
Kini aku terduduk memandang dengan nanar makam yang bertuliskan namaku itu, perasaanku campur aduk antara sedih, tidak percaya dan kecewa. Karena kata Bu Mirna selain tetangga dekat dan anak-anak panti, tidak ada lagi yang ikut serta dalam prosesi pemakamanku. Padahal aku masih punya keluarga, tapi sepertinya mereka memang sudah menganggapku mati dulu.
Andin semoga kamu tenang di alam sana, maaf aku baru bisa menemuimu hari ini dan aku meminta izin untuk meminjam wajahmu sebentar saja. Aku akan membuat suamimu merasakan sakitnya kehilanganmu dan satu lagi, pasti dalang yang membuatmu meninggal adalah orang yang sama dengan yang mencelakanku sebelum insiden koma itu.
kupegang nisan itu sekali lagi sebelum beranjak dari sana, di sebelahku Bu Mirna juga meneteskan air mata. Dalam hati aku berbisik, terima kasih Bu Mirna atas ketulusanmu, kasih sayangmu yang tidak pernah pudar.
"Bu Mirna, saya permisi dulu. Assalamualaikum!" pamitku, kemudian aku berbalik pergi.
***
Aku tak langsung pulang, langkah kakiku menggiringku ke sebuah tempat makan yang dulu sering kukunjungi saat baru dapat gaji. Warteg sederhana namun cita rasa makanan yang berbeda dari tempat makan lainnya dan aku menyukainya.
"Warteg Bang Udin"
Perutku langsung keroncongan saat memasuki pintu warteg ini, tanpa berlama-lama aku pun memesan makanan yang belum pernah kupesan selama makan di warteg ini. Maklum dulu aku tidak punya uang banyak dan statusku sebagai anak kosan membuatku harus irit dalam pengeluaran dan disaat seperti itu rumus akuntansi sangat dibutuhkan untuk memanagemen keuanganku.
Siang ini matahari terasa sangat menyengat, membuatku gerah. Mengedarkan pandangan, kulihat banyak orang yang tengah menatapku dengan aneh. Ah, aku baru teringat dengan pakaian yang tengah kukenakan. Satu persatu kulepas topi, kacamata dan masker yang tengah kukenakan. Begini pasti tidak akan menarik perhatian orang lagi, pikirku lega.
"Mbak, ini pesanannya!" seorang pelayan mengantarkanku makanan.
"Oh, iya makasih!" sahutku seraya tersenyum.
Setelah pelayan itu pergi tanpa basa basi aku langsung melahap makanan itu, mataku terpejam menikmati enaknya kepiting saus padang yang baru bisa kunikmati hari ini. Benar-benar mantul!
Ada lima makanan yang kupesan selain kepiting saus padang dan semuanya dapat kuhabiskan dalam waktu yang relatif singkat. Benar-benar pas dengan julukanku dulu, si perut karet.
Setelah menghabiskan es teh segelas besar aku hendak beranjak dari sana untuk membayar, namun niatku urung saat semua orang menatapku tidak percaya, ada yang membelalakan mata dengan mulut terbuka penuh makanan, bahkan ada yang mengarahkan kamera ke arahku.
Heran, itulah yang tengah kurasakan saat ini melihat reaksi mereka. Dari pada terjebak lama-lama dalam suasana aneh seperti ini, kuletakkan uang kertas berwarna merah itu ke atas meja. Kuraih barang-barangku yang masih tergeletak di meja, kemudian kupacu langkahku menuju pintu warteg, baru saja sampai di ambang pintu tiba-tiba seseorang memanggil nama Andin, membuatku menoleh.
"Mbak Andin?"
"Iya, siapa ya? Mbak kenal sama saya?"
Salah satu wanita di hadapanku itu mengangguk dengan senyuman antusias, "ya, jelas kenal lah! orang Mbak ini kan artis! Saya boleh tidak minta foto bareng?"
Aduh, aku baru inget kalau wajahku saat ini milik seorang artis. Pantas saja mereka bereaksi seperti itu. "Boleh, kok."
Wanita itu memberikan ponselnya pada temannya, lalu kami pun berfoto kemudian berganti dengan temannya. Tak lama kemudian orang-orang yang tadi masih kaget dengan kehadiranku berbondong-bondong meminta foto, dengan sabar aku melayani mereka satu persatu.
"Mbak, boleh tidak saya minta foto juga buat saya pajang di spanduk depan warteg saya?" Bang Udin-pemilik warteg ini mendekatiku.
Aku tersenyum seraya mengangguk,"tentu boleh."
