
***
Rasa lega menjalari hatiku setelah semua yang ingin kukatakan tersampaikan dengan baik. Ya, aku memutuskan untuk jujur pada Ibu Andin bahwa sebenarnya aku bukanlah putrinya. Awalnya kukira dia akan marah besar padaku tapi nyatanya tidak sama sekali. Beliau masih sangat lembut padaku, aku heran mengapa Beliau tidak marah? Namun kini aku tahu, beliau sudah mengetahui jika aku bukanlah anaknya karena kepribadianku sangat bertolak belakang dengan Andin yang beliau kenal. Andin memiliki sifat yang buruk saat berhadapan dengan anggota keluarganya sedangkan aku terlihat lebih kalem dan sopan pada mereka.
Dan sekarang kami ada di sini, di makam Andin. Setelah pulang dari liburan aku memang berniat mengakui semuanya dan beliau meminta untuk di temani ke makam Andin. Oh, iya! Aku lupa menanyakan sesuatu.
“Bu, aku boleh tanya, nggak?”
“Tentu saja. Mau tanya apa memangnya?”
“Begini, apa sebelum kecelakaan itu Andin sempat memberitahukan sesuatu hal janggal pada Ibu?”
Bu Rosa terdiam sebentar, aku menunggu dengan harapan yang besar dapat menemukan sesuatu. “Waktu itu, malam sebelum kecelakaan terjadi, Andin datang ke rumah dengan mata lembab seperti habis menangis. Saat Ibu tanya dia hanya menggeleng dan langsung masuk kamar, pagi harinya dia pergi entah ke mana dan tiba-tiba berita kecelakaan itu melonjak ke publik membuat Ibu syok.”
Aku semakin curiga ada hal yang janggal di balik kecelakaan itu, aku perlu mencari informasi dari sumber lain.
“Maaf aku bertanya hal yang membuat Ibu sedih kembali,” kataku menyesal saat melihat wajahnya berubah sedih.
“Tidak, tidak apa-apa. Tapi boleh kah, Ibu meminta satu permintaan padamu?”
“Apa itu?”
“Bisakah kamu tetap mempertahankan wajah Andin? Ibu ingin merasakan bahwa Andin masih ada di sini bersama Ibu, melihat wajahmu akan membuat Ibu senang dan melupakan sedikit kesedihan karena meninggalnya Andin.”
“Apa kamu bersedia?”
***
“Incess maafin eyke yang nggak bisa jaga you dengan baik, eyke ... ngerasa gagal jadi manager you. Jadi, eyke mau mengundurkan diri.” Edo memberikan sebuah amplop.
Aku mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa isi dari amplop itu. “Ini apa?”
“Itu biaya kompensasi dari pihak agensi karna sudah lalai menjaga you. Meskipun suami you kaya tapi kami tetap harus memberikannya.”
“Aku kan, belum menerima pengunduran dirimu? Kenapa kamu ingin cepat-cepat pergi?” tanyaku seraya memiringkan mata, melihat Edo yang hendak bangkit dari kursi.
“Eyke lagi ketakutan,”
“Takut sama apa?”
“Asal you tahu, suami you itu kayak monster.” Edo memeragakan seorang monster dengan tangannya yang sama sekali tidak menakutkan tapi malah aneh.
__ADS_1
“Memangnya dia melakukan apa? Sampai kamu bilang, dia mengerikan seperti monster?”
“Pokoknya dia sangat mengerikan, aku sampai merinding mendengar namanya di sebut.”
Aku meraih minuman yang masih tersisa di meja, “jangan lebay! Dia itu manusia biasa sama seperti kita bedanya, dia punya segalanya karena hartanya berlimpah.”
“Nah, karena itu. Dia sangat mengerikan, dengan harta dia bisa menghancurkan kita para pejuang rupiah dengan sekali jentikan jari!” seru Edo menggebu-gebu. Aku bingung sebenarnya dia sedang ketakutan apa sampai menyanjungnya? Nada bicaranya sama sekali tidak mencerminkan kalo dia takut. Malah terlihat seperti fans yang sangat membanggakan idolanya.
