Identitas Palsu

Identitas Palsu
Mengaku Identitas Asli - Part 27


__ADS_3

Bulan terlihat terang di antara gemerlapnya bintang-bintang, angin malam terasa menusuk hingga ke tulang. Aku menyaksikan keindahan ini seorang diri, tahap demi tahap seleksi telah kami lewati. Satu persatu dari kami mulai tereliminasi, kini hanya tersisa aku, Kak Michella dan Putri---gadis cantik dengan banyak bakat.


Aku pun sudah lama tak berkabar dengan Aldebaran, entah berawal dari mana rindu ini menelusup masuk ke renung hatiku. Ingin memberinya kabar terlebih dahulu tapi ... malu, waktu itu kan aku yang memintanya untuk tidak menghubungiku terlebih dahulu. Masa, sekarang aku yang ngebet untuk mengabarinya? melihat sekitar, Putri sudah tidur di ranjang sebelah sedang Kak Michella... aku belum melihatnya! Kemana dia?


Aku bergegas meraih earphone yang tersambung dengan alat penyadap itu, barang kali aku bisa mendapatkan sepucuk informasi lewat sini. Kupasangkan alat itu di telinga, tak lama terdengar bunyi kasak kusuk yang sangat jelas.


“Bos, gawat!”


“Gawat kenapa?”


“Tempat persembunyian kita sudah di ketahui! Tapi untungnya kita bisa kabur. Bos, terus apa yang harus kita lakukan?”


“Jalankan rencana B!”


“Siap, Bos!”


Seketika hening, panggilan itu pasti di putus oleh Kak Michella. Dalam otakku tengah memikirkan rencana B yang mereka maksud itu apa? Kira-kira apa lagi rencana yang akan mereka lakukan?


Belum selesai aku memikirkannya, suara geser pintu yang di buka dari luar membuatku segera beranjak dari kursi dan bergegas tidur. Mataku terpejam tapi tidak dengan telingaku yang semakin menajamkan pendengaran bahkan langkah kaki Kak Michella dapat kudengar dengan jelas. Perlahan langkah itu semakin mendekat ke arahku. Iya, tak salah lagi! Semakin mendekat dan dia berhenti tepat di sebelahku---napasnya terdengar nyaring di telinga.


“Nikmati waktu lo yang masih tersisa---sepuasnya. Karena sebentar lagi, lo akan gue lenyapin dari dunia ini!” bisiknya tajam di telingaku.


Setelah kurasa dia pergi---beranjak ke tempat tidurnya. Dalam diam, aku menghembuskan napas panjang. Ternyata rencana B yang dimaksud adalah mereka akan melenyapkanku. Namun, sebelum rencana itu terlaksana, aku akan melakukan hal yang seharusnya sudah lama aku lakukan.


***


Sebelum acara puncak kontes permodelan itu, para peserta di beri waktu libur selama tiga hari. Aku akan memanfaatkan libur kali ini untuk mengungkapkan kebenarannya, aku tidak ingin menyesali hal yang belum bisa ku ungkapkan.


Langkahku berhenti sejenak di depan pintu rumah mewah milik Aldebaran. Menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, aku sudah bertekad akan mengatakan semuanya.


Tokk ... tokk ....

__ADS_1


Tak lama pintu terbuka, menampilkan sesosok wanita paruh baya.


“Non Andin, silakan masuk! Sini kopernya biar Bibi bawakan!” ujar Bi Rahma.


Aku menggeleng lemah, “Tidak perlu, Bi. Saya bisa membawanya sendiri.


Langkahku berlanjut menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua. Tanpa menaruh koper terlebih dahulu, aku langsung mendatangi kamar Aldebaran. Dengan jantung berdebar aku mengetuk pintu dengan perlahan---menanti sang penunggu membukakan pintu.


Jantungku semakin berlalu kencang saat melihat pria dengan kaos hitam polos keluar dari kamar, rambutnya acak-acakan. Mata gelapnya menatapku, dia terdiam sebentar tanpa terduga dia langsung merengkuhku ke dalam pelukannya.


“Aku sangat merindukanmu, Sayang!”


Aku tak membalas ucapannya, karena aku tidak memiliki hak untuk itu. Panggilan sayang itu bukan dia tujukan padaku, setelah beberapa lama aku pun melepaskan pelukannya.


“Aldebaran, aku mau jujur sama kamu."


