
Hari kedua, kami mengunjungi GWK ( Garuda Wisnu Kencana) salah satu taman wisata budaya yang sangat terkenal di daerah Bali Selatan. Terlebih saat ini patung raksasa Garuda Wisnu Kencana sudah selesai di bangun.
“Sayang, ayo kita berfoto di depan patungnya!” ajak Aldebaran sambil menyeretku menuju patung raksasa itu.
Aku sedikit bingung karena Aldebaran juga ikutan eksis dan maniak selfie seperti Rini. Bahkan tak tanggung-tanggung dia memakai kamera DSRL yang terkenal sangat mahal itu. Aku mengikuti saja kemauannya, lagian tidak ada salahnya mengabadikan momen saat liburan.
Suasana GWK saat ini terbilang cukup ramai, banyak wisatawan asing yang juga asyik foto bersama teman-teman mereka.
“Sayang, aku beli minum dulu. Kamu mau nggak?”
Aku menoleh ke arah Aldebaran lalu mengangguk, terik matahari siang ini cukup membakar kulit serta tenggorokanku. “Boleh deh, aku mau minuman yang seger-seger.”
“Oke, kamu tunggu di sini ya. Aku beli minumannya dulu,” kata Aldebaran sambil mengusap-usap puncak kepalaku.
“Kak, Kak! Kakak artis yang terkenal itu ya?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.
“Siapa yang kamu maksud? Aku?”
“Kakak Andin kan, artis yang lagi naik daun itu?”
Aku mengangguk, “iya, kenapa ya?”
“Boleh nggak aku minta foto dan tanda tangannya?”
“Oh, boleh. Mau foto dulu apa tanda tangan dulu?”
“Foto dulu, baru nanti tanda tanganin buku saya.”
Lelaki muda itu mendekatiku sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah kami. Sedetik sebelum kamera itu memotret kami, dengan tiba-tiba lelaki itu merangkul bahuku mendekat ke arahnya. Aku yang kaget menoleh ke arahnya dengan membulatkan mata.
Setelahnya kejadian tak terduga membuatku terlonjak kaget, Aldebaran sudah melayangkan tinjunya pada lelaki itu. Bruntal sekali dia menghujani pukulan demi pukulan di rahang dan perut lelaki itu, aku yang berusaha memisahkanpun kewalahan karena tenaga Aldebaran yang terlampau kuat.
“Tolong!!! Berhenti!!! Kak Roy, Nino tolong pisahin mereka!” teriakku memanggil Nino dan Roy yang ada di ujung lainnya.
“Aldebaran! Cukup hentikan ... a-aku takut,” kataku. Mendekatinya dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang.
Aku mulai bernapas lega saat dia berbalik melihatku dan menghentikan pukulannya pada lelaki itu, dia berbalik memelukku. Namun, emosinya masih belum reda.
“Jangan pernah kamu coba-coba dekati istri saya! Karena saya nggak akan tinggal dia!” Aldebaran menunjuk-nunjuk wajah lelaki itu dengan murka.
Aku meraih sisi wajah Aldebaran lalu menghadapkannya padaku, “Mas ... dia itu Cuma fans aku. Dia minta foto sama aku, itu aja nggak lebih.”
“Tapi bisa kan, fotonya nggak usah pake peluk-pelukan segala! Emangnya dia nggak tahu kalo kamu udah punya suami?”
“Aku juga main film sama Nino, Mas juga mau mukulin dia kalo kami harus beradegan mesra demi suksesnya film itu?!” aku ikut geram.
__ADS_1
Dia diam, tidak bisa berkata-kata. “Ya udah, kamu jadi ibu rumah tangga aja. Lagian Mas kan pengusaha sukses jadi kamu nggak akan kekurangan apapun karena Mas bisa memenuhi semua keinginan kamu.”
Dia benar-benar?! Bukannya merasa bersalah malah menunjukkan kesombongannya. Memang susah menghilangkan sifat sombong yang sudah mendarah daging!
“Terserah kamu, aku nggak peduli! Sebagai permintaan maaf saya obati kamu, ya?” tanyaku pada lelaki yang tadi di pukuli Aldebaran.
Lelaki yang sedang di pegang oleh Kak Roy dan Nino itu, menggeleng.“Saya takut sama suami, Mbak,” jawab lelaki itu sambil meringis.