“Katanya takut? Kok seneng banget pas bahas dia?”
“Takut, kok takut. Ini eyke gemeteran ngomongnya,” Edo menunjukkan tangannya yang terlihat gemetaran.
“Ya takutnya kenapa? Jelasin biar aku bisa tegur dianya langsung?”
Edo bangkit dari kursinya kemudian berpindah duduk di sebelahku, “ jadi gini ceritanya....”
Mengalirlah sebuah cerita yang di beberkan oleh Edo secara rinci dengan keakuratan yang di jamin seratus persen benar tanpa hoax! Ternyata Aldebaran berencana memecat semua pegawai di perusahaan yang tengah menaungiku dan semua kru yang ada di TKP saat aku mengalami kecelakaan.
“Dia setega itu? Aku tidak pernah tahu tapi tenang saja, nanti aku akan berbicara baik-baik padanya agar dia mencabut kembali keputusannya itu. Kamu tetap lah bekerja padaku.”
“Baiklah, kalo begitu. Oh, iya Incess, eyke harus pergi sekarang. Soalnya ada urusan yang harus eyke beresin di rumah.”
Aku mengangguk lalu mempersilakannya pergi, “nggak papa. Kamu bisa pergi duluan,”
Melihat Edo yang sudah menjauhi kafe, aku pun bangkit. Rencananya hari ini aku akan menemui kakek. Semua masalah harus di selesaikan secepatnya agar tidak semakin berlarut-larut.
***
Aku menatap bergantian antara layar ponsel dengan sebuah Villa yang ada di depanku, sebuah Villa tersembunyi yang sangat indah. Tempatnya lumayan jauh dari ramai perkotaan tapi masih di daerah
pinggiran Jakarta. Villa ini terlihat sepi tapi halamannya terjaga kebersihannya.
Melangkah semakin masuk ke halaman Villa itu, aku langsung menuju pintu utama lalu mengetuknya beberapa kali. Hingga seorang pengurus Villa keluar dan mempersilahkan aku masuk.
“Silakan di minum dulu tehnya,” tawar si pengurus Villa itu padaku. Aku menganngguk seraya tersenyum lalu menyeruputnya beberapa kali.
“Mbak, saya tinggal pergi dulu ya, permisi!” pamitnya, kemudian menghilang di balik pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang tengah.
“Selamat sore Nona Melody,” sapaan itu membuatku menoleh dan menemukan lelaki yang tempo hari menemuiku di rumah sakit.
Dia tidak sendiri ada seorang pria tua yang duduk di kursi roda. Jika di amati benar-benar beliau mirip... “Kakek! Ini beneran Kakek?” aku langsung menghampiri Kakek.
__ADS_1
“Kakek apa kabar? Melody kangen banget sama Kakek!”
Kakek merentangkan tangannya yang langsung kusambut dengan bahagia, kupeluk tubuh renta Kakek dengan erat.
“Kakek baik, kamu sendiri bagaimana keadaanya sekarang?”
“Melody udah nggak papa, kok, Kek.”
“Hem, baguslah. Jadi Kakek sudah bisa menjelaskan semuanya padamu,” ucap Kakek dengan raut berubah serius. “Mari kita bicara di halaman belakang, Bara biarkan Melody yang mendorong kursi rodanya. Dan kamu tetap di sini!”
Bara menggeser tubuhnya mempersilahkan aku untuk mendorong kursi roda Kakek. Aku mengambil alih kursi roda Kakek lalu menjalankannya ke arah halaman belakang yang cukup sunyi dan hanya di tumbuhi oleh rumput-rumput hijau.
Aku menghentikan kursi roda Kakek tepat di samping sebuah bangku, aku mendudukan diri di sana. Menarik napas sedalam-dalamnya untuk mempersiapkan diri mendengar sebuah kebenaran dari mulut Kakek.
