
Aku terjebak! Ternyata ini bukan makan malam tapi pelatihan PBB, kenapa aku menyebutnya begitu karena banyak sekali aturannya. Mulai dari meletakkan celemek di pangkuan, cara memegang sendok, setiap sendok dan garpu harus dipakai sesuai dengan hidangan yang di sajikan dan aku sangat tersiksa karenanya. Rasa lapar yang tadi menggila-gila sirna sudah, aku sangat tersiksa makan dengan penuh aturan seperti ini.
"Kenapa nggak dimakan?" pertanyaan dari Aldebaran membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Udah nggak selera!"
Kulihat Aldebaran mengernyitkan dahinya, sepertinya dia tidak percaya dengan ucapanku. Aku melengos ke depan, dasar nggak peka banget! Aku tuh nggak bisa makan pake peraturan kek gini…. huwaaa…. Mama….
Di hadapanku terlihat sepasang suami istri yang sangat romantis, mereka saling suap-suapan. Dari sorot mata keduanya aku dapat melihat pancaran penuh cinta, suaminya juga sangat menyayangi istrinya terlihat dari caranya yang selalu mengusap noda bekas makanan di bibir istrinya sehabis menyuap. Sungguh romantisme yang benar-benar nyata dan sempurna.
"Mbak sama Mas-nya sosweet banget, saya jadi baper deh!" celetukku yang sudah menopangkan dagu.
"Masa? Perasaan biasa saja. Saya dan suami saya hanya ingin menghargai waktu, karena sebelum ini kami sempat terpisah cukup lama. Jadi sekarang kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk saling menunjukkan rasa sayang kita, itu aja nggak bermaksud untuk pamer kemesraan."
Aku semakin terpana dengan Mbak Hawa, tak hanya cantik dan sholeha saja ternyata Mbak Hawa juga wanita cerdas dengan tutur kata yang lembut serta ramah.
"Benar apa kata istri saya, kami hanya ingin menebus waktu kebersamaan kami yang pernah hilang dulu. Saya saranin buat kalian pasangan yang masih cukup muda, jika ada masalah sebaiknya di bicarakan baik-baik. Jangan hanya di pendam atau yang paling fatal malah ditinggal pergi, karena masalah itu harus di selesaikan oleh dua orang yang saling berseteru jika salah satu di antara kalian memilih kabur maka masalah itu tidak akan pernah terselesaikan. Itu sih, nasehat dari saya yang pernah mengalaminya."
Pasangan yang serasi, sama-sama perfect pantas hubungan mereka langgeng terus. "Mas Adam sama Mbak Hawa emang couple, saya akan mematuhi nasehat-nasehat kalian untuk saya praktekan nanti sama pasangan saya."
"Saya boleh tanya sesuatu sama Mbak Hawa?"
Mbak Hawa menolehkan kepalanya ke arahku, "boleh mau tanya apa?"
"Cara menghadapi suami yang suka main serong sama wanita lain, gimana ya?"
Uhukk... uhukk….
Setelah kulontarkan pertanyaan itu, seketika dua pria yang ada di meja ini langsung terbatuk dengan dahsyat. Aku menoleh ke arah Aldebaran dengan malas, kuraih segelas air mineral lalu kusodorkan padanya. "Nih, minum!"
Aldebaran menerimanya dengan cepat, kemudian aku menolehkan lagi pandanganku ke arah Mbak Hawa. Aku menunggu sebentar sampai Mbak Hawa selesai memberikan minum untuk suaminya yang juga ikut tersedak, dalam pikiranku apakah suaminya Mbak Hawa pernah melakukan hal yang sama seperti Aldebaran? Jika iya, fix! Semua laki-laki sama. Sama-sama buaya darat!
"Emm… soal itu… ya, sebaiknya kita hadapi dengan sabar, terus tunjukan kesetian kita terhadap pasangan kita setelah itu kita tawakal. Berusahalah terlebih dahulu, karena tidak ada sesuatu yang bisa kita dapatkan secara instan."
Aku mengangguk dengan senyuman yang mengembang lebar dibibirku, "makasih nasehatnya Mbak. Saya jadi pengin jadiin Mbak idola saya deh, emm.. boleh nggak saya minta nomer hape-nya?" tanyaku kemudian.
"Boleh," sahutan itu membuatku langsung meroggoh tas samping yang ada di sandaran kursi, mencari ponselku.
__ADS_1
Setelahnya perbincangan di lanjutkan pada masalah bisnis yang sama sekali tak kuketahui, sesekali aku manjahili Aldebaran dengan menyenggol kakinya karena kebosanan.
