Iblis Tanpa Ampun

Iblis Tanpa Ampun
Ch 29 : Bertaruh


__ADS_3

Keesokan harinya di kantin akademi, tampak Chun Yang dan Zao Hu yang sedang sarapan di meja yang sama.


"Pangeran..." panggil Zao Hu.


Chun Yang yang saat itu sedang makan, kemudian mengangkat matanya dan melihat ke arah Zao Hu yang duduk di hadapannya.


Zao Hu kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Apakah anda tidak penasaran dengan pertandingan kelompok gelombang pertama?" tanya Zao Hu.


"Tentu saja penasaran. Tapi kita dilarang untuk menonton, bukan?" ujar Chun Yang.


Karena sebuah aturan, mereka yang berada di jadwal pertandingan gelombang kedua dilarang untuk menonton jadwal pertandingan gelombang pertama.


Jika ada satu orang anggota dari suatu kelompok yang diam-diam menonton, maka seluruh anggota dari kelompok tersebut akan langsung dieliminasi.


Oleh sebab itu, saat ini di lapangan tidak ada satu orang pun penonton yang berasal dari gelombang kedua.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Chun Yang kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya.


"Zao Hu, setelah ini maukah kamu berlatih tanding denganku?" tanya Chun Yang.


Sementara itu di lapangan, pertandingan kelompok gelombang pertama akhirnya di laksanakan.


Masing-masing dari setiap kelompok melakukan undian sekali lagi untuk menentukan lawan mereka.


Di dalam kotak undian, terdapat 56 bola sesuai dengan jumlah kelompok yang ada. 56 bola tersebut kemudian di bagi menjadi dua bagian dengan angka yang sama.


Bagi kelompok yang mendapatkan nomor undian yang sama, maka akan menjadi lawan dalam pertandingan.


Setelah undian selesai, setiap kelompok telah menentukan lawannya.


Dari seluruh pertandingan kelompok gelombang satu, hal yang paling menarik perhatian tentu saja adalah pertandingan kelompok yang diketuai oleh para pewaris dari delapan Sekte Utama.


Di atas altar, tampak Penjaga Kanan yang akan menjadi pengawas dalam pertandingan.


"Baiklah! Apakah semuanya sudah selesai memilih?" tanya Penjaga Kanan kepada mereka yang berada di lapangan.


"CHUNG!!"


"Bagus! Sekarang urutan pertandingan satu sampai empat bersiaplah di lapangan untuk bertanding!" kata Penjaga Kanan.


"CHUNG!!"


Kemudian urutan pertandingan satu sampai empat bersiap di lapangan untuk bertanding.


Urutan pertandingan tersebut yaitu :


Urutan Pertama : Kelompok 34 melawan Kelompok 23.


Urutan Kedua : Kelompok 19 melawan Kelompok 28.

__ADS_1


Urutan Ketiga : Kelompok 1 melawan Kelompok 40.


Dan Urutan Keempat : Kelompok 46 melawan Kelompok 81.


Melihat urutan pertandingan ke tiga, Penjaga Kanan membuka matanya dengan lebar sembari memegang janggutnya.


"Ooh... Baru pertandingan pertama, tapi sudah ada satu pewaris dari Sekte Utama yang ikut bertanding. Sepertinya ini akan menjadi awalan yang menarik!" pikir Penjaga Kanan di benaknya.


Di lapangan, tampak kelompok 1 yang diketuai oleh Chun Li dari Sekte Sihir.


Sebelum memulai pertandingan, Penjaga Kanan terlebih dahulu menjelaskan aturan pertandingannya.


"Kelompok yang berhasil mendominasi lawannya, maka mereka lah yang menang. Sekarang... Mulai!" seru Penjaga Kanan memulai pertandingannya.


Kemudian di atas lapangan, delapan kelompok mulai bertempur dengan berbagai macam formasi.


Namun di antara delapan kelompok tersebut, kelompok yang paling menarik perhatian adalah Kelompok 1 yang sedang bertanding melawan Kelompok 40.


Kelompok 1 menggunakan formasi Anak Panah untuk memusatkan kekuatan pada barisan depan, sedangkan disisi lain kelompok 40 menggunakan formasi perisai untuk memusatkan kekuatan pada pertahanan.


Kemudian bentrokan dan pertempuran terjadi di antara kedua kelompok tersebut.


"Serang!"


"Bertahan! Angkat perisai kalian!"


Pedang beradu dengan perisai, kedua kelompok saling menyerang dan mendorong.


"Bertahan! Pertahankan posisi!" teriak Ketua Kelompok 40 kepada kelompoknya.


Berpikir bahwa pertempuran akan berjalan sengit karena lawannya merupakan orang yang juga tidak bisa di anggap remeh, tapi sayangnya pertempuran itu hanya berlangsung singkat. Kelompok 1 dengan mudah mendominasi dan mengalahkan lawannya.


"Kalian kalah! Menyerah lah!" kata Chun Li kepada Ketua Kelompok 40 yang terluka dan berlutut di hadapannya.


"Kami... Menyerah..." ucap Ketua Kelompok 40 dengan menundukkan kepalanya.


Penjaga Kanan yang melihat pertandingan itu berakhir begitu saja kemudian bergumam.


