
Cahaya lampu blitz dari kamera yang menyilaukan mata itu menyambut kedatanganku di sebuah ruangan, seluruh penjuru mata tertuju padaku. Para wartawan yang haus akan berita seketika mengepungku dengan menodongkan mic, kamera serta alat perekam ke arahku.
"Apa benar setelah anda bangun dari koma, anda mengalami gegar otak?"
"Bisa ceritakan kronologis tentang kecelakaan yang menimpa anda?"
"Bagaimana perasaan anda setelah bangun dari koma?"
"Apakah kecelakaan yang menimpa anda ini adalah ulah salah satu haters anda?"
Lontaran pertanyaan dari mereka membuatku pusing, untung saja ada bodyguard yang menjaga disekelilingku jika tidak. Aku pasti sudah jadi bahan rebutan oleh mereka.
"Hei! Hei! Tenang, nanti kita akan buka sesi wawancara setelah Incess klarifikasi tentang masalah kecelakaan yang menimpanya." Edo mengangkat tangannya untuk menghalau para wartawan yang masih ngotot mendekatiku.
Setelahnya Edo menggiringku menuju sebuah kursi dan meja yang terdapat di tengah-tengah ruangan dengan mic berjejer di depannya. Tak hanya itu para wartawan sudah stand by berjejer di hadapan meja itu.
Menghela napas kasar, aku melangkah dengan tegas kesana. Mengklarifikasi semuanya setelahnya aku dapat kembali pulang. Di susul Edo yang ikut mendudukkan diri di sebelahku dan dibelakangnya ada Sari yang setia mendampingiku juga.
Seorang MC berdiri disampingku, nantinya ia yang akan menunjuk satu persatu para wartawan agar mereka tertib dalam mewawancaraiku.
"Selamat siang semuanya! Saya Andin karisma ingin mengklarifikasi tentang kecelakaan yang menipa saya kemarin dan menyebabkan saya koma."
Cekreekkk… cekkreekkk….
Wartawan itu langsung bereaksi memotretku dengan cepat, membuat fokusku sedikit tertanggu oleh mereka. Tanganku mengepal, aku harus bisa menyelesaikan ini semua agar aku bisa pulang secepatnya. Tarik napas… buang… tarik napas… buang…. huh! Aku pasti bisa!! Melody fighting!
"Kecelakaan yang menipa saya kemarin itu murni karena saya lalai dalam menyetir dan itu semua tidak ada sangkut pautnya dengan haters saya. Setelah kecelakaan itu saya mengalami koma selama lima bulan." Jelasku dengan lantang tanpa hambatan.
MC yang berada di sebelahku meraih mic lalu mendekatkannya ke arah mulut dan mulai berbicara, "silakan siapa dulu yang mau bertanya?"
Para wartawan itu sontak langsung mengangkat tangan mereka, kemudian si MC menunjuk salah satu dari mereka untuk memberikan pertanyaan terlebih dahulu.
"Ya, anda boleh mengajukan pertanyaan terlebih dahulu!" tunjuk MC pada seorang pria berseragam hitam merah khas salah satu stasiun televisi kenamaan negeri ini.
"Saya dari Galaksi TV mau mengajukan pertanyaan, benarkah setelah koma kemarin anda mengalami gegar otak ringan?"
Kepalaku mengangguk, "iya saat ini saya sedang mengalami gegar otak ringan. Hanya beberapa ingatan saja dalam memori saya yang terhapus, selebihnya saya mengingat semuanya." Jelasku panjang lebar, agar mereka tak menanyakan perihal gegar otak yang membuatku seperti sekarang ini lagi.
Kembali MC itu menunjuk wartawan lainnya.
"Saya dari Flora TV mau bertanya tentang kelanjutan karir anda, apakah anda akan kembali ke dunia hiburan ataukah anda memilih vakum? Karena sebeluk kecelakaan itu beredar berita yang mengatakan anda akan pensiun dari dunia hiburan ini?"
__ADS_1
Aku melirik ke arah Edo dan Sari, tidak tega rasanya jika aku memilih vakum. Karena ada mereka yang menggantungkan hidupnya pada karir Andin ini. "Saya akan kembali menghibur kalian semua, kebetulan saya sudah di kontrak oleh salah satu PH untuk membintangi sebuah film layar lebar."
Untung aku mempunyai daya ingat yang kuat terlepas dari gegar otak ringan yang ku alami ini, karena ingatanku bersifat jangka panjang atau hyperthymesia, yaitu kondisi dimana aku memiliki ingatan riwayat hidup atau dapat mengingat kejadian di masalalu dengan sangat baik. Namun terkadang aku tidak suka dengan ingatan hyperthymesia-ku ini karena biasanya orang yang memiliki ingatan semacam ini akan lebih banyak menyimpan kenangan buruk dari pada kenangan yang indah. Tapi kadang juga sangat membantu disaat seperti sekarang ini, aku dapat menghafal semua jawaban yang sudah di persiakan oleh Edo tadi.
***
Sampai di rumah aku melihat beberapa pelayan sedang sibuk mengantarkan makanan ke ruangan di bagian lorong utara, dengan cepat aku memanggil salah satu dari mereka.
"Sedang ada acara apa?" tanyaku pada salah satu pelayan yang lewat di depanku dengan membawa nampan berisi makanan.
"Nyonya?!" melihat pelayan ini kaget saat melihat ke datanganku, membuatku semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan.
"Kenapa kamu kaget begitu? Ada apa memangnya?"
Pelayan itu menunduk enggan melihatku, sepertinya dugaanku benar. Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan, "katakan saja, saya tidak akan memecatmu."
