
Langkahku yang akan mengejutkan Andin dengan datang ke lokasi syutingnya sebagai bos baru di kantor agensinya, terhenti. Saat mataku menangkap kerumunan orang yang sedang menatap ke satu objek, sirine mobil ambulance dan mobil polisi saling bersahutan di lokasi tempat pengambilan adegan itu.
Awalnya kukira itu adalah bagian dari scene dalam film, namun semuanya berubah saat kulihat wajah-wajah mereka yang panik serta pucat. Bunga lily putih yang telah kupersiapkan untuk Andin jatuh seketika, saat mataku menangkap tubuh wanita itu yang sudah berlumuran darah.
Dengan cepat aku berlari ke mobil ambulance, di mana Andin baru saja di baringkan oleh beberapa orang tadi. Lalu kupeluk tubuh Andin ke dalam dekapanku, "Andin? Sayang? Bangun! Kamu kenapa seperti ini?"
"Pak, kita harus bawa Bu Andin secepatnya ke rumah sakit. Bisa Bapak biarkan kami membawanya, ini gawat!"
Aku mendongak dan mendapati dua orang petugas medis yang ingin menyeretku pergi, melihat itu aku langsung menepis tangan mereka dengan kasar.
"Saya ini suaminya! Jadi saya akan ikut menemani dia!"
"Maaf, Pak. Kami tidak tahu, ya sudah Bapak ikut masuk ke dalam karena kami akan segera menuju rumah sakit."
Aku melepaskan pelukanku dari tubuh Andin lalu masuk ke dalam kemudian mereka menutup pintu mobil ambulance, kembali tatapanku mengarah pada istriku yang tengah terbaring dengan wajah pucat.
Kuraih tangannya yang terasa sangat dingin seperti es, ku kecup tangan itu lembut. Tak terasa satu bulir bening menetes dari pelupuk mataku, aku tak sanggup melihatnya dalam keadaan seperti ini.
***
Sampai di rumah sakit aku langsung meminta dokter spesial untuk menanganinya, aku ingin Andin mendapatkan penanganan yang terbaik.
Lampu ruang operasi sudah menyala, aku duduk di kursi tunggu depan ruangan. Tanganku saling meremas di pangkuan, remasan itu berubah menjadi kepalan saat pikiranku melintas pelaku yang ada di balik ini semua.
Bangkit dari kursi, ku pacu langkah kakiku menuju ke luar dari rumah sakit. Tujuanku adalah menangkap dalang di balik kecelakaan ini. Akan aku pastikan pelaku itu membusuk di penjara!
Kembali ke TKP aku langsung memerintahkan semua kru yang ada di lokasi berkumpul. Masalah ini harus segera terpecahkan, tidak ada waktu lagi untuk menunda-nundanya lagi.
"Serahkan pada saya daftar semua kru yang bertugas menyiapkan alat keamanan untuk syuting kali ini. Cepat?!!"
Seorang pria bertubuh tambun dengan kepala botak maju, menyerahkan sebuah berkas padaku. Dengan cepat kuraih berkas itu lalu membukanya, meneliti satu persatu data orang yang tertera di sana.
Menutup berkas itu aku kembali menatap satu persatu orang-orang yang tengah menunduk ketakutan di hadapannku, "saya beri satu kesempatan pada kalian untuk mengaku. Sebelum saya bertindak tegas dan saat itu terjadi tidak akan ada ampun untuk kalian semua!"
Brak!
Ku gebrak meja yang ada di hadapanku, rasanya mereka memang sengaja menguji kesabaranku yang hampir habis.
__ADS_1
"Cepat mengaku atau saya pecat kalian semua!"
"Jangan Pak, kami tahu kami salah tapi ini murni kecelakaan. Tapi di antara kami tidak ada yang memiliki niatan untuk membunuh istri Bapak."
"Bisa buktikan jika kejadian yang menimpa istri saya murni kecelakaan? Kalo tidak bisa jangan asal bicara! Sekarang saya tanya, apa kalian memeriksa kembali alat keamanan yang akan di pasangkan pada istri saya sebelum pengambilan scene?"
Kembali mereka hanya diam, aku mengangkat sebelah sudut bibirku. Mereka pasti lupa memeriksanya lagi.
"Kenapa diam? Ucapan saya benarkan?"
"Maaf, Pak…"
Aku menatap orang yang baru saja berbicara, "apa maaf? Gampang sekali kamu mengucapkan kata maaf!"