Cekrekkk….
"Terima kasih, Mbak Andin." Ucap Bang Udin penuh kebahagiaan.
"Iya, sama-sama. Masakan Bang Udin mantul, loh! Saya suka, nanti kalo ada waktu lagi saya sempatkan untuk datang kesini lagi!"
"Syukur jika Mbak suka, nanti saat Mbak berkunjung kemari lagi saya akan memberikan layanan sebaik mungkin untuk Mbak!"
"Tidak perlu berlebihan, seperti biasa saja sudah cukup."
"Siap, Mbak!" Bang Udin mengangkat tangannya hormat.
"Ya sudah, saya permisi dulu ya, Bang."
"Hati-hati ya, Mbak Andin cantik!"
Aku keluar dari warteg itu dengan senyuman yang mengembang sempurna. Bahagia itu sederhana ya, melihat orang lain bahagia karena kita saja, aku sudah ikut bahagia.
***
Sesampainya aku dirumah, Edo meneger itu langsung menyambutku dengan heboh!
"Inceesss… you emang bener-bener is the best, wonderfull! Liat nih, you jadi tranding topik! Dan ini pertama kalinya you jadi tranding topik dengan berita bagus."
Edo menunjukkan I-pad yang menampilkan sebuah portal berita online dengan headline "ANDIN ARTIS CANTIK PENCINTA MAKANAN RAKYAT"
"Memangnya dulu aku selalu di beritakan buruk, ya?"
Edo mendekat ke arahku kemudian ikut duduk di sebelahku, "bukan gitu juga sih, tapi watak you yang dulu itu keras dan seperti tidak punya hati, jadi you punya banyak haters dan sering di gosipin buruk sama aku lambe-lambean itu!"
"Seburuk itukah aku yang dulu?" tanyaku dengan prihatin, sebenarnya Andin itu seperti apa? Apakah dia sangat jahat sehingga banyak orang yang membencinya?
Raut wajah Edo berubah serius, "you yang dulu tidak sejahat itu sebenarnya. Tapi yang eyke tau, setelah suami you ketahuan selingkuh, you berubah jadi ganas. Sering emosian dan suka lampiasin itu semua ke orang-orang sekitar you," jelas Edo panjang lebar.
Jadi ini semua gara-gara si pria buaya darat, Aldebaran itu?! Benar-benar kasihan sekali Andin, hidup dengan pria yang suka mempermainkan hati wanita. Tapi tenang saja ada aku yang akan membuat suamimu itu bertekuk lutut meminta maaf atas semua kelakuannya yang bejat itu! Aku melakukan ini semua bukan untukmu saja, Andin. Aku melakukan ini untuk membela wanita yang jadi korban perselingkuhan suaminya, karena aku sangat membenci sebuah perselingkuhan!
"Oh, begitu. Kalo aku mau berubah kalian percaya?"
"Wahhh… beneran? Apa eyke nggak salah dengar? You mau berubah, ke arah yang lebih baik, kan?"
"Iya, aku mau jadi lebih baik lagi. Dan aku juga sudah siap kembali bekerja," ujarku dengan penuh tekad. Aku akan menunjukkan pada mereka semua, bahwa aku bisa!
Edo bersorak gembira, "oke, besok kita akan buat konferensi pers tentang kembalinya you ke dunia ke artisan."
Saat Edo akan beranjak pergi, aku menahannya, "temani aku beli baju kalo begitu!"
"Ide bagus! You harus tampil menawan untuk konferensi pers besok! "
__ADS_1
***
Mataku mengedar keseluruh penjuru Mall yang kudatangi bersama Edo, luas sekali dan banyak sekali toko-toko dan juga restoran. Dulu waktu kecil aku pernah mendatangi tempat ini, tempat orang-orang kaya menghabiskan uang mereka.
"Incess… kita mau kemana dulu?" pertanyaan Edo membuatku menolehkan wajahku ke arahnya.
"Emm… kesana saja, sepertinya baju-bajunya bagus!" telunjukku mengarah pada sebuah toko pakaian bernama "Boutique Syantik"
"Yuk cap cuss…"
Kami pun melangkah ke arah sana, sebenarnya tujuanku membeli pakaian baru karena pakaian milikku dulu sudah di sumbangkan oleh Bu Fatma pengurus panti tempatku tinggal dulu. Sehingga mau tidak mau aku harus membeli baju kembali. Baju Andin yang ada di dalam lemari banyak sekali tapi saat aku mencobanya terasa risih dan aneh, kebanyakan baju milik Andin itu berupa dress pendek, ada juga dress panjang dengan belahan hingga paha bahkan ada yang paling membuatku bergidik ngeri melihat salah satu gaun yang sangat tipis bahkan transparan. Jadi aku memutuskan untuk membeli baju baru saja.
