
Tatapan Papa menajam dan rahangnya mengeras, melihat aku berada di atas panggung dengan mendapatkan gelar baru sebagai pewaris utama keluarga Karisma. Gelar yang bisa membuat Papa semakin membenciku. Aku menggelengkan kepala berulang kali, menatap penuh arti ke arah Papa. Berharap Papa dapat mengetahui isi hati terdalamku.
"Pa ... Melody tidak tahu tentang ini semua." dalam hatiku
“Perhatian semuanya, ada satu hal penting yang ingin di sampaikan oleh Pak Aldebaran Alfahri.”
Mendengar nama Aldebaran di sebutkan oleh MC, membuatku mengalihkan tatapan ke arah kanan. Dimana seorang pria bersetelan jas mahal tengah menaiki panggung, dia tersenyum padaku dengan sebelah tangan memegang sebuket bunga mawar merah. Apalagi ini? Belum sempat pertanyaan di dalam benakku terjawab, Aldebaran sudah bersimpuh di depanku. Menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya yang bebas, jantungku mulai berdetak tak karuan menanti apa yang akan dia katakan.
“Melody, aku sudah tidak dapat menahan perasaan yang meluluhkan rasa bahagia ini lagi di hati. Jadi, disini, di atas panggung ini, aku mau mengungkapkan perasaanku padamu di hadapan semua orang.” Dia menjeda ucapannya sebentar, membuatku semakin gugup menantikan kelanjutan dari perkataannya. Meskipun, aku sendiri dan semua orang yang ada di ruangan ini tahu maksud dari perkataan Aldebaran, tapi tetap saja aku masih gugup.
“Mau kah, kamu menjadi pendamping hidupku, menemani hari-hariku di sisa hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” tanyanya penuh harap. Aku menahan napas selama beberapa detik, mencoba menenangkan jantungku yang terasa akan keluar dari tempatnya.
Melihat pandangan kesekeliling, aku dapat melihat hampir semua wanita yang ada di sini sedang memandang ke arah kami---baper. Aku sendiri tidak menyangka bahwa Aldebaran akan mengungkapkan perasaanya padaku. Aku kira setelah dia tahu aku berpura-pura menjadi istrinya dan membohonginya dengan begitu kejam, dia akan menjauh hingga tak ingin mengenalku lagi tapi ... dugaanku salah! Dengan beraninya dia malah mengungkapkan perasaannya padaku di hadapan publik.
Huftt ... huftt ... menarik napas perlahan lalu membuangnya kembali, memejamkan mata sebentar. Aku pun membuka mata seraya mengangguk. Aku tidak dapat membohongi diri sendiri lagi, jika aku telah jatuh hati pada pria sombong dan terkesan tak punya hati ini.
“Terima bunganya, dong!” pintanya lagi sembari menyerahkan buket bunga mawar merah itu padaku. Sesaat setelah aku menerima bunga darinya, dia langsung memelukku dengan erat.
“Terima kasih, telah menerima cintaku. Mulai detik ini aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia dan tak akan membiarkan setetes air mata pun jatuh dari matamu. I love you!.
“Love you too!” tanganku terangkat membalas pelukannya. Namun rasa bahagiaku belum terasa lengkap, menoleh ke arah kursi dan meja tamu. Aku melihat Papa beranjak dari duduknya, matanya menyiratkan ketidaksukaan yang jelas.
Aku ingin Papa ikut mendampingi di pernikahanku dan memberikan restunya untuk hubungan kami. “Aldebaran ... kita minta restu Papa yuk, besok?” bisikku di telinganya.
Aldebaran melemaskan pelukan kami, menatap ke arahku seperti sedang mencari sesuatu dari ku. Tak lama kemudian dia mengangguk, “Oke. Jika kamu bahagia dengan itu, aku akan melakukannya.”
Aku tersenyum senang, lalu kembali memeluknya dengan erat.
