Identitas Palsu

Identitas Palsu
Manager lucu - Part 4


__ADS_3

"Aldebaran! Apa yang sudah kamu perbuat pada Andin? Hingga Andin mengalami shock seperti ini dan pingsan?!"


Suara bentakan itu membuatku terlonjak bangun. Samar-samar kulihat ada sepasang suami istri yang sedang memarahi pria bernama Aldebaran itu.


"Itu, bukan salah Aldebaran! Itu salah Papa dan Mama yang menyeret wanita itu ke dalam hidup Aldebaran?!"


"Kamu!" kulihat pria paruh baya itu mengangkat tangan kanannya ke arah Aldebaran, si suami tidak peka itu.


"Apa? Papa mau tampar! Tampar aja, Pa!" Aldebaran meraih tangan pria paruh baya itu lalu menempelkannya ke pipinya.


"Udah, Mas. Nggak usah dilanjutin. Andin lagi sakit, dia butuh istrirahat dengan tenang." Lerai Ibu paruh baya yang berdiri di sebelah pria paruh baya itu. Mereka terlihat familiar dalam ingatanku, tapi aku pernah melihatnya di mana ya? Ah! Aku ingat seminggu yang lalu mereka datang bersama ibu paruh baya, Mama Andin.


"Kenapa, berhenti? Lanjutin aja, kalo perlu Mama sekalian. Aldebaran udah kebal diperlakuin kayak gini sama Mama dan Papa sejak kecil."


Tatapanku beralih pada kedua sepasang suami istri itu yang terlihat menyendu, mereka kompak menundukkan kepala dengan bahu lunglai.


Aku yang ingin menyela percakapan mereka, urung saat kulihat pria paruh baya itu berlutut di hadapan Aldebaran.


"Maafin, Papa. Semua salah Papa, kalau marah sama Papa lampiasin ke Papa. Kalau kamu benci Papa, hukum Papa. Jangan lampiasin ke orang yang nggak bersalah seperti Andin. Dia nggak tahu apa-apa, Al."


"Terlambat! Kalo Papa minta maaf sekarang! Kemana Papa dulu saat Aldebaran membutuhkan perhatian Papa? Kemana dulu saat Aldebaran minta Papa temenin bermain? Kemana, Pa?!"


"Hari itu, Aldebaran kira Papa akan ajak Aldebaran jalan-jalan untuk menebus waktu Papa yang terbuang. Tapi apa, Papa buang Aldebaran kayak sampah! Sampah, Pa!"


Aku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi? Seingatku tadi aku sedang jalan-jalan di taman dan melihat Aldebaran, pria itu yang sedang berselingkuh dengan seorang wanita. Wanita yang wajahnya…


"Auw!" pekikku yang merasakan nyeri kembali kurasakan saat berusaha mengingat kembali wajah familiar wanita itu.


"Andin, kamu udah sadar? Kenapa ada yang sakit, ya? Kalo gitu Mama panggilin Dokter dulu. Tunggu sebentar ya,"


Ibu itu pergi meninggalkan kamar rawatku untuk memanggilkan dokter.


"Andin, maafin Papa ya. Gara-gara Papa kamu jadi begini," ucap pria paruh baya itu dengan sendu.


Aku hanya diam, aku tidak berhak menghakimi siapapun. Aku pingsan karena diriku sendiri yang berusaha mengingat kepingan kejadian yang kulupakan itu. Dan lagi, aku bukan Andin yang asli. Jadi, aku tidak ada hak untuk marah pada mereka.

__ADS_1


"Tid--" Ucapanku terpotong kala Ibu paruh baya itu masuk bersama seorang dokter dan Suster.


"Dok, tolong periksa menantu saya. Sepertinya kepalanya sakit lagi."


"Oke, sebentar saya periksa dulu. Ibu jangan panik."


Dokter Ikhsan kembali memeriksaku, menempelkan tetoskop itu pada bagian dadaku.


"Masih pusing?" tanya Dokter itu kemudian.


"Agak, tapi sudah mulai berkurang. Dok, kenapa saya akan merasa pusing saat berusaha untuk mengingat kembali hal yang berhubungan dengan penyebab dari kecelakaan itu?"


"Kamu mengalami gegar otak ringan. Walaupun ringan tapi kamu tidak boleh meremehkannya, karena pusing yang melanda kamu itu bisa melemahkan fungsi ingatan kamu. Jika kamu terlaku memaksakan diri untuk mengingat dalam kondisi tubuh kamu yang belum pulih secara sempurna, itu akan mengakibatkan masa pemulihan kamu terhambat dan pingsan ini menandakan bahwa tubuh kamu masih sangat lemah."


"Jika kamu ingin segera sembuh dan keluar dari rumah sakit ini, tolong usahakan kamu tidak memaksakan ingatan kamu pada sesuatu. Saya sudah pernah bilang, jangan sampai stress. Stress dapat menghambat masa pemulihan kamu."


"Iya, saya minta maaf, Dok." Aku menunduk menyesali semuanya.


"Saya tidak butuh kata maaf, saya hanya ingin kamu menjaga diri sendiri agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali."


"Baik, Dok. Saya akan mematuhi semua ajuran dari Dokter."


"Terima kasih, Dok." Ucap Ibu paruh baya itu, mengiringi kepergian dokter.


Sesudah menutup pintu, Ibu itu kembali menghampiriku. Mengusap puncak kepalaku dengan sayang. "Kamu mau makan apa, Nak? Biar Mama ambilin?"