"Berakhir dengan cepat. Aku pikir itu akan sedikit menarik, tapi itu berakhir dengan membosankan!" gumam Penjaga Kanan.


"Bagaimana dengan pertandingan kelompok lain?" Penjaga Kanan yang penasaran kemudian menoleh ke tempat kelompok lain bertanding.


Melihat pertempuran telah berakhir, begitu juga dengan keenam kelompok lainnya, Penjaga Kanan segera mengumumkan pemenangnya.


"Pemenang pertandingan ini adalah Kelompok 23, Kelompok 28, Kelompok 1, dan Kelompok 81!"


"Kelompok yang telah selesai bertanding segera tinggalkan lapangan!" kata Penjaga Kanan.


Kemudian kelompok yang telah menyelesaikan pertandingan segera meninggalkan lapangan seperti yang di perintahkan.


Saat mereka meninggalkan lapangan, bagi kelompok yang menang itu merupakan rasa bangga dan kegembiraan, sedangkan bagi kelompok yang kalah itu merupakan rasa malu dan kesedihan.

__ADS_1


"Sekarang mari kita lanjutkan ke pertandingan berikutnya!" seru Penjaga Kanan.


Sementara itu di Gedung Asrama, tampak seorang wanita yang sedang berjalan dalam keadaan marah.


Dengan dipenuhi kemarahan, wanita itu kemudian membuka dan mengebrak pintu asrama kelompok tujuh.


"BRAAKK!!"


Suara bantingan pintu seketika mengejutkan mereka yang berada di dalam asrama. Bahkan Chun Zagang yang saat itu sedang berbaring di tempat tidurnya, sampai tertimpa buku yang sedang dibacanya.


"Kalian... Kenapa kalian malah santai di sini!?" tanya wanita itu dengan penuh amarah.


Wanita itu adalah Lu Yunxiang, Pembimbing Kelompok 7.


Melihat kedatangan Pembimbing Lu Yunxiang yang secara tiba-tiba, mereka hanya menoleh sebentar dan kemudian mengabaikannya.


"....Diabaikan?"


Pembimbing Lu Yunxiang sontak terheran-heran melihat dirinya diabaikan oleh mereka. Dia kemudian merasa sangat marah, kesal dan jengkel.


"(Para bajingan ini....) Apakah kalian tidak ingin mempersiapkan pertandingan besok? Besok kalian sudah bertanding. Jika kalian tidak ingin kalah, maka jangan bermalas-malasan di sini dan pergilah keluar untuk berlatih!" kata Pembimbing Lu Yunxiang.


Di saat dirinya dari tadi diam, Chun Zagang kemudian menutup bukunya dan bicara.


"Pembimbing Lu, ini adalah kamar asrama pria. Anda tiba-tiba masuk dan membanting pintu, itu benar-benar tindakan yang tidak sopan!" kata Chun Zagang menegurnya.


"Apa!?" Pembimbing Lu tersentak mendengar itu.


Kemudian Chun Zagang meletakkan bukunya, dia berdiri dan lanjut bicara


"Lalu, saat ini kami sedang beristirahat untuk mempersiapkan pertandingan besok. Jika kami berlatih dan kelelahan, maka besok kami tidak akan bisa bertanding dengan baik."


"Juga, kenapa anda berpikir, bahwa Kelompok 7 akan kalah? Apakah anda tidak percaya dengan murid yang telah anda latih?" ujar Chun Zagang.


Pembimbing Lu Yunxiang melihat ke arah Chun Zagang. Dia tahu siapa identitas Chun Zagang, dia adalah Pewaris dari Sekte Tombak. Tapi sikapnya benar-benar menjadi sebuah masalah, Chun Zagang mudah meremehkan sesuatu dan bersikap ceroboh.


"Murid nomor 7, aku tahu kamu berasal dari Sekte Tombak, salah satu dari Sekte Utama. Bahkan kalau kamu gagal dalam ujian ini, kamu hanya akan kembali dan mewarisi sekte mu."


"Tapi, bagaimana dengan anggota kelompok tujuh yang lain? Tidak sama sepertimu, mereka ada yang berasal dari Sekte Tingkat Menengah atau bahkan Rendah. Jika mereka gagal dalam ujian ini, maka nasib mereka akan berbeda darimu."


"Sebagai Ketua Kelompok, kamu harusnya sadar seberapa pentingnya ujian ini bagi anggota kelompok mu. Kamu harusnya memimpin mereka untuk mempersiapkan pertandingan besok dengan baik, bukan malah ikut bermalas-malasan di sini bersama mereka. Kamu bertanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan kelompok ini!" kata Pembimbing Lu Yunxiang.


Saat itu, Chun Zagang kemudian tersenyum. Dia berjalan mendekati Pembimbing Lu Yunxiang dan berdiri tepat di hadapannya.


"Sepertinya anda merasa, bahwa kalau kami tidak berlatih maka kami akan kalah, tetapi aku percaya pada mereka. Begini saja, karena anda merasa bahwa kami tidak akan bisa menang dalam pertandingan besok, bagaimana kalau kita bertaruh?" ujar Chun Zagang.


"Bertaruh?" Pembimbing Lu Yunxiang tersentak mendengar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


................


................


__ADS_2