***
melihat pandangan keselliling ruangan, aku merasakan kerinduan yang begitu hebat. Dulu aku memimpikan kehidupan yang penuh kebahagian akan tercipta di rumah ini, tapi yang kudapatkan hanyalah sebuah luka. Luka itu merenggut semua kebahagian yang selalu aku impikan dan hari ini aku kembali ke sini. Berharap akan mendapatkan sambutan yang baik dari si pemilik rumah.
“Mau apa kamu kesini?” pertanyaan itu membuatku melihat. Pria paruh baya yang ada di hadapanku menatap penuh kebencian.
“Melody mau berkunjung sekaligus---“
__ADS_1
“Jangan munafik kamu! Kedatanganmu kesini pasti ingin menertawakan kekalahanku kan?! Atau kamu mau menunjukkam bahwa kamu lebih berkuasa atas segalanya dari pada saya? Hah?!” tuduhan itu membuat air mata langsung berjatuhan di pipiku.
“Tidak, Pa. Melody ... benar-benar rindu dengan Papa dan semuanya,” aku berusaha menghapus air mataku yang terus berjatuhan.
“Saya tidak akan tersentuh dengan air mata buayamu itu. Jadi, jangan menangis karena saya tidak suka!!” bentaknya lagi. Mengapa Papa sangat membenciku? Apa kesalahanku hingga beliau tidak pernah mau mengakui aku sebagai anaknya?
“Kenapa Papa menuduh Melody seperti itu? Melody salah apa sama Papa, sampai Papa sebegitu bencinya sama Melody?”
Papa tertawa terbahak mendengar pertanyaanku, setelah tawanya reda barulah Papa kembali menatap ke arahku. “Kamu itu anak yang tidak aku harapkan! Aku menikah dengan Mamamu hanya karena perjodohan. Jika Kakekmu tidak mengancam akan membuatku sengsara dengan mengeluarkanku dari rumah ini, maka aku pasti tidak akan sudi menikahi Mamamu. Wanita yang sangat menyusahkan, penyakitan pula!”
Deg!
Sakit. Hatiku merasa kesakitan seperti ada yang menancapkan pisau tajam dengan sengaja disana. Aku tidak menyangka Papa kandungku sendiri tega mengatakan hal yang menyakitkan pada anaknya. Selama 22 tahun hidupku, aku masih berharap Papa akan dapat menerimaku dan menyayangiku layaknya seorang ayah pada putrinya. Namun, hari ini aku tahu bahwa keinginanku itu tak akan pernah terwujudkan. Perkataan Papa sudah lebih dari cukup untuk menyadarkanku, agar tak berlama-lama hidup dalam mimpi indah.
“Apa Papa tidak pernah sekalipun menyayangi Melody seperti Papa menyayangi Kak Michella?”
“Tidak.” Papa menjawabnya dengan lantang dan tanpa keraguan.
“Sekalipun? Melody juga kan anak kandung Papa?”
“Iya. Kamu memang anak kandungku tapi kelahiranmu hanya sebagai jalan agar Kakekmu segera mewariskan hartanya untukku. Tapi karena kamu kembali, harta itu tidak jadi jatuh ke tanganku. Aku sangat membencimu!”
Baru sedetik aku dapat meraih tangannya, Papa sudah menepis tanganku. Aku yang tidak siap dengan tindakan Papa, terdorong kebelakang. Aku memejamkan mata, pasrah terjatuh mengenaskan ke lantai.
“Anda benar-benar biadap! Dia ini putri kandung anda?!” mendengar suara yang sangat familiar membuatku kembali membuka mata. Pupil hitam itu menatapku dengan sorot kekhawatiran yang jelas.
“Kenapa kamu tidak bilang sama aku, kalau mau datang kesini?”
Aku menunduk, tidak berani menatap ke arah Aldebaran yang tengah mendekat tubuhku yang hampir terjatuh mengenaskan. “Maaf “ maafku penuh penyesalan.
“Aku maafkan. Tapi lain kali, aku tidak akan memperbolehkan kamu pergi tanpa seizinku.”
Aku menghela napas panjang, Aldebaran sudah mulai sifat posesifnya lagi padaku. Akhir-akhir ini dia memang sangat ketat menjagaku, dia tidak mau kejadian penculikan atau sesuatu hal yang buruk menimpakku kembali.
