
selesai menyuapi Annisa sarapan, bu Santi menemani Annisa bermain boneka yang di bawa oleh bu Santi. Zain mengerjakan berkas-berkas yang ada di tangannya dengan serius sedangkan Raihan sudah berangkat ke kantornya.
" Zain, apa kamu sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian?" tanya bu Santi.
" sudah ma tadi malam Zain sudah menyuruh Adam untuk melaporkan ke kepolisian dan hari ini akan di lakukan olah TKP." balas Zain.
" alhamdulillah kalau begitu." ucap bu Santi.
" Zain, kapan ica boleh pulang?' tanya bu santi.
" belum tau ma. coba aja panggil dokter, ma." balas Zain
" oh iya." ucap bu Santi lalu memencet tombol interkom. tak lama datanglah seorang dokter.
" permisi, ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya dokter tersebut.
" iya dok. saya mau tanya, cucu saya ini kapan boleh pulang?' tanya bu Santi.
" sebentar saya periksa pasiennya dulu." ucap dokter tersebut lalu memeriksa keadaan Annisa.
" cucu ibu sudah boleh pulang hari ini karena tidak ada luka serius namun untuk sementara lukanya jangan terkena air." ucap dokter tersebut.
" baik dok, terima kasih." balas bu Santi.
" sama-sama bu, kalau begitu saya permisi." ucap dokter tersebut.
" silahkan, dok." balas bu Santi. dokter tersebut segera keluar. dari ruangan.
" Annisa.' ucap bu Santi.
" iya oma." balas Annisa.
" nanti mau ikut oma pulang gak? nanti bisa bermain dengan abang Alan.' ucap bu Santi.
" iya oma mauuu." balas Annisa dengan gembira lalu kembali bermain dengan bonekanya.
Tak terasa hari sudah siang, bu Santi, suami dan Annisa bersiap-siap untuk pulang.
" Zain, mama dan papa pulang dulu kasihan Alan di tinggal terlalu lama." ucap bu Santi.
" iya ma." balas Zain.
" kalau ada apa-apa segera hubungi kami." ucap bu Santi.
" pasti ma." balas Zain.
" yasudah kami pulang dulu, assalamualaikum." ucap bu Santi.
" kami juga nak, Zain. Assalamualaikum." ucap bu Aida.
"iya tante, waalaikumsalam." balas Zain. dia kembali memeriksa berkas yang ada di tangannya. tak berapa lama pintu ruangan terbuka, Zain langsung menoleh.
" eh kamu sudah datang, dam." ucap Zain.
__ADS_1
" iya tuan." balas Adam.
" apa kamu sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian?" tanya Zain.
" sudah tuan." balas Adam.
" lalu bagaimana perkembangannya?" tanya Zain.
" saat ini polisi masih menyelidikinya." balas Adam.
" baguslah kalau begitu." ucap Zain.
" iya tuan." ucap Adam.
" apa kamu sudah makan siang?" tanya Zain.
" belum tuan." balas Adam.
" yasudah tolong belikan saya makan siang sekalian untuk mu." ucap Zain.
" baik. mau makan siang apa, tuan?" tanya Adam.
" belikan tiga bungkus ayam bakar madu di tambah nasi. belikan juga 5 air mineral botol yang ukuran besar.' balas Zain. seraya memberikan dua lembar uang seratus ribu.
" baik tuan." balas Adam lalu dia pergi membelikan Zain makan siang.
Ceklek!
pintu ruangan terbuka dan terlihat Raihan memasuki ruangan.
" waalaikumsalam." balas Zain.
" loh semuanya sudah pulang?" tanya Raihan.
" iya sudah hampir sejam yang lalu." balas Zain.
" apa kamu sudah makan siang, Zain?" tanya Raihan.
" belum." balas Zain.
" kalau begitu aku pesan makanan buat kita makan siang." ucap Raihan.
" tidak usah. tadi aku sudah menyuruh asisten ku untuk membeli makan siang untuk kita." ucap Zain.
" yasudah kalau begitu." ucap Raihan.
" oh ya, apa kamu sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian?" tanya Raihan.
" iya tadi malam asisten ku sudah melaporkannya ke polisi." ucap Zain.
" lalu bagaimana perkembangannya?" tanya Raihan.
" masih dalam penyelidikan polisi." balas Zain.
