Identitas Palsu

Identitas Palsu
Pura-Pura Selingkuh - Part 12


__ADS_3

***


Malam ini aku tengah termenung dibalkon kamar, pikiranku melayang memikirkan siapa pelaku dibalik kecelakaan yang kualami. Kenapa aku harus mengalami gegar otak ini, membuat aku kesusahan mengingat tentang kecelakaan itu.


Tatapanku beralih menatap bulan purnama yang terlihat indah, kuhirup udara malam dalam-dalam. Rasanya sejuk dengan angin sepoy-sepoy menerbangkan anak rambutku yang tidak terikat. Kurentangkan tangan ke depan, menyapa angin malam yang tengah berhembus lembut.


Saat kurasa sudah cukup lama aku berdiam diri disini, akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan pintu yang di sertai suara panggilan dari seorang maid.


"Iya sebentar, Bi!" teriakku seraya bangkit dari ranjang.


Kubuka pintu kamar dan langsung terlihatlah Bi Rahma yang sedang berdiri di depan pintu, "Nyonya, makan malamnya sudah siap," beritahu Bi Rahma.


Aku mengangguk, "iya, sebentar lagi aku akan turun!" sahutku seraya beranjak untuk mengambil pakaian santaiku karena saat ini aku masih memakai pakaian yang tadi aku pakai shooting.


"Oh, kalau bagitu saya akan kembali dulu," pamit Bi Rahma.


Sesampainya aku diruang makan tak terlihat batang hidung Aldebaran, kemana dia?


"Nyonya mencari Tuan Aldebaran?"


Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba seorang pelayan sudah berdiri di belakangku, "eh, iya. Kamu tahu dia dimana?"


Pelayan itu menujuk ke arah luar, "Tuan ada disana, sepertinya beliau sedang menerima telepon dari seseorang."


"Makasih infonya, saya kesana dulu!" aku langsung melangkah ke arah luar, ingin mengetahui apa yang sedang Aldebaran bicarakan dalam telepon alias menguping.


Dengan mengendap-endap aku mendekati Aldebaran berdiri di belakangnya, benar dugaanku jika dia sedang berteleponan dengan pelakor itu.


"Iya, sayang… besok kita jalan-jalan, mau jalan kemana?"


"Mall? Oke, Mas akan belikan kamu apa pun yang kamu mau yang penting, kamu nggak marah lagi sama Mas."


Beeuuuhhhh… manis amat Pak, ngomongnya! Dasar buaya sama betinanya ngomongnya manis banget, giliran sama istrinya? Sadis bener, akting mulu kerjaannya lagi. Katanya buaya itu setia, tiap orang betawi nikah pasti ada kue buayanya lah ini, buaya kok playboy! Nyebelinnnnn!


Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya entah kenapa aku mulai risih jika melihat Aldebaran yang asik berselingkuh dengan si pelakor tak tahu diri itu. Ada baiknya aku harus mulai menyelidiki si pelakor itu supaya aku bisa segera memusnahkannya.


Aku segera bersembunyi di balik dinding saat melihat Aldebaran berbalik memasuki rumah, dengan cepat aku pun ikut melangkah ke arah meja makan.

__ADS_1


Formasi tempat duduk di meja makan masih sama aku di ujung kulon dan dia di ujung satunya lagi. Mataku menyipit saat melihat sebuah senyum tersungging di wajahnya, cih! Gegara pelakor doang senyum. Tiba-tiba sebuah ide melintas di otakku, kenapa aku baru kepikiran. Aku akan mengikuti permainannya, dia selingkuh dengan si pelakor itu, aku juga bisa pura-pura selingkuh dengan si artis papan atas itu.


Besok aku akan mengikuti kemana mereka pergi, kurogoh saku celana training-ku lalu kuambil sebuah ponsel bermerk apel itu. Dengan penuh senyuman jahat aku mulai mengetikkan sebuah chat untuk si artis ganteng itu.


***


Aku sudah siap dengan dress yang amat sangat terpaksa aku kenakan untuk kelancaran rencanaku ini. Sungguh ini namanya penyiksaan diri namun aku harus bertahan agar semuanya berjalan lancar jaya!


"Nyonya, di luar sudah ada temen Nyonya yang mau ngajak jalan Nyonya!" terdengar sebuah suara yang berasal dari luar kamarku.


"Oke, Bi. Bilangan sama dia, saya akan keluar sebentar lagi!" balasku yang langsung di iyakan oleh pelayan itu.


Aku mengenakan tas samping, setelah itu aku melangkah keluar dengan sebuah sepatu kets berwarna putih yang membalut kakiku. Iya, aku tak berani memakai heels. Sampai di bawah aku melihat Kak Nino yang sedang duduk, nama artis papan atas itu Nino Prasatya. Aku mengajak jalan dia dengan alasan ingin membangun kelihaian yang lebih natural agar akting mereka dapat memuaskan para penonton.


"Ayo, Kak!" ajakku padanya.


"Lo ngajak gue jalan kemana? Soalnya tadi malam lo belum ngasih tahu? Gue takut saltum nih!" Kak Nino menunjuk bajunya yang hanya menggunakan kemeja kotak-kotak dengan celana jeans hitam.


"Bukan acara resmi kok, Kak. Aku mau ngajak Kakak ke Mall, jadi baju itu cocok. Ayo kita berangkat!" ajakku lagi.


"Ya udah, pake mobil gue aja berangkatnya."


