
sinar mentari pagi masuk ke dalam ruang rawat Salsa melalui celah gorden yang sedikit terbuka. silau mentari membangunkan Zain dari tidurnya karena terganggu oleh cahaya matahari. Zain menatap jam yang menempel di dinding, jam tersebut menunjukkan pukul delapan pagi. Zain menghubungi asistennya.
" Halo, Adam. tolong kamu *****hantarkan***** berkas-berkas yang harus aku periksa ke rumah sakit tempat Salsa di rawat. aku akan bekerja dari sini sekalian kamu mampir ke rumah bawakan aku baju ganti." ucap Zain.
" baik tuan." balas Adam.
Zain menutup panggilannya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. setelah mencuci muka, Zain keluar bersamaan dengan pintu ruang rawat terbuka.
" Assalamualaikum." ucap orang tersebut.
" Waalaikumsalam, eh mama dan papa sudah datang." balas Zain. ya, yang datang adalah orang tua Zain. mendengar ada yang datang, Raihan terbangun dari tidurnya.
" om dan tante baru datang?" tanya Raihan.
" iya nak." balas bu Santi.
" bagaimana keadaan Salsa, nak?" tanya Papa Zain.
" alhamdulillah Salsa sudah melewati masa kritis namun saat ini masih dalam keadaan koma." balas Zain
" kapan Salsa akan sadar, nak?" tanya bu Santi.
" belum tau ma, kita berdoa saja agar Salsa bisa cepat sadar." balas Zain.
" apa kalian sudah sarapan?" tanya bu Santi.
" belum ma." balas Zain.
" yasudah kamu dan Raihan cari sarapan gih, biar mama dan papa yang jaga Salsa dan Annisa." ucap bu Santi.
" mama dan papa sudah sarapan?" tanya Zain.
" iya nak. kami sudah sarapan tadi sebelum kesini." balas bu Santi.
" baik ma/ tante." balas Zain dan Raihan bersama lalu mereka pergi mencari sarapan.
Tok..Tok..Tok..
" masuk." ucap papa Zain. lalu masuk lah Adam ke dalam kamar rawat.
" permisi, tuan dan nyonya besar." ucap Adam.
" ya Adam, ada apa?" tanya bu Santi.
" ini saya mau menitip berkas dan pakaian tuan muda tadi tuan muda minta di antar kan baju ganti sekalian berkas-berkas yang harus di periksa. tuan muda bilang akan bekerja dari sini." jelas Adam sambil menyerahkan paper bag berisi pakaian dan berkas-berkas kerjaan kepada bu Santi.
" oh iya baiklah." ucap bu Santi.
" kalau begitu saya permisi kembali ke kantor." ucap Adam.
__ADS_1
" iya silahkan." balas papa Zain. Adam segera pergi dan kembali ke kantor Zain untuk melanjutkan pekerjaannya.
" eunghh, bunda." ucap Annisa yang mulai bangun dari tidurnya. bu Santi dan suaminya mendengar suara Annisa dan melihat Annisa yang bangun dari tidurnya lalu bu Santi menghampirinya.
" wahh cucu oma sudah bangun. ada yang sakit, sayang.?" tanya bu Santi.
" ini dan ini sakit oma." ucap Annisa seraya menunjuk tangan dan kakinya yang di tutup oleh perban.
" cupp..cupp.. cucu oma kuat. sudah sembuh." ucap bu Santi sembari meniup tangan dan kaki yang di tunjuk oleh Annisa.
" ica, mau makan nak?" tanya bu Santi.
" iya oma, ica lapar." balas Annisa. bu Santi tersenyum mendengar ucapan Annisa lalu mengambil makanan yang ada di meja samping ranjang pasien dan menyuapkan Annisa.
ceklek! pintu ruangan terbuka.
" assalamualaikum." ucap orang yang masuk.
" waalaikumsalam." balas mama dan papa Zain.
" eh mba Aida dan mas Ammar sudah datang. mari silahkan duduk." ucap bu Santi. ya yang datang adalah bu Aida dan pak Ammar.
" bagaimana keadaan Salsa, mba?" tanya bu Aida.
" alhamdulillah kata dokter Salsa sudah melewati masa kritisnya namun saat ini masih koma." balas bu Santi.
