Identitas Palsu

Identitas Palsu
Undangan Ortu Suami - Part 15


__ADS_3

Sebuah surat menyambangi pagi Melody, surat misterius yang entah siapa pengirimnya. Berisi foto sebuah gedung tua yang sudah lama tidak di huni, di balik foto itu terdapat sebuah tulisan "cari tahu" membuat Melody bingung dan akhirnya ia berada di sini.


Di depan sebuah gedung tua, mengangkat foto yang ada di genggamannya lalu mencocokkan dengan gedung tua yang ada di hadapannya dan cocok. Ia tergelitik ingin mencari tahu maksud dari si pengirim karena gedung tua yang sebagian besar bangunannya sudah hangus terbakar ini terlihat tidak asing dalam ingatannya namun seingatnya ia tidak pernah kesini. Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul dalam otaknya, apakah ini… teka-teki tentang ingatannya yang hilang? Jika benar, ia harus menemukan ingatan tentang gedung tua ini.


melihat sekeliling ia kesulitan menemukan warga yang di sekitar gedung tua ini, sejauh mata memandang hanya rerumputan tinggi yang mengelilingi gedung ini. Memberanikan diri Melody masuk ke dalam gedung tua itu, debu bekas arang langsung menyambut kedatangan Melody. Di dalamnya tidak nampak apapun selain warna hitam arang, saat ia melangkah ke sebuah ruangan tak sengaja kakinya menginjak sesuatu.


Melihat ke arah bawah aku menemukan sebuah liontin yang masih terlihat berkilau di antara tumpukkan material bangunan yang terbakar. akupun mengambilnya, mengusap-usap liontin berbentuk hati itu hingga bersih. Liontin ini terlihat sama seperti miliknya yang dulu, dengan cepat ia membuka bandul berbentu hati itu dan benar itu liontin miliknya yang dulu tertinggal di rumah tapi kenapa liontin ini ada disini? Siapa yang memakainya?


Getaran ponsel membuyarkan segala spekulasi yang baru saja tergagas di otaknya, mengambil ponsel itu aku melihat sebuah pesan dari Aldebaran yang memintanya cepat pulang. Melody memutuskan berbalik menuruti perintah Aldebaran yang menyuruhnya cepat pulang. Sebenarnya ia heran juga melihat sikap Aldebaran akhir-akhir ini yang sangat berbeba, Aldebaran sering kali merecoki dirinya saat sedang makan, nonton TV dan selalu mengiriminya pesan chat setiap jam sekali untuk menanyakan hal tidak penting.


***


Aldebaran mondar-mandir seraya melihat jam di ponsel pintarnya, melacak keberadaan istrinya saat ini yang tengah berada di daerah pelosok membuatnya curiga sedang apa dia disana? Apa dia bersama dengan pria sok ganteng itu?


aku sudah mengirimi pesan tapi sampai saat ini belum juga di balas, dalam hati ia mengerutu. Tadi pagi setelah sarapan istrinya itu menghilang entah kemana, untung saja aku sudah menginstal aplikasi pelacak di ponsel istrinya agar aku dapat memantaunya.


Tak lama kemudian suara mobil terdengar di halaman rumah megah miliknya itu. Segera saja aku keluar dan mendapati istrinya yang tengah membayar ongkos taksi. Melihat istrinya berbalik aku dengan tangan bersedekap di dada dan kepala mendongak ke atas.


"Assalamualaikum!" salam Melody pada Aldebaran.


"Wa'alaikumssalam!" jawab Aldebaran seraya mengulurkan sebelah tangannya ke depan.


Melody bingung melihat Aldebaran mengulurkan tangannya, "ngapain Mas ulurin tangan?"


"Salam, istri yang baik itu kalo mau pergi kemana-mana dan pulangnya itu haru salam sama suami biar berkah!" ujar Aldebaran.


Melody mendengus dalam hati mengerutu, "tapi aku bukan istrimu!"


Namun Melody sadar saat ini aku tengah menjalankan peran sebagai istri yang baik. Dengan malas ia meraih tangan Aldebaran lalu menyaliminya, tanpa aku duga Aldebaran memberikan kecupan di keningnya. Ingin rasanya berteriak dan menampar pria di hadapannya ini tapi urung ia lakukan saat teringat posisinya sekarang.


