Identitas Palsu

Identitas Palsu
Mimpi Psikopat - Part 13


__ADS_3

***


Malam ini aku sedang melancarkan aksi mengurung diri di kamar, agar Aldebaran yakin jika aku tidak main-main dengan kata-kataku tadi. Merenung di kamar, aku kembali mengingat kejadian pertemuanku dengan Mama. Meskipun Mama bukan ibu kandungku tapi dalam ingatanku hanya dia lah yang menjadi ibuku, karena Bunda meninggal di saat aku masih berumur 2 tahun. Rasa rindu menggebu-gebu di dadaku, mendobrak ingin bertemu dengannya tapi… mengingat Mama yang tidak menginginkan aku kembali lagi ke rumah itu, membuatku harus menahan rindu ini.


Mendongak melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, lebih baik aku bersiap untuk tidur. Kutata bantal serta guling yang sudah kupeluk dengan erat, aku tidak bisa tidur tanpa memeluk guling kebiasaan ini bermula sejak aku tinggal di panti. Hanya dengan memeluk guling aku merasa bahwa masih ada orang yang disisiku.


Prang!


Aku terlonjak bangun ketika mendengar suara pecahan kaca, bergegas bangun dari ranjang dan


"A-ah!" mendesah dengan kasar


Kakiku ngilu rasanya saat dengan tajamnya beling dari runtuhan kaca jendela itu terinjak olehku. Sebuah batu besar terlihat di antara reruntuhan kaca itu, pasti ini disengaja. Dengan hati-hati aku melihat ke arah bawah, mencari pelaku yang telah melemparkan batu tersebut. Itu dia, sosok seseorang dengan pakaian hitam bertudung sedang berdiri di tepi kolam renang. Tanpa menghiraukan kakiku yang sudah mengucurkan darah. segara, aku berusaha berlari untuk menangkap pelaku itu.


Sesampainya ditepi kolam renang, aku mengedarkan pandangan kesekeliling. Perasaan tadi aku melihat orang itu berdiri disini tapi kenapa sekarang sudah tidak ada? Kemana dia?


Pandanganku mulai memburam, kugelengkan kepalaku berharap pandanganku kembali membaik tapi tidak kunjung membaik. Kuhela langkahku mendekati kolam, sekali lagi aku berusaha mencari orang bertudung hitam itu. Mata jangan seperti ini.. aku membutuhkanmu untuk menangkap pelaku itu.


Aku mengucek mataku agar pandanganku jelas, dari pantulan air kolam ini aku melihat sosok bertudung hitam itu tengah berdiri tepat di belakangku. Ternyata dia bersembunyi dariku tadi, sebisa mungkin aku memperjelas penglihatanku.


Belum sempat aku melihat wajah orang itu dengan jelas, dia sudah terlebih dulu mendorongku ke dalam kolam.


Byuurr….


Satu kata yang aku dengan sebelum kesadaranku memghilang, "mati kamu, Andin!"


***


Hahhh… kenapa gelap sekali, kucoba menggerakkan tangan tak bisa juga. Tanganku terikat! Ada apa dengan semua ini? Mataku ditutup sebuah kain, tangan dan kakiku juga terikat.


"Tolonggg!!" untunglah bibirku tidak disumpal dengan kain.


"Lepaskan, tolong akuuu…!!!" teriakku semakin keras.


"Hahaha… percuma kamu berteriak. Sekencang apapun kamu berteriak tidak akan ada satu orang pun yang bisa membebaskan kamu dari sini!"


"Siapa kamu? Kenapa kamu menculikku? Apa maumu!!?"

__ADS_1


Orang itu kembali tertawa setan di dekatku, "siapa aku? Kamu tahu bahkan sangat tahu, kenapa aku menculikmu? Itu karena kamu menjadi penghalang dalam hidupku! Kamu penghalang masa depan indahku! Dan apa mauku? Aku mau kamu mati!"


"Siapa sih, sebenarnya kamu?"


"Tebak, kalau kamu bisa aku akan memberikan keringanan dengan menyisakan jasadmu jika aku sudah selesai membunuhmu."


Aku menggelengkan kepala, benar-benar orang ini adalah psikopat. Dia sepertinya sangat bernafsu untuk membunuhku, jika benar apa yang dikatakannya bila aku mengenalnya tapi siapa? Dan apa kesalahanku hingga dia sangat membenciku?


"Siapa pun kamu, yang jelas kamu pasti iblis!"


Srett…


"Aa-ah sakit…!"


"Hahaha… goresan itu cocok di wajahmu. Hahaha…."


Sebuah benda lancip mengoreskan luka memanjang di pipiku, orang ini ternyata sangat berbahaya. Sepertinya dia sangat terobsesi untuk membunuhku dengan cara psikopat, yang suka sekali menyiksa korbannya sebelum di bunuh.


