Iblis Tanpa Ampun

Iblis Tanpa Ampun
Ch 26 : Pertemanan


__ADS_3

Malam itu di asrama kelompok sembilan, setelah semua orang tertidur, tampak Chun Yang yang masih terjaga dan duduk bersila di atas ranjang.


"Ini saatnya!" pikir Chun Yang dengan sebuah botol di tangannya.


Kemudian Chun Yang meminum seluruh racun yang ada di dalam botol itu tanpa menyisakannya sedikit pun.


Segera setelah dirinya meminum semua racun tersebut, Chun Yang langsung melakukan meditasi dengan posisi lotus.


[Memisahkan zat racun dan obat. Mulai penyerapan!]


Setelah tiga jam melakukan meditasi dan menyerap energi dari racun yang dia minum, akhirnya Chun Yang membuka matanya.


Setelah membuka mata, Chun Yang dapat merasakan, bahwa tenaga dalam di dalam tubuhnya telah bergejolak dan bertambah sebanyak tiga puluh tahun.


"Aku tidak mengira, racun itu benar-benar memberiku banyak manfaat. Sekarang aku telah naik ke Tingkat Ahli Beladiri dengan jumlah tenaga dalam enam puluh tahun. Sekarang aku tidak kalah dari Zao Hu!" pikir Chun Yang di benaknya.


Kemudian keesokan paginya, Chun Yang dan Zao Hu kembali menjalani hukuman mereka untuk membersihkan lapangan.


Saat mereka sedang menyapu dan mengumpulkan daun kering, Zao Hu melihat ke arah punggung Chun Yang.


"Anak itu, kenapa aku merasa bahwa dia menjadi lebih kuat dari sebelumnya? Apakah hanya perasaan ku saja?" pikir Zao Hu di benaknya.


Waktu berlalu dengan cepat, dan tanpa mereka sadari hari hukuman telah berakhir.


Chun Yang dan Zao Hu kembali menghadap Penjaga Kanan di kantor Akademi.


"Hukuman kalian sudah berakhir. Sekarang kembalilah ke lapangan dan berlatihlah dengan yang lain!" kata Penjaga Kanan kepada mereka.


Kemudian Chun Yang dan Zao Hu meninggalkan kantor akademi dan segera pergi ke lapangan untuk berlatih bersama kelompok mereka.


Sesampainya mereka di sana, banyak perhatian tertuju pada mereka, terutama dari delapan keturunan sekte utama.


Sedangkan Pembimbing Cang Shin yang melihat kedatangan mereka kemudian menghela nafas.


"Hahh.... Kalian ini. Sekarang ambil senjata kalian dan kembalilah ke posisi kalian sebelumnya!" kata Pembimbing Cang Shin.


"Chung!" jawab mereka serempak sembari memberi hormat.


Kemudian Chun Yang dan Zao Hu mengambil posisi mereka sebelumnya dan berlatih bersama yang lainnya.


Di sisi lain, Pembimbing Cang Shin dengan seksama memperhatikan gerakan mereka.


"Dua orang itu, walau mereka tidak berlatih selama lima hari karena latihan, tapi mereka dapat belajar dengan cepat dan menyusul yang lainnya. Dengan begini, kelompok sembilan tidak akan ada masalah untuk melewati ujian tahap ke-dua!" pikir Pembimbing Cang Shin di benaknya.


Tidak berasa malam hari pun tiba. Malam Itu di dalam hutan, Zao Hu kembali menemui Chun Yima dan beberapa anggota kelompok tiga.

__ADS_1


"Ini lebih lama dari yang aku kira. Jadi, apa kamu sudah selesai memikirkannya?" tanya Chun Yima.


"Ya, aku sudah selesai memikirkannya!" jawab Zao Hu.


"Bagus sekali. Jadi, apa jawabanmu?" tanya Chun Yima lagi.


"Aku menolaknya!"


"Apa!?" Chun Yima tersentak oleh jawaban Zao Hu.


Zen Yuan yang ada di sana seketika marah mendengar jawaban tersebut.


"Bajingan ini, beraninya kau menolak Pangeran? Kau sepertinya ingin di hajar!"


Saat Zen Yuan hendak maju melangkah, dia segera di hentikan oleh tangan Chun Yima yang menghalanginya.


"Maaf, Pangeran!" ucap Zen Yuan kembali mundur ke belakang.