" mereka pergi cari sarapan." balas bu Santi.
" oh begitu." ucap bu Aida. tak lama, pintu ruangan kembali terbuka, muncullah Zain dan Raihan yang baru kembali setelah sarapan.
" assalamualaikum." ucap Zain dan Raihan.
" waalaikumsalam." balas semua yang ada di ruangan.
" eh umi dan abi sudah lama datangnya?" tanya Raihan.
" gak nak, kami baru sepuluh menit datangnya." balas bu Aida.
" apa umi dan abi mau melakukan tes DNA dengan Salsa mumpung kita ada di rumah sakit?" tanya Raihan.
" oh iya baiklah." ucap bu Aida.
" yasudah Rai panggilkan dokter dulu." ucap Raihan lalu memencet tombol panggilan yang ada di atas ranjang pasien. tak lama seorang dokter dan perawat datang.
" permisi, tuan. ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter tersebut.
" iya dok, saya ingin meminta tolong." ucap bu Aida.
" mau minta tolong apa, nyonya?" tanya dokter itu.
__ADS_1
" saya mau minta tolong lakukan tes DNA antara pasien Salsa dengan suami saya. apakah bisa, dok?" ucap bu Aida.
" oh iya bisa, nyonya." balas dokter tersebut.
" tolong di lakukan sekarang dok." ucap bu Aida.
" baik, nyonya. Sus, tolong ambilkan tabung darah dan suntikkan." ucap dokter sembari memerintah perawat yang di sebelahnya.
" baik, dokter." balas perawat itu lalu ia mengambil peralatan dan mengambil sampel darah Salsa dan pak Ammar.
" berapa lama hasil tes DNA nya akan keluar, dok?" tanya bu Aida.
" butuh waktu 1 minggu untuk hasilnya keluar, nyonya." balas dokter tersebut.
" baiklah, terima kasih dokter. jika hasilnya sudah keluar, tolong segera hubungi kami." ucap bu Aida.
" baik nyonya. kalau begitu saya permisi." ucap dokter.
" silahkan, dok." balas bu Aida. dokter dan perawat itu segera keluar ruangan sambil membawa sampel darah Salsa dan pak Ammar.
" kenapa mba melakukan tes DNA itu?" tanya bu Santi.
" karena kami ingin memastikan jika Salsa adalah Karina, putri kami yang di culik dua puluh tahun yang lalu." balas bu Aida.
" lohh, mba dan pak Ammar punya anak perempuan? kok saya gak tau?" tanya bu Santi.
" iya kami memang memiliki anak perempuan. dia anak kedua kami. namanya Karina namun dua puluh tahun yang lalu dia di culik di sebuah taman bermain. saat itu usianya masih lima tahun." balas bu Aida dengan mata berkaca-kaca. pak Ammar langsung memeluk istrinya untuk menenangkannya.
" maaf jika pertanyaan saya membuat mba merasa sedih." ucap bu Santi karena merasa bersalah.
" tidak apa-apa, mba." balas bu Aida.
" lalu kenapa kalian melakukan tes DNA nya pada Salsa?" tanya bu Santi.
" kemaren lusa saya di jambret lalu saya di tolong oleh nak Salsa yang wajahnya mirip dengan Karina lalu dia bercerita tentang masa kecilnya yang di temukan oleh kepala panti saat usianya lima tahun dan itu sesuai dengan saat Karina di culik. Salsa juga memiliki tanda lahir yang sama seperti Karina." jelas bu Aida.
" oh baiklah saya mengerti." ucap bu Santi.
" Zain, ini berkas-berkas dan pakaian yang di bawakan oleh Adam tadi. lebih baik sekarang kamu mandi, nak." ucap bu Santi sembari memberikan paper bag dan berkas-berkas itu.
" baik ma." ucap Zain lalu ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" umi, abi. Rai pulang dulu ya Rai mau mandi sekalian mampir ke kantor dulu. nanti Rai kembali lagi kesini." ucap Raihan.
" iya nak. hati-hati di jalan." ucap bu Aida.
" iya umi." balas Raihan lalu ia segera keluar dan pergi dari rumah sakit menuju pulang ke rumah.
# sekian dari author. jangan lupa like, komen dan share ya. dukung terus karya author.
__ADS_1