Identitas Palsu

Identitas Palsu
Cinta Pertama - Part 14


__ADS_3

Keberadaan Aldebaran sebelum Andin tenggelam


Aku termenung di rumah ruang kerja setelah pertengkaran yang baru saja terjadi antara aku dan Andin. Dia meminta cerai, harusnya saat ini aku bersorak gembira karena itulah yang selama ini aku inginkan tapi entah kenapa hatiku tiba-tiba berat untuk menyetujuinya. Padahal dulu aku sangat ingin bercerai dengan dia, sekarang aku malah galau saat dia meminta cerai.


Menyandarkan punggung ke kursi lalu memutar kursi kerjaku ke segala arah berharap kegelisahan ini segera hilang dari pikiranku. Kegiatanku memutar-mutarkan kursi terhenti tak kala melihat sebuah bingkai foto yang menapilkan dua sosok anak kecil, itu fotoku dengan gadis kecilku yang saat ini sudah tumbuh dewasa. Miche, dulu aku tidak tahu siapa nama panjangnya karena dia selalu menyebut namanya dengan dua huruf itu. Tapi sekarang aku sudah tahu namanya, Michella Karisma .


Pertemuan pertama kami itu waktu kami masih sama-sama tinggal di Yogyakarta, tepatnya saat aku dibuang oleh kedua orang tuaku ke tempat Nenek. Mengingat hal itu gejolak amarah selalu memenuhi hatiku, sebenarnya apa salahku hingga mereka membuangku? Aku selalu jadi anak baik, penurut, prestasiku juga bagus di sekolah tapi itu semua tidak pernah terlihat di mata orangtuaku. Segala kasih sayang mereka hanya tercurahkan untuk Kakak, semua hal yang aku lakukan menjadi tidak terlihat saat Kak Roy muncul.


Hingga akhirnya aku berubah menjadi anak yang nakal, suka membantah dan tak lagi mau belajar. Hasilnya apa? Mereka membuangku ke tempat Nenek, mereka juga mengatakan untuk tidak kembali lagi sebelum aku dapat berubah menjadi seperti Kak Roy yang maha sempurna. Saat aku menjadi baik mereka acuh dan ketika aku menjadi nakal mereka membuangku, lalu aku harus bagaimana? Apa-apa yang kulakukan semuanya salah di mata mereka.


Tinggal di tempat Nenek, aku merasakan kasih sayang dari beliau sangat besar padaku. Lama kelamaan aku nyaman tinggal disana sampai suatu ketika aku bertemu dengan dia, gadis kecil yang sangat cantik dengan baju pink-nya terlihat imut dan menggemaskan di tubuh mungilnya itu.


Saat itu aku melihat dia terjatuh di aspal jalanan besar, niat hati ingin menolong namun urung saat dia menolak. Katanya dia hanya ingin di obatin oleh Mamanya, aku masih ingat dengan ucapannya waktu itu.


"Kakak nggak usah nolongin Miche, biar Mama aja yang obatin luka Miche nanti di rumah." Dia sangat keras kepala tidak mau di obati olehku.


"Tapi kalo nggak di obatin nanti lukanya bisa infeksi, lebih baik Kakak aja yang obatin," paksaku seraya meraih kaki mungilnya hendakku obati.


"Jangan?! Miche maunya Mama yang obati, Miche mau di sayang Mama seperti Mama yang sayang sama Kakak."


Aku terhenti mendengarnya, apakah dia sama sepertiku yang tidak mendapatkan kasih sayang orangtua?


"Memangnya Mama kamu nggak sayang sama kamu?"


Gadis yang kutebak masih berusia lima tahunan itu menunduk, jarinya saling meremas di pangkuan. Perlahan dia ngangguk, "Mama sayangnya sama Kakak, mungkin aku nakal makanya Mama nggak sayang."


Persis, perkataannya sama seperti apa yang dulu aku pikirkan. Sejak saat itu kami mulai dekat, kami selalu bermain di taman. Kedekatan kami itu menimbulkan sebuah rasa dalam hatiku yang baru kutahu setelah dia pergi, bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Sedih rasanya saat dia mengatakan akan pindah ke Jakarta, rasanya baru saja aku merasakan bahagia bersamanya tapi kini kebahagiaan itu akan terenggut lagi dari hidupku.


"Kakak jangan sedih, nanti kita bisa ketemu lagi kok kalo jodoh. Sebelum Miche pergi kita buat kenang-kenangan, yuk!" ajaknya membawaku ke studio foto untuk foto bersama.


Sehari sebelum dia pergi, aku sempat memberikannya sebuah liontin berbentuk hati yang dalamnya bisa di beri sebuah foto.