Chun Yima kemudian menatap Zao Hu yang berdiri di hadapannya.


"Apa kamu yakin dengan jawabanmu itu? Aku harap kamu memikirkannya baik-baik, konsekuensi karena melawanku!"


"Aku sudah memikirkannya dengan sangat baik. Aku menolak untuk menjadi bawahan anda!" kata Zao Hu sangat yakin dan tanpa ragu.


"Apa Kamu tahu konsekuensi menjadi musuhku?" kata Chun Yima mencoba mengancam.


"Hahaha... Hahahahaha....." Chun Yima terbahak-bahak.


"Kamu ingin melawanku? Menarik sekali! Aku akan menantikan itu!" kata Chun Yima pada Zao Hu.


"Kalian, ayo kita tinggalkan dia!" lanjut Chun Yima pada bawahannya.


Kemudian Chun Yima dan para bawahannya berjalan pergi meninggalkan Zao Hu.


Beberapa saat setelah itu, di asrama kelompok sembilan, tampak Zao Hu yang tiba-tiba berlutut dan memberi hormat kepada Chun Yang.


"Pangeran, terimalah sumpah setia saya! Saya berjanji akan menjadi bawahan yang setia dan akan selalu mengikuti perintah anda!" ucap Zao Hu mengucapkan sumpah setia.


Kejadian itu menimbulkan beberapa keributan di antara anggota kelompok sembilan yang lain.


"Apa aku tidak salah lihat?"


"Ketua ingin menjadi bawahan Pangeran kesembilan?"


"Bukankah pangeran sembilan tidak punya kekuasaan apapun?"

__ADS_1


"Mungkinkah karena kejadian hari itu?"


Beberapa rumor dan gosip mulai menyebar diantara anggota kelompok sembilan. Sementara itu di sisi lain, Chun Yang melihat Zao Hu yang masih berlutut di depannya.


"Kau ingin jadi bawahanku?" tanya Chun Yang.


"Benar, Pangeran! Tolong terima saya jadi bawahan setia anda!" kata Zao Hu dengan penuh ketulusan dan kesungguhan.


"Tidak mau!" jawab Chun Yang.


Mendengar jawaban tersebut, seketika membuat Zao Hu tersentak. Namun Chun Yang kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Bukankah kamu menginginkan kebebasan? Jika kamu menjadi bawahanku, maka aku akan menjadi rantai baru yang akan mengekang kebebasan mu! Apakah kamu benar-benar menginginkan itu?" ujar Chun Yang.


Zao Hu yang mendengar itu terdiam dan merenung sejenak.


"Benar, aku tidak ingin dikekang lagi. Aku ingin menjadi elang yang dapat terbang dengan bebas. Tapi, aku ingin lebih dekat dengan orang ini. Orang yang telah memberiku jawaban atas keinginanku!" pikir Zao Hu.


Namun kemudian Chun Yang melanjutkan kalimatnya lagi.


"Tapi, daripada menjadi bawahan, maukah kamu menjadi temanku? Teman yang akan selalu setia menemani aku dalam keadaaan susah maupun senang, teman yang bisa aku mintai pertolongan, serta teman yang bisa memberikan aku nasehat. Bersediakah kamu menjadi temanku?" tanya Chun Yang sembari mengulurkan tangannya.


Melihat itu, Zao Hu tertegun sejenak. Zao Hu seperti melihat sebuah cahaya baru dalam hidupnya.


Kemudian dengan wajah tersenyum, Zao Hu menggapai tangan Chun Yang dan bangkit berdiri.


"Ya. Aku bersedia menjadi temanmu!" kata Zao Hu tersenyum lebar.


Melihat apa yang terjadi pada Chun Yang dan Zao Hu, seluruh anggota kelompok sembilan kemudian tersenyum dan bertepuk tangan beramai-ramai.


"Pangeran, bolehkah saya juga menjadi teman anda?"


"Saya juga! Saya juga ingin mengikuti anda!"


"Begitu juga aku!"


Saat itu satu per satu anggota kelompok sembilan mulai mengajukan permintaan pertemanan kepada Chun Yang.


Chun Yang yang harus menerima permintaan pertemanan mereka tampak kerepotan. Sedangkan Zao Hu yang melihat itu kemudian tersenyum.


Hari itu kelompok sembilan bukan hanya sekedar kelompok yang harus bekerjasama saat ujian, tapi juga sebuah kelompok pertemanan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2