Identitas Palsu

Identitas Palsu
Terungkap Misteri - Part 30


__ADS_3

Setelah melacak GPS dari handpone Michella, akhirnya aku menemukan tempat di mana Melody di culik. Tanpa menunggu lama aku dan Pak Darma menyusun rencana untuk membebaskannya. Aku akan membalas Michella jika terjadi apa-apa dengan Melody.


Melihat arloji yang terpasang di dinding, aku menghela nafas. Rumah terasa sepi, karena tidak ada Melody. Jika ada Melody, pasti rumah tidak akan sesepi ini, pasti ada saja hal yang selalu di buat gadis itu sehingga membuat suasana ramai. Seperti waktu itu …


Hari sebelum Melody diculik dan mengaku Identitas Aslinya


Bagiku hari libur atau weekend tetap sama saja, tidak ada hal yang istimewa. Karena aku tetap sama berkutat dengan tumpukan berkas-berkas yang bertumpukkan di meja kerjaku. Sebenarnya aku bukanlah orang yang mudah berpuas diri atau pun senang berleha-leha, meskipun aku sudah menjadi pengusaha sukses tapi aku harus tetap giat bekerja dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.


Kaca mata baca masih setia di hidungku, menemaniku memeriksa berkas-berkas ini. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, di hari minggu aku memberikan keringanan pada semua pekerja yang ada di rumahku untuk berkegiatan pada pukul delapan pagi. Jadi sekarang suasananya masih sepi.


Tatapanku yang semula mengarah jendela kaca yang menampakkan pemandangan taman belakang, di mana ruang kerjaku tepat berada di bagian utara taman itu. Kualihkan kembali fokusku pada berkas-berkas yang masih menumpuk di meja. Tak berselang lama suara-suara kegaduhan mulai mengusik indera pendengaranku.


Suara kegaduhan yang di iringi langkah kaki membuatku penasaran, siapa melakukannya? Beranjak dari duduk, aku melangkah mendekati jendela untuk mencari tahu. Di sana para pekerja rumahku bergotong royong membawa sebuah sound sistem besar, mereka juga berpakai olahraga dan di belakang ... ah, pasti dia yang mendalangi ini semua.


Dia ada di sana memakai pakaian olahraga lengkap dengan handuk kecil di lehernya dan sebuah headband berwarna hitam di kepala, rambutnya di ikat ekor kuda.


“Ayo, kita manfaatkan hari minggu yang cerah ini dengan berolahraga!” soraknya penuh semangat. Dia berdiri di depan para pekerja, mengomandoi mereka semua untuk berbaris dengan rapi dan tertib.


Aku masih setia memerhatikan setiap tingkahnya dari balik jendela ruang kerjaku. Sebenarnya aku juga heran, mengapa sekarang aku senang memerhatikannya secara diam-diam seperti pengagum rahasia saja. Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa dadaku berdebar tidak normal saat berada di dekatnya dan akupun mulai melakukan hal-hal aneh di luar kebiasaanku hanya karena dia.


Musik mulai di putar, Melody asyik menggerakkan tubuhnya sesuai dengan irama musik. Dia terlihat energik dan penuh semangat, gerakan tubuhnya juga sangat lentur seperti pelatih senam handal. Tiba-tiba aku tergelitik untuk memberikan sebuah kejutan.


Keluar dari ruangan kerja, aku mendekat ke arah mereka. Tanpa Melody sadari, aku sudah berdiri tepat di belakangnya dan benar dugaanku, para pekerja langsung terdiam. Serentak mereka menghentikan gerakan senamnya dan menunduk padaku.


“Satu, dua, tiga, empat, lima ....” Sedang Melody masih asyik menggerakan tubuhnya---sama sekali tidak menyadari kehadiranku. “Ekhm!” dehemku.


Dia masih asik dengan kegiatannya, sama sekali tak terganggu dengan dehemanku.


Aku semakin mendekat padanya lalu membisikan sesuatu ke telinganya, “siapa yang memberimu izin untuk mengadakan senam pagi di sini?”


