Identitas Palsu

Identitas Palsu
Surat Ala-Ala Pacaran - Part 21


__ADS_3

***


Cahaya matahari pagi yang menyelinap di antara celah-celah jendela kamar tidur yang ku tempati membangunkanku, menatap sekeliling sepertinya aku ke siangan. Menatap ke arah jam dinding dan benar saja sekarang sudah menunjukkan pukul 08.00 WITA. Melonjak dari kasur aku langsung bergegas meraih handuk dan pergi ke kamar mandi yang terletak di bagian kiri kamar ini.


Di dalam kamar mandi aku langsung mengguyur tubuhku di bawah shower tanpa acara berendam hangat di bath up, aku tidak ingin melewatkan acara bermain di pantai seperti hari ini. Beberapa menit kemudian aku telah menyelesaikan mandi ku.


Menganti pakaian dengan kaos pantai tanpa lengan berwarna biru, celana pantai selulut plus kain khas pantai yang bergambar keindahan pantai di waktu senja, tak lupa topi federa lebar berwarna pastel dan kaca mata


hitam untuk melindungiku dari paparan sinar matahari langsung saat siang nanti.


Belum sempat keluar kamar tiba-tiba mataku menangkap surat yang terlihat menyembul di balik sebuah kotak, mendekat ke arah sana aku yang cepat-cepat memilih membuka kertas itu saja. Surat dari Aldebaran yang mengatakan tidak ikut ke pantai karena ada urusan penting yang harus di selesaikan terlebih dahulu. Aku memakluminya, wajar orang bisnis kan pasti sibuk akan lebih mengherankan jika dia terus berada di rumah setiap hari meskipun ini acara liburan, uang tetap nomer satu kan?


Eh, tunggu dulu ... kenapa aku merasa sedikit kesal? Apa hakku? Aku hanyalah seorang pengganti saja. Aku menggelengkan kepala berusaha mengusir segala hal buruk yang sedang melalang buana di dalam kepalaku.


Sesampainya aku di teras depan penginapan, kulihat Roy, Nino, Rini, Elsa Mira dan Ayu sudah menunggu di depan mobil yang seperti di film scooby-Doo itu hanya berbeda gambarnya pantai.


“Maaf, aku kesiangan bangunnya. Jadi buat kalian nunggu deh,” ucapku merasa bersalah.


“Kakak mah, selalu lelet!” omel Elsa yang sepertinya memang tak akan pernah menyukaiku. Belum sempat aku membalas ucapannya dengan cueknya dia masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


“Nggak usah, dengerin Adek lo itu. Dia kan selalu sirik sama lo, ayo kita let’s go!” Rini menghampiriku lalu menarikku menuju mobil.


Di sepanjang perjalanan menuju pantai kami gunakan untuk bermain tebak-tebakkan yang sangat menghibur, sesekali aku tertawa saat Mira menggoda Nino dengan gombalan recehnya.


Hanya Elsa yang terlihat ogah-ogahan mengikuti permaina ini, dia benar-benar membenci Andin.


***


Mataku tak henti-hentinya menjelajah kesekitar memandangi indahnya laut yang berwarna biru kehijauan, dengan aroma air laut yang menyegarkan indera penciumanku. Di tambah lagi angin sepoy-sepoy yang menerbangkan helaian rambutku serasa menggelitik telingaku. Lembutnya pasir pantai yang memijat kakiku membuatku semakin nyaman dengan suasanah ini, sudah lama sekali aku tidak merasakan kenyamanan ini.


“Andin!” teriakan itu membuatku membuka mata, kemudian menoleh ke arah belakang dari ujung sana aku melihat Mira yang sedang memenggilku seraya melambaikan tangan.


Aku memutuskan untuk menghampirinya terlebih dahulu, sampai di sana Mira langsung mendudukkanku di kursi dan tanpa persetujuanku, dia mengoleskan krim ke tanganku.


“Mir, kamu ngasih apa ke tanganku?” tanyaku sambil menjauhkan tanganku dari jangkauannnya.


“Ssttt ... diem. Ini tuh tabir surya buat pelindung kulit dari sinyal matahari, biar kulit lo nggak gosong!”


