
Di sisi lain, tampak Chun Yang dan Zao Hu yang sedang menyapu dan mengumpulkan daun yang berjatuhan di bawah pohon.
"Sialan! Ini semua gara-gara dirimu!" kata Zao Hu.
"Kenapa salahku? Kau lah yang mencari masalah denganku, bahkan sejak hari pertama. Apakah kau ingin aku hajar lagi seperti tadi malam?" kata Chun Yang.
"Menghajar ku? Tadi malam aku lah yang lebih banyak memukulmu. Darimana kau berpikir, bahwa kau lah yang menghajar ku?" ujar Zao Hu.
"Tapi, pada akhirnya, bukankah aku yang menang? Lihat saja wajahmu!" kata Chun Yang memaksudkan beberapa luka di wajah Zao Hu yang kini di perban.
Mendengar itu, Zao Hu tidak bisa menyangkal dan hanya bisa merasa kesal.
"Cih!"
Tapi jauh di dalam pikirannya, Zao Hu masih menyimpan rasa penasaran terhadap Chun Yang.
"Orang ini... Sebanyak apapun aku berpikir tentangnya, dia adalah orang yang benar-benar aneh. Aku yakin sekali, bahwa aku memberikannya banyak pukulan keras pada malam itu, tapi entah kenapa dia tetap baik-baik saja, seakan-akan semua pukulan itu tidak memberikan pengaruh apapun padanya!" pikir Zao Hu di benaknya.
Kemudian pada sore harinya. Di sebuah hutan yang tidak jauh dari asrama, tampak Zao Hu yang sedang di hajar dan di pukuli oleh anggota kelompok lain.
Itu adalah kelompok tiga yang diketuai oleh Chun Yima dari Sekte Pedang.
Ketika itu, Zao Hu yang terbaring di tanah di injak-injak oleh seorang murid nomor 19, bernama Zen Yuan dari Sekte Pedang.
"Dasar bajingan! Bisa-bisanya kamu gagal menghabisi bocah berdarah kotor itu? Padahal Pangeran sudah memberikan kamu kesempatan! Tapi kenapa kamu malah menyia-nyiakannya?" kata Zen Yuan terus menghajar dan menginjak-injak Zao Hu di bawah kakinya.
"Cukup!" kata Chun Yima.
Mendengar itu Zen Yuan dan dua anggota kelompok tiga yang lain, langsung berhenti menghajar Zao Hu.
Kemudian Chun Yima berjalan mendekat ke arah Zao Hu yang sedang berusaha bangkit.
"Aku akan memberikan kamu satu kesempatan lagi!" kata Chun Yima.
Dia kemudian menjatuhkan sebuah botol seukuran ibu jari.
Botol itu jatuh tepat di hadapan Zao Hu yang kedua tangannya masih menyentuh tanah.
Melihatnya sekilas saja, Zao Hu langsung mengetahui bahwa isi di dalam botol kecil itu adalah racun mematikan.
"Berikan itu padanya. Jika kamu berhasil melakukannya, maka aku berjanji akan menjadikan dirimu sebagai salah satu bawahan setia ku!" kata Chun Yima.
Mendengar itu, Zao Hu seketika merasa bimbang. Dia dengan ragu kemudian bertanya.
"Bagaimana jika aku ketahuan?" tanya Zao Hu.
"Jika dirimu ketahuan dan dikeluarkan dari akademi, maka aku berjanji, Sekte Pedang akan memberikan dukungan pada perkembangan beladiri mu!"
__ADS_1
"Sekarang kamu pilihlah. Berikan ini pada anak itu dan menjadi bawahan setiaku, atau aku habisi bersama anak itu. Pilihlah!" kata Chun Yima.
Mendengar pilihan itu, Zao Hu benar-benar merasa bimbang.
"Pangeran, bisakah kamu memberiku waktu untuk memikirkannya?" pinta Zao Hu.
Zen Yuan yang melihat itu kemudian marah dan ingin memberikan pelajaran pada Zao Hu mewakili Chun Yima.
"Dasar bajingan, beraninya kau...."
Saat Zen Yuan ingin kembali menghajar Zao Hu, Chun Yima yang ada di sana tiba-tiba mengangkat tangan dan menghentikan tindakan Zen Yuan.