Melihat wajah Aldebaran yang terlihat kebingungan. Mengembangkan senyuman, aku berusaha untuk menerima hujatan dan apa pun respon dia setelah mendengarkan kebenaran yang akan aku utarakan ini.


“Apa maksud kamu?”


“Aku ingin mengatakan bahwa, sebenarnya nama asliku Melody Karisma bagian anggota keluarga Karisma bukan Andin Alfahri.”


“Kamu mau ngelucu?”


“Nggak, ini lah kebenarannya. Aku bukan istrimu dan selama ini aku telah membohongimu. Jika kamu tidak percaya, coba datang ke alamat ini. Di sana ada makam yang bertuliskan nama istrimu, Andin.” Aku menyerahkan selembar kertas berisi alamat pemakaman Andin.


“Sayang, kalau kamu mau nge-prank. Aku nggak akan percaya jelas-jelas kamu itu istriku! Wajah kamu---“


“Maaf, aku meminjam wajah Andin karena alasan tertentu. Sekali lagi, aku minta maaf tapi aku memang bukan Andin.”


“Nggak! Kamu tetap istriku! Aku nggak akan biarin kamu pergi!” tiba-tiba saja Aldebaran kembali memelukku, kali ini semakin erat.

__ADS_1


“Aku sudah jujur. Aku bukan lah Andin, istrimu!” teriakku cukup kencang. Jika tidak seperti ini, Aldebaran akan terus menganggap aku Andin.


“Apa buktinya? Jelas-jelas wajah kamu itu wajahnya Andin! Kamu itu istriku!”


“Ini buktinya! Namaku Melody bukan Andin! Jadi tolong lepaskan aku ... aku tidak bisa bersamamu lagi. Karena Aku bukan Andin, istri yang kamu cintai.”


Aku menyerahkan dokumen tentang operasi plastik yang mengubah wajahku ini. Sungguh, ini keputusan yang amat sangat berat. Namun, aku harus tetap mengungkapkannya. Selamat tinggal Aldebaran... selamat tinggal para sahabat Andin... semoga kalian tetap bahagia dan sehat selalu tanpa kehadiranku di hidup kalian lagi.


“Nggak! Nggak mungkin!” teriakan Aldebaran membuatku sedih, melangkah lagi. Menoleh ke belakang, aku melihat dia sudah terduduk di lantai sambil meremas rambutnya kasar.


Air mataku mengalir tanpa di komando, sulit rasanya meninggalkan dia seperti ini tapi jalan takdir lah yang mempertemukan kami dalam keadaan yang sulit. Yang di takdirkan bersama pasti akan kembali juga meski semesta menderita. Namun jika takdir telah menggariskan kami tak bisa bersatu maka sampai kapan pun akhir kisah ini akan berakhir dengan perpisahan.


Selamat tinggal identitas palsu ... aku akan kembali menjadi Melody yang dulu.


***


Keluar dari kompleks perumahan Aldebaran, aku mulai merasakan hal ganjil. Seperti ada seseorang yang mengikutiku. melihat ke kanan dan kiri, tidak ada siapa-siapa. Menggelengkan kepala, aku kembali melanjutkan langkah agar segera sampai di jalan besar dan mencari taksi.


Aku telah meninggalkan rumah Aldebaran beserta barang-barang milik Andin, mulai hari ini aku akan menjadi Melody yang dulu lagi. Aku benar-benar akan kembali menjadi Melody yang dulu setelah ajang kontes permodelan ini selesai. Kembali menjadi gadis tomboy dalam kesepian.


Bulu kuduk serasa berdiri, bayangan film horor menghantui pikiranku. Menatap ke arah depan, sekitar 5 meter lagi aku akan bertemu jalan raya. Merasa ada yang tidak beres aku langsung mempercepat langkahku bahkan sekarang aku mulai berlari.


Benar saja dugaanku, ada dua orang lelaki berpakaian serba hitam yang ikut berlari mengejarku. Terus berlari akhirnya aku sampai di jalan besar, baru saja ingin melambaikan tangan guna mencari taksi. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depanku, dua orang keluar dari sana dan membekapku lalu menyeretku masuk.


“Lepaskan saya! Tolong! Lepaskan!”


Usaha aku memberontak sia-sia saat kurasakan sebuah pukulan yang mendarat tepat di leher bagian belakang. Pukulan yang membuat aku lemas... hilang kesadaran.


****


Haduh kasian Melody sehabis mengaku identitas malah diculik, apa yang akan terjadi.....semoga tidak dibunuh aja.....Ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!

__ADS_1


__ADS_2