
"Aakh... aku bisa sendiri!" ucap Kila menepak tangan Egi.
"Ya udah. Mangkanya, dibiasakan masak. Jarang masak sih, jadi begitu!" ucap Egi.
"Mas sengaja yah, nyuruh aku ngupas bawang. Biar aku ngerasain perih dan kesakitan?" tanya Kila.
"Kok kamu nuduh saya? kan kamu sendiri yang mau bantu masak. Ya tinggal kupas bawang aja yang belum dikerjakan, baru ngupas segitu." Ucap Egi.
"Udah ah! gak mood!" ucap Kila langsung meninggalkan Egi.
Dosa apa sih aku? sampai-sampai aku nikah sama cowok kaya dia? udah tinggal di rumah kaya gini. Reot lagi. Uuuuuhhhh.....
****
Di sekolah Bandung. Teyet, Yun dan Hendru merasa bersalah pada Shakila. Mereka bertiga ingin bertemu Shakila. Tapi Susi merasa kesal karena mereka selalu ingat Shakila.
"Lo kenapa Hen?" tanya Uun.
"Gue merasa bersalah sama Shakila. Gue kelewatan, harusnya kita gak kasar sama dia kemarin." Ucap Hendru.
"Iya Hen, kita udah keterlaluan sama Kila. Biar bagaimana juga, dia sahabat kita!" ucap Yeyet.
"Kok kalian bertiga malah bela Shakila sih? dia udah ninggalin kita! dia lebih milih pindah ke Jakarta dari pada sama kita di sini. Harusnya, Shakila nolak. Dan lo Hen, lo emang gak sakit hati ditolak mentah-mentah sama Kila? sadar lo semua!" ucap Susi.
"Shakila nolak emang dia anggap kita sahabat. Gue sadar, kalau cinta gak bisa dipaksakan. Kita masih panjang, siapa tahu gue dapat jodoh yang lebih dari Shakila. Gue bakal ke rumah Shakila buat minta maaf!" ucap Hendru.
"Gue juga!" ucap Yeyet dan Uun.
"Silakan! tapi, gak dengan gue! keputusan gue udah bulat. Gue gak akan pernah mau anggap Shakila sahabat gue lagi!" ucap Susi.
"Sus, lo jangan egois dong! kita dari SMP sahabatan sama Kila, masa lo gitu. Hendru aja udah mau maafin." Ucap Yeyet.
"Enggak! kata gue enggak, enggak!" ucap Susi langsung meninggalkan Hendru, Yeyet dan Uun.
"Udah-udah biarin! nanti pulang sekolah, kita ke rumah Shakila aja. Kita tanya sebenarnya ada apa." Ucap Hendru.
****
Di kediaman rumah Shakila dan Egi. Egi telah mempersiapkan makan untuk Shakila, dan dirinya. Aroma mie yang dibuat Egi, beda dengan yang lainnya.
"Kila! udah matang, ayo makan!" ajak Egi.
"Wangi banget Mas." Ucap Kila sambil mencium aroma mie yang dibuat Egi.
"Iya dong! siapa dulu Egi." Ucap Egi.
"Aromanya sih enak. Boleh aku coba?" tanya Kila.
"Boleh dong!" ucap Egi tersenyum.
__ADS_1
"Mmmm... nyam-nyam-nyam.... enak! enak banget Mas! kamu pintar banget sih." Ucap Kila.
"Ya iya lah!" ucap Egi.
"Baru dipuji dikit terbang. Ajarin bikin kaya gini!" ucap Kila.
"Tadi diajarin malah kepedesan, baru ngupas bawang dua biji. Gimana mau belajar coba?" tanya Egi.
"Enggak lagi deh, aku mau belajar!" ucap Kila.
"Beneran? gak takut kepedihan lagi matanya?" tanya Egi.
"Benaran lah!" ucap Kila.
"Iya, nanti saya ajarin." Ucap Egi.
"Mas, kapan saya bisa masuk sekolah?" tanya Kila.
"Senin yah! sekalian saya juga masuk." Ucap Egi.
"Emang Mas Guru apa?" tanya Kila.
"Saya Guru olahraga. Kenapa emang?" tanya Egi.
"Mas, tolong rahasiakan ini dari semuanya nanti ya Mas, aku gak mau nanti jadi ejekan yang lain." Ucap dan minta Kila.
"Mas! paham gak sih, maksudnya aku tuh! aku umur 18 tahun, sekolah tapi udah nikah. Apa kata orang-orang, disangka aku perempuan gak benar. Mau ditaro mana muka saya?" tanya Kila.
