Identitas Palsu

Identitas Palsu
Gegar Otak Ringan - Part 1


__ADS_3

"Ssshh...," kurasakan pusing yang sangat dahsyat saat aku baru membuka mata, badanku juga terasa sangat lemas untuk menggerakan jari jemari tangan saja rasanya sulit sekali. Hidungku juga terasa tersumpal oleh sesuatu.


Kuedarkan pandangan ke segala arah ruangan ini di dominasi oleh warna putih dengan bau obat-obatan khas rumah sakit. Bibirku terbuka hendak berteriak meminta tolong namun suara yang keluar sangatlah pelan dan juga serak. Sungguh tenggorokanku terasa tercekat karena kehausan.


Kuangkat tangan kananku, terlihat di bagian punggungnya terdapat sebuah jarum infus yang terpasang disana dan sebuah alat yang di jepitkan di jari telunjukku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menggapai gelas yang ada di atas meja di samping hospital bed.


Cklek!


Suara pintu terbuka kutolehkan kepalaku ke arah sana. Tapi bukan dokter ataupun suster yang kudapati membuka pintu itu melainkan seorang ibu paruh baya. Apa ibu itu yang membawaku kesini?


"Alhamdulillah nak, kamu udah sadar! Mama panggilin dokter dulu," ujar ibu paruh baya itu yang hendak berlari keluar memanggil dokter dan suster.


"M-minumm..." ucapku pelan, setelah berhasil meraih baju ibu paruh baya itu untuk mencegah kepergiannya.


"T-tolongg... ambillkkan... saya... minum...," ulangku sekali lagi.


"Ya, ampun… sayang maafin Mama. Kamu pasti haus ya?" aku mengangguk, mengiyakan perkataan ibu itu. Dengan lembut dan penuh perhatian ibu paruh bayah itu mengambilkan gelas yang sebelumnya ia beri sedotan agar aku mudah untuk menyesapnya.


"Ibu keluar dulu ya, mau panggilin dokter buat periksa kamu." Kembali aku hanya menngangguk untuk menjawabnya.


Beberapa menit kemudian ibu paruh baya itu kembali masuk diikuti seorang dokter dan juga suster yang membawa sebuah wadah di tangannya.


"Dokter sebenarnya apa yang terjadi pada saya? Kenapa saya bisa ada disini?" tanyaku panik.


"Tenang Mbak, biarkan dokter memeriksa keadaan Mbak dulu." Suster itu dengan lembut memegangiku yang hendak bangkit dari ranjang.


Dokter itu mulai memasangkan Tetoskop ditelinganya lalu menempelkan ujung tetoskop lainnya tepat didadaku, setelah beberapa saat ia melepaskannya lagi. Tangannya beralih mengambil sebuah light pen yang kemudian di arahkan pada kedua bola mataku.


"Alhamdulillah semuanya sudah normal, jika anda masih susah untuk menggerakan tangan ataupun kaki itu hal wajar karna anda baru sadar dari koma. Jika anda menjalani terapi dengan baik, secepatnya keadaan anda akan kembali normal," jelas Dokter itu, yang langsung kurespon dengan membelalakan kedua mataku.


"Hah?! K-koma, Dok?" tanyaku kaget.


"Iya, Koma. Anda terbaring disini karena koma selama beberapa bulan."


"Tapi kenapa bisa?" tanyaku panik, karna aku memang tidak mengingat kejadian sebelum aku koma.


"Anda mengalami kecelakaan tunggal, setelah mobil anda menabrak sebuah pohon."


Kecelakaan tunggal? Menambrak pohon dengan sebuah mobil? Itu kendaraan orang kaya, mana pernah aku mengendarainya, apalagi ini sampai menambrakkan mobil! Sudah gila, jika benar aku melakukan hal itu!


"Tapi itu nggak mungkin, Dok! Saya-"


"Wajar jika anda tidak ingat karena kecelakaan itu mengakibatkan gegar otak ringan, sehingga ada kejadian sebelum kecelakaan tidak bisa anda ingat. Jika ada suatu keluhan, tolong langsung kabari saya. Jika anda masih merasa kurang yakin, anda bisa tanyakan sendiri pada Ibu anda. Saya masih ada pasien lagi jadi saya permisi dulu," pamit dokter itu diikuti oleh suster setelah melepas alat bantu napas yang ada dihidungku.


Ibu? Aku ini anak yatim piatu ibuku sudah meninggal, kalo pun ada hanya ibu panti yang ku punya tapi aku sudah lama tidak kembali ke panti asuhan. Lalu siapa ibu yang dimaksud dokter itu?