Tiga puluh menit kemudian kami sampai di Mall yang kemarin kudengar dari percakapan si buaya darat kurang ajar itu, kuedarkan pandangan tujuan si pelakor, itu kan tempat belanja. Mataku langsung tertuju pada sebuah toko baju yang keliahatan sangat mewah dan tentunya mahal.


"Kak! Kita kesana, yuk!" tunjukku pada sebuah toko baju bertuliskan "Fasionable"


Tanpa bantahan Kak Nino berjalan mengikutiku. Ibarat di sebuah film, setiap tokohnya pasti akan ketemu dan tara! Aku menemukan mereka, tukang selingkuh yang tak tahu malu. Aku kembali menghampiri Kak Nino yang masih berjalan di belakangnku, "Kak! Aku kan udah lama nggak pernah syuting nih, jadi aku takut Kelihaian kita nanti kurang dapet. Bisa nggak sekarang kita rekam adegan sebagai sepasang kekasih yang lagi belanja bareng, biar aku nggak kaget waktu lanjut syuting besok?"


"Boleh, terus kamu maunya gimana adegannya?"


Aku mendekatkan diri ke arah Kak Nino lalu membisikkan rencana yang sudah kususun seperti naskah drama, "gimana? Kakak setuju?"


"Wah, ide kamu keren! Boleh di coba," sahut Kak Nino.


"Oke, kita akan mulai adegannya pas masuk ke dalam sana ya, Kak?"


"Iya, Dek!" pipiku langsung bersemu merah saat Kak Nino mengacak-acak puncuk kepalaku dengan lembut. Hati Dedekkk… meleleh aaaa…

__ADS_1


Melangkah masuk ke dalam toko secara otomatis mulutku berkomat-kamit, kamera roll and action!


Saat aku masuk ke dalam toko, tanganku secara otomatis mengapit di lengan Kak Nino. Membalas senyuman dari Mbak pelayan toko, kami pun masuk ke dalam dengan bercakap-cakap mesra layaknya sepasang kekasih. Sorot mataku melirik ke arah Aldebaran yang tepat sekali menoleh ke arahku dan Kak Nino, raut wajahnya tak bisa ku tebak tapi kelihatannya mulai timbul reaksi-reaksi kimia dalam dadanya. Hahaha….


"Kak, kira-kira baju yang cocok sama aku yang mana?" tanyaku dengan tangan menggelayut manja di lengan Kak Nino.


Kak Nino menatap ke arahku, lalu di rangkumnya wajahku dengan kedua tangan besarnya. "Sayang… apapun baju yang kamu pilih, akan selalu cocok untuk kamu pakai. Kamu itu cantik, seperti peri."


Tanganku terangkat untuk meraih tangan Kak Nino lagi, "beneran? Kakak nggak bohongkan?" mataku melirik ke arah Aldebaran, tapi seketika aku bingung saat tak menemukannya di tempat tadi.


"Nggak, Kakak nggak bohong. Kamu itu cantik, tak hanya wajah tapi juga hati kamu."


Pandanganku kembali teralihkan ke arah Kak Nino, aku tersenyum kemudian memilih untuk memilah beberapa baju, rasa exited yang menggebu-gebu karena mengira Aldebaran melihat adegan tadi pun luntur saat aku tak menemukan keberadaannya di sana lagi. Namun aku tak bisa pergi begitu saja, apa yang sudah kumulai harus kuselesaikan juga.


Dengan langkah anggun aku memasuki salah satu kamar pas untuk ganti baju, saat aku akan menutup pintu tiba-tiba seseorang ikut menerobos masuk. Sontak hal itu membuatku kaget dan hendak mengeluarkan protesan tapi tidak jadi karena orang itu adalah Aldebaran. Aku kira dia sudah pergi dari toko ini tapi ternyata belum, syukurlah tidak sia-sia aktingku tadi berarti.


"Pulang sekarang juga!" aku kembali tersadar saat suara Aldebaran memasuki gendang telingaku.


Kudongakkan kepalaku, menantangnya. "Kenapa aku harus pulang?"


Aldebaran mengangkat tangannya lalu mengepalkannya dan memukulkannya ke dinding, terlihat emosi, aku yang memerhatikannya menjadi takut. "Pulang sekarang!"


"Aku akan pulang jika kamu juga pulang bersamaku! Gimana?"


Aldebaran mengeles, "aku nggak bisa!"


"Ternyata sesayang itu kamu sama si wanita itu, oke Mas. Kalo kamu lebih memilih dia, ceraikan aku!"


Aldebaran kembali menoleh ke arahku, "apa maksud kamu, bicara seperti itu?!"


"Kenapa? Kamu nggak suka? Marah? Harusnya aku yang merasa marah, kamu itu selalu selingkuh di depan mataku dan kamu seolah-olah lupa ingatan, jika kamu masih berstatus seorang suami! Kamu hanya memikirkan wanita itu! Raga kamu ada disampingku tapi hati kamu selalu mengarah padanya! Di pikiran kamu hanya dia! Dia! Dan dia!"


"Lebih baik kita cerai, aku masih bisa hidup tanpa belas kasihmu kok, Mas. Mas kira nggak sakit apa jadi istri tapi nggak di anggap, sakit Mas!"


Setelahnya kusingkirkan tubuhnya yang menghalangi pintu, kuhapus air mata dipipiku. Sadar Melody ini cuma akting! Jangan terbawa suasana. Andin… apa yang ingin kamu ungkapkan pada suamimu sudah aku sampaikan, semoga kamu tenang di alam sana….


****

__ADS_1


Wah makin seru nih....apa mereka bakal cerai?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2