Setelah mengatakan itu barulah pelayan itu berani mendongak kembali, "be-begini… Nyonya… di-diatas, a-ada Nona Maudy."
Keningku berkerut seketika, "Michella? Siapa dia?"
"D-dia… se-selingkuhannya Tu-tuan Aldebaran, Nyonya!" jawab peyalan itu dengan takut, takut.
"Ta-tapi… Nyonya…"
"Tidak usah takut. Ada saya yang akan membela kamu jika Aldebaran berani memecatmu! Jadi tenang saja dan serahkan nampan itu padaku."
Dengan takut-takut pelayan itu menyerahkan nampan itu padaku, "sekarang kamu pergi ke belakang dan ambilkan saya semprotan nyamuk."
"U-untuk apa Nyonya?"
"Sudah ikuti saja, setelah itu kamu bawakan ke atas."
"B-baik, Nyonya!"
Pelayan itu sudah pergi, kini saatnya aku beraksi. Kuletakkan tas yang kukenakan di sofa ruang tengah, kemudian langkahku berlanjut menuju lorong ruangan bagian utara.
Dari arah belakang aku dapat melihat Aldebaran tengah duduk sambil merangkul mesra wanita itu, sesekali tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala wanita yang ada di sampingnya.
Cih! Menjijikan! Dasar pria buaya darat! Yang halal di anggurin sedangkan yang haram malah di pelukin! Lihat saja aku akan membalaskan dendam Andin yang belum kesampean karna dia udah keburu meninggal.
"Ehem!" dehemku saat sudah berada di dekat mereka. Kompak mereka menoleh ke arahku, senatural mungkin aku tersenyum cerah ke arah mereka.
__ADS_1
"Maaf jika kedatangan saya menganggu waktu kalian, saya kesini cuma mau mengantarkan makanan ini. Sebagai tuan rumah yang baik, sudah seharusnya saya menjamu tamu meskipun saya tidak mengundangnya!" aku menekankan kata terakhir dalam kalimatku, sengaja menyindir.
Kemudian kuletakkan piring dan minuman yang ada di nampan itu ke atas meja. "Ayo silakan dinikmati! Mumpung saya lagi baik. Kalo saya lagi kumat, biasanya makanan itu saya kasih bumbu tambahan boncabe, loh!"
Dari ekor mataku terlihat Si Michella itu meneguk ludahnya kasar. Senyum semrik tersungging dibibirku, "rasain tuh!"
Mataku melirik ke arah Aldebaran yang sedang menatapku tajam, "kenapa Mas? Mau marah? Harusnya aku loh yang marah sama kamu…." aku berjalan mendekatinya lalu mendudukkan diri di sampingnya, mengusap pelipisnya dengan gerakan lembut.
Sebisa mungkin aku tidak muntah, aku harus memulai akting ini dengan baik. Tukang selingkuh semacam Aldebaran ini harus segera di basmi, agar tidak semakin berkembang biak dan besar kepala karna dibiarkan selingkuh begitu saja.
"N-nyonya i-ini semprotannya," pelayan tadi memberikan sebuah botol pembasmi nyamuk padaku.
Kuambil botol itu,"oh iya, terima kasih. Sekarang kamu boleh pergi," peritahku lagi.
Bangkit berdiri aku mulai menyemprotkan pembasmi nyamuk itu ke arah wanita bernama michella itu.
"Uhukkk… uhukkk…" Wanita itu terbatuk dengan hebat akibat semprotan dariku.
"Andin! Apa-apaan kamu?!" Aldebaran bangkit dengan emosi dia langsung mencekal pergelangan tanganku.
"Aku sedang membasmi HAMA! Jadi tolong lepaskan tanganku!"
Bukannya melepaskan, Aldebaran malah semakin mengencangkan genggamannya. "Siapa yang kamu maksud Hama?!!" tanyanya marah.
"Ya jelas dia! Dia itu pelakor! Virus perusak rumah tangga yang harus di basmi!" tunjukku marah pada wanita bernama Michella itu, entah kenapa wajahnya mengingatkanku pada wajah Mama. Wanita yang sangat kubenci itu!
"Dia bukan pelakor! Disini yang jadi orang ketiga itu kamu!" dengan kasar menghepaskan tanganku hingga aku terlempar jatuh ke lantai.
"Apa maksud, Mas? Kenapa Mas malah menganggap aku pelakor? Padahal jelas-jelas dia yang menjadi selingkuhan Mas?!!" teriakku dengan lantang, entah kenapa emosiku tersulut. Apa tanpa sadar aku terlalu menjiwai peranku sebagai Andin palsu? Tidak boleh! Itu tidak boleh terjadi?!
"Saya menikahi kamu itu bukan atas dasar cinta, saya menikahi kamu hanya karena permintaan dari nenek saya! Jadi, jangan pernah lagi kamu mencampuri kehidupan saya! Ngerti!"
"Ayo, sayang, kita pergi dari sini!" lanjut Aldebaran merangkul wanita selingkuhan itu pergi dari sini.
Aku hanya bisa melihat kepergian mereka dengan nanar, tanpa kusadari airmataku menetes bersamaan dengan menghilangkannya mereka dari pandanganku.
Saat ini perasaanku campur aduk, pikiranku terganggu dengan kalimat Aldebaran barusan. Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sedih mendengar Aldebaran berkata sekasar itu? Terlebih lagi hatiku terasa sangat nyeri, kenapa aku bisa begini?
****
Apa yang akan dilakukan Andin/Melody ini untuk mendapatkan Aldebaran? atau sebaliknya? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!
__ADS_1