnya?" tanya Chun Yang.


Dia terlihat merasa kurang nyaman jika harus dirawat oleh seorang wanita.


Song Qiu melihat ke wajah Chun Yang yang ternyata cukup membuatnya terkesan.


"Kakakku sedang sibuk di ruangannya, jadi saya yang akan merawat anda. Kenapa? Apakah anda merasa kurang nyaman jika saya yang melakukan akupuntur kepada anda?" ujar Song Qiu bertanya pada Chun Yang.

__ADS_1


Namun Chun Yang hanya diam dan tidak banyak bereaksi.


"Anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan menggigit. Baiklah. Sekarang buka baju anda agar saya bisa melakukan akupuntur!" pinta Song Qiu.


Kemudian tanpa banyak bicara Chun Yang melepas bajunya sesuai permintaan Song Qiu.


Ketika melihat tubuh sempurna yang dimiliki oleh Chun Yang, mata Song Qiu seketika berbinar-binar dan dia hampir meneteskan air liurnya.


"Waaw... Tubuh ini anak ini benar-benar bagus!" kata Song Qiu di benaknya.


"Bukankah dia bilang tidak akan menggigit? Tapi kenapa ekspresinya seakan-akan ingin melahap ku?" pikir Chun Yang di benaknya sambil melihat ekspresi buas Song Qiu.


Setelah itu Song Qiu mengelap air liurnya dan bersikap profesional.


"Baiklah. Sekarang mari kita lakukan akupuntur nya!" kata Song Qiu sembari memegang sebuah jarum di tangannya.


Kemudian Song Qiu mulai melakukan perawatan dengan herbal dan akupuntur ke tubuh Chun Yang. Rasanya cukup geli untuk dirasakan.


"Kali ini berjalan dengan aman, tidak seperti saat tadi siang!" pikir Chun Yang di benaknya.


Kemudian Chun Yang mengingat kejadian yang terjadi pada siang hari sebelumnya.


Di saat Tabib Song Qiang melakukan perawatan pada Chun Yang, ada suatu yang gawat hampir terjadi.


Ketika itu Tabib Song Qiang hendak melakukan akupuntur pada tubuh Chun Yang. Namun Zero yang mendeteksi ada benda berbahaya segera melakukan tindakan pertahanan diri dengan mengeraskan kulit.


"Mendeteksi benda tajam berbahaya yang ingin menembus kulit. Mulai tindakan pertahanan diri."


Saat itu Tabib Song Qiang yang tidak dapat menusuk kulit Chun Yang keheranan.


"Eh? Kenapa tidak bisa ditusuk?" pikir Tabib Song Qiang di benaknya.


Namun Chun Yang yang menyadari itu segera memberi perintah kepada Nano untuk menghasilkan tindakan pertahanan diri.


"Zero cepat hentikan itu! Tabib sedang ingin melakukan akupuntur! Cepat batalkan pertahanan dirinya!" kata Chun Yang memberi perintah di benaknya.


Zero yang mendengar perintah tersebut kemudian menghentikan tindakan pertahan diri dan membatalkan pengerasan kulit.


Tabib Song Qiang yang tadinya tidak bisa memasukkan jarum tapi kemudian bisa memasukkannya benar-benar merasa heran dan bingung.


"Hmm?? Tadi aku yakin tidak bisa menusukkan jarumnya, sekarang kok bisa?" pikir Tabib Song Qiang penuh tanda tanya di kepalanya.


Setelah mengingat kejadian siang itu yang terasa lucu sekaligus menegangkan, Chun Yang melihat Song Qiu yang sedang melakukan akupuntur pada tubuhnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


...****************...


...****************...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2