
Seminggu Kemudian....
Sepertinya rumah sakit sudah menjadi nama tengahku, karena aku sudah berulang kali terbangun di ruangan serba putih berbau obat ini. Menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari, membuatku mengeratkan kembali selimut yang menyelubungi tubuhku. Suhu udara masih terasa menusuk kulit dini hari seperti ini.
Aku menyentuh sebuah benda ... ah, lebih tepatnya kepala seseorang yang tertidur di sisiku tubuhku. Menatap tajam-tajam orang itu di ruangan dengan cahaya kurang terang, hanya lampu dekat ranjang yang di nyalakan. Aku berasa tidur di hotel dari pada di rumah sakit karena fasilitas yang ada di kamar ini seperti hotel bintang lima, ada sofa di sudut bagian kiri lengkap dengan meja kaca, lalu kamar mandi pribadi, kulkas, dan televisi di lengkapi juga dengan AC. Aku tahu ini semua berkat kekuasaan dari orang yang tengah terlelap di sampingku ini. Namun, tetap saja namanya rumah sakit, rumahnya orang sakit dan aku tidak mau menyusahkan banyak orang karena sakitku ini.
Huh! Aku menghela napas malas karena sekarang aku tidak lagi mengantuk, tapi apa yang dapat kulakukan untuk mengusir rasa bosan? Menonton televisi? Bukan hal yang bagus di jam dua dini hari seperti ini, bisa-bisa suaranya membuat Aldebaran terbangun lagi. Ngomong-ngomong soal pria ini, kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia yang telah menyelamatkanku? Apa dia tidak marah padaku? Aku kan sudah membohonginya.
Tanganku tergelitik untuk mengusap rambutnya, terbiasa dengan hal ini membuatku rindu. Aku terkurung di ruangan gelap itu cukup lama, setiap hari aku hanya bisa berdoa agar segera mendapatkan pertolongan. Mereka selalu menyiksaku, memukulku dengan sadis hingga rasanya tubuhku hancur dan mati rasa karena rasa sakitnya tak mampu lagi kutahan bahkan air mataku saja sudah kering untuk menangisi rasa sakit itu.
Aku tak berani meraba wajahku sendiri, menyentuh luka itu akan membuatku teringat lagi dengan kejadian mengerikan itu. Sungguh, Kak Michella kejam sekali. Aku ini masih adiknya tapi kenapa dia memperlakukan aku sebagai musuh. Kalau dia mau harta bilang saja, jangan melakukan hal jahat seperti ini. Aku tidak gila harta dan kekuasaan tapi kenapa aku jadi korban dari semua itu? Padahal keinginanku hanya satu yaitu hidup dengan tenang dan dapat menjadi Melody yang dulu lagi.
“Engh ...” suara itu membuatku berhenti. Aku diam mematung, menyaksikan Aldebaran yang sedang pindah posisi. Apa aku membangunkannya? Memerhatikan sekali lagi, aku menghembuskan napas lega saat Aldebaran kembali tertidur.
Belum sedetik napasku kembali teratur, di detik selanjutnya tangan Aldebaran sudah kembali meraih tanganku. Aduhh ... bagaimana ini? Tangannya terlalu erat memegang tanganku. Ingin mencoba melepasnya takut dia terbangun. Ya, sudah lah aku pasrah saja. Lebih baik aku tidur lagi.
***
Sinar mentari yang menyorot tepat di wajahku membuatku terbangun dari mimpi bunga tidur yang indah. Aku bangkit dari tidur dengan senyum mengembang, sudah lama aku tidak merasakan suasana pagi seperti ini. Pagi, siang, malam, di ruangan gelap itu terasa sama. Gelap, gelap dan gelap.
“Selamat pagi cantik!” sapaan itu membuatku mengalihkan tatapan ke arah seseorang yang baru saja memasuki kamar rawatku. Di sana ada Aldebaran yang membawakanku bunga mawar putih dan bungkusan yang kutebak adalah makanan?
“Pagi. Kamu kenapa masih ada di sini? Nggak ke kantor?” tanyaku penasaran.
