Identitas Palsu

Identitas Palsu
Sahabat Heboh - Part 19


__ADS_3

Aku terbangun kembali di ruangan serba putih yang


mengeluarkan bau obat-obatan yang sangat kental, iya untuk kedua kalinya aku


terbangun di rumah sakit. Namun kali ini aku tidak terbangun seorang diri


karena ada sesosok buaya darat yang tengah menciumi tanganku dengan gemas


sedari tadi, ingin kutepis tapi rasa lemas yang kurasakan membuat tangan ini


tak sanggup untuk melakukannya.


"Aku haus!" ucapku yang langsung di tanggapi dengan cepat oleh Aldebaran, dia mengambilkan sebuah gelas yang ada di meja nakas.


"Maaf ya, aku terlalu bahagia lihat kamu sadar sampe lupa kasih minum."


Aldebaran memasukkan sebuah sedotan ke dalam gelas supaya memudahkanku untuk meminum air putih itu. "Udah," ujarku menjauhkan bibirku dari ujung sedotan itu.


Aku merasakan keanehan pada sikap Aldebaran yang berubah lembut, samar-samar tadi kudengar dia akan bertobat jika aku sadar. Apakah itu nyata?


"Mas, tadi kayaknya aku denger kamu mau tobat jadi playboy? Beneran?"


Dia mengangguk begitu saja, ini sebuah hal yang bagus. "Bagus. Aku harap Mas beneran tobat bukan cuma omongan semata."


Sebelah tangan Aldebaran terangkat mengusap-usap kepalaku yang masih di bebat perban. "Iya, sayang … mulai saat ini aku akan mengabulin semua permintaan kamu, asalkan kamu jangan sakit kayak gini lagi."


"Beneran?" mataku berbinar mendengar ucapannya.


"Iya, sekarang kamu mau apa?" Aldebaran kembali menggenggam tanganku seraya mengusap-usapnya pelan.


"Aku mau kamu baikan sama keluarga kamu, gimana?" genggaman tangan Aldebaran berubah kaku, rahangnya mengeras dan tatapannya berubah tajam.


"Jangan itu," ucapnya dingin.


"Tapi--"


"Yang lain aja, Andin! Aku nggak bisa ngabulin hal yang satu itu?!" tegasnya lagi, tak menerima alasan apapun yang akan kukatakan.


Air mataku mengalir begitu saja, aku tidak pernah di bentak oleh siapapun bahkan ayahku sendiri tapi dia ….


"Sayang … maaf aku nggak bermaksud--"


"Pergi! Aku nggak mau lihat kamu lagi! Pergi dari sini!"


"Nggak akan. Maafin perkataan aku tadi, aku nggak bermaksud bentak kamu. Maaf …." Aldebaran kembali memelukku dengan erat seperti takut kehilangan.


"Hiks … hiks … emangnya nurutin kemauan aku susah banget, ya?"


"Bukan gitu sayang, aku hanya … belum bisa."


"Ya, makanya di coba dulu, baru bisa!"


"Sayang …"


"Nggak boleh lho marahan lama-lama, apalagi sama orang tua. Mau di cap sebagai anak durhaka? Syukur-syukur kalo cuma di cap kalo di kutuk jadi batu kayak malin kundang, mau?"


Aldebaran merenggangkan pelukan kamu, menangkup wajahku dengan lembut lalu menghembuskan napas panjang, hingga terasa di wajahku.


"Aku akan mencobanya, hanya demi kamu!"


"Yeay!" sorakku gembira dan langsung memeluknya dengan erat.


"Makasih, Mas sayangku!"


"A-apa?"


Refleks kupukul bibirku yang dengan lancangnya mengatakan hal memalukan itu. "Nggal papa kok, Mas."


***


Siang hari, aku terpekur sendirian di atas ranjang rumah sakit. Aldebaran pamit pergi katanya ada sesuatu yang harus dia selesaikan hari ini juga dan aku mengiyakannya. Lagi pula aku memang sedang membutuhkan waktu sendiri untuk merenungkan insiden yang akhir-akhir ini terjadi. Sepertinya aku tahu siapa dalang di balik insiden itu.


Ah! Lupakan sejenak dulu soal itu, ada hal yang lebih penting. Ingatanku telah kembali, aku ingat tentang kejadian yang menyebabkan wajahku berubah.

