
Liburan! Setelah seminggu penuh mendenkam di Rumah Sakit akhirnya aku dapat kembali menghirup udara segar. Aaa … senangnya!
"Sayang, kenapa mereka juga ikut?" tunjuk Aldebaran mengarah pada tiga orang yang ada di depan kami, wajahnya terlihat tidak suka.
"Nggak papa, Mas. Mereka kan juga butuh refresing, ya nggak?"
"Iya, Pak Bos!" seru ketiganya kompak.
Aku ketawa melihat wajah Aldebaran tertekuk karena Rini, Mira dan Ayu juga ikut dalam liburan kami kali ini.
"Hai, Andin!" teriakan itu membuat kami serentak menoleh ke arah sumber suara.
Di sana ada Nino dan Managernya yang tengah berjalan ke arah kami, aku melambaikan tangan gembira padanya.
Namun tiba-tiba tanganku yang masih melambai itu di turunkan oleh Aldebaran lalu di genggam, "inget, udah punya suami. Jaga mata jaga hati! Nggak usah kegenitan sama cowok lain!"
Aku mendengkus, dari kemarin sikap Aldebaran itu terkesan posesif. Dia melarangku memakai ponsel, memantau semua kegiatanku setiap hari melalui Bi Rahma.
"Mas ini kenapa sih? Dari kemarin sensian mulu! Aku itu tipe cewek setia nggak kayak Mas yang suka selingkuh!" balasku, membuat Aldebaran langsung terdiam. Kapok! Melody di lawan ya, nggak bisa lah!
"Mas, udah tobat kok. Suer!" Aldebaran kembali menjawab dengan tangan mangacung membentuk huruf "V"
"Janji mudah terucap tapi prakteknya belum tentu semudah itu!" setelah mengatakannya, aku melenggang pergi meninggalkannya.
***
Aku sedang ketakutan, ini pertama kalinya setelah sekian lama aku kembali menaiki pesawat. Rasa takut jatuh dari ketinggian sedang melanda dalam pikiranku.
"Kamu kenapa?" pertanyaan itu membuatku sedikit membuka mata, melirik ke arah Aldebaran.
"Takut…," dengan tangan yang meremas lengannya kuat.
"Nggak usah takut, ada Mas di sini."
Aldebaran dengan lembut merengkuh bahuku lalu membawaku ke dalam pelukan hangatnya. Aku mendongak menatapnya lekat dari bawah, dia terlihat lebih manusiawi dari saat pertama kali aku bertemu dengannya.
Aku berharap perubahannya ini permanen bukan hanya sesaat saja dan aku berharap dia akan tetap sama meskipun nanti aku tidak ada di sisinya lagi. Aku sadar diri yang mulai dia cintai itu Andin bukan Melody.
Perbedaan antara aku dan Andin sangat mencolok, Andin itu cantik, lemah lembut, feminim sedangkan aku hanyalah cewek urakan, tidak pernah memedulikan penampilan apalagi wajahku yang sangat standar.
"Sayang, kok kamu bengong? Lagi ngelamunin apaan sih?" pertanyaan itu membuatku tersadar.
__ADS_1
"Mas, aku mau tanya,"
"Tanya apa?"
"Kalau nanti aku nggak ada di sisi kamu, apa kamu akan berubah seperti dulu?"
"Nggak boleh! Aku nggak akan biarin kamu pergi ke manapun! Kamu itu istriku, separuh jiwaku."
Aldebaran mengeratkan pelukannya di tubuhku, kepalanya dia rebahkan di atas pundakku. Tanpa terasa air mataku mengalir, jika dia seperti ini terus maka aku tidak akan sanggup berpisah dengannya. Tapi aku juga tak bisa selamanya bertahan dalam kepura-puraan ini, pada saatnya semuanya pasti akan terbongkar dan sebelum suatu hal buruk terjadi lebih baik aku mengaku terlebih dahulu.
Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya, satu persatu anggota keluarga Andin dan Aldebaran akan ku beritahukan tentang kebenaran ini.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 55 menit menggunakan pesawat akhirnya kami sampai bandara Ngurah Rai, Bali. Turun dari pesawat kami semua langsung di sambut oleh seorang Bapak-bapak yang memakai pakaian adat Bali, dengan udeng bercorak batik atau ikat kepala yang biasa di pakai orang Bali dan menggunakan kemeja putih serta bawahan kamen bermotik sama dengan udengnya.
"Selamat datang di Pulau Bali," sapa Bapak itu ramah, kulirik name tag yang tertulis di bagian dada sebelah kanan.
Mama, Papa, dan saudara-saudara Aldebaran sudah berkumpul di dekat kami dan aku juga mengajak Mama Andin beserta adiknya yang mulutnya sepedas cabe rawit itu untuk ikut liburan.
"Kak, boleh minjem hapenya, nggak?" tanya Elsa padaku seraya menyodorkan tangannya.
"Hapenya ada di Mas-mu, kalo mau minta sama dia aja. Lagian kamu sendiri kan punya hape kenapa minjem punya Kakak?"
