Identitas Palsu

Identitas Palsu
Benci Punya Adik Tiri - Part 10


__ADS_3

***


Di meja makan keluarga Karisma yang di tempati oleh tiga orang anggota itu hening. Mereka menikmati sarapan itu dalam diam, memang hal itu adalah peraturan yang sudah di tetapkan oleh sang penguasa rumah ini, tuan Darma Daneswara K.


Meskipun sang penguasa rumah itu tengah strok namun peraturan itu masih berjalan. Suara dentingan sendok yang terhempas jatuh ke atas piring dengan cukup keras, membuat dua orang lainnya menatap ke arahnya.


"Pa, Michella mau bicara." Mulai seorang gadis yang duduk di kursi sebelah kiri.


"Bicara apa sayang?" sahut Darma Daneswara, ayah dari gadis bernama Michella itu.


Sedangkan diseberang meja, seorang wanita paruh baya menatap khawatir dengan apa yang akan putrinya utarakan.


Drrttt…. drrttt….


Suara deringan ponsel yang berada di atas meja, membuat sang kepala keluarga itu bangkit. "Sebentar, ada telpon. Papa mau angkat dulu, siapa tahu ini penting," Darma melangkah pergi untuk mengangkat telpon itu.


Melihat suaminya pergi, Herlina pun ikut bangkit lalu menarik tangan anaknya dari sana. Herlina tak menghiraukan protesan yang keluar dari mulut putrinya itu.


"Michella, apa yang ingin kamu bicarakan dengan ayahmu?"


"Aku ingin berbicara tentang warisan, kenapa? Mama ingin menghalangiku? Kali ini tidak bisa!" tegas Michella dengan tajam.


"Michella, harta itu belum sepenuhnya milik ayahmu. Harta itu masih sah milik kakek."


Michella tersenyum smirk, "Halah! Michella nggak akan ketipu sama bualan Mama! Sebenarnya bukan itu kan tujuan Mama, Mama hanya tidak ingin aku yang mewarisi harta kekayaan keluarga Karisma, karena Mama masih mengharapkan kembalinya Melody, iya kan, Ma?!" teriak Michella emosi.


"Asal Mama tahu, orang yang sudah mati nggak mungkin bisa hidup lagi! Melody udah mati, Ma! Mati!!!"


Wajah Herlina berubah drastis mendengar ucapan dari anak kandungnya itu, bahunya menjadi lemah. "Tidak mungkin! Melody…."


"Kamu pasti salah orang! I-itu pasti bu-bukan Melody, itu pasti orang lain!" sangkal Herlina dengan menggelengkan kepala, air mata sudah membanjiri wajah cantiknya.


"Hahaha… salah, Mama bilang? Bagaimana bisa salah, jika aku sendiri yang membunuhnya! Ak-"


Plakk!


Herlina mendaratkan tangannya dengan keras ke pipi anaknya, "kamu iblis! Dia itu adik kamu, Michella! Dia adik kamu…." tangis Herlina semakin pilu, tubuhnya meluruh jatuh.


"Hahaha…. bukannya Mama udah tahu dari dulu, itu juga kan alasan Mama membuang Melody agar aku tidak bisa menyakitinya! Tapi lihat, takdir sudah menggariskan bahwa Melody akan mati di tanganku, sekuat apapun Mama menjauhkannya dariku. Aku tetap bisa menemukannya dan membunuhnya dengan tanganku sendiri! Hahaha…."


Herlina menggeleng, "kenapa kamu jahat sekali sama dia? Dia salah apa sama kamu? Padahal dia tak pernah menganggapmu musuh tapi kenapa dari dulu kamu selalu saja memusuhinya! Kenapa?!" bentak Herlina, perasaannya sudah tak karuan.


"Bukan aku yang jahat, tapi dia! Dia udah mengambil kasih sayang yang seharunya tercurahkan hanya untukku. Seperti sekarang ini, Mama menangisi kematiannya padahal dia bukan anak Mama! Yang anak Mama itu aku! Aku, Ma!"


Michella pergi meninggalkan ibunya dengan emosi yang meluap, ia benci adik tirinya itu. Benci sekali!


***


Herlina termenung di kamar bernuansa pink itu, kamar milik anak tirinya, Melody. Kesedihan tergambar jelas di matanya, tangannya memeluk erat sebuah boneka beruang berwarna pink kesukaan anaknya itu.