Tepat setelah aku selesai membisikkan kata-kata itu dia menoleh, memperlihatkan cengiran yang akhir-akhir ini dia perlihatkan padaku. “Nggak ada. Aku Cuma berinisiatif sendiri, lagian senam itu menyehatkan. Lebih baik kamu ikut juga!”


Tanpa meminta persetujuanku, dia langsung memposisikan---berbaris bersama para pekerjaku yang lainnya.”Tidak mau, aku sibuk!” kataku seraya hendak pergi.


“Kerjanya jangan terlalu di beban, masa hari libur di pake buat kerja juga. Mendingan hari libur kayak gini itu di pake buat olahraga. Biar badan tetap bugar dan sehat!” dia kembali menarikku ke dalam barisan.

__ADS_1


Aku seperti terhipnotis saat itu dan mengikuti senam pagi yang sebelumnya belum pernah aku lakukan. Dan untuk pertama kalinya aku tidak berjarak dengan para pekerja di rumahku. Sungguh, dia adalah perempuan yang mampu membimbingku ke arah jalan yang lebih baik dan aku senang karenanya.


***


Michella mengundangku ke acara grand final kontes permodelan yang seharusnya di hadiri oleh Melody juga tapi karena kelicikkannya, Melody bahkan tidak bisa mengikuti babak terakhir.


Aku sudah menyiapkan kejutan yang sangat spesial dan spektakuler untuk dia dan aku yakin ini akan menjadi kejutan yang tak akan bisa dia lupakan seumur hidup.


“Hai, sayang! Ayo masuk, aku sudah siapin tempat spesial buat kamu.” Michella datang menghampiriku dengan gaun berwarna silver yang membalut tubuhnya dengan sempurna.


Aku hanya mengangguk lalu mengikuti kemana dia melangkah. Dia terlihat bahagia dan begitu senang memamerkan aku pada semua teman-temannya, karena selama ini aku tidak memperbolehkannya mengumumkan hubungan kami pada publik tapi saat kemarin aku memintanya kembali menjadi kekasihku dia memberikan syarat lagi bahwa dia tidak mau menjalani hubungan rahasia atau backstreet. Jadi aku mengiyakan saja agar rencanaku tidak tercium olehnya.


“Sayang, kamu duduk di sini, ya. Nanti kalau aku menang, aku bakalan panggil kamu untuk naik ke atas panggung.”


Aku mengangguk lagi dan duduk di kursi yang dia mau. Michella pergi ke belakang panggung setelah sosoknya menghilang, Pak Darma dan asisten pribadinya---Bara beserta kedua orang tua Michella datang. Mereka mendudukan diri di sebelahku, aku menyapa mereka hangat. Meskipun sebenarnya aku masih sangat sebal dengan pria yang merupakan ayah dari  Michella dan juga Melody. Ternyata bukan hanya aku yang memiliki kisah menyedihkan karena tidak di inginkan keluarganya tapi Melody juga, terlihat jelas dari sikap ayahnya yang telalu cuek menanggapiku saat itu.


Acara yang di tunggu-tunggu oleh semua orang kini sudah di mulai, aku berusaha menikamatinya dengan enjoy. Di atas panggung sang juri sedang menilai kedua kontestan untuk memperebutkan juara satu.


“Oke, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Kita telah sampai di puncak acara pada ajang pemilihan model untuk majalah yang akan kami luncurkan bulan ini. Di tangan saya, sudah ada amplop yang berisi satu nama peserta yang akan memenangkan kontes kali ini.”


Kedua peserta berhadapan dengan saling menggengam, mungkin jika ada Melody aku akan ikut tegang menanti hasil pengumumannya.


Semua orang bangkit berdiri sambil bertepuk tangan heboh, apalagi si pria itu. Dia terlihat bangga pada putri sulungnya tanpa tahu ataupun peduli pada putrinya yang lain. Di atas panggung, Michella sedang memberikan sepatah dua patah kata sebagai ucapan terima kasih.