__ADS_1


Hari sebelum insiden kebakaran terjadi, aku di culik oleh seseorang dan di sekap dalam gedung tua yang kemarin ku datangi. Namun aku tidak dapat melihat siapa pelakunya karena mataku di tutup oleh sebuah kain, tak hanya itu wajahku pun di sayat dengan pisau oleh si penculik. Jika di ingat sekarang suara dari orang yang menculikku itu seperti suara kak Michella. Apa kak Michella sama dengan Michella si wanita selingkuhan Aldebaran?


Aku akan menyelidikinya setelah keluar dari rumah sakit tapi hal yang janggal adalah siapa gerangan yang telah mengubah wajahku ini?


Lamunanku buyar saat suara ketukan pintu dari luar kamar mengagetkanku, "masuk!" suruhku pada siapa pun yang ada di luar sana."


Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria yang ku tebak umurnya tidak beda jauh dengan Aldebaran.


"Anda siapa?" tanyaku sopan, bagaimanapun juga dia lebih tua dariku.


"Saya Bara, utusan dari Tuan Darma Deneswara Karisma," jawab pria itu sopan.


Darma Daneswara Karisma? Tunggu dulu … bukannya itu nama kakek?!


"Jadi anda …"


"Benar Nona, saya utusan dari kakek anda."


"Anda tahu siapa saya?"


Pria bernama Bara itu mengangguk dengan senyuman tipis yang tersungging di wajahnya, "iya, Nona Melody karisma."


Aku menutup mulutku yang terbuka karena terkejut, apakah ini jawaban dari pertanyaanku tadi?


"Boleh saya masuk?" tanya pria berstelan jas lengkap itu kemudian.


Aku mengangguk masih dengan keterkejutan yang belum hilang.


Pria itu masuk dan berdiri tegak di samping ranjangku.


"Anda pasti tahu semua hal yang telah menimpan saya, sekarang tolong jelaskan pada saya!"


"Baik saya akan menjelaskan semua yang saya tahu pada Nona."


Lalu mengalirlah semua hal yang selama ini ingin ku ketahui, ternyata wajahku yang dulu hancur karena sempat terkena luka bakar saat gedung itu di bakar dengan sengaja oleh kakakku sendiri. Sehingga kakek Darma memutuskan untuk mengoperasiku dan merubah wajahku agar aku tidak di ketahui oleh kak Michella.


"Lalu kenapa kakek merubah wajahku menjadi wajah Andin?"


"Karena Nona Andin adalah seorang artis besar."


"Tapi kenapa harus Andin? Apa alasan yang mendasarinya? Trus kenapa Andin bisa meninggal?"


"Nona, anda masih belum stabil jadi saya hanya bisa menjelaskan sebagian saja. Setelah Nona sembuh dan pulih total, Nona bisa menanyakannya sendiri pada Tuan Darma."


Aku mendengkus, apa pria ini ingin membuatku mati penasaran?


"Kalau begitu saya permisi dulu, Nona," pamit Bara sambil menundukkan kepala hormat.


"Ya sudah sana!" ketusku.


"Andiiiinnn …!" teriak seseorang di depan pintu. Menoleh ke sana, aku membulatkan mata melihat tiga orang gadis yang tengah berjalan masuk. Dalam hati aku menghitung angka dari satu sampai tiga, satu …


dua … ti-ga!


"Ya ampun, ada mahkluk tampan ternyata!" pekik


Rini heboh, seraya menyibakkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gaya centilnya.


Lain lagi dengan Mira yang sudah menampakkan wajah mupengnya, "Masya Allah gantengnya!"


Ayu pun tak kalah heboh, "hai ganteng! Boleh kenalan nggak?"


Sedangkan Bara terdiam mematung, rasanya ingin terbahak melihat ekspresi wajahnya yang menurutku sangat lucu.


"Permisi saya mau keluar!" ujarnya seraya melangkah hendak menuju pintu, tapi dengan pintarnya ketiga sahabat Andin yang super heboh itu menghadang Bara.


"Kasih tahu namanya dulu, baru kita kasih lewat ya nggak?" ujar Rini yang langsung di angguki Ayu dan Mira.