"Lagian, salah sendiri. Udah nikah masih aja ingin sekolah. Kalau udah jadi istri diam di rumah, layanin istri!" ucap Egi.
"Mas, jangan egois yah! itu cita-cita aku supaya bisa sekolah dan lulus. Mas pokoknya jangan bilang ke siapa-siapa! aku gak mau yah, jadi Ibu rumah tangga doang, ngurus suami dan Anak! aku juga punya cita-cita Mas! aku nikah sama Mas terpaksa!" ucap Kila. Egi hanya diam dan merasa sakit Kila bicara seperti itu.
"Mas! Mas dengarin aku gak sih? Mas!" teriak Kila.
"Apa?" tanya Egi.
"Masa harus aku ulangin? jangan bilang siapa-siapa! ngerti gak sih Mas!" ucap Kila.
"Omongan kamu tuh, nyakitin hati saya tahu gak! menurut kamu, ini pernikahan terpaksa. Itu bagi kamu, tapi bagi saya enggak! saya ikhlas menerima kamu apa adanya, kekurangan kamu! asal kamu tahu yah, dimata hukum, kita syah jadi pasangan suami dan Istri. Jadi tolong hargai saya dan hati-hati kalau bicara!" ucap Egi.
"Ya udah maafin saya kalau saya salah bicara! tapi, tolong Mas buat yang satu ini! Mas kan udah janji sama saya! hiks-hiks-hiks...." ucap Kila menangis.
"Jangan nangis! iya-iya. Saya ikutin mau kamu! saya gak bilang siapa-siapa. Udah jangan nangis!" minta Egi.
"Makasih ya Mas! maaf-maaf!" ucap Kila memeluk Egi betapa senangnya.
Saya akan ikutin semua mau kamu Kila. Karena saya gak mau buat kamu menangis. Saya ingin selalu buat kamu tersenyum.
****
__ADS_1
Di kediaman rumah Shakila. Hendru, Yeyet, dan Uun datang ke rumah Shakila. Bu Lastri, Ibunya Shakila langsung keluar dan menjawab salam teman-temannya Shakila. Bu Lastri menyuruh mereka untuk masuk. Bu Lastri lupa meletakan foto pengantin Shakila dan Egi ke kamar.
"Assalamu'alaikum." Salam ketiga Anak tersebut.
"Wa'alaikumsalam. Eh, ada temannya Shakila." Ucap Bu Lastri.
"Iya Bu, boleh kan saya main ke sini?" tanya Hendru.
"Boleh-boleh! masuk dulu yuk! Ibu buatkan minum dulu!" ucap Bu Lastri.
"Hendru lihat! foto pengantin Shakila. Ternyata, Shakila sudah menikah." Ucap Yeyet.
"Iya Yet. Shakila kenapa merahasiakan ini dari kita?" tanya Uun.
"Gue juga gak nyangka, ternyata Shakila menolak gue karena ini alasannya." Ucap Hendru.
"Un, itu bukan cowok kemarin yang jemput Kila ya?" tanya Yeyet.
"Iya bener Yet. Oh, ternyata itu suaminya." Ucap Uun.
"Kenapa lo nutupin semua sih Kila? kenapa?" tanya Hendru kesal.
"Sabar Hen, kita cari tahu dari Ibunya aja." Ucap Yeyet.
"Haduh, maaf lama ya nunggu minumnya! ayo silakan-silakan!" ucap Bu Lastri.
"Makasih Bu." Ucap Uun, Yeyet dan Hendru.
"Bu, saya mau tanya, apa Shakila sudah menikah?" tanya Hendru.
"Nak Hendru tahu dari mana?" tanya Bu Lastri.
"Itu, saya lihat foto bingkai pengantinnya Kila Bu!" ucap Hendru.
Astaga, aku lupa naro bingkai itu di kamar.
"Bu! apa semua itu benar?" tanya Hendru.
"Hah? i-iya benar Nak. Semua benar. Kila terpaksa menikah dengan pria itu! karena Ayah dari Pria itu sakit dan meminta Kila dan Pria itu menikah. Karena Ayahnya Pria itu sahabat baik Ayahnya Kila, jadi kami semua tidak bisa menolak. Itu pun permintaan terakhir dari Ayahnya Pria itu!" ucap Bu Lastri.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Imamku Adalah Guruku, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu up cerita Imamku Adalah Guruku, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰
CINTA DAN DETIK TERAKHIR
__ADS_1