“Saya bisa berdiri di atas panggung ini juga berkat seseorang terspesial dalam hidup saya, orang yang akan menjadi pendamping hidup saya nanti. Dan dia adalah Aldebaran Alfahri!”


Aku langsung maju menuju panggung, bukankah itu hal yang dia inginkan tadi? Dan aku akan membalasnya dengan sebuah hal yang juga tak kalah menakjubkan. Mengambil sebuket bunga yang sudah kupersiapkan, aku menaiki panggung lalu kuberikan bunga itu sebagai ucapan selamat atas kemenangannya.


“Selamat sayang, kamu memang hebat!” hebat dalam menipu semua orang, lanjutku dalam hati.


“Makasih, sayang!” balasnya seraya menghambur kepelukanku. Aku memberikan kode pada Bara untuk melaksanakan rencana yang telah kami rundingkan semalam.


“Oh, iya. Aku punya satu kejutan lagi buat kamu,”


“Oh, ya? Apa itu?” tanyanya masih dengan senyuman yang menggemang sempurna di wajahnya.

__ADS_1


Aku melihat ke arah layar besar yang berada tepat di belakang kami, “saksikan saja, di sana!” tunjukku pada layar LED itu.


Tak lama tampilan layar berubah menjadi rekaman sebuah suara.


“Culik Andin! Jangan biarkan dia lolos kali ini, karena dia sepertinya sudah mengetahui bahwa aku lah yang telah melenyapkan Melody.”


“Baik, Bos!”


“Siksa dia, kalau perlu perkosa! buat dia menderita!”


“Siap, soal siksa menyiksa kami jagonya!”


Kemudian sebuah gambar menyusul menampakkan semua bukti kejahatan dia, dari saat penculikan Melody yang pertama, mensabotase mobil Andin hingga dia tewas dan bukti penculikan yang dia lakukan saat ini.


Semua teriakan orang-orang mulai terdengar jejeritan, wajah-wajah syok tergambar jelas dari raut mereka. Menatap ke arah bapak songong itu, senyumku mengembang sempurna. Wajahnya pucat melihat kelakuan


bejat putrinya sedang wanita yang berada di sebelahnya sudah menangis sesegukan. Kasihan sekali dia memiliki putri yang sangat sadis seperti Michella.


Para wartawan dan media yang meliput serentak membidikkan kamera mereka, awak media sangat antusias meliput berita semacam ini.


Ekspresi Michella sudah tak karuan ingin marah tak bisa dan dia hanya terdiam dengan tangan yang mengepal. Aku mendekat padanya,”bagaimana? Surprisenya berhasil nggak, buat kamu terkejut?”


“Brengsek!” umpatnya padaku.


Aku tertawa puas melihat dia emosi. “Bye Bye, selamat mendekam di penjara. Itu adalah hadiah terbaik untuk penjahat sepertimu!” ujarku seraya berlalu pergi.


***


Sudah tiga hari Melody terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma, dia di temukan dalam keadaan yang mengenaskan. Sekujur tubuhnya di penuhi luka. Kugenggam tangannya dengan lembut, untuk mengeratkannya saja aku takut akan membuat luka baru di tubuhnya.


Mengapa gadis baik dan ceria seperti dia harus mengalami hal yang mengerikan seperti ini? Tubuhnya semakin kurus, menggenggam tangannya seperti ini yang kurasakan hanya tulang-tulang yang menojol di balut kulit saja. Kata dokter juga, dia kekurangan nutrisi dan dehidrasi, benar-benar keterlaluan Michella! Dia iblis biadab!


“Sayang cepatlah sadar, aku tidak kuat melihat kamu lagi-lagi terbaring di ruangan putih penuh obat seperti ini. Dan maaf aku terlambat menemukanmu" kataku di dekat telinganya, berharap dia akan sadar mendengar itu.


“Sayang, setelah kamu sadar aku akan langsung memintamu pada kakekmu. Aku ingin kamu menjadi istri sungguhanku. Jadi aku mohon cepatlah sadar ....”

__ADS_1


****


Waw seorang cuek, sadis, selingkuhan berubah menjadi sayang, lembut dikarenakan cinta....Ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2