
Pada saat itu di sisi lain, di bawah pohon tampak Yan Ran yang masih duduk dan beristirahat dengan Chun Yang di pelukannya.
"Hujannya semakin deras!" kata Yan Ran di benaknya.
"Aku harap ini semua segera berakhir!" harap Yan Ran sambil melihat dan mengelus wajah Chun Yang kecil yang menatap dirinya.
"Ibuku.....Bahkan di saat seperti ini dia masih mengkhawatirkan diriku!" batin Chun Yang mengagumi Ibunya.
"Zero!"
"Ya Tuan, apakah anda memiliki perintah?"
"Bisakah kamu membuat tubuhku hangat? Aku tidak ingin ibuku kedinginan!" ujar Chun Yang memberi perintah.
"Baik Tuan, akan saya lakukan. Mulai menaikkan suhu tubuh!" kata Zero mulai menghangatkan tubuh Chun Yang.
Yan Ran yang merasakan suhu hangat dari tubuh Chun Yang kecil segera merasa nyaman.
Melihat Ibunya yang tidak lagi kedinginan, Chun Yang kecil merasa senang dan tersenyum.
Chun Yang kemudian melihat ke langit yang menurunkan hujan.
"Oh engkau yang disebut sebagai dewa, kalau engkau benar-benar ada di atas sana, aku mohon padamu, tolong jangan akhiri kebahagiaan ini" pinta Chun Yang kecil di hati kecilnya.
Sementara itu di waktu yang sama, di halaman kediaman yang terdapat bekas-bekas pertarungan, tampak seorang pria yang menyentuh sebuah jejak di tanah.
Pria itu kemudian berdiri dan menoleh ke kanan ke arah hutan. Pria itu adalah Penjaga Kiri, Ma Jyunji.
"Brengsek!" ucap Penjaga Kiri yang kemudian menghilang dalam sekejap.
Sementara di waktu yang sama di dalam hutan, tampak Para Pembunuh yang masih menyusuri jalan yang dilalui oleh Yan Ran.
"Sepertinya wanita itu berlari cukup jauh. Benar-benar menyusahkan!" kata Sang Ketua Pembunuh di benaknya.
"Hei, percepat langkah kalian! Jangan biarkan wanita itu melarikan diri terlalu jauh!" kata Sang Ketua Pembunuh pada para bawahannya.
Kemudian para pembunuh tersebut mempercepat langkah mereka di bawah derasnya hujan.
Sementara itu di waktu yang sama, tampak Yan Ran yang masih beristirahat di bawah pohon sambil memeluk Chun Yang.
__ADS_1
Di sisi lain Para pembunuh bergerak semakin dekat, hingga pada akhirnya tibalah mereka di tempat yang tak jauh dari pohon tempat Yan Ran beristirahat.
Melihat jejak darah mengarah pada satu pohon di depan mereka, Para Pembunuh tersebut kemudian bergerak diam-diam menuju pohon tersebut.
Namun ketika Para Pembunuh tersebut hendak melakukan penyergapan, Para Pembunuh tersebut telah terlambat selangkah. Yan Ran dan Chun Yang telah pergi meninggalkan pohon tersebut beberapa menit yang lalu.
"Sial, kita terlambat selangkah!" kata Sang Ketua Pembunuh.
"Tempat ini masih hangat, wanita itu pasti belum pergi jauh dari sini. Cepat kejar wanita itu!" sambung Sang Ketua Pembunuh memberi perintah pada para bawahannya.
Kemudian para pembunuh tersebut melanjutkan pengejaran mereka.
Pada saat itu di sisi lain, tampak Yan Ran yang sedang berlari dengan tertatih-tatih sambil membawa Chun Yang.
Nafasnya terengah-engah dan pakaiannya basah, namun Yan Ran tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Hahh....Hahh.... Tadinya aku berpikir untuk menyerah dan berhenti berlari, tapi setelah aku memikirkannya lagi, kalau aku tidak melanjutkan berlari maka tidak hanya aku tapi Chun Yang juga akan tertangkap oleh orang-orang itu!" pikir Yan Ran sambil berlari dengan nafas yang terengah-engah.
