Identitas Palsu

Identitas Palsu
Wanita Ghibah - Part 5


__ADS_3

Di sebuah kamar mewah, terbaring seorang pria tua renta, mendengar suara ketukan, pria tua itu bangkit menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Masuk!"


Mendengar suara itu pria yang ada diluar kamar masuk dengan membawa beberapa berkas ditangannya. "Selamat siang Tuan besar, kedatangan saya kemari untuk memberikan laporan ini." Pria muda itu memberikan berkas yang ada di tangannya pada pria tua di hadapannya.


"Bagaimana kabarnya?" mulai pria tua itu.


"Kabarnya baik. Hari ini Nona sudah diperbolehkan pulang."


"Apa dia ingat tentang kejadian sebelum kecelakaan itu?


Pria muda itu menggeleng, "tidak Tuan besar. Menurut keterangan dari dokter yang menanganinya, dia mengalami gegar otak ringan. Sehingga ingatannya tentang kejadian itu sama sekali tidak dia ingat."


Pria tua itu menghela napas lega, "ini. Terus awasi dia dan pastikan dia tetap aman."


"Baik, Tuan." Pria muda itu meraih berkas yang disodorkan kembali padanya kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.


Sedangkan Aldebaran dikantor...


Aldebaran menghela napas untuk kesekian kalinya, setelah membaca pesan dari pacarnya, Michella. Wanita yang sangat ia cintai sejak kecil. Pertemuan kembali mereka yang agak terlambat membuatnya harus menerima perjodohan yang telah di gadang oleh keluarga besarnya. Sebenarnya perjodohan itu bukan untuknya tapi kakaknya namun saat kakaknya pergi ia yang di korbankan untuk menutupi aib itu.


Tringgg…. (Telfon berdering)


Michella : Sayang… jadi kapan kamu mau ngelamar aku?


Aldebaran memilih menonaktifkan ponselnya, ia belum bisa memberikan kepastian itu. Saat ini fokusnya adalah proyek besar yang sedang ia kerjakan dengan perusahaan perhotelan milik Pak Roy. Ia akan membangun sebuah resort di daerah Raja Ampat, tempat yang sangat bagus untuk di jadikan destinasi liburan keluarga.


Ia ingin membuktikan pada kedua orangtuanya dan dunia, bahwa ia bisa bahkan lebih hebat dari kakaknya. Anak emas bagi kedua orangtuanya, anak yang selalu di elu-elukan tanpa pernah melihat bahwa dirinya juga anak mereka. Anak yang membanggakan tapi apa? Saat kedua orangtua mereka berniat menjodohkannya, dengan gampangnya kakaknya itu pergi sehingga ia yang harus menanggung akibat dari ulahnya. Selalu ia yang di jadikan pelampiasan dari semua ulah kakaknya itu. Ia hidup hanya sebagai bayang-bayang kakaknya.


Tokk… tokk… tokk….


"Masuk!"


Seorang wanita masuk dengan membawa berkas-berkas yang harus di tanda tangani oleh atasannya itu. Setelah sampai di depan meja, wanita yang menjabat sebagai sekretaris Aldebaran itu meletakkan semua berkas itu di meja.


"Apa jadwal saya setelah jam makan siang?" tanya Aldebaran pada Rini, sekretarisnya.


Rini membuka notebook lalu mencari jadwal atasannya itu, "sehabis jam makan siang, Bapak ada meeting dengan Pak Roy CEO hotel Al-Ghazali untuk membicarakan kelanjutan kerja sama perusahaan kita dengan mereka."


Rini masih bergeming di tempatnya, membuat Aldebaran mengerutkan kening. "Kenapa kamu masih di sini? Masih ada yang mau kamu sampaikan pada saya?"


Rini meremas tangannya memberanikan diri, kepalanya mendongak kembali. "Pak, Bu Andinkan sudah boleh keluar dari rumah sakit. Apa saya, Ayu, dan Mira boleh menjenguknya ke rumah Bapak?"