“Tidak aku ingin menjaga calon istriku. Aku takut kamu di culik lagi, jadi aku memutuskan untuk libur. Lagi pula kantor itu milikku, sehingga aku bebas melakukan apa saja.”
“Cih! Sombong sekali dirimu! Lalu siapa yang kamu maksud calon istri? Aku? Memangnya kamu sudah melamarku? Dan apa aku juga sudah menerimanya?” tanyaku beruntun. Enak saja dia mengklaim aku sebagai calon istrinya? Aku saja tidak merasa pernah di lamar, main bilang calon istri?! Ngawur saja otak pria satu ini.
“Kata siapa aku belum melamarmu? Aku sudah melamarmu lewat Kakekmu,”
“Ya, sudah sana nikah sama Kakek!”
“Loh, kok gitu?”
“Yang kamu lamar itu Kakek bukan aku! Berarti yang kamu nikahi ya Kakek!”
“Jangan ngambek gitu dong. Nanti aku akan lamar kamu secara romantis deh, setelah kamu keluar rumah sakit.”
Aldebaran mendudukan dirinya di kursi samping ranjangku, dia mulai membuka plastik yang ada di tangannya. “Ayo, kamu sarapan dulu. Ini aku sudah bawakan bubur buat kamu,”
Aku melihat ke arah mangkuk plastik yang berisi bubur itu, perutku yang tak tahu diri langsung berbunyi.
__ADS_1
“Udah laper banget, ya?”
“Laper lah! Orang udah nggak makan selama kurang lebih semingguan.”
“Ya udah. Aaa ...” perintahnya yang membuat alisku membuat heran. Memangnya aku tidak bisa makan sendiri apa? dalam hatiku.
“Aku makan sendiri aja,” kataku sambil berusaha mengambil mangkuk itu dari tangan Aldebaran.
Namun Aldebaran dengan menyebalkannya menjauhkan mangkuk itu dari jangkauanku. “Selama kamu sakit, aku akan mempelakukanmu seperti tuan putri. Jadi biarkan pangeran tampanmu ini melayanimu sepanjang hari, oke?”
Aku melotot mendengar bagian dia yang mengatakan "pangeran tampan" narsis sekali dia. “Ternyata selain sombong kamu juga narsis, ya?”
“Memangnya kenapa? Kamu kan calon istriku, jadi aku akan bersikap apa adanya dan narsis itu sudah menjadi nama tengahku.”
“Aku masih ingat jelas kalau kamu dulu sangat dingin, ketika aku menjadi An .. ndin.”
“Itu karena hatiku masih ada di gadis yang menjadi cinta pertamaku. Mengingatnya, aku merasa bersalah pada Andin. Sebenarnya dia gadis yang baik dan sangat perhatian padaku, tapi aku malah memperlakukannya dengan buruk.” Adnan menunduk, dia terlihat menyesal.
Aku mengusap bahunya, “Kalau kamu menyesal, sebaiknya kamu minta maaf ke makamnya sama keluarganya juga. Mungkin hal itu bisa membuat perasaanmu lebih baik.”
Author: Maaf nih sebelum dilanjut ingin bilang ke kalian kalau mau minta maaf sama orang yang sudah meninggal tidak bisa ya.... lebih baik mendoakan saja yang baik untuk orang tersebut. oke lanjut...
“Ayo, aaa ... “ dia menyodorkan makanan itu lagi. Malas mendengar kenarsisannya, lebih baik aku menerima saja suapannya.
***
Sebulan sudah aku menjalani hari-hari di rumah sakit dengan berbagai perawatan yang cukup ribet. Hari ini senyumku mengembang sempurna, aku tidak mau lagi terbaring di sana. Menatap ke luar jendela, aku merasa aneh. Jalanan ini bukan menuju rumahku yang dulu, lalu ke mana kah dia akan membawaku?
“Bara, kamu mau membawaku ke mana?” tanyaku sedikit panik.
“Sesuai perintah dari tuan Darma, beliau meminta Nona untuk datang ke kantornya. Di sana sedang ada acara besar,” jelas Bara. perasaanku merasakan ada sesuatu yang mereka rencanakan tapi apa?
“Untuk apa aku datang ke sana? Aku kan tidak tahu soal urusan perusahaan.”