Ucapannya waktu itu ternyata benar, kami kembali bertemu di sebuah pesta perusahaan besar. Awalnya aku tak mengenalinya tapi saat aku melihat liontin itu, aku langsung yakin bahwa dia adalah Miche. Gadis mungilku yang imut.


Aku pun memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya dan aku sangat bahagia saat dia menerima pernyataan cintaku. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama, tiba-tiba saja kedua orangtuaku memintaku untuk melanjutkan acara perjodohan yang telah di tinggalkan begitu saja oleh Kakakku. Aku kembali di pungut ke Jakarta oleh kedua orang tuaku setelah Kakakku kabur dari rumah karena tidak mau di jodohkan.


Aku di kambing hitamkan, mereka hanya mengingatku ketika Kakakku telah pergi namun saat Kakakku ada di sisi mereka, seolah aku ini hanyalah bayangan Kakakku saja. Awalnya aku menolak keras pemintaan mereka, aku tidak sudi mengabulkan permintaan dari mereka, orang-orang yang tidak pernah menganggapku ada.


Segala bujuk rayu mereka aku anggap sebagai angin lalu, hari itu aku tak lagi bisa menolak saat Nenekku sendiri yang mengutarakan hal itu. Mereka licik, menggunakan Nenek sebagai senjata untuk melumpuhkanku. Tentu aku tak bisa menolak jika Nenek yang memintaku dan akhirnya aku menerima perjodohan ini.


Kembali lagi ke masa sekarang, aku sering mendengar teman-teman Andin sering menggosipkan aku. Mereka bilang aku buaya daratlah, tukang selingkuhlah dan banyak lagi, mereka hanya menilai aku seperti itu karena pandangan mereka hanya berpijak pada satu arah, coba mereka melihat dari sisi lain. Apakah aku terlihat seperti buaya darat yang suka ganta-ganti pacar? Jelas-jelas gadis yang kusukai hanya Miche seorang.


***

__ADS_1


"Tuan! Tuan!" teriakan itu membuatku yang sudah bersiap tidur kembali bangkit.


Kubuka pintu kamarku dan Bi Rahma terengah-engah di depan pintu kamarku. "Ada apa, Bi?"


"Nyo-nyonya, tuan! Nyonya tenggelam di kolam!" ujar Bi Rahma terbata-bata.


Dengan cepat aku melangkah menuju kolam renang, tiba-tiba saja hatiku merasakan takut. Takut kehilangannya, aneh padahal dulu aku tidak pernah merasakan hal sepert ini pada dia.


Di pinggir kolam aku melihat tubuh Andin sudah terbujur kaku di tepi kolam renang, matanya tertutup dengan bibir pucat. Melihat itu aku segera melepaskan jaket yang tengah kukenakan lalu membalutkannya di tubuhnya. Tanpa berlama-lama aku mengangkatnya menuju kamarku.


Semua asisten kukerahkan untuk merawatnya, sementara aku ingin memeriksa penyebab Andin jatuh ke kolam. Tadi saat aku menggendongnya, aku melihat kakinya terluka, pasti ini bukan sekadar kecelakaan biasa.


Melangkah ke kamar Andin, kulihat banyak pecahan kaca yang tersebar. Tatapanku tertumbuk pada sebuah batu yang terbungkus selembar kertas, kuambil batu itu lalu kubukkan kertas yang menyelimutinya dan dugaanku benar jika kertas itu berisi teror.


Mengepalkan tangan kurogoh saku celanaku, meraih ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Tangkap orang yang sudah berani menganggu ketenangan istriku!"


Setelahnya aku kembali lagi ke kamarku dan mendapati para pelayan tengah panik, "ada apa?" tanyaku bingung.


"Itu Tuan, Nyonya Andin mengingau dalam tidurnya sepertinya Nyonya bermimpi buruk."


Aku langsung melangkah ke arah ranjang, benar Andin terlihat sangat gelisah dalam tidurnya bahkan dia sampai meneteskan air mata. Kepanikan melandaku saat tubuh Andin kejang-kejang, napasnya tidak beraturan.


"Andin bangun…! Jangan tinggalin aku… aku minta maaf, tolong sadarlah…."


Kubuat napas buatan ke Andin, bibir saling bertemu dan nikmat


Matanya mulai terbuka, napasku langsung kembali normal.


"Syukurlah, Andin akhirnya kamu bangun juga. Maafin aku, maaf telah menyakiti hatimu dan tolong jangan terluka lagi. Aku tidak sanggup melihat kamu terluka seperti ini."