Aldebaran menaikkan sebelah alisnya, "kalian mau ngajak istri saya nge-ghibah? Kalo itu tujuan kalian saya tidak mengizinkannya! Saya tidak mau rumah saya yang megah seharga 30 M itu di jadikan tempat ghibah! Nanti rumah saya punya citra jelek gara-gara kalian!"


"Bapak jangan su'udzon dulu. Meskipun ghibah itu sudah jadi hobi dan vitamin bagi kita bertiga minus istri Bapak, tapi niat kita kali ini bener-bener cuma ingin menjenguk Ibu Andin yang sahabat kita juga, Pak," jelas Rini panjang lebar.

__ADS_1


Aldebaran mengibaskan tangannya," sudah sana, terserah kalian saja. Saya pusing menghadapi ocehan kamu yang mirip rel kereta api!" usir Aldebaran pada Rini dengan menghempas-hempaskan tangannya seperti mengusir ayam.


Rini berbalik dengan bibir yang di majukan lima senti,"apa katanya? Nggak boleh ghibah? Terus apa kabar sama selingkuhannya yang hampir tiap minggu di bawa kerumah? Buat ghibah nggak boleh, tapi buat selingkuh kok boleh! Dasar atasan gemblung!"


"Rini, kamu ngoceh apa barusan?" tanya Aldebaran sambil mengecek berkas kantor


Rini langsung gelagapan, menolehkan wajahnya ke kebalakang. "Hehehe… nggak ada Pak. Saya cuman lagi ngeluarin unek-unek, soalnya kalo numpuk bisa jadi dengki. Permisi Pak!"


Setelah berkata seperti itu Rini langsung melesat secepat angin keluar dari ruangan atasannya itu. Sesampainya di luar Rini mengelus dadanya yang sempat terkena serangan panik mendadak.


"Untung aja nggak denger. Gue harus kasih tahu Ayu sama Mira sekarang juga. Otw ghibah…!!" biasa kerjaan wanita hahaha


Rini pergi menemui kedua sahabatnya, yang juga bekerja disana seperti dirinya. Pekerjaan mereka dikantor ini bukan sekadar mengerjakan urusan kantor tapi mereka juga merangkap sebagai mata-mata untuk Andin, sahabat mereka. Karena mereka tahu jika suami Andin yang atasan mereka itu bukan pria baik-baik. Mana ada pria baik-baik yang kerjaan sambilannya selingkuh?


Sesampainya dirumah...


Keterkejutan Melody berlanjut saat melihat rumah bak istanah megah berwarna biru yang sangat indah di hadapannya ini. Mulutnya sedari tadi tidak bisa terbungkam, kata "Woah!" berulang kaki ia lontarkan seperti saat ini.


"Woah, gilaaa... bagus bener rumahnya. Ada tamannya, ada air mancur dan wihhh… mobilnya juga banyak banget kayak tempat jual mobil."


"Nona Andin, silakan masuk…." Tiba-tiba seseorang wanita paruh baya yang memakai pakaian pelayan datang menghampirinya.


Melody kembali menjaga sikap, agar tidak keliatan norak di depan ibu paruh baya itu. "O-oh i-iya, saya akan masuk!"


Melody berjalan di dengan di tuntun oleh kepala pelayan tadi dengan kepala yang masih sibuk memerhatikan sekitar. Kembali Melody di buat menganga, saat melihat ada banyak orang yang berpakaian pelayan sudah berbaris menyambut kedatangannya.


Melody hanya bisa mengangguk untuk menghormati mereka semua. "Makasih atas sambutannya," ujar Melody yang direspons dengan tatapan heran dari semua pelayan.


"Ada apa? Memangnya salah saya membalas sambutan kalian?"


"Tidak, Nyonya. Kami senang Nyonya kembali dengan keadaan sehat dan… menjadi lebih baik," sahut Rahma-ketua pelayan yang tadi menyambut Melody pertamakali.


"Lalu kenapa kalian menatap saya seperti tadi?"


"Tidak apa-apa. Kami hanya sedikit kaget dengan perubahan Nyonya," jawab Bi Rahma lagi.


"Oh, begitu. Setiap manusia pasti akan berubah, jadi mulai sekarang kalian jangan heran lagi jika saya mulai merubah kebiasaan saya satu persatu."