“Tuan Darma hanya ingin memperkenalkan cucunya yang hilang belasan tahun lalu.”
“Oh ... begitu. Apa?!"
“Tidak, tidak, aku tidak mau. Turunkan aku sekarang!” lanjutku yang sudah panik tak karuan.
“Tidak bisa Nona. Saya tetap akan membawa Nona ke sana, ini perintah.”
__ADS_1
Aku mendengus seraya menyandarkan kembali kepalaku ke kursi mobil. Sungguh pria ini sangat menyebalkan, dia sangat patuh pada semua perintah Kakek! Ekspresinya juga terlihat selalu dingin, benar-benar misterius sekali.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 40 menit, akhirnya kami pun sampai di depan sebuah bangunan gedung yang sangat tinggi. Gedung dengan tiga bangunan utama yang saling terhubung, di bagian atas terdapat tulisan Karisma group. Perusahaan yang ingin Kak Michella kuasai.
“Silakan masuk Nona,” Bara merentangkan sebelah tangannya, memintaku masuk.
“Kamu saja duluan, aku perlu persiapan.” Alasan yang bagus untuk kabur.
“Nona bisa mempersiapkan diri di dalam, ada banyak ruangan yang dapat di pakai untuk memperbaiki dandanan, Nona.”
“Nah! Itu, aku tidak memakai riasan apa pun. Jadi ... bisa tidak kalau aku pulang saja, badanku juga masih terasa sakit.”
“Maaf, Nona, bukankah dari kemarin Nona meminta pulang dari rumah sakit karena merasa sudah sehat. Bahkan Nona melakukan hal-hal ekstrim un---“
“Iya, iya, aku masuk. Puas?!” kesalku. Melangkah dengan kaki menghentak, Bara benar-benar menyebalkan. Bagaimana bisa dia tahu semua hak yang aku perbuat di rumah sakit, aku saja malu mengingatnya.
Berhenti sebentar, aku terpaku melihat dekorasi yang super mewah ini. Orang-orang yang berlalu lewat kompak memakai setelan jas dan pakaian mahal. Memperhatikan diri sendiri, apa aku pantas masuk ke sana?
Nona Melody, silakan masuk. Tuan Darma sudah menunggu,” seorang wanita cantik mendatangiku dengan gaun yang tak kalah mewah.
“Tap---“
“Ayo, Nona tidak perlu malu.” Tanpa persetujuanku dia menarik tanganku masuk ke dalam sebuah ruangan.
Di atas panggung Aula kantor yang sangat besar ini, aku dapat melihat Kakek tengah berdiri di atasnya. Memberikan sepatah dua patah kata untuk para tamu undangan.
“Baiklah, malam ini saya akan memperkenalkan cucu kesayangan saya. Melody Karisma!”
Suara gemuruh tepuk tangan membuatku gugup, tatapanku hanya tertuju pada Kakek. Aku tidak sanggup menatap ke arah para tamu, entah apa yang ada dalam pikiran mereka setelah melihat penampilanku.
Tak terasa langkahku yang di giring wanita bergaun mewah telah sampai di atas panggung. Kakek dengan begitu bahagia merangkul bahuku, membawaku berdiri bersamanya di hadapan semua tamu undangan.
“Selain untuk menyambut kembalinya cucu saya yang telah lama hilang. Di sini saya juga akan memberitahukan satu lagi kabar besar untuk kalian semua. Melody juga akan mewarisi seluruh harta milik keluarga Karisma dan dia yang akan menggantikan saya menjadi pimpinan utama perusahaan ini.”
Aku terkejut mendengarnya, apa aku menjadi pewaris tunggal keluarga ini? Lalu Papa? Seketika aku mengedarkan tatapan untuk mencari sosok papa yang tidak pernah menganggap aku ada di dunia ini. Dia ada di sana, menatap penuh amarah padaku dengan rahang mengeras.
Papa ... jangan marah ... aku tidak tahu apa-apa.
****
Wih dapat warisan dari seorang kakek keluarga Karisma tapi sayangnya seorang papa terlihat marah....apa yang akan terjadi??? Ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!
__ADS_1