"Nyawa istri saya hampir melayang gara-gara kelalaian kalian semua!!" lanjutku dengan emosi yang meluap-luap, mereka pikir dengan kata maaf semua bisa terselesaikan.
"Maafkan kelalaian kami, ini semua di luar prediksi kami. Saya mewakili semua kru yang bertugas memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Bapak dan Ibu Andin."
Aku melengos, malas mendengarkan pembelaan mereka. Setelah semua terjadi baru terucap kata maaf, sama seperti keluarga besar itu yang baru menyesal setelah semua perlakuan mereka padaku.
"Pak, kematian itu kuasa Tuhan, kita tidak ada yang bisa mencegahnya. Jadi kami mohon tolong berikan kesempatan pada kami," ucap Pak kepala botak itu lagi.
Aku yang semula duduk di atas meja bangkit mendekati mereka dengan tangan bersedekap di dada.
"Bisa saya pertimbangkan lagi permintaan kalian tapi dengan satu syarat,"
"Syarat apa, Pak?" tanya mereka antusias.
"Saya ingin dalam waktu dua puluh empat jam kalian dapat menangkap pelaku yang menyebabkan istri saya celaka, bagaimana sanggup?" tantangku.
Kulihat mereka saling menatap lalu berbisik-bisik, Bapak bertubuh tambun itu kembali maju.
"Kami sanggup, Pak!"
"Bagus. Jika kalian sudah menangkap pelakunya, kabari saya!"
"Siap, Pak!"
__ADS_1
Membalikkan badan, aku segera berlalu dari sana, aku akan kembali ke rumah sakit.
***
Sampai di rumah sakit aku langsung menuju ruang rawat yang di tempati oleh istriku itu. Operasi itu berjalan lancar tapi Andin belum sadarkan diri, kata dokter perlu beberapa jam lagi sampai Andin dapat sadar kembali. Ada sebab lain yang menyebakan Andin belum sadarkan diri, syok hebat yang melandanya ikut mempengaruhi kesadarannya.
Aku duduk di samping tempat dia berbaring, hanya ada kesunyian di ruangan ini. Tatapanku melihat wanita cantik yang tengah terbaring di atas dengan mata tertutup, dia terlihat berbeda dan aku tidak menyukai itu. Lebih baik dia mengoceh hal-hal yang tidak jelas dan menceramahiku tentang apa saja atau bersikap keras kepala dengan apa yang ingin dia lakukan tanpa mau mendengarkanku asalkan tidak seperti ini.
"Sayang … cepat sadar. Aku merindukan suaramu, canda tawamu, dan segala hal yang kamu lakukan."
"Sayang … aku berjanji jika kamu sadar nanti, tidak akan ada wanita lain selain kamu. Aku janji!"
Kepalaku mendongak saat kurasakan tangannya bergerak, perlahan bulu mata lentik itu bergerak. Raut bahagia tak bisa kututupi, "sayang? Kamu udah sadar?"
"Sshhh …." Ringisan keluar dari bibir mungilnya.
Kedua sudut bibirku mengembang, dia telah sadar.
"Dokter! Dokter! Istri saya sadar!" teriakku seraya memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat yang berada di samping.
Tak lama Dokter yang menangani istriku datang bersama seorang perawat, dia kembali memeriksa keseluruhan tubuh istriku. Melepaskan tetoskop yang berada di telinganya, dokter itu mengalihkan tatapannya ke arahku.
"Alhamdulillah, Pak. Istri Bapak telah sadar dan semuanya baik-baik saja. Tapi saya sarankan untuk tidak menanyakan hal-hal yang berat dulu padanya, karena cedera di kepalanya bisa menyebabkan dia merasakan pusing yang sangat hebat."
Aku mengangguk, "iya Dok. Saya tidak akan menanyakan hal-hal berat padanya."
"Baguslah. Kalau begitu saya permisi dulu!" Dokter itu melangkah di ikuti suster yang telah selesai memeriksa infus.
Setelah keduanya pergi, aku kembali mendekati Andin. "Sayang … akhirnya kamu sadar juga!" kurengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku.
"Lepasin aku buaya! Sesek nih!" keluhnya yang ku tanggapi dengan tawa renyah.
Beralih menangkup wajahnya, aku menatapnya dalam. "Jangan terluka lagi, rasanya aku mau mati saat melihat kamu bersimbah darah seperti tadi."
****
Apakah Andin Akan kehilangan Ingatan Lagi?? semoga tidak haha....penasarankan sama kelanjutannya?? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!
__ADS_1