"Baik. Aku akan memberikan kamu waktu tujuh hari untuk memikirkannya. Jika dalam waktu tujuh hari kamu tidak memberikan aku jawaban, maka kamu tahu apa yang akan terjadi! Aku harap kamu tahu, pihak mana yang harus kamu pilih!" kata Chun Yima.
Kemudian Chun Yima berbalik pergi meninggalkan Zao Hu, diikuti dengan Zen Yuan dan yang lainnya.
*****
Malam itu, Zao Hu kembali ke asrama dengan pakaian kotor dan luka baru di wajahnya.
Chun Yang yang melihat itu kemudian mencoba bertanya.
"Apa yang terjadi padamu? Apa kau bertarung dengan anggota kelompok lain?"
"Itu bukan urusanmu. Menyingkir lah!" kata Zao Hu menjawab dengan kasar.
Chun Yang memperhatikan Zao Hu yang saat itu diam tidak seperti sebelumnya.
Chun Yang juga memperhatikan luka baru yang terdapat pada wajah Zao Hu.
"Hei, apa terjadi sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Kenapa kau tidak banyak bicara seperti sebelumnya?" tanya Chun Yang.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Zao Hu.
Mendengar Zao Hu seperti tidak ingin bicara dengannya, Chun Yang akhirnya memilih untuk mengabaikannya dan fokus mengumpulkan daun dengan sapunya.
Akan tetapi sesaat setelah itu, Zao Hu kemudian mengajaknya bicara.
"Hei, Chun Yang!" panggil Zao Hu.
Namun di sisi lain, Chun Yang hanya diam dan mengabaikan dirinya.
Zao Hu yang melihat dirinya diabaikan seketika kesal, tapi dia mencoba untuk menahannya dan tetap tenang.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya padamu, apakah kamu mau menjawabnya?"
"Tidak mau! Bukankah tadi kau tidak ingin bicara denganku?" ujar Chun Yang tanpa menoleh.
"Hei, kali ini aku serius! Jangan mengabaikan aku!" kata Zao Hu.
Kemudian Chun Yang berhenti menyapu dan menoleh ke arah Zao Hu.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Chun Yang tidak terlalu bersemangat.
"Aku ingin bertanya, di dunia ini, apa yang paling kau inginkan?"
Saat itu angin bertiup pelan, menggoyangkan pohon dan pakaian yang mereka kenakan.
Suasana benar-benar menjadi hening dan tenang di antara mereka.
Setelah diam beberapa saat, Chun Yang kemudian menjawab pertanyaan Zao Hu.
"Aku ingin membalas dendam!"
"Balas dendam? Tapi, balas dendam bukanlah sebuah keinginan, itu adalah tujuan. Jika tujuanmu itu telah tercapai, maka dirimu pasti akan mencari tujuan selanjutnya."
"Yang aku tanya padamu adalah keinginan kamu sebenarnya. Kamu pasti memiliki sebuah keinginan di hatimu, entah itu besar atau kecil. Jadi, apa yang kamu inginkan di dunia ini?" tanya Zao Hu.
Chun Yang diam sejenak mendengar pertanyaan itu. Dia tenggelam dalam pikirannya dan mengingat banyak kejadian yang telah dia lalui.
"Keinginan..... apa yang aku inginkan? Di kehidupan yang dulu dan di kehidupan yang sekarang, apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa yang aku cari selama ini?"
Chun Yang melihat kedua tangannya dan kemudian menyentuh dadanya yang terasa berdetak. Perlahan Chun Yang menoleh dan menjawab.
"Aku ingin bahagia..."
Zao Hu yang mendengar jawaban itu seketika tertegun. Angin kembali menerpa mereka.
"Bahagia yah..... Keinginanmu sederhana tapi rumit. Yah, kamu benar, semua orang pasti ingin bahagia sama sepertimu!" kata Zao Hu.
Pada saat itu, Chun Yang kemudian balik bertanya pada Zao Hu.
"Kalau dirimu? Apa yang kau inginkan?"
Mendengar pertanyaan itu, Zao Hu tertegun dan menoleh.
"(Yang aku inginkan.....) Aku tidak tahu!" jawab Zao Hu.
...****************...
......................
__ADS_1
......................