"Ya elah, pelit amat. Hape gue itu lagi nge-hang jadi nggak bisa buat foto-foto," keluh Elsa.
"Elsa…"
"Mas Aldebaran!" Elsa langsung pergi begitu saja meninggalkanku setelah melihat Aldebaran yang tengah membawa koper milik kami berdua.
"Ndin, kita foto-foto berempat dulu, yuk!" ajak Mira menyeretku menuju spot terbaik yang menampilkan pemandangan bandara yang padat.
Seperti lain kali saja, aku berbicara berdua dengan Elsa.
***
Aku bernapas lega saat sampai di penginapan, Aldebaran memilih penginapan sederhana yang masih menonjolkan bangunan rumah khas Bali. Karena kecapean aku memilih merebahkan diri, melirik ke arah jendela yang langsung menampilkan pemandangan kolam renang yang sedang di padati oleh beberapa
orang termasuk ketiga sahabat Andin.
Aku memerhatikan saja dari sini, tak berniat sedikitpun untuk mendekat ke sana. Rasanya lebih enak rebahan seperti ini, mungkin nanti sore aku akan berjalan-jalan ke sekitar pantai untuk menyaksikan pemandangan
yang sering di buru oleh para turis asing yaitu pemandangan matahari terbenam di pantai.
__ADS_1
Jarak antara penginapan ini dengan pantai sekitar 30 menit perjalanan menggunakan mobil. Jadi masih banyak waktu untuk mengistirahatkan tubuh.
"Sayang, makan siang dulu yuk!" ajakan itu membuatku mengalihkan pandangan ke arah pintu yang menampilkan sosok Aldebaran dengan kaos pantai.
Aku mengangguk karena perutku sudah berbunyi, lalu bangkit dari acara rebahan kemudian mengikuti Aldebaran keluar kamar.
Di meja makan yang letaknya di dekat taman belakang membuat suasana terlihat semakin ramai. Semuanya berkumpul dalam satu meja, sejenak aku termenung. Apa aku akan bisa merasakan seperti ini lagi saat aku telah mendapatkan kembali identitas asliku? Kebersamaan ini hanya akan aku dapatkan
dalam kehidupan palsuku sedangkan dalam kehidupan asliku hanya ada kesunyian yang mengelilingiku.
"Sayang kenapa diam aja? Ayo kita makan," Aldebaran mengandeng tanganku lalu mempersilakan aku duduk di sampingnya.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya begitu lembut.
Aku menatap bingung ke arah makanan yang ada di hadapanku, begitu banyak ragamnya. Ada bebek bali, bubur mengguh, srombotan, nasi jinggo, lawar, sate plecing, sate lilit, tum ayam dan masih banyak lagi makanan khas bali.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Aldebaran tiba-tiba Roy datang dan langsung mendudukan diri di kursi yang ada di sampingku, kebetulan kursi itu masih kosong.
"Hei, cantik kita ketemu lagi!"
Aku mengangguk seraya tersenyum kecil menanggapi sapaan Roy, bagaimana pun juga dia kan Kakak Aldebaran yang harus kuhormati.
Aku sedikit kaget saat merasa ada seseorang yang memeluk pinggangku dengan sangat erat, menoleh ke arah kanan kulihat Aldebaran tengah mengetatkan rahangnya. Oke, aku tidak boleh terlalu dekat dengan Roy atau Aldebaran membuat masalah baru lagi.
"Mas, aku mau makan yang itu!" tunjukku pada mangkuk yang berisi sup. Sekaligus untuk mengalihkan perhatiannya.
Aldebaran dengan cepat mengambilkan makanan itu. Saat aku baru saja menyendokkan makanan itu ke dalam mulut, Aldebaran langsung mengambil alih sendok itu dari tanganku.
"Biar, Mas saja yang suapi kamu," sahutnya. Tapi anehnya tatapannya bukan mengarah padaku melainkan ke arah Kakaknya. Sepertinya mereka sedang beradu tatapan tajam.
"Mas, kalo mau suapin aku liatnya jangan ke mana-mana. Aku ada di sebelah Mas, loh!"
"Iya, sayang. Aaaa …."
Aku menerima suapan demi suapan yang Aldebaran berikan padaku, membayangkan sebentar lagi aku akan pergi membuat air mataku menetes dengan lancangnya.
"Ya ampun, sayang! Kamu kenapa nangis?" Aldebaran panik lalu merangkum wajahku dengan kedua tangannya.
Aku menggeleng, dengan perasaan kacau aku langsung menghambur ke dalam pelukannya. Tak kupedulikan cuitan dari teman-temanku atau tatapan penuh tanya yang lainnya, saat ini aku hanya ingin meluapkan perasaan yang tidak bisa kukatakan dengan kata-kata lewat pelukan.
****
__ADS_1
Apakah Andin/Melody akan memberitahu identitas Aslinya yg selama ini dia tutupin?? penasarankan sama kelanjutannya?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!