__ADS_1
" oh bagus kalau begitu." ucap Raihan. tak lama, Adam datang membawa dua kantong kresek berukuran besar berisi makan siang dan air mineral.
" ini tuan makan siangnya." ucap Adam sembari meletakkan bungkusan itu di atas meja di hadapan mereka.
" yasudah ayo makan bersama." ucap Zain.
" baik." balas Adam dan Raihan bersama. mereka makan siang dengan tenang.
.......
Tak terasa sudah hampir seminggu terlewatkan namun sampai saat ini Salsa belum juga membuka matanya. dia masih setia menutup matanya. terlihat seorang wanita yang terlihat sudah tua menggenggam tangan Salsa yang terpasang selang infus sambil berbicara pada Salsa.
" Karina, putri cantik umi. kapan kamu sadar nak? apa kamu tidak merindukan umi, abi dan abang mu? sudah dua puluh tahun akhirnya kita bisa bertemu kembali, sayang." ucap bu Aida.
ya, wanita itu adalah bu Aida yang setia menemani di samping brankar putrinya yang masih tertidur nyenyak. bu Aida dan keluarga sudah mendapatkan hasil tes DNA nya tadi malam , hasilnya menyatakan 99,99% bahwa pak Ammar dan Salsa adalah ayah dan anak. sontak hal itu membuat bu Aida dan keluarga merasa bahagia karena putri yang terpisah dari mereka dua puluh tahun yang lalu kini ada di hadapan mereka. kabar bahagia itu juga mereka sampaikan pada keluarga Zain tadi pagi, hal itu membuat Zain dan keluarga ikut bahagia mendengar kabar tersebut.
" umi, sudah waktunya sholat dzuhur. ayo kita sholat dulu." ucap pak Ammar.
" bagaimana dengan karina, bi?" tanya bu Aida.
" umi tenang saja, kita bisa menitipkan pada suster. kan kita perginya hanya sebentar." ucap pak Ammar.
" yasudah ayo, bi." balas bu Aida. mereka segera keluar dari ruangan dan menuju musholla yang di sediakan oleh pihak rumah sakit, tak lupa mereka menitipkan putri mereka pada perawat yang berjaga. setelah melaksanakan sholat dzuhur, bu Aida dan pak Ammar seger kembali ke ruang rawat Salsa. saat tiba di ruang rawat, terlihat sudah ada Zain, orang tua Zain dan Raihan.
" Assalamualaikum." ucap bu Aida.
" Waalaikumsalam." balas semua yang ada di dalam ruangan.
" kalian sudah dari tadi disini?" tanya bu Aida.
" kami baru saja tiba, mba." balas bu Santi.
" apa kalian sudah makan siang?" tanya bu Aida.
" sudah mba tadi sebelum kesini kami makan siang dulu." balas bu Santi.
" oh baiklah kalau begitu." ucap bu Aida.
" oh ya, zain. bagaimana perkembangan kasus penabrakan terhadap Salsa?" tanya bu Santi.
" alhamdulillah pihak kepolisian sudah mengantongi identitas pelaku dan saat ini kita menunggu penangkapan pelaku." balas Zain.
" alhamdulillah syukurlah kalau begitu." ucap bu Aida.
" oh ya apa Alan dan Annisa di tinggal di rumah?" tanya bu Aida.
" tidak mba mereka ikut tapi mereka sedang berada di taman rumah sakit di temani oleh dua orang pengasuh. tidak mungkin mereka di bawa ke dalam ruangan." ucap bu Santi.
" oh baguslah." ucap bu Aida. tanpa mereka sadari Salsa menggerakkan jarinya dan membuka matanya lalu dia tutup lagi untuk menyesuaikan cahaya lampu ruangan dan Salsa membuka matanya secara perlahan.
" eung..." Salsa mengeluarkan sedikit suaranya. semua yang mendengar suara Salsa sontak mengarahkan pandangan mereka ke arah Salsa.
" Salsa kamu sudah sadar nak." ucap bu Santi sambil menghampiri Salsa di ikuti oleh yang lain.
__ADS_1
" Raihan, cepat panggilkan dokter." ucap bu Aida. Raihan segera memencet tombol panggilan yang ada di atas ranjang Salsa.
# sekian dari author. jangan lupa like, komen dan share. dukung terus karya author. maaf jika lambat up nya karena author mengetik nya sedikit demi sedikit.