
Rasanya lega setelah tiga jam meeting dengan klien besar dan memenangkan tender bernilai miliaran rupiah, akhirnya aku bisa duduk santai di kursi kebesaranku. Melihat jam yang tertempel di dinding menunjukkan pukul 11.45 berarti sebentar lagi waktunya makan siang.
Senyumku terbit saat memikirkan makanan apa lagi yang akan Andin bawakan untukku. Kuraih ponsel yang ada di atas meja, lalu kubuka aplikasi Instagram untuk menstalker kegiatan Andin hari ini. Tidak apa bukan, aku ini suaminya jadi menguntit istri sendiri sah-sah saja. Ada postingan baru yang dia unggah beberapa menit yang lalu.
Gambar pertama menampakkan lokasi shooting film yang tengah ia bintangi, aku pun berlanjut ke gambar yang kedua, kali ini gambar kostum yang akan dia kenakan dan mataku langsung membelalak saat foto terakhir menampakkan gambar dia dengan seorang pria yang kutebak adalah artis songong yang berusaha mendekati Andin.
Sebuah ide cermelang muncul dalam otakku, dengan segera aku menghubungi seseorang. Tanpa menunggu lama panggilanku terjawab oleh orang di sebrang.
"Beli agensi yang menaungi istri saya dalam industri hiburan."
"...."
"Sekarang juga!"
belum sempat dibalas, Setelahnya aku langsung mematikan panggilan itu, senyumku mengambang membayangkan ekpresi terkejut istri pembangkangku itu nantinya saat mengetahui aku akan menjadi bos di agensinya.
Lamunanku buyar seketika saat mendengat bunyi ketukan pintu. "Masuk!" perintaku pada siapapun yang tengah mengetuk pintu itu.
Pintu di buka dan menampakkan sekretaris emberku itu, sohib seghibahan istriku. Tiba-tiba aku mempunyai ide untuk memanfaakan hobi ghibahnya itu.
"Shhhh…" Ringisku seraya memegangi perutku, sesekali aku melirik ke arahnya. Tepat sasaran, dia mendekatiku dengan ekspresi panik.
"Pak! Bapak kenapa! Bapak sakit?" tanyanya panik.
Aku terus berakting kesakitan, aku ingin dia semakin panik.
"Pak, saya panggilin dokter, ya!" ujarnya seraya dengan cepat meraih ponselnya yang berada di dalam saku. Aku menghalanginya.
"Kenapa, Pak? Bapak harus segera di bawa ke rumah sakit biar di obatin sama dokter!"
"Tidak usah… kamu telpon Andin saja. Biar dia yang merawat saya."
Wanita itu sedikit mengerutkan keningnya, sebelum akhirnya mengangguk lalu mengikuti perintahku.
"Andin, suami lo sakit!"
"...."
"Dia nggak mau di bawa ke rumah sakit! Mendingan lo kesini sekarang deh! aku nggak bisa urusin dia, soalnya masih ada kerjaan yang harus aku handle."
"...."
__ADS_1
"Oke, aku tunggu!" Rini mematikan panggilannya sebelum ada balasan dari Andin.
Seketika aku bersorak, dengan begini Andin tidak akan bisa makan siang bersama artis songong itu! Selama aku masih hidup maka tidak ada yang bisa lolos mendekati istriku itu. Huh!
***
"Makannya kalo mau berangkat kerja itu makan dulu! Biar nggak sakit!" gerutu Andin yang baru sampai di kantorku.
Bibirnya mencebik seraya menyiapkan makanan untukku, akhir-akhir ini aku menyukai gerutuannya itu. Dia terlihat menggemaskan sekali.
"Kenapa Mas, senyum-senyum sendiri? Mulai gila?" sarkasnya.
"Mungkin!" jawabku masih dengan memandanginya.
Dia melotot, "beneran?!" kagetnya.
"Hahaha… nggak lah! Kamu kok polos banget sih…."
Tanganku spontan mengacak-acak puncak kepalanya, membuat dia cemberut seraya menepis tanganku dengan kasar.
"Cepetan buka mulutnya!" perintahnya galak.
Aku langsung menurutinya, entah kenapa aku mulai menyukai makanannya dengan di suapi olehnya. Napsu makanku pun bertambah karena makan sambil memandangi wajahnya. Ini di luar kebisaanku padahal saat bersama Michella aku tidak pernah meminta di suapi apalagi sampai berpura-pura kesakitan untuk mendapatkan perhatiannya.