***
"Maksud kamu apa bicara kayak tadi?" tanya Aldebaran langsung sesampainya kami di rumah.
"Emangnya aku bicara apa?" tanyaku polos.
Aldebaran menjambak rambutnya frustasi, "jangan pura-pura amnesia deh! Jelaslah yang pas kamu nanyain tentang suami yang suka main serong! Kamu sedang menyindir saya? Iya?!"
Jika Aldebaran sudah memakai kata ganti Saya, untuk dirinya sendiri berarti dia sedang marah. Aku sebenarnya sedang malas berdebat tapi jika masalah ini terus dibiarkan berlarut-larut sama saja ujung-ujungnya juga harus di bahas jadi aku akan meladeninya saja sekarang.
"Bagus deh, kalo kamu merasa jadi aku nggak perlu lagi jelasin maksud perkataan aku tadi."
"Perkataan kamu itu bikin saya malu! Kamu itu sudah meleparkan kotoran ke wajah saya, dengan perkataan kamu tadi!" suara Aldebaran naik satu nada.
Dengan berani aku berkacak pinggang seraya mendekat ke arahnya, " itu semua juga gara-gara kamu! Coba aja kalo kamu nggak selingkuh! Aku pasti nggak bakal bicara kayak tadi!"
"Dia bukan sel-"
Di dalam kamar, aku termenung memikirkan rencana selanjutnya yang akan aku pakai untuk menghilangkan pelakor itu dari pikiran Aldebaran kalau perlu dari kehidupannya sekalian. Karena belum mengantuk aku berinisiatif untuk berselancar di dunia maya dulu. Oh, iya selama ini kan aku belum pernah mencari tahu tentang Andin.
Aku pun memutuskan membuka aplikasi google untuk mencari tahu segala tentang Andin, pasti ada artikel yang menjelaskan tentang sosoknya. Setelah menuliskan apa yang ingin kutahu tentang Andin, beberapa detik kemudian muncul berbagai artikel tentang Andin yang kebanyakan berjudul negatif. Salah satunya adalah headline yang berjudul, "DI DUGA PERNIKAHAN ANDIN DENGAN ALDEBARAN, HANYA DI JADIKAN ANDIN SEBAGAI PANSOS UNTUK KEMAJUAN KARIRNYA"
Benar-benar julid itu para wartawan, mereka hanya tahu bagian luarnya saja tapi sudah bisa membuat artikel seperti ini. Pantas saja banyak netizen yang membenci Andin, mungkin Andin bukan jahat dia hanya sedikit lebih tegas dengan tidak mengumbar masalah pernikahannya ke publik. Aku harus siap-siap jika masalah seperti ini nanti di pertanyakan oleh para wartawan.
Mataku mengedar keseluruh penjuru kamar, kamar ini sangat luas, ada ruangan baju tersendiri, tempat penyimpanan sepatu sendiri, make up berjejer di meja rias, aksesoris mulai dari tas, jam tangan, gelang, cincin sampai topi semuanya lengkap seperti toko pernak-pernik. Kamar ini di dominasi oleh warna pink, sangat feminim sekali.
Pandanganku terhenti di lukisan seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Andin dengan gaun berwarna soft pink tengah tersenyum dan juga ada foto berukuran besar berbingkai cantik dengan ukiran emas di sekelilingnya, itu foto pernikahan Andin dan Aldebaran. Di foto tersebut terlihat hanya Andin yang tersenyum dengan bahagia, dari mana aku tahu jika itu bukan sekadar senyuman formalitas semata, jelas aku tahu karena di foto itu Andin tersenyum hingga matanya menyipit dan semburan rona merah di wajahnya melebihi polesan make up yang terpoles cantik di wajahnya. Sedangkan Aldebaran terlihat cuek dengan senyuman keterpaksaan yang dia perlihatkan ke arah kamera.
Kasihan sekali wanita seperti Andin mendapatkan seorang suami macam Aldebaran yang suka selingkuh. Tiba-tiba saja aku tergelitik untuk mencari sesuatu hal yang mungkin saja tidak di ketahui oleh banyak orang tentang Andin, tanganku langsung bergerak menarik laci meja. Satu persatu kubuka laci itu hingga aku menemukan sesuatu di laci bagian paling bawah, sebuah buku diary.
Kuletakkan diary itu di atas ranjang, aku merubah posisiku menjadi berbaring menelungkup. Kira-kira kalau aku membukanya, boleh apa tidak ya? Tapi kalo mau minta izin ke orangnya, tidak bisa juga kan Andin sudah meninggal. Aku mengacak-acak rambut kebingungan, buka saja lah. "Mbak Andin.. minta izin ya, mau buka. eh, baca juga buku deng diary-nya."