"Sayang… jika kamu ingin mengingat segalanya, pelan-pelan saja. Ibu akan sabar untuk menjelaskan semua kejadian yang menimpa kamu sebelum kecelakaan itu terjadi." Ibu paruh baya yang tadi kulihat, kembali mendekatiku dan meraih tanganku untuk digenggamnya.


"Ibu... siapa?"


"Ya, Allah nak. Kamu juga nggak ngenalin Mama kamu sendiri? Tapi tidak apa, yang penting kamu kembali sadar. Itu sudah cukup bagi Mama." Kernyitan dikeningku semakin dalam, benar-benar semuanya tidak masuk di akalku.

__ADS_1


Ini sangat memusingkan, tanganku tergerak untuk meraih gelas. Tenggorokanku terasa kering kembali. Belum sempat kuraih gelas itu, ibu paruh baya itu dengan sigap mengambilkannya padaku.


"Kamu belum sepenuhnya pulih, jika ingin sesuatu bilang saja pada Mama. Mama akan mengambilkannya untukmu."


"Ya, ampun! Manja banget sih, kak!" suara seorang gadis membuatku berhenti minum, tatapan ku beralih ke arah pintu. Disana terlihat seorang gadis remaja dengan pakaian seragam SMA lengkapnya tengah berdiri di ambang pintu seraya menyilangkan tangan didada.


"Siapa kamu?" tanyaku pada anak SMA yang sedikit tidak sopan itu.


"Kakak jangan pura-pura lupa deh!"


"Saya beneran nggak tahu, kamu itu siapa?"


"Kak, jangan mulai akting deh…" Gadis remaja itu memutarkan bola matanya, seperti malas berbicara denganku.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menjawabnya. Bu, saya tanya, sudah berapa lama saya koma?"


"Sekitar lima bulan. Terhitung dari bulan september hingga akhir bulan januari kemarin."


"Hiks.. jadi aku koma selama setahun, bagaimana nasibku sekarang ... huwaa..." Air mataku keluar dengan deras saat mengingat pekerjaanku yang aku tinggalkan selama koma, pasti Bu Fina-si pemilik toko tempatku bekerja sudah memecatku sekarang.


Lalu bagaimana nasibku selanjutnya….


"Ya ampun, Kak. Nggak usah lebay deh, Kakak itu koma cuma lima bulan. Jadi stop histeris kayak gitu!" celetuk gadis itu lagi. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu? Padahal aku baru melihatnya hari ini tapi kenapa gadis itu seolah-olah telah lama mengenalku?


"Kamu sebenernya siapa, sih?! Dari tadi nyahut aja omongan saya!" gerutuku karna gadis itu menyahuti perkataanku dengan pedas, seperti pernah mengenalku saja.


"Nggak usah akting deh, Kak?! Kita ini nggak lagi syuting film! Ini tuh dunia nyata?!" sarkas gadis itu seraya berjalan masuk.


"Elsa! Jangan gitu sama kakak kamu sendiri, nggak sopan!" tegur ibu itu pada gadis remaja yang ku yakini adalah anaknya.


Kakak? Gadis SMA itu selalu menyebutku dengan panggilan Kakak, lalu ibu paruh baya itu barusan juga menegurnya supaya bicara dengan sopan pada Kakaknya dan disini hanya ada kami bertiga dan itu artinya yang di maksud Kakak adalah aku?


"Hus! Jangan kayak gitu, bagaimana pun dia ini Kakak kandung kamu." Kata ibu paruh baya itu lagi.


"Sekarang saya mau tanya, orang yang kalian maksud sebagai Kakak itu siapa?"


"Masih aja ngedrama. Nggak capek Kak? Sebelum kecelakaan bukannya Kakak udah mutusin buat pensiun dari dunia ke artisan itu, kenapa sekarang Kakak nunjukin bakat akting Kakak lagi ke kita?"


"Akting? Apalagi itu, saya bertanya karena saya benar-benar tidak tahu!" ketusku yang mulai terpancing emosi karena mendengar ucapan gadis SMA itu.


"Elsa kamu diam. Biarkan Mama yang bicara!" ibu setengah baya itu mengangkat tangannya, membuat gadis SMA yang sangat menjengkelkan itu akhirnya diam.


"Sayang, biar Mama yang jelasin. Ini Elsa adik kandung kamu dan kamu Andin anak kandung Mama," jelas ibu paruh baya itu, bukannya membuat pikiranku jernih malah semakin kusut karena kebingungan yang melandaku bertubi-tubi ini.