"Mas, juga harus belajar jadi suami yang baik jangan cuma bisa menuntut istri jadi penurut. Ingat, suami itu imam dalam rumah tangga! Suami yang baik itu suami yang sayang sama istri, bukan yang kerjaanya duain istri sama wanita lain?!" balas Melody dengan penekanan di kata terakhirnya.


Skakmat! Aldebaran diam mendapat balasan yang cukup pedas dari istrinya. "Insya Allah, Mas akan berusaha setia sama kamu."


"Jangan bawa-bawa Allah, kalo Mas belum yakin bisa ngelakuinnya!" sengit Melody. Kemudian aku melangkah masuk mendahului Aldebaran.


Aldebaran hanya bisa menghela napas, kini hatinya bimbang antara memilih istrinya ataukah wanita cinta pertamanya.


***

__ADS_1


Malam ini Melody tampil berbeda karena ada acara makan-makan di rumah keluarga Aldebaran. Sebenarnya Aldebaran menolak dengan tegas undangan itu namun aku keras kepala ingin datang kesana. Lagipula setelah aku keluar dari rumah sakit belum pernah aku berkunjung ke rumah orang tua Aldebaran.


"Mas, ayo! Nanti kita telat?!" teriak Melody yang sudah siap.


Aldebaran melangkah dengan ogah-ogahan menemui istrinya itu. "Ngapain kesana? Aku malas berurusan dengan mereka! Orang-orang bermuka dua itu!"


"Hus! Nggak boleh ngomong gitu?! Mereka itu juga orang tua kamu! Cepetan berangkat!" Melody dengan paksa menarik tangan Aldebaran menuju mobil.


Aldebaran tidak punya pilihan lain selain menurut, istrinya sekarang sangat berbeda. Tukang paksa dan pantang di paksa, benar-benar menjengkelkan! Keluhnya dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah megah bergaya eropa. Melody terkagum dengan gaya rumah ini yang hampir mirip dengan rumahnya dulu sebelum tinggal di panti.


"Nggak usah alay liatnya! Rumah kita jauh lebih mahal dan megah dari ini!" celetuk Aldebaran yang sudah berdiri di sebelah Melody.


"Jangan sombong! Rumah di dunia cuma di pakai sementara! Yang abadi tuh kuburan. Lebih baik Mas cepet-cepet taubat deh, kurang-kurangin itu waktu buat selingkuhannya!" sindir Melody pedas.


Aldebaran ingin marah namun urung saat melihat Melody sudah masuk ke dalam rumah mendahuluinya.


Di dalam rumah megah itu sudah terlihat banyak sekali anggota keluarga yang berkumpul. Melody menjadi kikuk sendiri, aku buta melihat keluarga Aldebaran karena selama ini Aldebaran tidak pernah menceritakan tentang keluarga besarnya, hanya neneknya saja yang pernah di ceritakan padanya.


Aldebaran merasakan sikutan di perutnya, menoleh ke samping dilihatnya istrinya itu tengah menatapnya dengan tatapan meminta pertolongan. Aku mengangkat sebelah alis, bingung.


"Mas, kenapa nggak pernah ceritain tentang mereka. Jadinya sekarang aku bingung mau nyapa mereka satu persatu! Karena aku nggak tahu nama mereka!" bisik Melody penuh penekanan di setiap katanya.


"Bagus, kalo gitu kita pulang aja, bereskan!" ujar Aldebaran enteng.


Melody menjewer telinga Aldebaran cukup keras, "pulang katamu! Kita sudah ada di dalam, mana bisa balik lagi! Malu dong!"


Aldebaran merasa serba salah di jawab salah tidak di jawab makin salah! Benar kata orang, wanita itu susah di mengerti makanya banyak suami-suami takut istri!


"Andin, kenapa cuma berdiri disana, sini duduk!" panggil Rosa--ibu Aldebaran.


"I-iya Ma. Ayo, Mas!" Melody mengandeng tangan Aldebaran menuju meja makan yang telah di isi oleh delapan orang lainnya.


