Identitas Palsu

Identitas Palsu
Happy End - Part 33


__ADS_3

Saat ini aku tengah bergandengan tangan dengan Mama, kami asyik bernostalgia mengenang kenangan indah yang dulu pernah kami lalui bersama. Di pangkuanku terdapat sebuah album foto yang menyimpan kenangan masa kecilku. Aku jadi teringat dengan anak kecil yang menjadi cinta monyetku itu, kira-kira dimana dia saat ini? Namun, aku segera menghilangkan kilasan kenangan itu. Sebentar lagi aku akan menjadi istri Aldebaran, jadi tidak baik memikirkan lelaki lain lagi.


“Dy, rencananya pernikahanmu akan di laksanakan kapan?”


“Belum tahu, Ma. Kemarin Aldebaran baru melamarku seorang diri. Aku tidak tahu apakah Aldebaran sudah memberitahu kedua orangtuanya atau belum,” sahutku. Ya, memang kemarin Aldebaran melamarku di atas panggung tapi kan dia belum datang lagi bersama orang tuanya untuk melamarku secara kekeluargaan.


“Oh, begitu. Kamu mau konsep pernikahan yang seperti apa?”


“Yang sederhana aja. Melody pinginnya, akadnya di adakan secara tertutup.”


“Hiks ... hiks ...” Aku terkejut mendengar Mama menangis. Dengan segera aku meletakkan album foto itu ke meja yang ada di hadapan kami. Menoleh ke arah Mama, kurangkum wajah Mama yang sudah berlinangan air mata.


“Mama kenapa nangis?” tanyaku sambil menghapus air matanya.


“Mama ... merasa bersalah dan gagal menjadi orang tua. Michella menjadi jahat dan berusaha mencelakakan kamu. Terus sekarang Mama ketemu sama kamu lagi pas kamu udah mau nikah. Mama sedih, hiks ... hiks ....”


“Ma, ini semua sudah jalan takdir dari Allah. Meskipun Mama nggak bisa melihat aku tumbuh dewasa tapi Mama masih bisa lihat cucu Mama nanti tumbuh hingga dewasa.”


Mama kembali tersenyum, beliau segera menghapus air matanya cepat. Air mata yang masih meleleh dari kedua pelupuk matanya sudah hilang di gantikan dengan binar kebahagian.


“Aaa ... Mama udah nggak sabar pengen cepet-cepet gendong cucu dari kamu. Kalau begitu kamu suruh Aldebaran cepet lamar kesini, Mama ingin pernikahan kalian di laksanakan secepatnya. Setelah nanti kamu nikah, langsung mantap-mantap/program anak, ya? Mama mau request 5 cucu. Gimana bisa?”


Aku hanya bisa terbengong mendengar Mama ngomong banyak. Benar-benar emak-emak super, padahal beberapa menit sebelumnya Mama masih menangis tapi sekarang tidak ada lagi raut kesedihan di wajahnya. Aku senang hanya saja ..., mendengar angka lima yang di sebut Mama membuatku ngeri. Memangnya aku kucing apa yang bisa melahirkan sebanyak itu dalam waktu cepat?


“Kalau kamu diam aja, berarti kamu setuju. Oke, nanti Mama bakalan siapin jamu tradisional biar kamu semakin subur. Mama udah nggak sabar!” Mama memelukku dengan gemas. Aku tersenyum tipis, hanya pasrah dengan apa yang akan di lakukan Mama nantinya. Itung-itung berbakti karena selama ini aku tidak bisa melakukannya.


***


Tak terasa waktu cepat sekali berputar, sebentar lagi statusku akan berganti menjadi seorang istri. Tinggal menunggu hitungan hari saja. Suasana malam hari ini terasa sejuk. Angin malam membelai rambutku, membuat rambut di bagian depan telinga berterbangan menampar pipiku. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya, sudah lama aku tidak merasa setenang ini.


“Melody! Tolongin gue!” teriakan super heboh itu mengalihkan fokusku yang tengah asyik menikmati pemandangan malam hari. Belum sempat aku menghampiri orang yang baru saja berteriak. Dia sudah terlebih dahulu berlari ke arahku sambil berlindung.


Mira langsung memelukku dari belakang, membenamkan wajahnya di balik punggungku. Tak lama kemudian, Rini dan Ayu datang sambil membawa bantal yang di angkat tinggi-tinggi.


“Sini kamu, Mir! Udah pinter bohongin kita ya, kamu?!” kata Rini emosi. Dia berusaha menarik Mira, agar tak bisa berlindung di belakangku.


“Iya. Kamu kok gitu? Curang! Masa ketemu sama Bara nggak bilang-bilang ke kita. Terus bohong lagi!” Ayu pun ikut menarik Mira. Aku hanya bisa pasrah saat Mira menarik tubuhku ke kanan dan kiri untuk menghindari serangan dari mereka berdua yang sedang di landa emosi.


