
“Aku sudah menceraikan Andin, ini lihat sendiri buktinya!” Aldebaran menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ke arah Michella.
Michella meraihnya lalu mengeluarkan selembar kertas yang menjadi bukti perceraian antara pria yang ada di depannya dengan wanita bernamaMichella itu. Senyuman mengembang di wajahnya, keberuntungan masih ada di pihaknya. Sebentar lagi impiannya untuk menjadi istri dari seorang miliarder akan segera terwujud. Tak sia-sia usahanya.
“Baik, aku menerima kamu kembali.”
“Makasih, sayang! Aku mencintaimu selalu!” Aldebaran mendekati Michella kemudian memeluknya erat. Ucapannya bohong! Dalam hati dan pikirannya saat ini hanya di penuhi oleh nama Melody.
“Untuk merayakan hari kembalinya hubungan kita, gimana kalau kita makan sama nonton film di bioskop?”
Michella berpikiran sejenak, bingung karena saat ini dia sedang diet. Tapi, melirik ke arah Aldebaran yang menampilkan raut antusias, membuatnya mengangguk. Lagi pula ini hari yang spesial sekaligus untuk merayakan kemenangannya.
“Ayo!” dengan manjanya Michella mengalungkan tangannya dilengan Aldebaran.
Aldebaran tersenyum tipis, mengingat momen kebersamaannya dengan Melody. Jika dia mengajak wanita itu pasti akan ada seribu alasan untuk wanita itu mendebatnya, lain halnya dengan Michella. Perasaannya hampa.
Sesampainya di salah satu Mall terbesar di Jakarta Selatan, Aldebaran langsung mengajak Michella menuju salah satu bioskop. Banyak pasangan seperti mereka yang juga sedang mengantri membeli tiket.
“Sayang, mau nonton film apa?” tanya Aldebaran. Sebisa mungkin dia harus bersikap romantis seperti dulu, agar Michella tidak mencurigai dirinya.
“Nonton yang itu aja!” telunjuk Michella mengarah pada poster film bergenre romantis.
“Ya sudah. Kamu tunggu dulu, di sini. Aku mau beli tiket sama popcron-nya dulu.”
“Oke!” jawab Michella sambil mendudukkan diri di kursi yang tersedia di sana.
Aldebaran mengantri untuk membeli tiket bersama orang-orang lainnya. Menatap sekeliling, berusaha meredam rasa rindu yang masih sangat menggebu di hatinya. Semoga sebentar lagi dia bisa menemukan titik terang di mana keberadaan Melody.
Di saat itu juga, dia akan memintanya untuk selalu berada di sisinya selamanya. Dan jika benar wanita yang bersamanya adalah dalam di balik penculikan ini, Maka dia akan membalasnya dengan lebih kejam.
***
Posisi Melody dan Michella selesai dari bioskop
__ADS_1
Aku terbangun di sebuah tempat asing dengan tangan dan kaki yang terikat pada sebuah kursi. Menatap ke sekitar hanya kegelapan yang mengelilingiku. Sebenarnya aku ada di mana? Dan kenapa aku bisa terjebak di ruangan gelap ini?
“Tolong ... tolong ... tolong ...!” teriakku sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat tanganku.
“A-ah! Kenapa susah sekali?!” desahku. Padahal aku sering melihat bahkan melakukannya di adegan syuting dan itu Sangat mudah. Tapi ... ternyata realitanya sangat susah.
Tenagaku yang belum pulih di tambah rasa pusing yang masih menghinggapi kepalaku, membuatku memilih kembali diam. Percuma aku mengerahkan semua tenaga yang akan berakhir sia-sia. Tali yang mengikat tangan dan kakiku amatlah kuat.
Sebuah kilasan kejadian malam itu kembali menghantui dalam ingatanku. Kini aku tahu, malam itu ada empat orang yang menculikku. Pasti mereka yang melakukan ini semua dan yang menyuruh mereka pasti Kak Michella, ini pasti rencananya agar aku di diskualifikasi dari kontes permodelan itu.