Tersisa dua tempat duduk yang masih kosong di sisi sebelah kiri, mereka pun mendudukkan diri di sana.


Alfahri melirik ke arah putranya yang baru datang, ingin sekali ia memperbaiki hubungan dengan putranya itu tapi sepertinya tidak bisa lagi. Semua ini juga salahnya yang telah mengasingkan anaknya ke tempat neneknya.


Melody merasakan adanya kecanggungan di meja makan ini, melirik satu persatu anggota keluarga Aldebaran dan apa yang ia duga benar. Mereka terlihat kikuk sesekali melirik Aldebaran, ada binar bahagia dan terkejut di mata mereka. Membuatnya heran, apakah ini pertamakalinya, Aldebaran menginjakkan kaki di rumah ini? Jika iya, berarti pengaruhnya dirinya untuk Aldebaran sangat luar biasa!

__ADS_1


"Mas, ayo makan!" tegur Melody, saat dilihatnya Aldebaran masih diam saja.


"Aku tidak lapar!" sahut Aldebaran cuek.


"Tidak sopan bicara begitu. Di saat ada banyak makanan yang sudah di sediakan di depan kita, hargai orang yang sudah bersusah payah menyiapkan semua makanan ini."


Melody mengambilkan lauk pauk untuk Aldebaran, jika tidak di paksa maka Aldebaran akan tetap diam.


"Ini dimakan, pokoknya harus habis!"


Aldebaran tidak peduli dengan ucapan Melody, Aku tetap diam dengan pandangan yang dingin ke arah depan.


Melihat itu Melody bertindak, mengambil alih piring yang sudah Aku siapkan untuk Aldebaran tadi. Tanpa basa basi lagi, Melody menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya ke mulut Aldebaran.


"Buka mulutnya! Aaaa…!" perintah Melody.


Aldebaran mingkem, tetap tidak mau makan. Rasanya aku tidak sudi makan masakan dari orang yang telah membuangku.


Melody yang kesal pun menginjak kaki Aldebaran dan di saat itulah mulut Aldebaran terbuka, "nah, gini dong. Susah amat di suruh makan doang!"


Aldebaran menatap istrinya tajam, ingin memarahinya tapi tidak bisa karena mulutnya penuh dengan makanan. Merasakan makanan yang ada di mulutnya, ia jadi teringat dengan masa kecilnya. Dulu semua makanan ini adalah makanan favoritnya, ia sangat menyukai semua makanan yang di masak oleh ibunya pernah sekali, ia ingin sekali di suapi oleh ibunya. Wajarkan saat itu aku masih sangat kecil, umurnya baru menginjak usia lima tahun. Tapi dengan teganya ibunya berkata "kamu itu udah besar! Jangan manja, Mama lagi sibuk sebentar lagi Kakakmu mau ulang tahun".


Selalu saja kakaknya yang di utamakan, padahal aku juga butuh kasih sayang dari mereka. aku tidak perlu di istimewakan seperti kakaknya. Yang ia butuhkan hanyalah sedikit kasih sayang dan perhatian mereka itu saja. Tapi hingga hari ini tak pernah sekalipun mereka memberikannya.


Aldebaran bangkit berdiri, aku sudah tidak kuat lagi untuk duduk di sini dengan bayang-bayang kenangan buruk itu.


"Mau kemana, Mas?" halang Melody yang melihat Aldebaran hendak melangkah pergi.


"Cari angin! Disini panas!" setelahnya Aldebaran keluar dari rumah itu.


Melody menatap semua anggota keluarga Aldebaran yang ada di meja makan itu, "maafin sikap Aldebaran, ya. Mungkin dia lagi banyak pikiran makanya bersikap kurang sopan seperti itu."


"Tidak usah minta maaf. Dia memang selalu bersikap sepert itu pada kami," ucap Alfahri, ayah Aldebaran.


"Oh… begitu, ya."


****


Sedih sih rasanya tidak dikasih kasih sayang saat waktu kecil... apa kalian ada yg sama seperti Aldebaran saat kecil?? semoga tidak ada yaa...ikutin terus ceritanya dengan follow dan tunggu eps selanjutnya!!!

__ADS_1


__ADS_2