Iblis Tanpa Ampun

Iblis Tanpa Ampun
Ch 22 : Pertarungan Pertama


__ADS_3

Kemudian pertarungan terjadi. Chun Yang melakukan serangan pertama dengan tinju kanannya.


Namun serangan itu berhasil di hindari dan dirinya terkena sebuah pukulan balasan tepat di wajahnya.


Dengan sempoyongan Chun Yang mengambil satu langkah mundur ke belakang. Saat itu hidung dan tepi bibirnya telah berdarah.


Zero segera melakukan penyembuhan pada luka tersebut dan menghentikan pendarahannya.


"Apa ini? Aku pikir dia bertingkah karena punya kemampuan, tapi ternyata dia selemah ini?" kata orang yang tadi berhasil mendaratkan pukulan ke wajah Chun Yang.


Kemudian mereka semua tertawa lepas dan menganggap remeh Chun Yang.


Namun di hadapan mereka, Chun Yang kemudian berdiri tegak dan menatap mereka tanpa rasa takut.


Melihat itu, mereka semua lagi-lagi tertawa dan meremehkannya.


"Hahaha.... Apa-apaan dia? Apakah dia serius ingin bertarung melawan kita?"


"Hei, bodoh! Sebaiknya kamu diam disitu dan jangan melawan. Mungkin dengan begitu kami akan berbaik hati padamu dan tidak memukulmu terlalu keras!"


"Benar. Tetaplah diam dan jangan....."


"PUNCH!!"


Saat orang itu belum menyelesaikan kalimatnya, Chun Yang tiba-tiba mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajah orang tersebut.


Orang itu terhempas beberapa meter dan langsung tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.


Mereka yang melihat itu benar-benar terkejut dan tercengang


"Kalian terlalu banyak bicara. Sekarang mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya!" kata Chun Yang.


Melihat apa yang baru saja terjadi, mereka semua telah salah karena meremehkan Chun Yang.


"Ternyata dia bisa teknik beladiri dan punya tenaga dalam. Semuanya serang dia bersama-sama!" kata Zao Hu memberi perintah.


Kemudian pertarungan di lanjutkan. Kali ini Chun Yang mengerahkan seluruh kemampuannya tanpa ragu.


Chun Yang tampak bertarung dengan sengit melawan dua puluh orang itu. Mereka saling bertukar pukulan dan tendangan tanpa henti.


Berkali-kali, Chun Yang menerima serangan pukulan dan tendangan dari mereka, namun dengan adanya Zero yang dengan cepat menyembuhkan semua lukanya, Chun Yang mengabaikan rasa sakit tersebut dan tetap bertarung melawan mereka tanpa henti.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Chun Yang berhasil menumbangkan dua puluh orang itu.


Mereka semua sekarat dan tergeletak di lantai tidak berdaya.

__ADS_1


Sekarang Chun Yang menoleh ke arah Zao Hu. Satu-satunya orang yang masih belum melakukan serangan sampai sekarang.


"Ternyata kau memang punya kemampuan. Ya, jika tidak begitu, aku tidak mungkin bisa terpukul olehmu pada saat itu!"


"Tapi cukup sampai di sini saja. Setelah bertarung selama itu kau pasti sudah kelelahan. Apa lagi, yang akan menjadi lawanmu sekarang adalah aku. Jangan kau anggap aku sama dengan mereka. Aku berbeda dengan para keroco itu!" kata Zao Hu.


Mereka berdua berdiri dengan jarak sekitar lima meter. Mereka saling menatap dan bersiap-siap untuk maju menyerang.


Saat ini Chun Yang berada di Tingkat Pejuang Beladiri dengan jumlah tenaga dalam 30 tahun, sedangkan Zao Hu berada di Tingkat Ahli Beladiri dengan jumlah tenaga dalam 60 tahun.


Mereka memiliki jarak kemampuan yang cukup besar. Namun Zero menutup jarak tersebut dengan memaksimalkan kekuatan, kecepatan, dan pertahanan tubuh Chun Yang.


Mereka saling menatap dengan intens, hingga kemudian keduanya saling maju menyerang dengan keterampilan beladiri mereka masing-masing.


Chun Yang dengan keterampilan Pedang Penyapu Gunung dan Zao Hu dengan keterampilan Tangan Naga Hitam.


Pada gerakan pertama Zao Hu berhasil menghindari serangan Chun Yang, namun Chun Yang tidak dapat menghindari pukulan dari Zao Hu.