Bunyi ponsel membuatku mengalihkan pandangan ke arah meja kaca yang ada di hadapanku, itu bunyi ponselku. "Ndin, ambilkan itu!" perintahku.
Andin hanya menoleh sekilas, kemudian melirik dan hendak bangkit berdiri tapi dengan segera kupegang tangannya. "Mau kemana?"
"Itu Yayangnya telpon! Angkat aja, aku nggak penting lagikan kalo udah ada dia!" sorot matanya berubah benci ketika melirik ke arah ponselku.
Aku tahu pasti yang meneleponku Michella, "aku tidak akan mengangkatnya, jadi kamu diam dan duduk disini!"
Kutarik tubuhnya hingga Aku duduk di sofa bersamaku, lalu kuraih ponselku dan mematikannya.
"Puas sekarang!?" kataku seraya menoleh ke arahnya yang tak sengaja kutangkap sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya.
"Aku sudah kenyang jadi letakkan mangkuk ini di sini," kuambil mangkuk itu lalu kutaruh di atas meja,"nah, sekarang aku mau tidur!" ujarku seraya merebahkan kepalaku di pangkuannya.
"Aku--" tanganku tarangkat untuk membungkam mulutnya.
"Ssstt… diam aku ingin tidur."
__ADS_1
Sebelum kantuk menyerangku sebuah suara mengusik pikiranku.
"Apa kamu akan tetap seperti ini, jika kamu tahu siapa aku yang sebenarnya?"
Aku ingin meminta penjelasan dari maksud perkataannya itu namun rasa kantuk tidak bisa kutahan dan langsung menyergapku dalam mimpi.
***
Hari ini aku pulang terlambat, sebab ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini juga. Memasuki rumah, telingaku menangkap sebuah suara yang sedang berbincang ria.
Mataku membelalak melihat Andin tengah berbincang asik dengan seorang pria yang duduk membelakangiku. Dengan langkah lebar aku menuju kesana, sampai di depan Andin langsung kutarik tangannya dan kusembunyikan dia di balik tubuhku.
Kemudian aku menoleh galak ke arah pria yang berani sekali mendekatinya, aku terkejut melihat siapa yang lawan bicara istriku itu. Seketika tanganku mengepal melihatnya kembali.
"Hai, long time no see, adik kecilku!" pria yang tak lain adalah Roy, Kakak yang paling ku benci.
Tatapanku beralih pada Andin lagi, "masuk kamar!"
"Tap--"
"Masuk kamar sekarang, Andin?!" bentakku yang tak bisa menahan emosi melihat kehadiran Kakakku di rumah ini.
Andin akhirnya menuruti perintahku walaupun dengan gerutuan yang terus dia lontarkan untukku.
"Santai aja, brother! Jangan emosi gitu sama bini lo sendiri, nanti kalo dia minta cerai gimana?"
"Bacot! Pergi lo dari rumah gue!"
"Galak amat."
"Pergi nggak lo! Atau gue panggilin satpam buat nyeret lo keluar! Iya?!"
"Nggak perlu, gue kesini cuma buat ngeliat dia mantan calon istri gue."
Mataku melotot tajam mendengar ucapannya, "dia udah jadi milik gue! Jangan pernah berpikiran buat ngerebut dia! Karna gue nggak akan pernah biarin lo!" bentakku, "sekarang juga lo pergi dari sini dan jangan pernah nginjakin kaki kotor lo kesini! Pergi!" lanjutku dengan emosi yang semakin meluap-luap.
Roy mengangkat tangannya, "oke, oke gue bakal pergi. Tapi gue nggak janji buat nggak deketin bini lo lagi, soalnya dia… menarik!"
Roy melangkah pergi, membuatku dapat bernapas normal kembali. Rasanya sesak menghirup oksigen yang sama dengan dia. Namun emosiku masih membara tanganku yang sudah gatal ingin menonjok sedari tadi langsung kuhantamkan ke dinding yang ada di hadapanku.
"Sial!"
__ADS_1
****
Apa yang akan diperbuat oleh Aldebaran biar Istrinya tidak diambil oleh sang kakaknya??? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!