"Baik, Nyonya."


"Mari saya antar Nyonya ke kamar!" Bi Rahmia kembali melanjutkan jalannya menuntun atasannya itu.


Melody berhenti di depan pintu, membungkuk lalu melepas sepatunya. Hal itu disaksikan oleh semua pelayannya dan mereka menganga melihatnya.


"Nyonya, kenapa sepatunya di lepas?"

__ADS_1


"Takut kotor lantainya, sepatu saya kotor soalnya. Tadi nggak sengaja nginjak air kubangan."


Bi Rahma menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan perubahan yang terjadi pada Nyonya besarnya ini, "sebaiknya Nyonya pakai kembali sepatunya. Soal lantai kotor tidak usah di permasalahkan, disini ada sepuluh pelayan yang khusus bertugas membersihkan lantai di rumah ini. Mereka akan membersihkan lantai setiap dua jam sekali."


"Hah?! Sebanyak itu? Mereka semua membersihkan lantai saja?"


"Iya. Memangnya kenapa Nyonya?"


"Tidak, hanya terlalu berlebihan menurut saya."


Bi Rahma memandang majikannya dengan aneh, apakah wanita yang sedang ia papah benar majikannya yang dulu? Tapi kenapa berbeda sekali?


***


"Aaa… Andin! I miss you so much, baby!" teriak Rini sesaat setelah memeluk Melody dengan sangat erat.


"Sahabatku, aku juga sangat merindukanmu…." Kini gantian Ayu yang memeluk Melody.


Terakhir Mira yang memeluk Melody, "gue juga kangen sama lo. Kangen ghibahin suami lo yang ganteng tapi sayang buaya darat!"


Melody sudah tidak kaget melihat ketiganya, ia sebisa mungkin bersikap biasa saja. "Gue juga kangen sama kalian! Ayo duduk!" akting Melody, ia harus belajar bersandiwara mulai saat ini. Toh, nantinya ia juga harus berakting di depan kamera dan ini saatnya ia menguji sejauh mana kemampuan aktingnya.


Mereka berempat melangkah ke arah sofa yang terletak tak jauh dari tempat keempatnya berdiri.


"Lo tau nggak, suami lo makin jadi! Masa pas lo koma dia kepergok lagi mesra-mesraan sama si ular berbisa itu!" mulai Rini dengan menggebu-gebu.


"Bener, si wanita ular itu makin ngelunjak. Bikin gue pengen ngulek wajahnya yang sok cantik itu?!" kesal Mira.


"Ihh… Mira kalo marah nyeremin. Andin kamu udah bener-bener sehatkan? Takutnya info dari kita bikin kamu drop lagi?" tanya Ayu, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjenguk temannya itu selama menjalani perawatan dirumah sakit.


Rini memeluk bahu Melody,"iya, maafin kita ya sampe lupa nanyain keadaan lo. Maaf ya Ndin, kita terlalu seneng pas denger lo udah sembuh jadi lupa nanyain lagi keadaan lo. Tapi lo bener-bener udah nggak papa, kan?"


"Alhamdulillah, sekarang udah nggak papa kok. Kalian nggak usah ngerasa bersalah gitu, dong. Katanya kesini mau seneng-seneng buat ngerayain gue sembuh?"


"Iya, maafin kita ya, sekali lagi yang nggak sempet jengukin lo di rumah sakit. Tapi ini semua ulah suami lo itu yang buat kita lembur tiap hari sampe nggak punya waktu buat jengukin lo!" ujar Rini sinis.


"Memangnya suami gue galak banget ya, kalo di kantor?"


Ketiganya mengerutkan kening heran, "lo lupa?" tanya ketiganya kompak.


Dengan jujur Melody mengangguk, "gue ngalamin gegar otak ringan dan gue lupa."


Ketiganya saling tatap kemudian mengerling satu sama lain dengan senyuman misterius.


"Kita siap bantuin lo, biar ingatan lo cepet pulih!"

__ADS_1


****


Apakah Andin/Melody akan terus berakting atau mencari kebenaran?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2