
semuanya menunggu di depan ruang bedah. Sudah lima jam berlalu namun belum ada tanda-tanda operasi berakhir. waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
" mama dan papa lebih baik pulang saja dan beristirahat. ini sudah jam 10 malam." ucap Zain pada kedua orang tuanya.
" mama masih ingin disini, Zain, menunggu operasi Salsa berakhir." balas bu Santi.
" pulang saja ma, kasihan Alan. tidak boleh anak-anak seperti Alan terlalu lama berada di rumah sakit." ucap Zain.
" tapi.." belum selesai bu Santi berbicara, sang suami sudah menyela.
" benar kata , Zain. lihat, kasihan Alan sudah tertidur." ucap papa Zain.
" hufft, baiklah. yasudah mama dan papa pulang dulu, besok mama dan papa balik lagi. jika ada apa-apa, segera hubungi kami ya, nak." ucap bu Santi.
" iya ma." balas Zain. lalu kedua orang tua Zain pulang ke rumah bersama Alan.
" umi, abi juga pulang ya. biar Raihan dan Zain yang menunggu disini." ucap Raihan.
" baiklah nak tapi bagaimana dengan Annisa?" tanya Umi.
" siapa Annisa, umi?" tanya Raihan.
" Annisa itu putrinya Salsa, nak." balas Umi.
" hah, yang benar umi?" tanya Raihan yang terkejut mendengar jika Salsa mempunyai seorang anak.
" iya nak." balas Umi.
"lalu dimana Annisa sekarang?" tanya Raihan.
" Annisa ada di UGD." ucap Zain.
" bagaimana keadaan Annisa, nak Zain?" tanya Umi.
" alhamdulillah, Annisa tidak terluka parah hanya luka lecet." balas Zain.
" jadi siapa yang menjaga Annisa sekaran?" tanya Umi.
"tadi Zain menitipkan dengan perawat yang berjaga. Annisa masih tertidur karena pengaruh obat tidur yang di berikan dokter agar dia tidak syok dengan kejadian tadi, tante." balas Zain.
" sekarang umi dan abi pulang ya biar kami yang berjaga." ucap Raihan.
" baiklah nak. segera hubungi kami jika ada apa-apa." ucap umi.
" baik umi. Fajar kamu yang bawa mobil ya." ucap Raihan.
" iya bang." balas Fajar. lalu umi, abi dan Fajar segera pulang, kini tersisa Raihan dan Zain yang menunggu di depan ruang operasi.
" zain." ucap Raihan.
" ya." balas Zain.
__ADS_1
" apa kamu ingat bahwa aku punya seorang adik perempuan yang selama ini cari?" tanya Raihan.
" iya kemarin kamu sudah bercerita padaku." balas Zain.
" akhirnya adik ku sudah di temukan." ucap Raihan.
" hah, yang benar?" tanya Zain.
" iya benar." balas Raihan.
" jadi dimana adik perempuan mu itu sekarang?" tanya Zain.
" dia ada di sana." ucap Raihan sambil menunjuk ruang bedah.
" hah? aku tidak mengerti." ucap Zain.
" adik ku sekarang sedang di operasi di ruang operasi ini." ucap Raihan. Zain mengernyitkan alisnya.
" maksud mu Salsa?" tanya Zain.
" iya dia Salsa." balas Raihan.
" HAH BAGAIMANA BISA?" tanya Zain dengan suara keras.
" tuan dilarang berisik." ucap seorang perawat yang sedang lewat menegur Zain karena suaranya terdengar nyaring.
" ahh maaf suster." balas Zain sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal karena menahan malu.
" Rai, apa kamu serius dengan ucapan mu itu?" tanya Zain lagi.
" apa yang membuat mu yakin Salsa adalah adik mu yang hilang?" tanya Zain.
" karena wajahnya sangat mirip dengan Karina." jawab Raihan.
"jangan terkecoh dengan wajah. belum tentu itu adik mu." ucap Zain.
" aku sangat yakin dia adik ku." ucap Raihan.
" apa yang membuat mu yakin jika Salsa adalah adik mu?" tanya Zain.
" tidak hanya wajahnya. kemaren umi di jambret lalu umi di tolong oleh Salsa dan di bawa ke rumahnya. di sana Umi dan Salsa mengobrol, Salsa bercerita tentang masa kecilnya saat dia di temukan oleh ibu panti saat umurnya lima tahun dan tumbuh besar di sana. kejadiannya dua puluh tahun yang lalu yang secara kebetulan tragedi Karina di culik." jelas Raihan.