Beberapa saat kemudian hujan akhirnya berhenti. Namun sisa-sisa air hujan masih menetes dari daun dan ranting pohon.
Setelah berlari cukup jauh, Yan Ran yang sudah sangat kelelahan kemudian berhenti berlari dan bersandar pada sebuah pohon.
Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba ada seseorang yang berbicara di atas pohon.
"Kenapa kamu berhenti? Apakah kamu sudah lelah dan tidak sanggup berlari lagi?" tanya Sang Ketua Pembunuh yang berdiri di atas cabang pohon tempat Yan Ran berada.
Yan Ran yang mendengar suara itu seketika terkejut dan panik.
Yan Ran yang merasa panik kemudian mencoba melarikan diri lagi, namun baru beberapa langkah, Para Pembunuh tiba-tiba muncul dan mengepung Yan Ran dari segala arah.
"Sudah cukup, jangan melakukan hal yang sia-sia. Kamu sudah kami kepung!" kata Ketua Pembunuh yang telah turun dari pohon.
"Kenapa.... Kenapa kalian mengincar kami? Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Yan Ran.
"Kamu bertanya siapa yang menyuruh kami? Sayang sekali, aku tidak bisa memberitahumu!" kata Sang Ketua Pembunuh.
"Apakah itu salah satu dari delapan Istri Pemimpin Kultus?" tanya Yan Ran mencoba menebak.
Mendengar tebakan tersebut Sang Ketua Pembunuh yang tadinya bermuka serius seketika langsung tersenyum lebar.
__ADS_1
"Benar sekali! Orang yang menyuruh kami untuk membunuh kalian adalah salah satu dari delapan Istri Pemimpin Kultus!" kata Sang Ketua Pembunuh yang membenarkan tebakan Yan Ran.
"Aku sudah menduga hal itu. Aku tahu delapan Istri Pemimpin Kultus yang lain memang membenciku, tapi aku benar-benar tidak menyangka mereka akan melakukan tindakan sekeji ini!" pikir Yan Ran di benaknya.
"Baiklah, cukup bicaranya! Sekarang terimalah kematian kalian!" kata Sang Ketua Pembunuh sembari mengangkat pedang.
Kemudian Sang Ketua Pembunuh mengayunkan pedangnya ke arah Yan Ran.
Namun apa yang terjadi, tiba-tiba Yan Ran menangkis pedang tersebut dan berbalik menyerang mata Sang Ketua Pembunuh dengan belati kecilnya.
Akibat serangan tiba-tiba dari Yan Ran, mata Sang Ketua Pembunuh terluka namun tidak sampai membuatnya buta.
Kejadian itu membuat Sang Ketua Pembunuh menjadi sangat marah dan murka.
"Dasar ****** tidak tahu diri! Beraninya kamu melawanku?" ujar Sang Ketua Pembunuh merasa sangat marah.
"Dasar bodoh! Apakah kamu pikir aku akan diam saja di saat kalian ingin membunuhku?" kata Yan Ran dengan tanpa takut sembari mengarahkan belatinya ke arah Sang Ketua Pembunuh.
"Hah, sial! Apa kamu pikir tindakanmu ini akan menyelamatkan kamu dan anakmu? Berhentilah melakukan hal yang sia-sia!" kata Sang Ketua Pembunuh.
Dia langsung menebas salah satu pergelangan tangan Yan Ran yang memegang belati hingga terputus.
Hal itu membuat Yan Ran seketika menjerit kesakitan.
Namun tak hanya berhenti disitu, Sang Ketua Pembunuh kemudian menendang Yan Ran hingga terjatuh.
Akan tetapi saat terjatuh pun, Yan Ran tetap tidak melepas pelukannya dan tetap melindungi Chun Yang kecil.
Yan Ran terjatuh dalam posisi bersujud dan menunjukkan punggungnya untuk melindungi Chun Yang kecil.
Chun Yang yang melihat wajah menderita ibunya hanya diam tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Ibu...." ucap Chun Yang di benaknya sambil menatap wajah Yan Ran.
"Tak apa-apa sayang, Ibu akan melindungi mu!" ucap Yan Ran sambil menitikkan air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...****************...