"Nama saya Bara, sekarang udah bisa minggir?"


Ayu menggeleng, "belum. Minta nomer hape boleh?"


"Maaf kalo itu saya tidak bisa memberikannya, permisi!"

__ADS_1


Saat Bara sudah menghilang di balik pintu, meledaklah tawaku yang sedari tadi tertahan. "Hahaha …!"


Mereka bertiga menatapku dengan wajah memerah, segera aku langsung menghentikan tawaku. "Lo pada lucu! Parah. Berapa lama sih kalian nge jomblo? Sampe rebutan cuma buat kenalan sama Bara?"


"Jangan ngehina kita, ya! Mentang-mentang lo udah nikah!" kata Rini galak.


"Siapa yang ngehina, gue cuma nanya."


"Andin, Bara itu siapa lo?"


"He'em, siapa lo?"


Aku bingung harus memberikan jawaban apa pada mereka, jika aku berkata jujur itu tidak mungkin untuk saat ini. Aha!


"Dia sepupu gue. Iya, sepupu!"


"Kok lo nggak pernah bilang-bilang ke kita kalo lo punya sepupu ganteng kayak dia?" tanya Rini sewot.


"Iya, Ndin. Padahal gue lagi cari jodoh!" sambung Ayu kesal.


"Kan tadi juga udah kenalan, lagian gue juga udah lama nggak ketemu sama dia!" bohongku, yang semoga saja mereka percayai.


"Oh gitu, btw lo udah nggak papa kan?"


"Ya, lumayan."


"Syukurlah … gue udah panik banget pas denger lo masuk rumah sakit tau!" ujar Mira sambil mendekat ke arahku.


"Kok lo bisa jatuh gitu? Bukannya keamanannya ketat ya?" tanya Rini yang sepertinya merasakan kejanggalan.


"Namanya musibah, nggak tahu kapan datengnya."


"Apa jangan-jangan ada yang mau nyelakain lo?"


"Iya, sekarang kurang ajar banget haters yang suka neror artis-artis. Mana ekstrim-ekstrim banget lagi yang pernah gue baca di artikel berita viral."


Aku mencerna baik-baik perkataan Mira, apa benar sosok bertudung hitam itu salah satu haters Andin?


***


"Sayang … kalo nanti kamu udah boleh pulang, kita liburan yuk?" ajak Aldebaran tiba-tiba.


"Hah? Liburan?"


"Iya, liburan. Selama ini kan kita sibuk sama urusan masing-masing jadi jarang ada waktu berdua. Sekalian ngerayain hubungan kita yang udah membaik, gimana mau ya?"


Sebuah ide cemerlang melintas di otakku, "boleh tapi kita liburannya bareng keluarga kamu sama keluarga aku juga gimana?"


Aldebaran mengerucutkan bibirnya, "aku maunya kan berdua aja sama kamu. Kenapa malah ngajak keluarga kita segala!"


"Kalo nggak mau ya udah, liburannya nggak usah aja!"


"Ya, ya, jangan dong."


"Oke, aku ajak semua anggota keluarga kita!"


Aku tersenyum lebar, "nah gitu dong. Tolong ambilkan hapeku!" pintaku pada Aldebaran seraya menunjuk ke atas meja.


Aldebaran dengan menurut mengambilkan ponselku. Namun urung dia berikan padaku saat ponselku berbunyi menandakan ada notifikasi yang masuk.


"Jangan main hape dulu! Kamu belum sembuh total! Lebih baik istirahat yang cukup, ini juga udah malam cepat kamu tidur."


"Tapi aku mau--"


"Cepat tidur! Atau kamu mau hape ini kubanting?"


"Jangan dong! Itu kan hapeku!"


"Ya udah, cepat tidur."


"Iya, iya." Aku merebahkan tubuhku kembali ke ranjang, memejamkan mata tapi aku masih sedikit mengintip ke arah Aldebaran yang sedang mengotak-atik ponselku.


Ada apa dengan dia? Kenapa sikapnya bisa berubah dengan cepat? Memangnya ada apa di ponselku?

__ADS_1


****


Apa yang terisi pesan yang dikirim oleh seseorang??? Apa bakal heboh lagi?? penasarankan sama kelanjutannya??  ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!


__ADS_2