Tanpa berlama-lama lagi aku langsung membukanya, di halaman pertama tertulis "buku ini berisi tentang rahasiaku"
Rasa penasaran semakin menggelayuti hatiku, perlahan ku buka lembaran pertama buku itu lalu terus berlanjut dan berlanjut terus hingga aku mengetahui semua rahasia yang tersimpan rapat dari seorang Andin. Sebuah rahasia yang tidak dia ceritakan pada siapapun juga termasuk sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
***
Cut!
Suara itu menghentikanku yang sedang beradu akting, dengan salah satu artis yang memerankan tokoh antagonis dalam film ini. Aku melangkah ke arah kursi tempat istirahatku, setelah aku mendudukkan diri, Sari datang menghampiriku dengan membawa sebuah botol minuman dingin.
"Makasih," ujarku seraya mengambil botol minuman dari tangannya.
Sari mengangguk kemudian ia berdiri di belakangku, mulai memijat-mijat bahuku. Padahal sudah berapa kali kubilang tidak usah, tapi tetap saja dia melakukannya. "Sudah Sari, kamu duduk saja di sampingku. Aku tidak terlalu pegal untuk dipijati."
Sari menunduk lalu menuruti perintahku, dia mendudukan diri di kursi plastik tepat di sebelahku.
"Aaaa … Incesss…. you are so good! Perfect! Amazing baby! Edo datang dengan segala kehebohannya. Aku hanya menggeleng, melihat tingkahnya yang akan selalu heboh dengan perubahan yang kutunjukkan sebagai Andin. Tapi aku senang melihatnya bahagia, karena melihat orang lain bahagia itu membuatki jauh lebih bahagia.
"Aku suka lihat kelihaian you saat berakting tadi, kenapa nggak dari dulu aja. Kalo dulu you tunjukin bakat akting you yang kayak gini, eyke jamin karir you bakal langsung melejit naik ke atas dengan pesat!" cerocosnya lagi.
Kemampuan aktingku ini juga terasah gara-gara kecelakaan ini, ternyata kecelakaan ini juga ada hikmahnya buatku. Selain itu juga aku streaming nonton drakor untuk meningkatkan kualitas aktingku dan karena ingatan superku ini, aku dapat menghapal teks dialog dengan mudah dan lancar. Apalagi bagian scene saat aku berhadapan dengan pemain antagonis dalam benakku terbayang bahwa yang ada di hadapanku itu si wanita pelakor, Michella. Jadi aktingku semakin matang dan menjiwai banget.
Dalam film layar lebar yang kubintangi ini, akan beradu akting dengan salah satu aktor tampan dan kemampuan aktingnya sudah top markotop! Tapi sampai saat ini aku belum melihatnya? Dia artis besar sih, jadi kayaknya dia ada di ruangannya sendiri. Masih banyak scene yang harus kuambil hari ini, kemungkinan besar aku akan pulang malam.
Kuambil naskah untuk membaca-baca dan menghafalkannya lagi. Nah, sebentar lagi aku akan beradu akting dengan pria itu, aku ingin melihatnya jarang-jarangkan bertemu artis tanpa perlu berdesak-desakan dengan para fans-nya.
"Kamu ya, artis yang memerankan karakter Lana?" kepalaku sontak mendongak saat suara serak nan sexy itu menghampiri telingaku.
Subhanallah, ganteng bingit! Jantungku langsung degup-degup nggak karuan kayak pengen lepas. Jiwa jomblo-ku menjerit-jerit pengen segera di halalin sama abang ganteng yang ada di hadapanku saat ini.
"Hei?" panggilnya sekali lagi yang membuat lamunanku buyar.
"I-iya, aku Mel- eh, maksud aku Andin." Aduhh.. gara-gara terpana sama pesonanya, aku hampir aja ngenalin diri pake nama asli. Nasib-nasib memerankan karakter orang dalam dunia nyata ya, kek gini mau kenalan sama cogan ya nggak bisa ngenalin diri pake nama sendiri.
"Hahaha… gue udah tahu kok nama lo, siapa sih disini yang nggak kenal sama Andin si artis cantik."
Seketika wajahku langsung merona mendengarnya mengatakan aku cantik. Eh.. tunggu dulu, ini kan bukan wajah asliku… huwaa… berarti dia bukan muji aku….
****
Nasib-nasib hahaha... bagaimana kelanjutannya??? ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!
__ADS_1