Identitas Palsu

Identitas Palsu
Pembalasan - Part 9


__ADS_3

***


"Mbak, tolong touch up Incess secantik mungkin, ya. Oh iya, satu lagi ubah gaya rambutnya biar kelihatan lebih fresh!"


Aku hanya pasrah mendengar Edo yang tengah mengarahkan Mbak-mbak pegawai salon itu. Entah apa yang ia maksud, aku sama sekali tidak mengerti. Sebenarnya aku masih ingin tidur tapi tiba-tiba saja, Edo datang dan langsung membawaku kesalon langganannya.


Katanya kulitku mulai kusam lah, rambutku perlu di krim-krim bat? Apalah itu namanya, aku pusing memikirkannya. Tapi ada baiknya juga sih, Edo mengajakku pergi keluar. Jika tidak aku akan galau setengah mati memikirkan tentang perasaanku yang sedang tidak menentu ini.


Dari pada bosan lebih baik aku membaca buku, kuambil sebuah majalah yang tergeletak di atas meja rias di hadapanku. Meskipun aku tidak tahu siapa model-model dalam majalah ini, tapi hanya ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu saat rambutku di obrak-abrik oleh Mbak-mbak itu.


"Mbak, seperti biasa perawatan kecantikan buat saya!"


Telingaku menangkap suara yang tak asing, seperti suara si wanita selingkuhan Aldebaran itu? Kuangkat majalah yang ada ditanganku hingga menutupi separuh wajahku, lalu kutolehkan mataku kebelakang dan benar dugaanku! Dia wanita perusak rumah tangga orang itu?!!


Tidak bisa kubiarkan! Aku harus membasminya sekarang juga!


Kulirik Edo yang masih sibuk mengarahkan si Mbak-mbak itu. Bagus ini kesempatan emasku! Dengan diam-diam aku mengikuti ke arah mana si Michella dan Mbak pegawai salon itu melangkah. Langkahku terhenti saat melihat mereka memasuki sebuah ruangan bertuliskan treatment. Otakku kini berpikir dengan keras bagaimana aku bisa masuk ke dalam ruangan itu…


Aha! Aku menyamar saja menjadi salah satu pegawai salon ini, dengan begitu aku bisa dengan leluasa memasuki ruangan itu.


"Mbak, mbak! Sini!" tanganku melambai-lambai ke arah seorang pegawai wanita yang berdiri tak jauh dariku dengan ponsel tertempel di telinga.


Pegawai itu mendekat dengan wajah sedikit pucat, "Mbak, jangan laporin saya ke atasan saya, ya? Saya cuma telponan sebentar saja. Saya-"


"Syuttt… siapa yang mau ngelaporin kamu! Saya cuma mau pinjem baju seragam kamu itu!"


"Hah?! Buat apa Mbak?"


"Nggak usah banyak tanya, pinjemin saya baju seragam itu, rahasiamu aman! Gimana?"


Pegawai itu mengangguk, "oke Mbak. Tapi Mba nggak akan laporin saya, kan?"


"Enggak! Tenang aja, percaya sama saya."


"Ayo, sekarang kita tukeran baju!" aku mengikuti langkah pegawai itu memasuki toilet salon ini.


***


Supaya tidak ketahuan aku menutupi wajahku dengan sebuah masker, kemudian aku melangkah ke ruangan itu.


"Hei, kamu kenapa lama sekali!" terlihat wanita tadi tengah berkacak pinggang ke arahku.

__ADS_1


Kutundukkan kepalaku, "maaf Mbak, saya tadi kebelet jadi lama deh, kesininya."


"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi! Kalau kerja itu harus disiplin! Sekarang kamu layani Mbak Michella karena saya mendadak dipanggil oleh atasan kita." Perintah wanita itu.


Tanpa sepengetahuan dia, aku tersenyum senang, rencanaku kali ini harus berhasil! Aku tidak rela di injak-injak oleh wanita itu lagi seperti kemarin. Memangnya aku tidak lihat, waktu dia tersenyum penuh kemenangan setelah Aldebaran mendorongku.


Ini saatnya pembalasanku dimulai! Hahaha….


"Mbak, cepetan dong balurin lulurnya!" wanita itu mulai bersuara, posisinya sekarang tengah berbaring tengkurap.


"Siap, Mbak!" aku menempatkan diriku di sebelah kanannya, di meja itu sudah di persiapkan macam-macam lulur. Satu persatu kubaca kandungan isi dari lulur itu, tanganku merogoh sesuatu dari dalam saku celana. Senjata yang sudah kupersiapkan, bedak gatal!