Di depan pintu toko kami di sambut baik oleh dua orang wanita pramuniaga berpakaian hitam putih dengan rambut di pony tinggi. "Selamat datang!" ucap keduanya.
Kubalas salam mereka dengan sebuah anggukan kepala, barulah aku melangkah masuk ke dalam. Baju-baju dengan berbagai model langsung memanjakan mataku, mungkin jika aku wanita pencinta shopping pastilah aku akan menyerbu segala macam baju yang ada di toko ini tapi aku bukanlah salah satu wanita dari golongan tersebut. Aku adalah wanita yang simple meskipun sering kali plinplan saat memilih sesuatu.
"Incess… ini cucok buat you! Liat cantikkan!"
Edo menghampiriku sambil membawa sebuah gaun berwarna pink brukat, dia menempelkan gaun itu ke tubuhku.
"Perfect!"
"Nggak Edo, aku nggak cocok pake ini! Aku mau cari yang simple aja!" ujarku sambil mendorong jauh gaun itu.
"Nggak cocok dari mana! Ini itu perfect! Cucok! Kalo you nggak percaya cobain aja dulu!"
"Tapi…"
"Sanaaaa!" belum selesai aku memprotes, Edo sudah terlebih dahulu mendorongku masuk ke dalam ruang ganti.
Terpaksa aku menuruti Edo untuk mencoba gaun itu, semoga saja tidak cocok batinku. Aku benar-benar tidak suka memakai gaun, selain ribet dan tidak seleluasa saat memakai celana, gaun seperti ini membuatku mengingat kejadian buruk di masa lalu itu. Kenapa aku hanya mengalami gegar otak, kenapa tidak amnesia sekalian agar aku tidak bisa lagi mengingat kejadian buruk itu.
"Yuhuuu… Incess… kenapa you lama sekali di dalam?"
Mendengar suara Edo aku langsung tersadar dari lamunanku dan bergegas keluar setelah gaun itu terpasang rapih di tubuhku.
"Oh my god! You look so pretty!" pekikan Edo membuatku langsung menutup telinga.
"Edo, jangan lebay, deh!"
"Ish! Siapa yang lebay! You emang cantik bingits! Liat ke kaca kalo you masih nggak percaya," Edo mengarahkanku menghadap ke arah cermin besar yang dapat memperlihatkan keseluruhan tubuhku dari atas kepala hingga ujung kaki.
Aku terpukau melihat pantulan diriku sendiri di cermin, ternyata cantik juga. Tapi ini karena wajah Andin yang cantik, coba saja wajah asliku yang ada si pantulan cermin itu pasti akan terlihat biasa saja.
"Hm? Gimana? Cantik, kan!"
"Cantik. Tapi aku nggak nyaman pake baju ini, ganti yang lain aja, ya?"
"Huh! Ya udah, deh…." Aku kembali masuk untuk menganti bajuku lagi.
Keluar dari kamar ganti, aku memilih berkeliling menjelajah deretan baju-baju. Langkahku mengarah ke deretan celana jeans, aku perlu stok banyak untuk sehari-hari. Setelah mendapatkan celana yang cocok, aku melanjutkan untuk menjelajah ke bagian jaket.
Puas berbelanja kami berlanjut makan, kafe green menjadi pilihan kami. Karena aku merasa bingung dengan nama makanan disini yang semuanya hampir memakai bahasa inggris, pesanan makanan kuserahkan pada Edo.
"A-ah! Edo, toilet ada di sebelah mana? Aku kebelet nih!"
"Incess, keluar dari sini belok ke kanan lurus terus pojok, nah di sana ada toilet!"
"Oke, aku kesana dulu!" dengan cepat aku melangkah sesuai arahan Edo.
***
Akhirnya lega juga, sebelum keluar dari toilet aku membenahi sedikit penampilanku. Keluar dari toilet, aku melangkah hendak kembali ke tempat Edo berada namun di tengah perjalanan aku tak sengaja menabrak seorang ibu paruh baya.
"Eh, maaf Bu. Saya nggak sengaja," sesalku seraya membantu Ibu itu mengambil beberapa buah paper bag-nya yang terjatuh.
"Tidak apa-apa, saya juga salah tidak memerhatikan jalan." Balas Ibu itu, "terima kasih telah membantu mengambilkan tas belanjaan saya!" lanjut Ibu paruh baya itu dan pandangan kami bertemu.