Ia sangat menyayangi Melody, meskipun dia hanyalah anak tirinya. Melody adalah gadis kecil yang manis, ceria dan sangat pintar, siapapun yang mengenalnya pasti akan mudah untuk menyayanginya begitupun dirinya. Ingatanya terlempar pada kenangan masalalu itu, dihari ia mengajak anak tirinya pergi ke pasar malam. Di sana ia melihat Melody sangat bahagia, senyuman lebar selalu membingkai wajahnya dengan indah.


Sebenarnya ia ingin menghabiskan banyak waktu lagi dengan Melody, meskipun ia hanyalah ibu tiri namun rasa sayangnya sama besarnya dengan Michella anaknya sendiri. Hari itu ia memberanikan diri mengajak Melody pergi jalan-jalan setelah memastikan bahwa Michella tidak mengetahuinya. Semua hal yang ingin Melody lakukan ia turuti hari itu, dari mulai menaiki wahana jet coaster sampai bianglala.


Tanpa diketahui oleh siapapun, setiap malam selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi kamar Melody. Untuk sekadar mengucapkan selamat tidur dan mengucapkan kata-kata sayang. Itu hanya bisa ia lalukan saat Melody terlelap, karena disaat itu juga Michella sudah tertidur. Dari kecil ia sangat mengenal betul sifat iri yang dimiliki Michella dan sifat itu lah yang menahannya untuk memberikan perhatian secara terang-terangan pada Melody.


Saat itu setelah pulang dari pasar malam, ia membawa pulang Melody ke rumah. Karena kelelahan ia tak sanggup menggedong Melody masuk ke dalam rumah, akhirnya ia putuskan untuk meminta bantuan pada salah satu satpam rumahnya untuk mengendong Melody. Sedangkan ia masuk terlebih dulu untuk membukakan pintu kamar Melody, namun langkahnya yang sudah hampir sampai pintu terhenti tak kala mendengar suara geraman dari pintu sebelah.


"Aku nggak suka punya adik! Aku benci Melody! Aku benci!"

__ADS_1


"Mampus kamu! Hahaha… mati kamu!"


Di dalam kamar ia melihat Michella tengah menusuk-nusuk boneka milik Melody dengan sebuah kater kecil di tangannya, tatapannya tajam disertai sebuah tawa Jahat yang menggema setelahnya. Tergesa ia kembali menuruni tangga untuk mencegah satpam itu membawa Melody masuk, ia harus menjauhkan Melody dari anaknya jika tidak nyawa Melody akan terancam.


"Melody… maafin Mama sayang… Maafin Mama…."


***


Melody sudah berdiri di depan gedung menjulang tinggi, gedung kantor milik Aldebaran. Melihat jam tangan di pergelangan tangannya, kepalanya mengangguk saat melihat jam makan siang akan tiba sebentar lagi. Dengan langkah yang di buat seanggun mungkin, ia masuk ke dalam gedung perkantoran itu.


Di lobby kantor, semua orang yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat. "Selamat pagi, Bu Andin!" serempak semuanya.


"Pagi," sahut Melody seraya tersenyum ramah pada semua karyawan itu, tanpa Melody sangka respon karyawan itu sangat heboh dan wajah mereka menampakkan sebuah kelegaan. Melody sedikit heran dengan tatapan para karyawan itu, kenapa respon mereka sangat heboh?


Tidak mau pusing dengan hal itu, ia memilih segera menuju ruangan Aldebaran. Menekan tombol lift ke lantai 30, ditangannya terdapat sebuh paper bag berisi bekal makanan yang sudah ia masak sendiri. Di depan ruangan Aldebaran ada satu set meja dan kursi untuk sekretaris-nya.


Rini yang melihat sahabatnya telah datang langsung menyambutnya heboh, "aaa…. akhirnya lo datang juga Nyonya Andin…!"


Rini memeluk Melody, yang di peluka hanya pasrah. Dalam benaknya Melody memikirkan, bagaiman jika mereka tahu bahwa Andin sudah meninggal dan mengetahui bahwa dia adalah Melody, apakah mereka masih akan bersikap seperti ini? Ataukah mereka akan langsung mengecapnya sebagai pembohong? Tukang tipu?


