IMAMKU ADALAH GURUKU

IMAMKU ADALAH GURUKU
Part 8


__ADS_3

"Ya udah, sana! ngapain di sini? awas kalau ngintip!" ucap Kila masuk kamar mandi. Saat menginjakkan kaki ke kamar mandi, ada cacing tanah bergelut di ubin semen. Kila teriak-teriak dan ketakutan dan memeluk Egi.


"Aaaaaaaaa...... Mas, tolong Mas! aku geli sama cacing! iiih..... aku takut! jorok banget sih kamar mandinya!" ucap Kila masih memeluk Egi.


"Ya ampun, Kila. Itu hanya cacing, siram aja sih!" ucap Egi tersenyum karena Kila masih memeluknya.


"Ya udah, cepatan siramin!" ucap Kila.


"Gimana mau nyiram, kalau kamu masih peluk saya!" ucap Egi tersenyum.


"Iiiihh.... dasar! cari-cari kesempatan terus. Lagian kenapa harus ada cacing sih! jorok banget!" ucap Kila.


"Yang cari kesempatan itu, kamu! orang kamu yang cium saya, peluk saya, kenapa harus saya yang dibilang cari kesempatan? aneh." Ucap Egi tersenyum.


"Lagian rumah-nya bikin aneh! gimana orang gak ketakutan coba." Ucap Kila.


"Udah bersih tuh! dasar manja!" ucap Egi.


"Bodo amat!" ucap Kila.


****


Egi langsung masuk kamar. Egi membereskan kasur dan menggantinya dengan yang baru. Saat selesai, Egi memajang foto pernikahan Egi dengan Kila. Egi tersenyum bahagia melihat kelakuan sangat istri.


Kila-kila, kamu itu lucu. Tapi masih manja, saya kan rubah kamu agar jadi wanita yang gak manja lagi. Ya Allah, izinkan saya untuk bisa membimbing istri saya yang sangat labil, kuatkan saya, sabarkan saya ya Allah.


Setelah itu, Kila masuk kamar. Kila melihat semua sudah rapi oleh Egi. Kila jadi makin bersalah, harusnya sebagai istri, dia yang harus bebenah dan rapikan semua.


"Udah mandinya?" tanya Egi.


"Ya udah lah! ini kamar mana pintunya? kok pakai hordeng doang?" tanya Kila.


"Gak ada. Emang kaya gitu." Ucap Egi.


"Lah, nanti kalau aku ganti baju kamu ngintip dan ngelihat gimana?" tanya Kila.


"Emang kenapa? paling aku yang lihat." Ucap Egi.


"Mas! jangan macam-macam! aku masih ingin sekolah yah! aku gak mau tahu ah! bikinin pintu!" minta Kila.


"Aku belum punya uang buat bikin pintu, lagian kenapa sih, suami ini yang lihat!" ucap Egi berbohong dan tersenyum.


"Mas awas ya Mas! aku getok nih! sana ah, Mas mandi, aku mau ganti baju!" ucap Kila.

__ADS_1


"Iya-iya." Ucap Egi mengedipkan mata. Egi meledak Kila dan membuka hordeng. Kila teriak-teriak dan tidak jadi memakai baju.


"Kila!" ucap Egi.


"Aaaaaaaaa! mas jangan main-main deh!" ucap Kila. Kila langsung mengintip kembali Egi sudah di kamar mandi luar atau belum. Setelah Kila melihat Egi sudah di kamar mandi, Kila buru-buru dan langsung memakai pakaian yang baru.


Ya ampun, Ayah. Kenapa tega sama Kila. Kila Kira nikah sama Mas Egi gak seperti ini. Tapi, malah sengsara kaya gini. Kasurnya sudah wangi, harusnya aku yang rapiin. Maafin aku ya Mas.


Setelah selesai ganti baju, Kila keluar kamar. Kila lapar, dia bingung mau masak apa. Gak ada bahan yang harus dia masak. Setelah selesai mandi, Egi hanya memakai handuk setengah badan. Dadanya yang bidang, dan berbulu, membuat Kila takut dan menghindar sampai menutupi wajahnya.


"Astaghfirullah, Mas! kalau abis mandi, langsung pakai bajunya dong! gak lihat-lihat! iihhh....." ucap Kila.


"Kenapa emangnya Kila? gak usah di tutupin kali, nanti juga bakal lihat kok!" ucap Egi tersenyum. Kila ke depan halaman, dia melihat hanya bocah-bocah kecil dan Ibu-ibu saja yang banyak. Tukang makanan tidak ada satu pun yang lewat.