“Tapi---“


“Nggak usah pake tapi-tapian! Lo diem aja, biar gue yang olesin.”


Aku hanya mengangguk saja lebih baik seperti ini, protes pun tidak akan di dengarkan oleh dia. Kembali menatap sekitar, mataku langsung terkesima dan tak bisa mengalihkan pandangan lagi ke arah lain saat pandanganku menangkap sosok lelaki dengan kaos putih tengah melangkah santai ke arah sini. Rambutnya yang di biarkan berantakan semakin menanmbah kesan maskulin dalam dirinya, sungguh nikmat yang tidak boleh di lewatkan. Namun kedatangan seorang wanita yang memakai bikini membuatku kesal, dengan sengaja wanita itu mendatangi Aldebaran. Ya, lelaki yang kumaksud itu adalah Aldebaran.


Aku ketawa geli saat wanita berbikini itu di abaikan oleh Aldebaran begitu saja. Tumben dia tidak tebar pesona pada setia wanita? Bukankah dia buaya darat? Apa benar dia sudah tobat?


“Hai, honey!”

__ADS_1


Bulsh! Pipiku terasa panas mendengar panggilan itu, terasa manis.


“Ayo kita main voli pantai?” ajaknya seraya mengulurkan tangan padaku, dengan malu-malu aku mengangguk untuk menyambut uluran tangannya.


“Ayo!” aku sedikit terlonjak saat semuanya menjawab ajakkan dari Aldebaran.


Kami bermain voli dengan formasi tiga lawan tiga, Ayu mengalah tidak ikut dan memilih menjadi wasiat pertandingan ini. Aku, Rini Dan Mira berada di bagian kanan Net sedangkan tim Aldebaran berada di bagian sebelah kiri. Sedikit tidak adil sih, karena kekuatan laki-laki jauh lebih besar ketimbang perempuan tapi ini kan permainan semata jadi aku tidak mempermasalahkannya. Sedang Elsa sudah pergi sejak datang ke pantai ini entah kemana tapi yang jelas aku menduga dia mencari gebetan baru, aku sudah sangat hafal sifatnya yang suka bergonta-ganti pacar seperti berganti baju. Itu kutahu dari ibu yang sering memintaku untuk menasehatinya.


Menit demi menit kami baru mendapatkan point sedikit, melawan ketiga lelaki yang sangat jago bermain voli pantai sangat tidak menguntungkan bagi kami bertiga. Namun bibirku mengembangkan senyuman lebar


saat melihat Aldebaran kompak berbagi air minum dan sesekali bercanda bersama Roy. Semoga mereka akur terus seperti itu.


Sisa hari itu kami manfaatkan untuk bermain sepuasnya di pantai, bermain seluncuran dan masih banyak lagi hal-hal seru lainnya.


***


Malam ini aku tengah berjalan-jalan di pasir putih menggunakan high heels, jangan tertawa! Semua ini ulah Rini, Mira dan Ayu yang memaksaku memakainya saat Aldebaran memberikan gaun plus sepatu untuk kugunakan menemuinya hari ini. Padahal dia bisa mengajakku langsung tapi entah kenapa dia memilih


menggunakan surat ala-ala pacaran seperti ini.


Aku berhenti saat seorang bapak-bapak tiba-tiba memberikan surat padaku, “Pak apa maksudnya ini?”


“Baca aja, Mbak. Saya Cuma di suruh ngasih surat itu sama pria yang ganteng itu!” jawab Bapak-bapak itu seraya pergi.


Mengerutkan kening, aku mulai membuka surat berwarna pink itu. Membaca kata demi kata yang tertuang di dalamnya, oh ternyata surat dari Aldebaran yang menyuruhkan terus menyusuri pantai ini.


tengah berdiri menantiku dengan setelan jas yang keren. Tampan, hanya satu kata itu yang mampu mendeskripsikan penampilannya saat ini.


Dia melambaikan tangan ke arahku dengan sedikit kesusahan aku melangkah memijaki pasir yang sesekali membuat high heels yang ku pakai ambles ke dalam pasir.


“Ngapain ngajak ketemuan di sini?” tanyaku saat aku sudah berada tepat di depannya.


“Ada deh! Kalo aku kasih tahu namanya bukan suprise lagi, dong!”