“Waktu itu Kakek mengetahui kamu di bawa pergi oleh ibu tirimu, Kakek marah pada ayahmu tapi dia sama sekali tidak tahu dan Kakek marah padanya karena dia lalai menjaga kamu, padahal kamu cucu Kakek yang sangat Kakek sayangi. Sebulan kamu menghilang ayahmu sama sekali tidak memikirkan cara untuk mencarimu, dia hanya peduli pada anak serta istri barunya. Kakek murka tapi ayahmu hanya menanggapinya acuh, barang bukan main mendapat perlakuan seperti itu dari ayahmu. Kakek bertindak, mengerahkan semua orang untuk mencarimu dan akhirnya setelah sekian lama, pencarian Kakek membuahkan hasil. Namun, orang-orang Kakek kalah cepat dengan orang suruhan Kakak tirimu, Michella.”
Kakek menjeda ucapannya untuk meraih oksigen, lalu melanjutkannya lagi.
“Dia menculikmu. Membawamu pergi entah kemana, tapi Kakek tahu niatnya hanya satu yaitu melenyapkanmu. Oleh karena itu, Kakek membayar orang untuk menjadi mata-mata, memantau dan menyelidiki segala sesuatu yang sedang di rencanakan oleh Michella. Hingga orang yang Kakek bayar itu mendapatkan informasi mengenai tempat penculikanmu, dia menyiksamu bukan dengan merusak wajahmu?
“Iya, Kek.”
“Kakek geram melihat itu dan menyuruh beberapa orang untuk membebaskanmu. Namun, telat gedung tempatmu di culik terbakar. Kakek sempat frustasi dan memarahi semua orang atas kegagalan mereka dalam misi penyelamatanmu. Beruntung, beberapa hari kemudian, Kakek mendengar kabar bahwa kamu telah di selamatkan oleh seseorang. Dia gadis yang wajahnya---ada di wajahmu sekarang ini. Tapi sayang, Kakek belum sempat berterima kasih secara langsung padanya, dia sudah mengalami kecelakaan mobil duluan. Meskipun Kakek sudah mengerahkan orang untuk mengobatinya di rumah sakit terbaik milik kita, nyawanya tetap tak tertolong.
Bulir bening itu kini sudah bercucuran membasahi kedua pipiku, Andin... dia ternyata ... yang telah menyelamatkanku.
“Jadi Kakek memutuskan merubah wajahmu menjadi wajah gadis itu agar Michella tidak tahu bahwa kamu masih hidup, dengan wajah itu juga kamu tidak akan mudah di celakai oleh Michella karena kamu seorang publik figur. Tapi Kakek lupa bahwa Michella licik dan memiliki segala cara untuk mewujudkan impiannya, dan salah satu impiannya adalah menguasai harta milik pengusaha kaya yang merupakan suami dari gadis bernama Andin itu---dia memusuhinya juga.”
Aku tidak bisa berkata-kata, semua hal ini sangat mengejutkanku. Aku jadi teringat dengan permintaan Ibu Andin.
“Melody, kamu harus mencari bukti-bukti yang dapat menjebloskan Michella ke penjara. Kakek belum berhasil menemukannya karena Michella bermain sangat cerdik.”
“Siap, Kek. Melody akan mencari bukti-bukti itu dan menangkap Kak Michella.”
“Oh iya, Kakek juga mau kamu meneruskan usaha Kakek, menjadi ahli waris Kakek.”
“Lalu Papa?”
“Tidak, Kakek tidak akan melimpahkan harta Kakek pada ayahmu, karena jika Kakek melakukan itu maka akhirnya harta itu akan jatuh pada Michella. Kakek ingin kamu yang mewarisinya, cucu satu-satunya dan cucu kesayangan Kakek.
****
__ADS_1
Wah dapat warisan dari sang kakek.....kalau kalian yang dapat gimana? sanggup? hahaha....ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!