Kualihkan pandangan ke arah para pelayan yang masih setia berdiri, "Kalian boleh pergi sekarang, biar saya saja yang merawatnya dan saya minta untuk memperketat keamanan rumah ini. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi! Kalian mengerti!?"


"Mengerti, Pak!" sahut mereka dengan kompak kemudian mereka pergi dari kamarku.


Tiba-tiba Andin bangkit hendak melangkah pergi, "mau kemana?" cegahku sambil kupegang pergelangan tangannya.


"Aku ingin pergi mencari orang itu, jadi tolong jangan halangi aku!" jawabku dengan berusaha melepaskan pegangan Aldebaran.


"Urusan itu biar anak buahku yang menanganinya, kamu tetap disini!" ucapku seraya menarik dia kembali ke kepelukanku.


Rasanya nyaman, memeluknya seperti ini. Wangi green tea yang menguar dari rambutnya sangat enak, membuatku betah berlama-lama menciuminya.

__ADS_1


"Oke, aku tidak akan kemana-mana. Jadi kamu tidak perlu memelukku seperti ini," dia berusaha melepaskan pelukanku namun aku tetap tidak bergeming.


"Tidak mau, biarkan seperti ini saja. Sekarang masih malam, jadi kamu lanjutkan tidur lagi."


Aku semakin mengeratkan pelukanku di tubuhnya, hangat dan terasa clop dalam pelukanku. Menunduk kulihat matanya masih terbuka.


"Sayang… tidur!" perintahku.


Dia ingin menolak namun urung saat aku memberikannya tatapan tajam, dia pun menurut. Lucu melihat dia yang biasanya melawan tiba-tiba berubah menjadi penurut.


Cup!


Kukecup keningnya karena gemas, tak lama kemudian dia tertidur lelap dengan halus. Sungguh gemas aku melihat dia yang bisa tidur secepat ini, apakah dia tidak merasakan kalau jantungku sedang lari marathon. Tapi tidak apa-apa itu bagus jika begini aku dapat memandanginya dengan leluasa.


Kubaringkan tubuhnya di kasur lalu aku pun ikut berbaring di sampingnya dengan berbantal tangan, menatap wajah dari jarak dekat. Tanpa sadar tanganku tergerak menyusuri wajah mungilnya yang baru kusadari ternyata dia imut, sekali lagi kukecup keningnya sebelum aku ikut tidur seraya memeluk tubuhnya.


***


Suara deringan ponsel membuatku terbangun dari tidur, mencari-cari aku menemukan ponsel ber case pink dengan merk apel kegigit itu tengah bergetar. Karena berisik aku langsung meraihnya untuk mematikan suara yang aku kira sebuah alarm, dugaanku salah ternyata itu bukan alarm melainkan sebuah panggilan dari Nino.


Nino? Pria menyebalkan yang berani mengajak istrinya jalan kemarin. Dengan kesal ia mematikan ponsel milik Andin lalu menyimpannya di laci paling bawah.


"Emmhh…"


Suara dengkuran itu membuatku mengalihkan pandangan, Andin terbangun. Menormalkan kembali wajahku yg jengkel tiu, aku menoleh ke arahnya.


"Kok tadi kayak ada suara, ya?" tanyanya seraya mencari-cari sumber suara.


Aku panik, "oh itu… bunyi hapeku. Iya hapeku!" jawabanku berbohong.


Andin mengangguk, syukurlah dia percaya dengan ucapanku. Jika tadi aku kepergok saat menyembunyikan ponselnya, pasti aku akan sangat malu. Tapi untungnya dia percaya-percaya saja dengan apa yang aku ucapkan.


Mataku terpana menatap dengan seksama cara dia mengikat rambutnya, sangat lihat dan cantik meskipun baru bangun tidur. Suara seraknya juga terdengar merdu, berbeda dari sebelumnya yang terlihat biasa saja. Penampilannya yang boys juga membuatku terpanah padanya, dia… terlihat sangat amazing dimataku. Seperti saat ini segala gerak-geriknya tak pernah lepas dari pandanganku.


"Mas, kenapa bengong? Nggak ke kantor?" ucapnya yang langsung membuyarkan lamunanku.


"Eh? Iya, ini juga aku baru mau mandi." Aku ikut beranjak lalu bergegas menuju kamar mandi, namun sebelum masuk tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Nanti kamu bawain makan siang nggak ke kantor?"


Kulihat Andin sedikit mengernyitkan dahinya, sedetik kemudian menggeleng. "Kayaknya nggak bisa, aku harus syuting."


Seketika wajahku cemberut, rasa bahagia itu hilang. Percuma aku menyembunyikan ponselnya jika nanti mereka akan bertemu.


****

__ADS_1


Apakah Aldebaran sudah mulai cinta?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2