Lamunanku tiba-tiba buyar saat sebuah cahaya menyorot ke arahku---terang sekali. Dari arah pintu masuklah seseorang ke dalam ruangan, di sana ada kak Michella yang yang sedang berjalan aku ke arahku dengan tangan yang bersedekap di dada.
“Hai, Andin! Kita ketemu lagi!” sapa Kak Michella sambil mendekatiku.
“Lepaskan aku!”
Kak Michella semakin mendekatiku, lalu mencengkram daguku. “Apa? Lepaskan? Tidak semudah itu?!”
“Sebenarnya, apa mau mu?!”
“Apa kamu takut aku mengalahkanmu di kontes itu? Iya?”
Dia menghempaskan tanganku dan langsung menapar pipiku dengan keras. Plak!
Sakit. Tapi aku tidak boleh memperlihatkan rasa sakit ini, karena seorang psikopat seperti Kak Michella akan bertambah senang jika melihat korbannya kesakitan.
“Memang, tapi masih ada satu alasan lagi. Lihat ini baik-baik!” dia mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya.
“Baca!” suruhnya setelah isi amplop itu dia keluarkan. “Lo sekarang bukan lagi istri dari Aldebaran Alfahri, karena dia udah menceraikan lo demi gue! Hahaha ….
Aldebaran menggugat cerai Andin? Kenapa dia melakukan ini? Apa ini bentuk kekesalannya padaku? Dan kenapa dia mau kembali dengan Michella bukannya dia sudah berjanji padaku? Ah … mungkin dia tidak mau lagi memegang janji itu karena aku sudah membohonginya dan terlebih lagi aku berpura-pura menjadi Andin, istrinya.
“Giman rasanya? Sakit?” tanya Kak Michella lagi. Aku hanya terdiam, tidak ingin mengatakan apa-apa. “Gue juga ngerasain sakit, waktu lo nyuruh Adnan putusin gue! Tapi ternyata keberuntungan masih berpihak ke gue, dan taraaa… kembali lagi kepelukan gue!” soraknya penuh kemenangan.
__ADS_1
“Dapet bekasan aja bangga! Dasar pelakor, nggak ada akhlak!”
“Apa lo bilang?”
“PELAKOR NGGAK ADA AKHLAK!”
Plak! Plak!
Kembali Kak Michella mendaratkan tamparan berulang kali ke wajahku, tapi aku sudah tak peduli. Dia memang wanita iblis, tidak punya hati. Sudah membunuh orang, menculiknya dan sekarang merebut suami orang. Memang tidak ada akhlak!
“Berani banget lo sama gue! Emang lo nggak takut gue bunuh?”
“Nggak! Karena hanya Allah yang tahu kapan ajalku akan datang, jadi buat apa aku takut sama kamu, yang juga manusia biasa!”
“Lo---"
“Apa? Mau tampar lagi? Atau mau Menghabisiku langsung?”
Kilat amarah tergambar jelas di mata Kak Michella, tapi aku tidak takut. Aku tetap yakin Allah akan menolongku. Sedetik kemudian, dia berbalik dan terdiam di tempat. Aku tak dapat melihat bagaimana raut wajahnya saat ini, apakah dia sedang mempersiapkan rencana baru atau sedang meredakan emosinya.
“JEKI! YUDI! CEPET KE SINI!” teriaknya setelah sekian lama terdiam. Tak lama dua orang pria berbadan kekar dengan kepala botak, yang kutebak adalah anak buah Kak Michella berjalan mendekat.
“Ada apa Bu bos?”
“Siksa tuh cewek, kalau perlu perkosa! Buat dia menderita dan jaga tempat ini selama gue pergi. Ngerti?”
“Siap, mantap Bos!” sahut kedua orang itu. Aku yang mendengarnya hanya bisa pasrah, semoga saja pertolongan untukku segera datang.
“Tunggu aja! Saat gue balik ke sini, maka hari itu juga ajal akan menjemput lo!”
Kedua pria itu mendekat seraya melepaskan ikat pinggang mereka, aku hanya bisa berdoa pada Sang Pencipta agar semua ini cepat berakhir.
****
__ADS_1
Wah gimana nih bakal diperkosa/dibunuh nih aduh??? Ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!