“Hei, kalian lagi ngapain, sih? Aku nggak tahu apa-apa kok di bawa-bawa?” kesalku. Mereka bertiga asyik bertarung dan aku yang tidak tahu apapun ikut terkena serangan mereka.


“Itu ... kemarin gue nggak sengaja ketemu sama Bara di Mall. Padahal gue udah janjian mau ke rumah Ayu, jadi lupa. Hehehe ... pas di tanya alasannya gue bilangnya ada urusan keluarga. Tapi tiba-tiba mereka tahu sendiri dan marah deh, sama gue,” jelas Mira dengan berbisik.


“Oh ... ternyata itu toh masalahnya. Rini, Ayu, stop dulu. Gue mau tanya sama kalian, sebenarnya alasan kalian marah itu apa? Gara-gara Mira bohongin kalian atau karena Mira ketemu sama Bara?”


“Karena dia ketemu Bara lah!” jawab keduanya kompak. Hah ... aku sekarang tahu. Mereka menyukai satu orang yang sama.


“Gue angkat tangan sama urusan ini. Gue nggak mau ikut campur tapi satu saran gue. Apa pun yang terjadi, kalian nggak boleh saling bermusuhan. Bagaimana pun juga persahabatan kalian itu udah terjalin sangat lama. Masa cuma karena Bara, kalian jadi bubar.”

__ADS_1


“Ya ampun, Melody. Lo perhatian banget sama kita? Aaa ... gue seneng banget bisa punya sahabat baru kayak lo!” Rini yang memang dasarnya heboh itu langsung memelukku erat.


“Iya. Gue juga bersyukur bisa kenal sama lo. My Bestie!” Ayu pun melakukan hal yang sama.


“Makasih udah ingetin kita Melody!” kata Mira yang masih memelukku.


“Sama-sama. Gue juga senang kalian masih mau berteman dan malah menganggap gue sahabat.” Aku membalas pelukan mereka. Air mata terjun ikut menyelimuti momen terharu ini.


Dua hari yang lalu, aku mengajak mereka bertiga bertemu dan mengungkapkan semuanya. Awalnya aku kira mereka akan memarahi dan mencaciku tapi ternyata tidak. Mereka tidak kaget dan sudah menduga sejak beberapa hari bahwa aku bukanlah Andin sahabat mereka yang dulu. Aku meminta maaf dengan penuh penyesalan pada mereka karena telah membohongi mereka tapi mereka tidak melakukan apa-apa selain menggenggam tanganku dan berkata "jika mereka telah mengikhlaskan kepergian Andin" dan menganggam aku sebagai bagian dari mereka. Aku senang sekali, di balik luka yang kudapatkan ternyata ada sebuah hikmah dan aku mendapatkan sahabat-sahabat baik seperti mereka.


Drrtt ... drrtt ... drrtt ...


Kegiatan berpelukan hangat kami terhenti oleh bunyi dering ponsel terdengar nyaring dari saku. Aku melepaskan pelukan, lalu meraih ponsel itu dan mendapati nomer dengan nama kontak "My Future Husband" terpampang jelas si layarnya. Aku melihat nama kontak Aldebaran yang tiba-tiba berubah, melirik pada mereka bertiga yang serentak mengangkat bahu. Kecurigaanku tertuju pada sang pemilik nomer yang pernah meminjam ponselku sebelum hari ini. Mengangkat panggilan video call itu dengan wajah masam.


“Halo sayang? Lagi apa? Aku kangen banget loh sama kamu ...” ketika panggilan itu kuangkat. Aldebaran segera memberondongku dengan berbagai kata. Aku masih diam. Menatap tajam padanya. Rasanya tak terima dia asal mengganti nama kontaknya di ponselku.


“Kok, kamu diem aja? Kamu nggak kangen sama aku?”


“Nggak.”


“Ish, singkat banget jawabnya. Beneran? Kalau bener, aku kecewa banget sih. Masa ada seorang istri yang nggak kangen sama calon suaminya yang tampan ini.”


Seketika aku merasa mual. Kenapa sekarang Aldebaran begitu lebay? Dari mana dia belajar hal-hal alay seperti ini?


“Kamu kenapa berubah jadi alay, gitu? Siapa yang ajarin kamu?” tanyaku.


“Iya. Tapi nggak alay kayak kamu. Karaktermu itu nggak mendukung buat hal-hal kayak gini. Jatuhnya lebay!”


“Masa sih? Itu kenapa teman-teman kamu pada meleleh?”


Melody yang sejenak melupakan keberadaan ketiga sahabatnya pun kembali sadar. Menoleh ke arah sahabatnya yang tengah memandang penuh puja pada Aldebaran. Menepuk jidat. Aku benar-benar tidak habis pikir pada ketiganya yang mudah baper dan meleleh hanya karena hal semacam ini.


“Ekhm! Kalian pada kenapa?”


“Calon suami lo, UwU banget dah. Gue juga pengen di kasih perhatian kayak gitu sama Bara,“ kata Ayu dengan pandangan lurus ke layar ponselku.