“Dan untuk anda Bapak Dirga terhormat. Saya peringatkan pada anda, agar tidak berbuat hal buruk pada calon istri saya. Jika kejadian seperti ini terulang lagi. Saya tidak akan segan-segan menghancurkan anda. Ingat itu!”
__ADS_1
“Aldebaran sudah. Jangan marah, walau bagaimanapun, dia tetaplah ayah kandungku.” Mengusap lengan Aldebaran untuk menenangkan emosinya. Aku tidak ingin dia kelepasan dan menghajar Papa.
“Saya juga tidak sudi berurusan dengan kalian lagi. Sekarang juga, pergi dari rumah saya!”
“DIRGA!” teriakan itu membuat kami serempak menoleh ke arah pintu utama. Di sana ada Kakek, Mama tiriku, dan juga Bara. Kakek melangkah ke arah kami dengan cepat, raut wajahnya sangat tidak bersahabat.
Braakk!
Kakek memukul Papa dengan keras.
“Dirga, cepat kamu angkat kaki dari sini! Karena mulai hari ini rumah dan segala aset Ayah sudah resmi jadi milik Melody.”
Aku menatap tidak percaya pada Kakek. Kakek mengusir Papa?
“Yah, aku ini anakmu! Kenapa Ayah lebih membelas dia!” Papa menunjukku dengan jari.
“Dia itu cucuku. Dan dia lebih berhak atas semua ini dari pada kamu! Seorang ayah yang tidak memiliki hati! Ayah sangat kecewa sama kamu, Ayah membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang tapi apa hasilnya? Kamu malah mempermalukan Ayah dengan kelakuanmu yang seperti iblis itu!”
“Bara, bawa dia keluar dari sini. Saya tidak sudi menganggap dia sebagai anak lagi!”
Bara langsung mengerjakan apa yang Kakek perintahkan, Papa di giring keluar rumah. Aku sedikit heran melihat Mama yang sama sekali tidak bertindak untuk membela Papa.
“Melody, Kakek minta maaf atas perlakuan Papa kamu, ya? Kakek sangat malu memiliki anak tidak tahu di untung seperti dia.” Kakek memegang bahuku, sorot matanya menyatakan rasa bersalah yang berat.
“Kakek tidak perlu minta maaf. Melody tidak papa, Kakek kan juga tidak bersalah sama sekali.”
Aku menghambur ke dalam pelukan Kakek. Sudah lama aku tidak merasakan pelukan hangat seorang Kakek.
“Dy, Mama juga mau minta maaf. Maaf selama ini Mama belum bisa menjadi Mama yang baik untuk kamu. Mama ... Mama sangat jahat karena telah membuang kamu ke panti asuhan. Maaf... Mama melakukan itu bukan karena membencimu. Justru karena Mama sangat menyayangimu, sehingga Mama memilih di benci sama kamu seumur hidup dari pada kamu tinggal di sini dengan rasa sakit itu. Waktu itu Michella, dia mau mencelakakanmu, jadi Mama mengambil ini siatif untuk menjauhkan kamu dari dia. Maaf ...”
Melepaskan pelukan Kakek, aku beralih memeluk Mama. Mama tiriku yang ternyata sangat menyayangiku. Aku menggeleng, ternyata rasa benciku selama ini adalah sebuah kesalahan. Mama tidak membenciku tapi beliau sangat menyayangiku dan ingin selalu melindungiku.
“Mama nggak salah. Maaf karena Melody sempat benci sama Mama. Tapi Melody nggak bisa lama-lama benci Mama. Melody, sayang banget sama Mama!” aku semakin mengeratkan pelukanku. Meskipun rasa sakit hati yang Papa tarauhkan sangat dalam tapi aku masih bisa merasakan bahagia dengan kehadiran Mama.
“Mama juga sayang banget sama Dy!”
__ADS_1
****
Ingat kasih sayang ibu lebih besar dan berharga tetapi semoga aja ibu tirinya Melody tidak bermuka dua hihi...Ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!