"Ndin? Napa lo bengong? Samperin itu laki lo!" tepukan Rini di bahunya membuat Melody tersadar kembali.


"Iya, doain gue berhasil!"


"Pasti! Good job!" Rini mengangkat jempolnya untuk menyemangati Melody.


"Oke!" sahut Melody sebelum menghilang di balik pintu ruangan CEO itu.


Melody melongokkan kepalanya ke dalam ngecek sedang apakah Aldebaran sekarang, melihat seorang pria tengah menyandarkan tubuhnya di kursi dengan kacamata yang masih bertengger di hidung mancungnya. Dirasa Aldebaran sedang tak sibuk Melody pun langsung masuk ke dalam.


"Selamat siang suamiku…." sapa Melody seraya mendekat ke arah meja kerja Aldebaran.


Aldebaran langsung membuka matanya saat sebuah suara menyapanya, ia menghela napas kasar melihat ke datangan istrinya.


"Aku bawain makan siang sekaligus mau makan bareng!" Melody menggangkat kotak bekal yang ada di tangan kanannya.


"Aku sudah ada janji. Jadi kamu bawa pulang saja lagi!" ketus Aldebaran.


Melody menggeleng,"nggak mau. Lagian kata Rini jadwalmu sedang kosong sampai jam tiga nanti.


Aldebaran menggeram, dasar sekretaris penghinanat! Sudah ia bilang berkali-kali untuk tidak membocorkam jadwal kegiatannya pada istrinya tapi tetap saja di bocorkan. Lama-lama ia pecat juga itu sekretaris satu! Maki Aldebaran dalam hati.


"Taruh saja makanannya di meja sana, nanti aku makan sendiri." Telunjuk Aldebaran mengarah pada satu set meja dan kursi yang terletak di pojok ruangan.


Tapi bukan Melody namanya jika menurut begitu saja, lihat bukannya mengikuti perintah Aldebaran dia malah berjalan lurus ke meja kerja Aldebaran.


"Sekarang aja Mas makannya, biar nanti Mas bisa lanjutin lagi kerjaannya. Kalo perut kenyang pikiran akan lancar, jadi harus utamakan makan dulu sebelum bekerja."


Aldebaran menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh. Sejak kapan istrinya ini suka membantah, selama ini Andin yang ia kenal selalu nurut dan tak sekeras kepala ini. Apa efek kecelakaan itu bisa membuat watak seseorang berubah? Kebiasaanya juga? Gaya pakaianya juga berubah..


Di perhatikannya penampilan istrinya kali ini, berbeda. Kaos biru dengan lengan panjang serta celana jins putih dan sepatu kets berwarna biru, rambut juga di ikat ekor kuda. Sangat berbeda meskipun selama ini ia jarang memerhatikan penampilan istrinya tapi ia sedikit tahu tentang selera istrinya yang suka memakai dress dan cenderung feminim, wajahnya juga selalu terpoles make up dengan sempurna sedangkan di hadapannya sekarang ini adalah wanita yang sangat cuek dengan penampilannya.


"Mas, ini makanannya!" Melody menyodorkan sebuah piring berisi nasi dan lauk pauk ke hadapan Aldebaran.


Aldebaran menoleh sekilas, "taruh situ nanti juga aku makan kalo laper."


Lagi-lagi Melody tidak menurut pada perintah Aldebaran, dia malah menarik sebuah kursi mendekat ke arah Aldebaran lalu duduk disana.


"Buka mulutmu, Mas!" sekarang gantian Melody yang memerintah.

__ADS_1


"Bua- mmmphhtt…" ucapan Aldebaran terpotong saat Melody memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Disuruh makan aja susah banget!" omel Melody seraya terus menyuapkan makanan ke dalam mulut Aldebaran, setelahnya ia menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri.


Aldebaran melotot namun tak nyangka dia menikmati suapan dari istrinya ini. Jujur dia merasa bosan memghadapi Andin yang dulu, selalu patuh dan tak pernah sekalipun melawan. Melihat Andin yang sekarang, sebuah senyuman yang sangat tipis terbit di bibirnya untuk istrinya itu.


"Habis makan baru kerja lagi!" oceh Melody setiap akan menyuapkan makanan ke mulut Aldebaran.