Aku langsung shock melihat Ibu paruh baya yang ada di hadapanku, tubuhku tersentak kebelakang tanpa kata lagi aku berbalik dan belari sejauh mungkin menjauh dari Ibu paruh baya itu.
Dia rasa sudah jauh, aku berhenti berlari. Air mataku mengucur deras membasahi pipi, tanganku terangkat meremas dada yang terasa sakit. Sakit sekali. Kenapa harus sesakit ini! Kenapa?!
Bukk! Bukk! Bukk!
Berulang kali kupukul dadaku yang masih saja terasa nyeri, "tidak boleh! Tidak boleh!"
Aku tidak ingin merasakan rasa sakit itu lagi. Sudah cukup bertahun-tahun aku memendam rasa sakit hati ini, sudah cukup! Sekarang aku tidak boleh merasakannya lagi, tidak boleh!
"Hiksss… hiksss… hiksss… Mamaaa…"
Bahkan disaat aku tengah merasakan rasa sakit ini, aku tetap menyebutkan dia. Dia si penyebab rasa sakit ini!
"Hiksss…!"
Flasback ON
Hari itu kami sekeluarga pindah ke kota Jakarta. Kami berempat duduk dalam satu mobil, aku duduk di depan bersama Papa sedangkan Mama duduk di belakang bersama Kakak.
Mataku terus menjelajah sekitar, rasa sedih bergelayut dipikiranku. Aku sudah nyaman tinggal di Jogja tapi tiba-tiba saja Eyang Kakung meminta Papa pindah ke kota untuk melanjutkan bisnisnya.
Selama perjalanan yang kulakukan hanya bengong menatap jalanan. Sesekali pandanganku mengarah ke arah belakang, melihat Mama yang sedang membelai lembut puncak kepala Kakak perempuanku. Ingin sekali saja aku merasakannya juga, tapi Mama tidak mau.
__ADS_1
Pertanyaan kenapa, kenapa dan kenapa selalu membayangi pikiranku. Kenapa Mama tidak mau memelukku seperti Mama memeluk Kakak? Kenapa saat makan Mama hanya mau menyuapi Kakak? Kenapa saat aku sakit Mama tidak mau merawatku? Kenapa hanya Kakak saja yang Mama perhatikan? Padahalkan aku juga butuh perhatian dari Mama.
Tapi aku terus berusaha berpikir positif. Ah, mungkin nanti Mama akan sayang padaku seperti Mama menyayangi Kakak. Hal itu terus kuyakini hingga hari itu tiba…
Untuk pertamakalinya Mama mengajakku jalan-jalan, sorot kebahagiaan tak dapat kusembunyikan dari kedua bola mataku. Tak hanya itu, Mama juga membelikanku sebuah gaun cantik berwarna pink, warna kesukaanku! Ternyata Mama sayang padaku, dia saja tahu warna kesukaanku.
Karena Mama hanya ingin jalan-jalan berdua saja denganku, Mama mengedarai mobil itu sendiri tanpa sopir. Di sepanjang perjalanan aku terus menyanyikan lagu kesukaanku, hatiku sangat bahagia. Setelah ini aku bisa bercerita tentang hal yang aku lalui di sekolah seperti teman-temanku, aku akan menceritakan semua hal pada Mama!
Yeay! Sekarang Mamaku sayang juga sama aku! Sorakku dalam hati.
Mobil berhenti di sebuah pasar malam, Mama mengajakku bermain semua wahana yang ada disana.
"Mama, Dy senang bisa jalan-jalan sama Mama! Dy sayang Mama!" aku menghambur memeluk perut Mama.
Mama membalas dengan menepuk-nepuk ringan punggungku. Pelukanku semakin erat, aku tidak ingin hari ini cepat berlalu. Bisa saja kan, besok Mama bersikap dingin lagi sama aku.
"Dy, udahan ya, meluknya. Sekarang kita beli arum manis, disana!"
"Arum manis itu apa, Ma? Mainan?" tanyaku yang benat-benar tak tahu nama itu.
"Bukan sayang, itu nama permen kapas."
Mataku berbinar," Dy, mau Ma! Ayo kita beli!" aku menarik tangan Mama dengan tak sabar.
Setelah lelah menjelajah pasar malam itu, Mama mengajakku pulang. Di perjalanan aku mengantuk dan memutuskan untuk tidur sebentar.
"Ma, kalo nanti udah sampe bangunin Dy, ya?" pintaku pada Mama.
Mama mengusap puncak kepalaku dengan sayang, "iya, nanti Mama bangunin."