"Neng, di dalam aja? sini ngobrol." Ucap Ibu-ibu yang menegur Kila tadi.


"Iya Bu. Saya mau cari makanan, di sini gak ada yah?" tanya Kila.


"Gak ada Neng, harus ke depan dulu. Paling lewat nanti tukang bakso." Ucap si Ibu-ibu tetangga.


"Oh, gitu ya Bu." Ucap Kila.


"Iya Neng, mau Ibu belikan?" tanya dan tawar Ibu tetangga.


"Gak apa-apa, kalau mau Ibu beliin di depan." Ucap Ibu tetangga.


"Ini istrinya Egi?" tanya Ibu-ibu yang lainnya.


"Iya Bu." Ucap Kila.


"Cantik, imut, bisa aja Egi kalau cari istri. Tapi kenapa tinggal di rumah ini yah?" tanya Ibu satunya kepo.


"Kila!" panggil Egi.


"Ibu-ibu, permisi yah! aku masuk dulu!" ucap Kila.


"Silakan Neng!" ucap Ibu-ibu.


"Ngapain kamu di situ? gak baik ngerumpi!" ucap Egi.


"Siapa yang ngerumpi sih, aku tuh cuma nanya aja apa gak ada tukang makanan di sini! kaya di kampung tahu gak! padahal, ini kota." Ucap Kila.


"Kenapa lapar harus bilang sama orang lain, kan ada saya! sama saya aja! biar saya beli mie dulu! kamu tunggu rumah! ingat jangan kemana-mana, keluar apa lagi ngerumpi!" ucap Egi.

__ADS_1


"Emang aku apaan? dikurung di dalam. Bosan kali, aku gak mau yah, dikekang terus!" ucap Kila.


"Saya bukan kekang kamu! saya gak mau orang-orang tahu, tentang kita. Nanti apa kata orang, kalau istri Egi masih sekolah dan pakai baju SMA." Ucap Egi.


"Tahu ah! aku gak peduli apa kata orang!" ucap Kila. Kila menutupi wajahnya dengan bantal.


"Kila, tolong! kalau suami dengarin bisa gak? hah?" tanya Egi.


"Tahu ah! capek aku!" ucap Kila.


"Kila! bisa gak, kamu jangan kaya gitu! aku pulangin aja deh!" ucap Egi.


"Apa sih Mas? mas ngancam itu terus? Mas mau pulangin aku? ayo pulang! ayo! hiks-hiks-hiks..." Kila menangis.


"Tuh, kan nangis! jangan nangis dong! oke-oke! saya gak akan ngancam kamu lagi! sini-sini! dengar saya! saya ingin kamu nurut sama saya, gak bantah apa kata saya, bisa kan?" tanya Egi.


"Kalau Mas nyesal, ayo pulangin aja aku!" minta Kila.


"Enggak-enggak! maaf saya salah ngomong! maaf!" ucap Egi.


"Mas dan aku kan hanya terpaksa, aku gak mau Mas jadi beban!" ucap Kila.


"Ssssttt.... bisa diam gak? kamu istri saya, saya harus tanggung jawab sama kamu! saya bakal terima kekurangan kamu, meskipun kamu belum cinta, kamu gak mau layanin saya, saya ikhlas gak apa-apa. Tapi tanggung jawab sebagai suami gak akan saya lepas Kila. Saat kamu jadi istri saya, itu gak ada kata terpaksa atau beban. Kekurangan kamu, bakal saya terima dengan ikhlas!" ucap Egi.


"Maafin aku ya Mas, belum bisa jadi istri seutuhnya buat Mas Egi!" ucap Kila.


"Ya udah, gak usah dibahas lagi. Sekarang, saya mau beli mie. Sementara, kita makan mie dulu yah!" ucap Egi.


"Mas!" panggil Kila.


"Apa?" tanya Egi.


"Makasih ya Mas, udah mengerti aku!" ucap Kila tersenyum. Egi langsung keluar kamar tanpa senyuman dan hendak membeli mie. Saat Egi ke warung, banyak pertanyaan Ibu-ibu pada Egi. Kenapa Egi harus tinggal di rumah Kakeknya. Sedangkan, Egi punya rumah yang lebih bagus dari itu. Kenapa lebih memilih tinggal di rumah butut. Egi hanya diam dan menghiraukan perkataan Ibu-ibu.


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Imamku Adalah Guruku, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Imamku Adalah Guruku, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰


TA'ARUF CINTA


__ADS_1


__ADS_2