Chun Yang terpukul tepat di perutnya. Namun Chun Yang mengabaikan rasa sakit tersebut dan langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Zao Hu.


Namun Zao Hu berhasil menahan pukulan tersebut dengan lengan kirinya. Keduanya mundur beberapa langkah dan kembali saling menatap dengan intens.


"Kau cukup mengesankan!" kata Zao Hu.


Serangan demi serangan Chun Yang kerahkan namun tidak ada satupun yang berhasil mengenai Zao Hu.


Sedangkan sebaliknya setiap kali Zao Hu melakukan serangan padanya, pasti akan mendarat tepat di tubuhnya.


Berkali-kali, Chun Yang menerima pukulan Zao Hu, namun Chun Yang masih tetap berdiri dengan kokoh. Hal itu membuat Zao Hu kesal sekaligus heran.


"Apa-apaan orang ini? Aku sudah memukulnya berkali-kali, tapi kenapa... Kenapa pukulan ku seperti tidak ada efek apapun padanya?" pikir Zao Hu.


Sedangkan di sisi lain, tampak Chun Yang yang berdiri tegak dan terus disembuhkan oleh Zero.


"Kenapa berhenti? Kau sudah lelah?" tanya Chun Yang menatap remeh Zao Hu.


Zao Hu yang kesal mendengar pertanyaan itu hanya diam tanpa menjawab.


Melihat Zao Hu tidak menjawabnya, Chun Yang berkata lagi.


"Karena kau berhenti menyerang, sekarang giliran ku!" kata Chun Yang langsung maju menyerang dengan melayangkan tangannya seperti pedang.


Sekali lagi, Zao Hu dengan mudah menghindari pukulan itu. Namun Chun Yang tidak berhenti, dia terus melakukan serangan pada Zao Hu.


Hingga pada suatu waktu, Chun Yang melakukan gerakan besar dengan mengarahkan tinju kanannya ke arah wajah Zao Hu.

__ADS_1


Namun Zao Hu yang telah melihat serangan itu segera melakukan pertahanan untuk melindungi wajahnya.


Akan tetapi apa yang Zao Hu tidak sangka, pukulan itu ternyata adalah sebuah tipuan.


Dengan tinju kirinya, untuk pertama kalinya Chun Yang berhasil mendaratkan pukulannya ke tubuh Zao Hu.


Pukulan itu langsung mengenai tepat di bagian ulu hatinya. Zao Hu seketika terhentak dan mengeluarkan suara kesakitan.


"Aahk..."


Tapi tidak berhenti disitu, Chun Yang tidak ingin membuang kesempatan yang ada di depan matanya.


Disaat pertahanan Zao Hu menurun karena terkena pukulan tadi, dalam waktu yang singkat tersebut, Chun Yang dengan cepat melayangkan pukulan selanjutnya.


Pukulan itu mengenai tepat ke dagu Zao Hu seperti sebuah roket.


Zao Hu yang menerima pukulan itu langsung sempoyongan dan segera mundur beberapa langkah.


"Sial! Pandanganku...."


Karena pukulan yang mengenai dagunya barusan, pandangan mata Zao Hu seketika menjadi buruk dan berbayang-bayang. Hal itu menyebabkan performa dan kemampuan bertarungnya berkurang drastis.


Di sisi lain, Chun Yang benar-benar tidak ingin membuang kesempatan itu. Dia kemudian maju menyerang dan memberi pukulan pada Zao Hu lagi dan lagi.


Sementara itu di sisi lain, di balik pintu asrama kelompok sembilan, tampak Chun Zagang dan Han Bin.


"Sial! Mereka benar-benar berisik sekali! Aku bahkan tidak bisa tidur karena keributan mereka. Lihat saja, akan aku buat mereka diam!" kata Chun Zagang.


Namun setelah Chun Zagang berkata seperti itu, tiba-tiba di dalam asrama kelompok sembilan menjadi diam dan tenang.


"Eh? Kenapa tiba-tiba tenang? Apa yang terjadi di dalam sana?" pikir Chun Zagang di benaknya.


Karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalam, Chun Zagang kemudian membuka pintu.


Akan tetapi ketika Chun Zagang membuka pintu, dia terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Di sana tampak Chun Yang yang berdiri di antara murid-murid lainnya yang tergeletak dengan mengenaskan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2