Entah sudah berapa lama aku tertidur, tapi sepertinya sangat lama. Kukucek mataku agar pengelihatanku kembali jelas. Setelah mataku dapat melihat dengan jelas, aku mengedarkan pandangan kesekeliling. Tubuhku langsung tersentak saat mendapati ruangan ini bukanlah kamarku, melihat kesebelah. Aku tidak memukan Mama, dimana Mama?
"Mama! Mama! Mama dimana? Dy takut sendirian, Ma?"
Kubukan pintu kamar itu dan melihat ada banyak anak-anak disekelilingku, tempat apa ini?
"Ma! Mama!" teriakku memanggil Mama.
"Hei, Nak! Kamu sudah bangun toh, mari kesini!" pandanganku beralih pada seorang Ibu-Ibu yang memakai khimar yg panjang.
Aku mendekat ke arahnya, "Ibu siapa?"
Ibu berkhimar panjang itu meraih lenganku agar semakin mendekat padanya, "nama Ibu, Fatma. Ibu ini pengurus panti. Oh iya, nama kamu siapa?"
"Melody, Bu. Panggil aja Dy!"
"Oh nama kamu, Melody."
"Oh iya, Dy mau tanya. Ibu tahu Mama Dy, ada dimana? Soalnya Dy panggil Mama nggak jawab, jawab."
"Mama? Melody masih punya Mama?"
Aku mengangguk, "iya, Dy tadi malam di ajak jalan-jalan sama Mama. Tapi Dy sekarang bingung, karena Mama nggak ada di samping Dy, pas Dy bangun tadi. Ibu tahu dimana Mama Dy?"
Aku mendongak melihat ke arah Ibu panti itu lagi dan gelenganlah yang menjadi jawabannya.
"Ibu nggak tahu dimana Mama Melody, tadi malam Ibu nemuin Melody tergeletak di depan pintu panti ini."
Tangisku langsung runtuh, "hikss… terus Mama kemana? Hikss… kenapa Mama ninggalin Dy? Hikss… Mamaaa…! Dy mau pulang! Mamaaa… hiks…!"
"Cupp… Cupp… Cupp… Melody jangan nangis, kalo Melody mau pulang Ibu mau kok anterin Melody."
Mendengar perkataan Ibu panti itu, aku segera mengusap air mataku dengan cepat. "Beneran? Ibu mau antarin Dy pulang?"
Ibu panti itu mengangguk, "iya, tapi Ibu tidak tahu alamat rumah Melody?"
"Melody ingat kok, Bu! Ayo kita pergi sekarang!" dengan tak sabar aku menarik tangan ibu panti itu keluar dari panti.
Sesampainya aku dirumah, aku langsung mengucapkan terimakasih pada Ibu panti itu.
"Makasih ya, Bu. Udah anterin Dy pulang, dadah!" pamitku sambil melambaikan tangan lalu masuk ke pelataran rumahku.
Memasuki rumah aku mencari-cari Mama dan akhirnya aku menemukan Mama di taman belakang. Mulutku yang hendak memanggil Mama, tidak jadi saat kulihat Mama sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Jika aku menganggu Mama yang sedang menelepon pasti nanti Mama marah, karena itu aku memilih tetap diam. Lebih baik aku menunggu sampai Mama selesai menelepon.
Lama-lama aku dapat mendengar percakapan Mama dengan orang di telepon, aku semakin menajamkan pendengaranku saat Mama membahasku dalam obrolannya.
"Soal Melody udah beres. Gue udah nyingkirin dia dari hidup gue dan keluarga gue!"
"Apa tega? Kenapa juga gue harus nggak tega, dia kan bukan anak kandung gue!"
"Jahat lo bilang? Jahatan mana gue sama ibunya? Ibunya dia yang mulai duluan, coba aja si Dara itu nggak nerima perjodohannya sama Mas Sakti pasti nggak akan gini kejadiannya! Kalo dia nggak nikah sama Sakti kan gue nggak perlu jadi selingkuhannya bertahun-tahun. Untung aja Dara mati dan gue punya anak, coba kalo nggak mungkin Sakti nggak akan mau lawan ayahnya cuma buat nikahin gue!"
Aku membekap mulutku dengan sangat kuat, kubalikkan tubuhku lalu berlari sekencang mungkin. Aku tidak mau lagi tinggal disini! Semuanya jahat!
Flasback OFF
Sejak saat itu aku merubah segalanya termasuk menjadi seorang gadis tomboi dan tidak cengeng.
****
Apa yg akan terjadi ?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!
__ADS_1