" hanya dengan cerita saja belum meyakinkan, Rai." ucap Zain.
" ada satu yang menambah aku, umi dan abi yakin jika Salsa adalah Karina." ucap Raihan.
" apa?" tanya Zain.
" tanda lahir." ucap Raihan.
" tanda lahir?" tanya Zain.
__ADS_1
" iya tanda lahir. Karina memiliki tanda lahir berbentuk hati yang ada di punggungnya dan Salsa memiliki tanda lahir yang sama persis seperti yang di miliki oleh Karina." jawab Raihan.
" bagaimana kamu tahu Salsa memiliki tanda lahir di punggung nya?" tanya Zain.
" saat umi mengobrol dengan Salsa, umi bertanya apa Salsa memiliki tanda lahir seperti milik karina dan Salsa menjawab dia memilikinya. umi juga sudah melihatnya." jelas Raihan.
" jadi apa kamu akan melakukan tes DNA?" tanya Zain.
" iya, jika Salsa sudah sembuh kami akan melakukan tes DNA." balas Raihan.
" jika hasil tes DNA menyatakan Salsa adalah Karina berarti kamu akan menjadi adik ipar ku haha." ucap Raihan lagi.
" adik ipar? bagaimana kamu tahu aku akan menikah dengan Salsa?" tanya Zain penasaran.
" aku mengetahuinya kemaren. saat aku menjemput umi di rumah Salsa, aku melihat Alan berada dalam gendongan Salsa dan memanggilnya bunda. disitu aku menjadi tahu bahwa Salsa adalah calon istri mu." jawab Raihan.
" oh begitu." ucap Zain mengerti. lampu ruang operasi padam menandakan bahwa operasi telah berakhir, pintu operasi terbuka dan tampak seorang dokter yang masih mengenakan scrub suits atau jubah operasi berwarna hijau. dokter tersebut menghampiri Zain dan Raihan.
" bagaimana operasinya, dok?" tanya Zain.
"syukurlah, operasi berjalan lancar." balas dokter tersebut.
" lalu bagaimana keadaan pasien, dok?" tanya Zain.
" pasien sudah melewati masa kritis namun masih dalam keadaan koma." ucap dokter.
" kira-kira kapan pasien akan sadar, dok?" tanya Zain lagi.
" untuk sadarnya saya belum bisa memastikan, kita berdoa saja agar pasien dapat segera sadar dari komanya." balas dokter tersebut. tak lama tiga orang perawat keluar dari ruang operasi sambil mendorong brankar yang di atasnya terdapat Salsa yang masih dalam keadaan koma dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.
" tolong pindahkan pasien ke ruang VVIP satukan ruangannya dengan putrinya yang masih ada di UGD, dok." ucap Zain.
" baik tuan." balas dokter. Salsa di pindahkan ke ruang VVIP yang ada di lantai empat rumah sakit. setelah Salsa berada di ruang rawat, tak lama brankar Annisa masuk ke dalam ruang rawat ibunya. ibu dan anak itu di satukan dalam satu ruang rawat agar mudah memantau keadaan mereka berdua.
" kalau begitu saya permisi tuan. jika ada apa-apa tuan bisa memencet tombol ini." ucap dokter sambil menunjuk tombol interkom yang ada di atas ranjang pasien.
" baik, dokter terima kasih." ucap Raihan.
" sama-sama, tuan." balas dokter tersebut lalu segera keluar dari ruang rawat Salsa.
" Rai, kamu sudah menghubungi orang tua mu kalau operasi Salsa sudah selesai?" tanya Zain.
" belum, lebih baik kita menghubungi orang tua kita besok pagi saja saat ini pasti mereka sudah beristirahat." balas Raihan.
" oh iya baiklah." ucap Zain.
" aku mau ke minimarket, apa ada yang mau kamu titip?" tanya Zain.
" aku titip kopi nescafe aja yang dingin." balas Raihan.
" yasudah kalau begitu aku keluar dulu." ucap Zain.
__ADS_1
" oke." balas Raihan. Zain segera keluar dari ruang rawat lalu pergi ke mini market yang ada. di seberang rumah sakit. Zain membeli minuman dingin, air mineral dan roti isi coklat untuk ganjalan perut jika lapar.
#sekian dari author. jangan lupa like, komen dan share. dukung terus karya author. terima kasih