Kucampur lulur itu dengan obat gatal itu sebanyak mungkin lalu kubalurkan ke tubuh wanita itu, rasain biar mantap lo!


"Mbak, muka saya juga perlu maskeran. Seperti biasa saya mau pake masker yang warna orange, dengan tambahan ektrak pepaya."


"Oh, iya Mbak nanti setelah ini saya balurin maskernya juga."


Setelah selesai membaluri masker dan lulur, aku langsung tancap gas keluar dari ruangan itu. Di luar aku mulai menghitung, satu…, dua…, ti.. ga!


"Aaaa…. Aduuhh....!"


"Hahaha…." Tawaku meledak seketika dengan cepat aku melarikan diri sebelum ada orang yang memergokiku.


***


Eh, tapi kenapa juga aku kesal? Terserah dia juga sih mau apa. Aku juga bukan siapa-siapanya, statusku hanyalah pemeran penganti disini.


Karena kesal aku melahap semua makanan yang ada di atas meja, tidak kupedulikan raut wajahnya yang terlihat heran. Bodo amat! I don't care!


***


"Bi Rahma! Ambilkan saya air putih lagi," pintaku pada Bi Rahma yang setia mendapingi kami makan.


"Baik, Nya." Bi Rahma dengan sigap mengambilkan air putih yang letaknya lebih dekat dengan Aldebaran.


"Ini," aku menerima uluran gelas dari Bi Rahma setelahnya kuteguk air dalam gelas itu hingga Habis.


Brakk!


Bangkit berdiri aku langsung membalikkan badan menuju kamar Andin yang letaknya sangat berjauhan dengan kamar Aldebaran. Tapi aku bersyukur mereka tidak sekamar, jika ia pasti aku akan bingung menghadapinya.

__ADS_1


Sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang, "hahhh… rasanya nyaman sekali…."


Kenapa saat ini otak dan hatiku tidak saling mendukung! Otakku selalu cemerlang untuk meneruskan rencana balas dendam ini tapi hatiku berkata untuk berhenti saja!


"Huwaaa…. aku harus bagaimana?" gusarku sambil berguling-guling tidak jelas di atas kasur.


Tring!


Suara ponsel menghentikanku yang sudah mulai menggila, tatapanku beralih melihat ke arah meja samping tempat tidur. Disana, ada sebuah ponsel dengan logo apel digigit yang sedang bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk.


Dengan malas kuambil ponsel itu, mataku menyipit saat melihat chat yang baru saja masuk. Sebenarnya aku malas membalasnya, tapi jika kubiarkan saja maka ponsel ini tak akan berhenti berdering.


~Ghibah squad~


Rini: Ndin, lo nggak ngikutin usulan gue, ya?


Keningku seketika berkerut, apa maksudnya? Namun tiba-tiba aku teringat kiat-kiat yang Rini berikan untuk mengikat hati Aldebaran.


Me: Males! Ajaran lo, sesat!!


Rini: Sebarangan! Gue tuh baik lagi ngasih lo kiat-kiat itu! Sebagai temen yang baik, gue nggak mau lo kalah sama si palekor itu?!!


Ayu: Ndin, sebaiknya lo ikutin kiat-kiat dari Rini. Gue perhatiin semenjak lo keluar dari rumah sakit, lo belum pernah berkunjung lagi ke kantor suami lo? Padahal dulu lo hampir tiap hari kesini kalo nggak sibuk shooting.


Mira: Iya, Andin main kesini lagi dong! Semejak lo jarang kesini si medusa itu semakin meraja lela nguasai suami lo.


Aku merenung, apakah aku harus melakukan itu? Tapi aku bukan Andin?


Rini: Ikutin saran dari kita-kita, kalo lo nggak mau pelakor itu naik derajat jadi istri kedua suami lo!


Seketika aku menjadi emosi membaca chat dari Rini, aku tidak akan membiarkan pelakor itu menang! Pelakor itu harus di basmi, biar bibitnya nggak menyebar!


Me: Gue akan mulai beraksi lagi besok! Gue nggak sudi pelakor itu naik derajat!


Rini: Bagus!


Ayu: Kita menanti kembalinya pembalasan lo!


Mira: Semangat! Kita dukung lo!!


Tekadku sudah bulat untuk kembali melanjutkan rencana ini, semangat Melody! Kamu pasti bisa! Fighting!

__ADS_1


****


Apa benar Andin/Melody ini akan mengikuti saran dari sahabatnya ini??? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2