"Aku bukan iblis! Aku manusia yang sangat cantik anggun dan seksi! Camkan baik-baik di otakmu itu, aku adalah wanita tercantik di negeri ini!"


Sepertinya aku punya rencana yang bagus untuk kabur dari sini, "boleh aku melihat wajahmu sebelum kamu membunuhku?"


"Katamu, kamu adalah wanita tercantik di negeri ini jadi aku penasaran dengan rupamu? Mau tidak? Kalo tidak setelah aku mati, kamu akan aku gentayangi terus-terusan hingga kamu menyusulku ke alam lain bersamaku!"


Srettt….


Dia kembali menyayatkan sebuah goresan panjang di pipiku, sebisa mungkin aku menahan sakit yang akan membuatnya semakin senang nantinya.


"Baiklah, aku akan memperlihatkan wajahku padamu. Itung-utung sebagai kenang-kenangan sebelum kamu mati."


Kain itu terlepas dari mataku, aku berusaha memperjelas penglihatanku lalu menoleh ke arah wanita yang telah menyulikku itu dannn….


***


"Andin bangun…! Jangan tinggalin aku… aku minta maaf, tolong sadarlah…."


Mataku terbuka mengerjam beberapa kali untuk memperjelas pandangan, kuraba keningku yang terasa pening kemudian berlanjut meraba wajahku mencari bekas luka yang di goreskan oleh wanita tadi. Hah?! Tidak ada? Kok bisa, padahal tadi aku merasakannya dengan sangat jelas.

__ADS_1


"Syukurlah, Andin akhirnya kamu bangun juga. Maafin aku, maaf telah menyakiti hatimu dan tolong jangan terluka lagi. Aku tidak sanggup melihat kamu terluka seperti ini."


Belum sepenuhnya sadar akan keadaan, tiba-tiba tubuhku sudah berada dalam pelukan seseorang. Mendongak, aku melihat Aldebaran yang sedang memelukku dengan sangat erat. Mengedarkan pandangan aku baru menyadari bahwa ada banyak orang disekitarku. Bukannya tadi aku terikat disebuah kursi dengan mata tertutup dan tangan serta kaki yang terikat lalu bagaimana bisa aku sudah berada disini? Apa tadi mimpi tapi kenapa kejadian itu seperti nyata? Ah… kepalaku pusing kembali saat berusaha mengingatnya.


"Kalian boleh pergi sekarang, biar saya saja yang merawatnya dan saya minta untuk memperketat keamanan rumah ini. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi! Kalian mengerti!?"


"Mengerti, Pak!" sahut para pelayan itu kompak.


Aku sekarang ingat dengan kejadian sebelum aku pingsan, orang bertudung hitam! Iya, dia yang telah menyebabkan aku seperti ini, aku harus menangkapnya! Dengan paksa aku melepaskan diri dari dekapan Adebaran, aku ingin menangkap orang itu dengan tanganku sendiri. Jangan harap dia bisa bebas setelah melukaiku seperti ini!


"Mau kemana kamu?" cegah Aldebaran dengan tangan yang sudah menghalangi langkahku turun dari ranjang.


"Aku ingin pergi mencari orang itu, jadi tolong jangan halangi aku!" sahutku seraya menyingkirkan tangan Aldebaran yang berusaha menghalangiku.


"Urusan itu biar anak buahku yang menanganinya, kamu tetap disini!" tanpa kuduga Aldebaran kembali menarik tanganku hingga aku menabrak dada bidangnya.


Ini tidak benar, aku harus pergi! Jika aku diam saja nanti malah kacau, aku kan baperan orangnya! Fokus Melody jangan tergoda dengan dada bidanganya, jangan!


"Oke, aku tidak akan kemana-mana. Jadi kamu tidak perlu memelukku seperti ini," ujarku seraya mendorong jauh lengannya yang masih membelit tubuhku dengan posesif.


"Tidak mau, biarkan seperti ini saja. Sekarang masih malam, jadi kamu lanjutkan tidur lagi."


Bagaimana aku bisa tidur jika seperti ini, huwaa….


"Sayang… tidur!" peringat Aldebaran lagi yang langsung membuatku memejamkan mata.


Eh… tunggu dulu! Tadi dia memanggilku dengan sebutan apa? Sayang? Kembali aku membuka mata dan seketika aku salting dengan melihat tatapannya yang super lembut itu.


"Tidur kesayanganku...."


Cup!


Sebuah kecupan di kening dia sematkan di keningku. Semoga saja ini bukan mimpi.


Setelahnya kegelapan kembali melandaku, meraupku ke dalam pulau kapuk dengan gulingku.


****

__ADS_1


Asek...apa benar Aldebaran bilang sayang??? tidak sedang mimpi Andin/Melody?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2