"Elsa, jangan seperti itu pada Kakakmu. Dia baru saja bangun dan mengalami gegar otak ringan jadi kamu jaga sikap. Jangan sampai membuat Kakakmu stress, karena memikirkan perkataanmu yang mungkin ia lupakan juga."


"Bagus deh, semoga setelah ini Kakak bertobat dan nggak melakukan kejahatan lagi seperti yang sudah-sudah."


Aku berusaha bangkit untuk bersandar kekepala ranjang. "Sepertinya ada kesalah pahaman disini. Pertama, saya bukan Kakak kamu dan juga putri Ibu. Kedua, nama saya Melody bukan Andin atau siapapun yang kalian maksud tadi."


"Kakak cuma gegar otak ringankan? Berarti Kakak masih ngenalin wajah Kakak sendiri."

__ADS_1


Gadis itu mendekatiku lalu menyodorkan sebuah cermin genggam padaku. "Ngapain kamu ngasih saya cermin?" bingungku menatap ke arah cermin dan gadis SMA itu bergantian.


"Ngaca! Dan lihat sendiri kalo Kakak itu Andin bukan Melody atau siapapun yang Kakak bilang tadi?!"


Dengan gemetar dan sekuat tenaga aku meraih cermin itu, pelan-pelan ku arahkan cermin kecil itu ke wajahku. Di cermin itu terpantul wajah seorang gadis yang sangat cantik dengan mata hitamnya, hidung mancung dan bibir tipis. Tunggu dulu, itu jelas bukan wajahku tapi saat ini aku yang sedang bercermin.


Prang!


"U-itu… bu-bukan wajahku! Itu bukan wajahku!"


"Nak, kamu kenapa? Tangannya masih sakit, ya? Lebih baik kamu tidur saya tidak usah mengingat sesuatu yang menurut kamu sulit."


"Elsa, Mama minta kamu diam. Lihat keadaan Kakak kamu, dia shock."


"Mama nggak usah manjain, dia! Kakak aja dulu selalu buat Mama sedih, kenapa Mama masih baik sama dia!"


"Seburuk apapun perlakuan Kakak kamu sama Mama dulu, dia tetaplah anak Mama. Anak yang Mama kandung selama sembilan bulan dalam perut Mama sama seperti kamu. Jadi lebih baik kamu pulag saja, biarkan Mama yang bicara berdua dengan Kakak kamu."


"Ya udah, deh! Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumssalam…."


"Hiks! Hiks!" tangisku pecah bukan karna sakit hati mendengar ucapan gadis itu tapi karna wajah ini bukan wajah asliku, lalu bagaimana aku harus melanjutkan hidupku.


"Mama tahu ini berat tapi kamu jangan nangis seperti ini terus. Jika kamu terpuruk sedih seperti ini, Mama juga ikut sedih. Sini Mama peluk, mungkin pelukan Mama bisa buat kamu baikkan lagi."


Tanpa perlawanan kubiarkan saja ibu setengah baya ini memeluk tubuhku.


Perasaanku saat ini sedang kalut, aku tak tau apa yang harus kulakukan selanjutnya.


Suara berisik disekitarku membuatku terjaga dari tidur, kenapa ruangan ini berisik sekali? Padahal sebelum aku tertidur kembali tadi, suara-suara itu tidak ada.


Kubuka kelopak mataku dengan perlahan, samar-samar kulihat ada beberapa orang yang sedang berbincang asik di sofa yang ada di ruangan ini.


"Sshhh ..." tanganku terangkat untuk memegangi keningku yang kembali terasa pusing.


"Andin udah bangun!" teriak salah satu orang yang berada disana seperti memberitahu yang lainnya.


"Syukurlah Sayang, kamu sudah bangun lagi..,” ucap seorang pria seraya mendekatiku.


Radarku langsung memindai penampilan pria itu dari atas hingga mata kaki, pria dengan stelan jas lengkap yang terlihat tampan dengan jambang di area sekitar dagunya. Memberikan kesan maskulin bagi pria dewasa sepertinya. Tapi dia siapa? Kenapa bisa dia ada disini?


"Kamu siapa?" tanyaku seraya menyipitkan mata, penuh selidik.


"Aku Aldebaran, suamimu."


"Oh ... suami," ulangku seraya kuanggukan kepalaku dengan santai namun sedetik kemudian mataku membelalak,  "hah?! Suami?!"


Pria di sampingku itu mengangguk dengan santai.


Ya, Allah apalagi ini... suami? Aku ini jomblo sejak lahir! Bagaimana mungkin aku sudah punya suami?!

__ADS_1


*****


Apa yg akan terjadi oleh Andin/Melody selanjutnya? ikutin terus ceritnya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2