“Tidak usah di pikirkan, dia itu hanya orang yang kelewat sombong!” kataku dengan menekankan kata "sombong".
“Ayo, nggak usah merasa sungkan.”
Aku menarik lelaki tadi ke salah satu kursi di dekat sini, ngilu rasanya melihat wajahnya yang berubah menjadi babak belur seperti itu. Melirik sebentar ke arah Aldebaran, dia masih saja diam dengan mata yang menyorot
tajam ke arah kami. Padahal aku ingin liburan ini tenang tanpa masalah tapi dia malah memukuli orang sembarangan dan merusak segalanya.
***
Sore harinya kami melanjutkan perjalanan ke bukit. Perbukitan yang hijau di penuhi pepohonan tropis yang lengkap dengan persawahan dan juga lembah, memberikan tarik wisata tersendiri untuk bukit ini. Udaranya
yang masih sejuk membuat kami betah berlama-lama di sini.
Hanya aku yang benar-benar menikmati pemandangannya, sedang yang lain asyik berfoto. Langkahku semakin ku percepat ke depan saat melihat senja mulai memenuhi langit, sunset!
Mataku berbinar takjub melihat sunset dari tempat yang berbeda di pulau Bali ini. Sungguh indah, pemandangannya membuat mataku tak ingin terpejam barang sedetik pun. Dari atas sini, aku dapat melihat sunset yang begitu jelas.
“Lepasin aku!” sentakku kasar, sambil berusaha melepaskan pelukannya.
“Beneran mau di lepas?”
“Iya! Aku masih marah sama sikap kamu yang kelewatan tadi?!”
“Kalo aku lepas kamu jatuh loh? Kamu masih yakin minta di lepas?”
“Hah? Jatuh?”
“Iya, kalo aku lepasin kamu. Berarti kamu mau meluncur jatuh dari bukit ini?”
Aku melongok ke arah bawah dan tenggorokanku tercekat dengan cepat aku balik memeluk Aldebaran seerat mungkin, ternyata sebelah kakiku sudah tidak lagi memijak tanah perbukitan tapi melayang di batas bukit.
“Makanya hati-hati, sayangku!” Aldebaran menarikku kebelakang.
Napasku yang sempat tersendat kembali lancar, aku sudah bisa bernapas lega. Beberapa saat kemudian aku melepaskan diri dari dekapan hangat Aldebaran. Aku kan masih marah padanya.
“Kok, di lepas?”
__ADS_1
“Aku masih marah, ya! Karena kejadian tadi!” ujarku kemudian menghindar.
“Maaf,”
Kepalaku menghindar menoleh dengan cepat, “kamu bilang apa barusan? Aku kurang denger?”
“Maaf,” ucapnya lirih.
“Harusnya kamu minta maaf ke orang tadi! Bukannya ke aku, kan kamu mukulin dia!”
“Udah, kok. Aku kasih uang buat berobat dia.”
“Apa? Kamu minta maaf pakai uang?”
Dengan polosnya Aldebaran mengangguk. Mengangguk permirsa!
“Memangnya kamu kira dengan uang rasa sakit hatinya bisa hilang begitu aja? Kamu harus minta maaf lagi dengan cara yang benar dan mengaku menyesal telah berbuat seperti tadi.”
“Tapi---“
“Tapi apa? Oh ... kamu nggak mau? Iya?”
“Mau, mau. Besok aku akan menemuinya lagi,”
“Nah, bagus!”
“Kamu mau maafin aku juga nggak?”
Sebenarnya aku itu paling tidak bisa marah pada orang lebih dari sehari, “baiklah. Aku maafin kamu, asal ... kamu janji nggak akan ngulangi hal tadi lagi?”
Aku mengangkat jari kelingking, “Janji?”
Dengan ragu-ragu Aldebaran mengangkat tangannya, “Janji!”
Aku kembali menatap senja yang terlihat sangat indah.
“Indah kan?”
“Iya, kamu sangat indah!” sahut Aldebaran.
“Apanya yang indah?” tanyaku seraya menoleh cepat ke arahnya.
“Senja ... dan kamu!”
Blush! Pipiku langsung merah merona, Aldebaran benar-benar mengesalkan! Di dekatnya pipiku selalu terasa terbakar.
__ADS_1
****
Haha habis marahan udah romantis lagi hadeh....ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!