Siang itu mereka habiskan dengan berbagi makanan dalam satu piring. Aldebaran yang biasanya tak suka diatur itu, berubah menjadi penurut.


***


Melody Mendiamkan bibirnya saat tiba-tiba saja Aldebaran memerintahkan beberapa pelayan untuk merias dirinya, katanya ada rekan bisnis Aldebaran yang mengajak makan malam bersama istri masing-masing seraya membahas bisnis mereka.


"Huft…." Melody menghela napas lelah, sudah hampir sejam dia dirias dan sampai sekarang belum selesai juga. "Masih lama ya, Mbak selesainya?" tanya Melody yang sudah bosan dan pegal.


"Sebentar lagi," jawab pelayan itu yang selalu sama.


"Mbak, nggak usah menor-menor dandaninya. Saya nggak suka," protes Melody saat melihat pelayan yang sedang meriasnya mengambil sebuah lipstik berwarna merah darah.


"Tidak Nyonya, ini hanya dipakai sedikit saja nanti di obre dengan warna yang natural."


Setelah menghabiskan waktu satu jam, akhirnya selesai juga. Melody memilih turun menggunakan lift karena jika ia memaksakan turun dengan tangga dapat di pastikan pada langkah pertamanya ia akan langsung tergelicir. Sebab, ia memakai heels yang panjangnya 7 cm atas paksaan para pelayan yang sangat mematuhi perintah Aldebaran.


"Ish! Ribet banget sih!" maki Melody pada gaun malam yang tengah ia kenakan. Karena risih akhirnya Melody menyingsingkan gaun itu ke atas. "Nah… gini kan enak!" tukasnya senang.


Dari kejauhan Aldebaran melihat penampilan istrinya, cantik wajahnya terlihat semakin cantik dengan polesan make up yang menonjolkan kesan anggun pada istrinya di tambah gaun malam yang membalut tubuh itu dengan sempurna. Matanya tiba-tiba melotot saat melihat istrinya tengah menyingsingkan gaun itu. Dari atas kelihatan anggun dan berkelas tapi kebawah kenapa kelihat seperti preman hendak bertarung?


"Ayo Mas, berangkat!" tegur Melody yang melihat Aldebaran masih bengong di depan pintu.


"Kamu kebanjiran?" sindir Aldebaran sambil melirik ke arah gaun Melody.


"Kebanjiran?" bingung Melody yang tidak mengerti maksud ucapan Aldebaran.


"Itu gaunnya kenapa di angkat-angkat, kamu kebanjiran?" ulang Aldebaran.


"Oh… ini, risih! Gaunnya kepanjangan, ribet kalo jalan. Jadi di angkat aja biar enak geraknya."


"Turunin sekarang juga, nggak bagus nanti dilihat orang disana!"


"Ish, ya nuruninnya nanti aja! Sekarang kan masih di rumah! Ayo berangkat, biar cepet selesai trus nanti bisa pulang cepet juga!" Melody nyelonong pergi menuju mobil terlebih dahulu.


Aldebaran semakin tidak habis pikir dengan tingkah istrinya yang lain dari biasanya. Bar-bar dan semaunya sendiri.


Setelah menempuh waktu kurang lebih tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di restoran love, restoran milik rekan bisnis Aldebaran. Di depan pintu restoran mereka langsung di sambut oleh beberapa pelayang yang memakai seragam hijau dengan corak batik.


"Selamat datang Bapak dan Ibu, mari saya antarkan ke ruangan yang telah disiapkan."


Aldebaran menarik lengan Melody yang hendak berjalan mendahuluinya.


"Kenapa Mas?" tanya Melody sedikit kesal karena di tarik seenaknya saja.


"Kita jalannya bareng dan tanganmu, seharusnya disini!" Aldebaran mengalungkan tangan Melody melingkari lengannya. "Begini terasa lebih baik."


Degup jantung Melody berubah cepat melebihi dari biasanya, ada apa dengan dirinya?


"Kita harus berpura-pura harmonis dihadapan mereka." Lanjutan perkataan Aldebaran menyurutkan rasa debaran di dadaya dan menghilangkan bunga-bunga yang baru saja bertebaran dalam hatinya. Ternyata cuma akting!


Melody menepuk-nepuk dadanya, supaya tak mudah terserang virus baper!

__ADS_1


****


Gimana sih rasaya baper?? haha ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2