“Gue apalagi. Hati gue udah meronta-ronta minta di halalkan sama secepatnya sama abang Bara ganteng!” Rini selalu tak mau ketinggalan ikut mengutarakan keinginannya.


“Iya. Gue pun sama,” Mira yang awalnya aku kira diam dan polos. Sekarang tidak lagi setelah mengenal betul ketiganya yang sama-sama penggila cogan. Pantas waktu itu Aldebaran sempat mengomel tentang mereka bertiga yang suka sekali membuat keributan jika ada rekan kerja atau klien yang memiliki paras tampan.


“Udah. Udah. Kalian masuk aja ke dalam, gue mau bicara empat mata sama Aldebaran. Hus ... hus ... hus ...” usirku.


“Ih. Mainnya ngusir! Nggak asyik lo!” sinis Rini. Kemudian melangkah pergi.


“Hati-hati diganggu setan!” sini Mira meledek.


“Apalah gue yang cuma seorang jomblo sejati!” Ayu pun ikut masuk ke kamar.

__ADS_1


Aku hanya terkikik geli melihat wajah mereka yang tertekuk karena aku mengusirnya. Kembali aku menatap tajam ke arah Aldebaran, “Kamu kan yang ganti nama kontak sendiri di hapeku?”


Cengiran Aldebaran menjawab semuanya. Aku tak habis pikir dengannya yang berubah sok-sokan menjadi pria romantis dan sosweet yang jatuhnya malah alay.


“Jangan gitu lagi. Aku nggak suka.”


“Aku berubah buat kamu juga. Aku ingin menjadikan kamu sebagai wanita terspesial di hatiku. Memangnya nggak boleh?”


“Bukan gitu. Aku nggak mau kamu berubah jadi orang yang bukan ciri khas kamu. Aku cinta sama kamu itu apa adanya, bukan ada apanya. Aku mohon, jadilah diri sendiri. Karena kita akan menjalani bahtera rumah tangga nantinya, suatu hubungan yang terjalin untuk selamanya bukan hanya sehari dua hari.”


“Kok aku baper, ya? Kata-kata kamu manis banget. Aku tambah cinta sama kamu, deh. I love you My future wife! I love you so much, much, much, more!”


Aku tersenyum, “I love you too, My future husband!”


***


Aku tengah memilit tangan---gugup. Hari ini adalah hari yang kami tunggu selama beberapa minggu. Kamar yang kutempati kini telah berhias bunga-bunga cantik. Melihat pantulan diriku di cermin yang sudah berbalut kebaya putih mewah dengan make up di wajah. Sungguh, aku tak menyangka akan secepat ini. Rasanya baru kemarin aku bertemu Aldebaran dan membencinya karena sikap sombongnya. Eh, hari ini aku malah akan menjadi istrinya.


“Melody, ayo kita ke bawah. Acara akad sebentar lagi akan berlangsung,” Rini yang menjadi pendampingku bersama Ayu dan Mira, datang menghampiriku. Dia membantuku berjalan ke bawah. Aku tidak tahu bagaiman rupa Aldebaran saat ini. Pengetahuan yang di lakukan dua kekuarga kami, sangat ketat. Panggilan video waktu itu adalah kali terakhir kami berkomunikasi.


Huftt ... aku berusaha mengatur napasku agar kembali normal. Di meja akad, sudah ada Aldebaran yang tengah sibuk menghafal. Dia juga nampak gugup, padahalkan ini bukan kali pertama dia menikah.


Sampai di dekatnya, dia baru menyadari bahwa aku sudah berada di sampingnya. Dia memandang ke arahku cukup lama. Apa aku terlihat sangat berbeda hingga dia memerhatikan aku sedetail itu?


“Ekhm!” deheman suara penghulu dan para saksi membuat kami menghentikan aksi saling pandang.


“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatu. Saya sebagai penghulu akan bertanya sekali lagi pada kedua pengantin, apa kalian siap melanjutkan pernikahan ini?”


“Iya, kami siap!” jawab kami bersamaan.


“Baiklah. Mari ananda Aldebaran Alfahri jabat tangan saya,” penghulu itu mengulurkan tangannya. Aldebaran pun menjabat tangannya.


“Saudara Aldebaran Alfahri bin Surya Alfahri. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Melody Karisma binti Dirga Deneswara Karisma dengan seperangkat alat sholat dan emas seberat 500 gram. Tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Melody Karisma binti Dirga Dabeswara Karisma dengan maskawin tersebut di bayar. Tunai!”


“Bagaimana para saksi?”


“Sah! Sah!”


“Alhamdulillah. Barakallah ...” kami semua serempak mengangkat tangan membaca doa nikah.


Alhamdulillah, akhirnya kami bisa bersanding di pelaminan. Semoga aku bisa menjadi istri yang baik dan senantiasa berbakti pada suamiku.


~END~


****

__ADS_1


Alhamdulillah dengan ini mereka hidup Bahagia yeye......


__ADS_2