Aku hanya menggeleng, sudut mataku melirik ke arah sofa di ujung ruangan, tempat Aldebaran berada. Pria itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun saat mengetahui aku terbangun dari pingsan.


Sepertinya benar jika pria bernama Aldebaran ini serius dengan ucapannya tadi, yang ingin menceraikan Andin, wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Tapi rasanya aku tidak terima, saat ini Andin keberadaannya saja entah ada dimana. Jadi aku tidak akan membiarkan Aldebaran menceraikan Andin selama Andin asli belum ditemukan, justru akan kubuat keadaan itu berbalik membuat Aldebaran kelepek-kelepek dengan aku. Eh, maksudku Andin versiku.


Hahahaha… lihat saja nanti siapa yang akan berhasil, rencanaku? Atau rencanamu? Pria buaya darat!


Keesokan Harinya...


Hari ini semua orang-orang kembali berkumpul di ruangan tempatku di rawat. Dan aku baru menyadari bahwa selama ini aku hidup dalam kesendirian, setelah keluar dari panti asuhan aku memutuskan untuk menyewa sebuah kos-kosan kecil di pinggiran kota jakarta. Dulu saat masih di panti aku tidak pernah kesepian karena ada adik-adik panti yang selalu membuat suasana menjadi seru dan ramai dengan canda tawa. Namun beberapa tahun ini aku hidup sendiri, tidak ada waktu luang untuk sekadar berkunjung ke panti. Pekerjaanku sebagai pelayan sebuah restoran, membuatku sibuk bahkan terkadang aku harus lembur hingga aku melupakan kesehatan tubuhku sendiri.

__ADS_1


Tapi semua itu aku lakukan untuk mencukupi kebutuhanku sehari-hari dan juga untuk keperluan membeli buku, walaupun aku mendapat beasiswa di kampus namun aku tetap membeli buku untuk menunjang pembelajaran.


"Aaa... Incess Andin!" seorang pria gemulai tiba-tiba datang dan langsung memelukku sambil berteriak.


Karena risih aku segera melepaskan diri dari pelukan pria gemulai ini. Rasanya aku ingin mengatakan bahwa aku bukan Andin tapi semua orang pasti tidak akan percaya, namun aku harus ingat dengan tujuanku itu. Membuat Aldebaran si pria buaya jatuh cinta sama Andin istrinya yang katanya ingin dia ceraikan. Ya, itung-itung sebagai ucapan rasa terima kasih pada si pemilik wajah ini. Bagaimana pun juga saat ini aku sedang meminjam wajahnya.


"Alhamdulillah... Incess akhirnya you sadar dari koma. Eyke udah hampir mentong, waktu denger you masuk ke rumah sakit. Meskipun you selalu galak sama eyke, tapi eyke tetep sedih liat you kecelakaan dan koma kayak kemarin."


"Eh, maaf Ncess. Eyke terlalu senang liat Incess sadar jadi kelepasan meluk. Padahalkan eyke tahu kalo you nggak suka di peluk," ujar pria gemulai itu lalu menjauhkan diri dariku.


Keseluruhan penampilan pria ini sangat mencolok, dengan memakai warna-warna ngejreng! Lihat saja baju yang dia pakai berwarna coklat dengan totol macan, celana hijau toska lalu ada syal berwarna merah yang mengantung di lehernya dan terakhir dia juga memakai topi lebar berwarna pastel.


"Nona sudah tidak apa-apa, kan?"  lagi, seorang gadis yang berdiri di sebelah pria gemulai itu juga ikut bertanya.


"Kalian siapa?"


"Ya ampun ... Incess ternyata you beneran gegar otak? Oh My God!" heboh pria itu.


"Ya, udah kita bakal kenalin diri lagi ke you. Kenalin nama eyke Edo dan ini asisten you, Sari." Pria gemulai itu menunjuk dirinya sendiri dan gadis yang ada disebelahnya itu.


"Manager? Asisten? Sebenarnya apa pekerjaan saya?"


"Iya. Pekerjaan you itu artis dan setiap artis memiliki manager dan asisten untuk membantunya."


Pria gemulai itu mengusap-usap lenganku, "eyke cuma berharap, you cepat sembuh dan pulih kembali. Soalnya you udah dapet tawaran jadi pemeran utama dari sebuah PH ternama di dunia industri hiburan tanah air, Winnter produksion."


Aku hanya mengangguk dengan senyuman tipis, sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang pria gemulai ini bicarakan. Menonton TV saja jarang dan apa itu PH, apa itu semacam asam basa dalam pelajaran fisika?


"Nak Edo, sebaiknya jangan membahas soal pekerjaan dulu. Andin masih dalam proses penyembuhan dan dia tidak boleh banyak pikiran. Jadi pembahasan mengenai pekerjaan di lanjutkan nanti saja, saat Andin sudah benar-benar pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala."


Pria gemulai bernama Edo itu tersenyum lalu mengangguk, "iya, maaf Bu. Eyke hanya terlalu senang melihat incess sudah sadar dari komannya."


"Ya udah, Ncess. Kita berdua pergi dulu nanti kalau you udah sembuh, baru kita ketemu lagi. Dahh… see you again, Incess-ku!" pamit pria itu seraya melambaikan tangan ke arahku dan sesekali memberikan ciuman jauh.


Aku menahan diri untuk tidak tertawa, pasalnya pria gemulai itu berjalan dengan gaya yang sangat lucu. Berlenggak lenggok bak Miss Universe yang berjalan di atas red karpet.

__ADS_1


****


Apakah akan berhasil Andin/Melody membuat Aldebaran klepek-klepek biar tidak jadi cerai ?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2