Aku menghela napas, “ya udah, deh. Terus kita ke mana lagi?”


“Bentar, kamu perlu ditutup dulu matanya.”


“Nggak perlu lah, aku kan bisa tutup mata dan aku nggak bakalan ngitip, suer!”


“No, No, No! Aku maunya kamu pake penutup mata. Aku pakein ya?” aku mengangguk pasrah, tidak ada gunanya juga membantah.


“Kamu pegangan aja sama aku. Aku mau malam ini menjadi malam spesial untuk kita,” ucapnya senang.


Aku pun memegang tangannya lalu mengikuti ke mana pun dia melangkah, setelah lama berjalan akhirnya kami berhenti. Aku masih tidak tahu ini di mana karena kain hitam ini masih melekat di mataku.


“Lepasin dong, penutup matanya!” pintaku. Namun tidak ada tanggapan sama sekali----seperti tidak ada orang---padahal jelas-jelas Aldebaran ada di sampingku kan. Dia yang barusan menuntunku sampai ke sini. Tapi kenapa sekarang seolah dia menghilang, kuraba sekitar dan benar Aldebaran tidak ada lagi.

__ADS_1


“Mas, kamu di mana? Kamu masih di sini kan? Nggak ninggalin aku?”


“Eh, maaf ya. Tadi aku pergi ke sana sebentar,” katanya seraya membuka kain yang menutup mataku.


“Kamu jahat! Aku ketakutan tahu!” kesalku sambil memukulkan kepalan tanganku ke dadanya.


“Maaf aku nggak bermaksud begitu. Ayo kita ke sana!” ajaknya seraya menggenggam tanganku erat.


Aku melotot melihat sebuah meja lengkap dengan dua kursi itu berdiri di tengah-tengah bibir pantai dengan tatanan yang sangat indah. Ada kelopak bunga-bunga indah yang tersebar di sepanjang perjalanan menuju meja itu.


“Jadi kamu ngerencanain ini semua? Sejak kapan?”


“Sejak dari Jakarta dan tadi pagi aku merancang ini semua buat kamu.”


Aku tidak bisa berkata-kata lagi, tapi ini benar-benar indah. Momen yang tidak pernah kubayangkan akan ada dalam hidupku.


“Silakan duduk, My Honey!” Aldebaran menarikkan satu kursi untukku. Aku duduk dengan malu-malu.


Dia pun menyusul duduk di hadapanku. Meskipun malam ini dingin tapi aku sama sekali tidak merasakannya, perlakuan Aldebaran yang sangat romantis ini membuatku merasa hangat.


Tak lama kemudian seorang pelayan pria membawakan makanan yang sepertinya sudah di pesan Aldebaran. Bibirku keram karena dari tadi terus tersenyum, mendongak aku menatap Aldebaran yang mulai sibuk memotong-motong steak di piringnya---terlihat serius. Ku taruh siku di atas meja lalu mengamatinya


dalam diam----ketampanannya makin bertambah berkali-kali lipat saat dia sedang serius seperti ini.


“Sayang, ini untukmu!”


“Eh? I-iya,” aku meraih sodoran piring darinya dan dia mengambil piring yang ada di hadapaanku.


Meleleh aku....


“Kenapa nggak di makan?”


“Hah? Ini mau di makan kok!”


Dengan cepat aku menyantap makanan itu agar dia tidak menyadari bahwa dari tadi aku memperhatikannya secara dia. Hufftt ... aku menarik napas lega saat dia kembali sibuk dengan makanannya.


Aku pun kembali melanjutkan makan—sesekali masih menadanginya juga. Namun perutku memang terasa lapar sehingga aku mulai makan dengan lahap.


Deg! Aku sangat terkejut saat sebuah tangan mengusap pipiku dengan lembut. Aku mendongak dan langsung berhadapan dengan netra hitam kelam milik Aldebaran.


“Ada noda saus di sudut pipi kamu,” ujarnya lalu kembali duduk. Mataku membulat saat melihat dia menjilat tangannya yang baru saja dia gunakan untuk mengusap noda saus di pipiku.


Apa maksudnya coba?!


****


Uh romantis banget....jangan pada baper atau pengen yak haha....ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!

__ADS_1


__ADS_2